
“Saya akan siapkan, mas tunggu sebentar...” jawab Dani. Baru saja ia melangkah beberapa jengkal dari tempat Daniel berdiri, ia menghentikan lankahnya kembali. Berbalik ia ke arah suaminya.
“Mas, emmm...” ucap Dani tertahan.
“Apa..!?” Respon Daniel begitu ketus sambil melotot ke arah Dani.
“Ya udah, gak jadi..”
Melihat ekspresi wajah Daniel yang judes, Dani mengurungkan niatnya. Lebih baik ia menghindari pertengkaran saat Daniel sedang buruk moodnya. Akhirnya, ia hanya bisa melangkah melaksanakan perintah Daniel, dan membuang keinginanya, yaitu saat hari libur mau nginep di rumah neneknya.
“Sebenarnya, ia mau bilang apa sih..?” gumam Daniel mulai penasaran. Di saat Daniel sibuk menebak fikiranya, hpnya berbunyi.
Dengan cepat ia menyambar hpnya yang bearada di atas meja, Ia tersenyum melihat nama siapa yang menelefonya.
“Hallo Anye sayang, ada apa?”
“Daniel, aku kangen. Kamu kemari dong, ke salon aku..”
“Sekarang?”
“Engga! Tahun depan!!” jawab Anyelir ngambek.
“Maaf sayang, malam ini aku nggak bisa, aku ada acara penting dengan papa, besok malam saja aku ke tempat kamu, oke..? ”
Saat itu, Dani sudah selesai menyiapkan air hangat untuk mandi Daniel. Tanpa sengaja, ia mendengar semua pembicaraan Daniel dan Anyelir yang sedang menelfon. Ia tahan langkah kakinya untuk tidak keluar dari kamar mandi. Ia hanya bersandar di tembok kamar mandi tersebut, menunggu Daniel selesai berbicara dengan Anyelir. Hatinya sedikit sakit kepada Daniel.
Kenapa sih, kamu nggak bisa hargain perasaanku sedikit saja mas Daniel..? Walaupun kamu tidak menyukaiku, aku bisa menerimanya.
“Baiklah. Tapi beneran ya, besok malam aku tunggu kamu...”
“Janji. Aku nggak akan bohong kok..”
“Love u Daniel, sayang.”
“Love u to my forever sunshine...”
Keduanya saling mengakhiri telfon masing-masing. Setelah memastikan Daniel tak bertelefonan lagi, Dani memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
“Mas, saya permisi dulu, airnya udah siap..”
“Hmm..” jawab Daniel seenak jidatnya.
“Eitz, gadis bodoh, kamu juga harus segera bersiap, aku nggak mau kalau harus nungguin kamu terlalu lama, katakan juga sama Nathan, dia harus anterin ke rumah papa tar malam..”
“Iya.” jawab Dani sambil mengangguk.
“Apa ada lagi yang mau mas Daniel katakan..?” tanya Dani yang masih berdiri di tempatnya menghadap ke arah di mana Daniel berdiri berkalungkan handuk.
“Enggak..!! Sudah cukup..! Sana..sana..!!”
“Saya permisi, mas..?”
Tanpa menjawab, Daniel pergi begitu saja meninggalkan Dani terlebih dahulu, dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Dani, membalikan badanya setelah Daniel memasuki kamar mandi tersebut.
Berjalan ia keluar dari kamar Daniel, dan bermaksud mencari Nathan.
__ADS_1
“Bi, liat Nathan nggak..?” tanya Dani ketika melewati dapur dan menghampiri bi Marta.
Bi Marta yang di tanya Dani, segera menoleh seraya menghentikan aktifitasnya yang tengah mencuci piring, lalu mengeringkan tanganya yang basah dengan mengusapkan di ujung bajunya.
“Tadi bibi liat, Nathan sedang mencuci mobil di depan non, apa perlu bibi panggilkan..?” jelas bi Marta.
“Mencuci mobil di depan?”
“Iya, non..”
“Kalau begitu, Dani panggil sendiri saja bi, bi Marta lanjutin aja kerjaan bibi..” jawab Dani sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, non..”
Dani bergegas menuju di mana bibi menunjukan keberadaan Nathan. Sedang si bibi, kembali meneruskan pekerjaanya. Benar saja, ketika Dani sampai di depan, ia melihat Nathan sedang basah-basahan mencuci mobil Daniel. Ia pun menghampirinya.
“Eh, non Dani? Ada apa non..?” tanya Nathan yang melihat dani sudah berdiri di dekatnya.
“Nathan, tadi mas Daniel bilang, tar malem kamu di suruh anterin ke rumah papa..”
“Baik, non. Non Dani juga ikut..?” tanya Nathan.
“Iya, katanya ada jamuan makan malam..”
“Begitu. Baiklah, saya akan segera menyelesaikan mencuci mobil, lalu mengantar non dan juga mas Daniel..”
“Makasi, Nathan.”
“Sama-sama, non.”
“Silakan, non.”
Dani masuk ke dalam rumah. Ia segera bersiap untuk pergi ke rumah papa mertuanya. Sebenarnya, hatinya agak cemas. Takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan lagi. Namun kali ini ia agak tenang, karena Nathan mengantarnya dan juga Daniel ke sana. Dani segera masuk ke kamarnya untuk menentukan baju yang akan di pakainya nanti.
Dani mulai sibuk memilih baju yang pas untuk menghadiri acara makan malam keluarga Wijaya. Sudah setengah jam ia sibuk dan bingung mencocokan beberapa baju di badanya.
“Ahhh, akhirnya. Pakai ini saja lah, warna dan modelnya sangat cocok..” Dani menempelkan baju tersebut di badanya, sambil beberapa kali memutar tubuhnya di depan cermin.
Ia mulai merias wajahnya dengan mengaplikasikan bedak di wajahnya. Sedikit lipstik yang tidak terlalu menor, menambah kesan wajahnya cantik natural.
“Biarlah sederhana, aku ingin orang menilaiku apa adanya..” gumam Dani yang selesai bersiap dan akan keluar dari kamarnya.
Ndreet ndreet ndreett
Dani mengangkatnya karena tau Daniel yang sedang menelfonya.
“Lama banget..? Cepetan..!” ucap Daniel yang tak sabar menunggunya.
Dani tak menjawab. Ia sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Daniel. Dani menutup telfonya dan keluar dari kamarnya. Daniel melihat Dani yang menghampirinya.
Non Dani, kenapa kamu secantik ini non..
Gumam Nathan yang begitu terpukau melihat gadis yang ia sukai berdandan sederhana namun terlihat sangat istimewa itu.
Sialan..!! Kenapa mata gua nggak mau lepas menatapnya..?? Sadar Daniel, ah tapi beneran, ia cantik sekali..
__ADS_1
Kedua lelaki yang berdiri di hadapan Dani itu, seolah tersihir dengan kecantikan alaminya.
“Mas Daniel, kita berangkat sekarang...?” tanya Dani. Daniel yang tersadar karena ucapan Dani, segera menjawabnya.
“Iya..!! Sekarang..!!”
Daniel mengalihkan pandanganya dari Dani dan berjalan paling depan. Dani mengikutinya dari belakang dan di ikuti oleh Nathan.
Nathan terlihat sedikit berlari ke arah mobil untuk membukakan pintu.
“Silahkan mas Daniel..”
“Terima kasih, Nathan..”
Lalu bergantian kepada Dani.
“Silakan, non..”
“Terima kasih Nathan.”
Dani dan Daniel duduk di belakang. Keduanya tak saling bicara. Daniel sibuk dengan ponselnya, dan Dani duduk agak menyingkur dari Daniel.
Setelah itu, Nathan segera masuk dan duduk di belakang setir mobil. Ia segera melajukan mobilnya. Melaju menuju kediaman tuan Wijaya, papanya Daniel.
Beberapa saat kemudian
Tibalah mobil yang di kendarai Nathan memasuki halaman di sebuah rumah yang sangat besar. Setelah Nathan menghentikan mobilnya, ia membukakan pintu untuk kedua majikanya.
Daniel dan Dani berjalan memasuki rumah papanya. Sedangkan Nathan, menunggu di luar, tidak ikut masuk.
“Silakan masuk mas Daniel, non Dani, tuan sudah menunggu di dalam..” ucap Ken yang menyambut kedatangan mereka.
“Iya, Ken..” jawab Daniel dan Dani ikut membungkukan sedikit badanya, sebagai tanda menghormati asisten papa mertuanya itu. Keduanya berjalan, menuju ruang makan di antar oleh Ken.
“Tante Ema...?” seru Daniel yang tiba di ruang makan dan melihat tante Ema sudah duduk bersama papa dan menunggunya.
“Daniel..?” sahut tante Ema seraya berdiri dan memeluk Daniel.
“Apa kabar, tante..?” tanya Daniel yang sudah melepaskan pelukanya.
“Baik..” jawab tante Ema, lalu mengalihkan pandanganya kepada Dani, yang sejak tadi berdiri di belakang Daniel.
“Aaaaa, ini pasti Dani kan?”
“I..iya tante..” jawab Dani agak gugup.
“Ayo kemarilah, apa nggak mau Dani meluk tante juga..?” seru tante Ema yang merentangkan keduan tanganya, tanda isyarat welcome kepada Dani. Dani segera menghambur dan memeluk tante Ema. Sesaat kemudian, keduanya saling melepaskan pelukan.
“Ayo, silakan duduk..?” Suruh tante Ema ramah sekali.
“Malam pah..?” sapa Dani dengan sopan.
“Malam juga Dani. Ayo kalian cepat duduk..?” Pinta papa Wijaya.
“Waahh, rupanya kak Dani dan Kak Daniel sudah datang..” seru Evan dari dalam.
__ADS_1
BERSAMBUNG