Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 74


__ADS_3

Nathan masih dalam keadaan terkagum dengan apa yang ia peroleh. Dalam hati, ia berjanji tidak akan mengecewakan Evan, yang telah berbaik hati kepadanya. Memberikan pekerjaan serta fasilitas yang tidak main-main.


“Baiklah Nathan, kamu harus bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab dengan pekerjaan kamu, untuk bisa membahagiakan gadis yang kamu sayang juga..” gumam Nathan yang optimis pada dirinya sendiri. Setelah selesai memeriksa semua ruangan, Nathan segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia sengaja berendam di dalam bathtub yang ia isi dengan air hangat. Sungguh terasa nyaman, semua capek dan pegel-pegelnya serasa ilang. Setengah jam kemudian, selesai sudah Nathan berendam. Ia segera memakai piyama yang sudah di sediakan di almari baju yang berada di kamarnya. Dengan rambut setengah basah, ia keluar dari kamar menuju dapur.


“Selamat malam, mas Nathan..?”


Suara itu mengejutkan Nathan. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis memakai celemek tengah berdiri di belakangnya.


“Loh, ka..kamu siapa? Kenapa bisa berada di sini?” ucap Nathan yang kaget sekaligus agak takut.


Siapa gadis ini? Kenapa tiba-tiba muncul di sini?Jangan-jangan gadis ini hantu, tapi kakinya berpijak di lantai kok.


“Maaf mas Nathan, mengagetkan anda, tapi saya di suruh mas Evan untuk melayani mas Nathan, saya pembantu di sini, nama saya Imah, mas..”


“Oh, iya, iya, maaf karena saya kaget melihat kamu yang tiba-tiba ada di sini..”


“Gak papa mas. Mas Nathan mau makan apa? Biar saya buatin.”


“Ohh, saya udah kenyang. Tolong buatkan saya secangkir kopi saja, Imah..”


“Baik mas..” Imah segera ke dapur. Ia adalah gadis yang di kirim dari yayasan, sesuai dengan permintaan Evan, untuk menjadi pembantu di rumah Nathan. Gadis seumuran dengan Dani yang berasal dari kampung dan beruntung ia di tampung di yayasan. Gadis bermata sipit dan berkulit putih itu, dengan cekatan membuatkan secangkir kopi untuk Nathan.


“Mas Nathan, ini kopi pesanan anda..”


“Terima kasih, Imah..”


Setelah menyodorkan kopi kepada Nathan, Imah bergegas pergi ke dapur. Ia harus menyiapkan semua yang belum tersedia di dapur itu. Sedangkan Pak Min, sopir pribadi Nathan, ia sedang sibuk memasukan mobil ke dalam garasi. Saat Nathan sedang duduk santai di ruang tengah, ia iseng menelfon Evan.


Tuuuuttt ttuuuuuttt tttuuuutt


“Hallo.., iya Nathan, kenapa?” Terdengar suara Evan yang mengangkat telefon dari Nathan.


“Maaf mas, malam-malam ganggu..”

__ADS_1


“Ah, enggak kok. Ada apa Nathan? Kelihatanya penting sekali?” jawab Evan yang sedang menunggui papanya.


“Mas, saya mau ucapin banyak terima kasih kepada mas Evan, karena sudah di beri pekerjaan serta fasilitas yang saya terima. Semua itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Bahkan itu sangat berlebihan untuk karyawan baru seperti saya, mas..”


“Ah biasa saja Nathan, semua karyawan juga dapat fasilitas kaya kamu kok..”


“Iya mas Evan, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih. Sekarang mas Evan lagi di mana?”


“Saya lagi di rumah sakit, nemenin papa, dan kabar baik, malam ini juga saya akan bawa papa pulang Nathan, karena akan di rawat di rumah saja..”


“Saya ikut seneng mas, semoga papa mas Evan cepat di beri kesembuhan..”


“Aamiin. Terima kasih Nathan atas doanya..”


“Sama-sama mas Evan. Ya sudah mas, maaf ganggu waktu, mas Evan..”


“Iya Nathan. Selamat istirahat..”


Nathan dan Evan saling mengakhiri bertelefonan. Setelah menghabiskan kopinya yang sudah hangat, Nathan bergegas istirahat. Sedangkan Evan, Dani, Daniel dan tante Ema, malam itu segera membawa tuan Wijaya pulang. Karena semua urusan udah kelar. Tak ketinggalan seorang suster ikut dengan mereka, karena atas rekomendasi dokter Bima, suster itu di tugaskan merawat tuan Wijaya. Malam itu, Ken datang untuk membawa mobil Evan, karena mereka semua akan berada dalam satu mobil.


“Dani, untuk malam ini, please sayang, kamu nginep di rumah papa kamu dong..” ucap tante Ema memohon.


“Mmm, gimana ya..?” jawab Dani mikir sebentar.


“Baiklah tante, malam ini Dani akan menginap di rumah papa..”


“Kamu juga Daniel, malam ini tante mohon, kamu juga nginep di rumah papa kamu, udah lama kan kamu nggak tidur di rumah utama?”


“Iyaaa...” jawab Daniel dengan suara berat. Mobil terus melaju menembus suasana malam yang mulai agak sepi. Karena jam sudah menunjukan pukul 22.30 WIB. Arus lalu lintas juga sudah mulai lengang.


Akhirnya sampai juga mereka di rumah utama. Mobil yang di bawa oleh Daniel memasuki halaman rumah yang sangat luas itu. Setelah mobil berhenti, beberapa pengurus rumah membantu tuan Wijaya untuk keluar dari mobil dan meletakan tubuh tuan Wijaya di atas kursi roda. Evan mendorong kursi roda itu menuju kamar papanya.


Dengan bantuan seorang suster, tuan Wijaya kini bisa istirahat di rumahnya.

__ADS_1


“Dani, Daniel, kalian istirahat saja, sudah malam, tentu kalian capek..” ucap tante Ema yang selesai membenarkan posisi tidur kakaknya.


“Iya tante, Dani permisi dulu. Selamat istirahat pah. Van, aku istirahat dulu..„


“Iya kak Dani, silakan..”


“Daniel ke kamar dulu, tante..”


Cuupppp


Sebelum Daniel ke kamarnya, ia sempatkan mengecup kening papanya. Dan kini tinggal tante Ema yang berada di kamar kakaknya. Evan juga sudah beranjak menuju kamarnya untuk istirahat. Dani dan Daniel berjalan menuju kamar. Lebih tepatnya kamar yang dulu di tempati oleh Daniel sebelum ia berpindah ke rumah kaca.


Saking lelahnya, Dani hanya cuci muka, tangan dan kaki. Tak lupa ia menggosok gigi. Tanpa mengganti baju, ia langsung saja merebahkan tubuhnya di ranjang. Dalam hitungan detik, gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya.


“Dasar gadis bodoh..!! Nggak takut apa kalau aku apa-apain..” gumam Daniel yang selesai mandi dan melihat Dani sudah lelap tanpa memakai selimut. Dengan inisiatif yang tiba-tiba muncul, Daniel menyelimuti tubuh Dani dengan selimut kain yang berbahan lembut.


“Kalau di lihat dengan seksama, wajah kamu begitu cantik, Dani..” gumam Daniel tanpa sadar yang sedari tadi menatap wajah Dani dari dekat. Perlahan tanpa ia sadari, hatinya mulai luluh oleh Dani. Gadis yang selalu ia katai bodoh, namun bisa mengalihkan dunianya. Hanya karena gengsi, ia belum bisa mengakui atau mengungkapkan semua isi hatinya. Daniel berdiri dan menghela nafasnya dengan berat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa, karena tak ingin mengganggu kenyamanan tidur Dani.


“Selamat malam Dani, tidurlah dengan nyenyak. Aku nggak akan mengganggu kamu kok..” ucap Daniel dengan lirih. Posisi tidurnya miring dan menghadap ke arah Dani. Malam semakin larut. Akhirnya Daniel terlelap juga.


Di kamarnya, Nathan sulit memejamkan mata. Ia teringat terus akan Dani. Ingin rasanya ia menelfon dan mendengarkan suaranya, namun takut mengganggu. Ia bangkit dan mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya begitu gelisah.


“Telfon? Enggak..!! Telfon..? Enggak..!!”


“Ah kirim pesan saja..”


Akhirnya Nathan hanya mengirim pesan.


- Malam Ran, tentunya kamu sudah tidur. Maaf, hanya mau mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat. Mimpi indah yach?


Itulah sepenggal kalimat pesan yang di kirimkan Nathan untuk sang pujaan hati. Kebetulan, waktu pesan dari Nathan masuk ke handphone Dani, saat itu Daniel terbangun karena ingin buang air kecil.


Karena mendengar notofikasi pesan, dan ternyata masuk di ponsel Dani, Daniel menjadi penasaran. Akhirnya ia mendekati tempat di mana ponsel Dani di letakan. Perlahan, tanpa membuaka layar ponselnya, Daniel melihat sekilas nama si pengirim.

__ADS_1


“Nathan...????” gumam Daniel lirih, namun dalam sekejap, raut wajah Daniel berubah menjadi marah.


BERSAMBUNG


__ADS_2