
Malam kian larut. Angin berhembus menggoyang dedaunan dan menjatuhkan beberapa ranting yang kering. Desiran angin malam tak di hiraukan oleh Dani. Ia masih duduk terpaku di kursi yang ada di taman itu. Dari kejauhan, Nathan dengan setia masih mengawasi majikan mudanya, takut kalau ia kenapa-kenapa.
Sedih. Itulah yang di rasakanya saat ini. Kenapa ia begitu bodoh, masuk ke dalam kubangan yang jelas-jelas membuatnya menderita. Dengan menerima lamaran tuan Wijaya, papanya Daniel. Nasi telah menjadi bubur. Kini ia hanya dapat menerima apa pun perlakuan dari Daniel, seperti apa pesan dari neneknya, menjadi istri yang patuh. Namun, di sini ia berperan sebagai orang yang di sia-siakan.
Sementara dikamar Daniel, laki-laki yang di sebut sebagai suami Dani itu, tengah terbuai oleh cumbuan yang di berikan Anyelir, membuatnya mengerang, mendesah, dan melayang-layang sampai ke langit ke tujuh. Mereka tak menghiraukan, ada hati yang sakit dan perih oleh perbuatan mereka.
“Kamu puas sayang..” ucap Anyelir di akhir kegiatan mereka, yang masih ngos-ngosan mengatur nafas dan terkulai tak berdaya.
“Sangaaaaattt sayang..” jawab Daniel yang memiringkan kepalanya menghadap ke arah Anyelir.
“Mau lagi..?” Daniel tersenyum dan mengangguk. Dan aktifitas itu pun kembali di lakukan. Dengan sangat ganasnya, Anyelir membuat Daniel kekasihnya berulang kali mengerang dan mendesah, hingga akhirnya mereka kelelahan dan tertidur.
Dani masih duduk di taman. Entah sudah berapa jam ia menempati kursi taman itu. Karena kasian, Nathan memberanikan diri mendekati Dani, majikan mudanya.
“Non, jam segini kenapa di luar sendirian?” tanya Nathan dengan sopan dan hati-hati. Dani mendongakan kepala. Jelas terlihat mata gadis itu sembab karena air mata yang masih membasahinya. Sambil menyeka air matanya, Dani menjawab pertanyaan Nathan.
“Nathan? Lagi cari angin malam kok. Aku lagi kangen sama nenek, baru pertama kali aku berpisah sama nenek..” Elak Dani dan air matanya terus saja membasahi pipinya.
“Kangen sama nenek?” Dani mengangguk.
“Biar non terobati rasa kangenya, coba lihat bintang di langit. Bayangkan nenek anda sedang melihat dan tersenyum kepada anda dari sana, dan non Dani bisa berbicara kepadanya. Coba saja..”
Dani melihat Nathan. Tak percaya dengan apa yang di katakanya. Namun ia mulai mencobanya. Ia menengadahkan wajahnya dan melihat berjuta bintang bertaburan di angkasa. Lalu tersenyum dan membayangkan wajah neneknya sedang tersenyum kepadanya.
“Nenek, Dani kangen sama nenek. Dani baik-baik saja di sini, jaga kesehatan nenek yach? Dani sayang sama nenek..” Aneh. Setelah melakukan apa yang di katakan oleh Nathan, hati Dani sedikit tenang. Ia tak lagi memikirkan Daniel dan kekasihnya lagi.
Nathan tersenyum melihat nona mudanya berhasil menghalau kesedihanya sendiri.
Sungguh bodoh sekali mas Daniel. Menyia-nyiakan gadis seperti non Dani. Semoga non di beri kesabaran.
Nathan bergumam dalam hati. Menyayangkan sikap tuan mudanya. Sebenarnya ia tahu yang terjadi, namun ia pura-pura saja, agar nona mudanya tidak merasa malu di hadapanya.
__ADS_1
“Sebaiknya non istirahat, ini sudah jam 02.00 WIB, Non..”
“Belum ngantuk, aku masih ingin di sini, menghirup udara malam..”
“Tapi udara malam nggak baik buat kesehatan..” Dani tersenyum tipis mendengar ucapan Nathan. Gadis itu kini bisa menyunggingkan sedikit senyumnya.
Suasana hening. Dani yang duduk memeluk kedua lututnya kembali diam. Senyum yang terlihat walau hanya sekilas, kini berubah menjadi rasa kantuk yang teramat sangat menyerang dirinya. Ya, karena ini sudah hampir jam 03.00 WIB.
Karena tak tahan lagi, dan Dani enggan untuk masuk ke dalam kamarnya, ia menundukan kepala di antara lututnya. Ia tak peduli Nathan yang berada di sampingnya.
Dani tertidur. Nathan yang mengetahui nona mudanya tertidur, hanya bisa duduk di sampingnya. Mau membangunkan kasian. Sedang di dalam, suaminya tengah memadu kasih dengan wanita lain yang tak bukan adalah kekasihnya, Anyelir.
****
Pagi pun menyapa. Sinar mentari yang begitu hangat perlahan membuat Dani terusik. Karena merasakan kedua kakinya kesemutan.
“Awwww...ssshhh...” Desah Dani seraya meringis menahan sakit. Dani menoleh ke sampingnya, dan betapa kagetnya. Hampir saja ia melonjak.
“Sudah bangun non..?” ucap Nathan yang masih siaga duduk menunggunya dengan senyum tipisnya.
“Benar non, saya nggak tega ninggalin non sendiri di sini..”
“Maaf, jadi merepotkan, hattchiiiihh....” ucap Dani yang di susul dengan bersin.
“Non Dani kena flu? Cepat masuk dan minum obat, agar tidak bertambah parah Non, maaf kalau saya lancang..” ucap Nathan dengan hormat.
“Baiklah kalau begitu..” Dani berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Nathan, berjalan ke kamarnya. Hari ini, hari di mana Dani dan Daniel akan pergi bulan madu ke Phuket. Tentu saja Anyelir dan Nathan ikut serta.
Haatttchhiihh hatttccihhh
Beberapa kali Dani bersin. Ia pun duduk di sofa dan menunggu pintu kamar Daniel terbuka, karena tak ingin mengganggu sepasang kekasih itu.
__ADS_1
“Non, silakan di minum air jahenya, bibi lihat non kedinginan dan terserang flu..” ucap bibi yang membawa secangkir air jahe hangat dan memberikan kepada Dani.
“Terima kasih bibi. Srruuuupppuuttt...! Ahh hangatnya..., makasih bibi, badan Dani jadi hangat...” Mendengar perkataan nona mudanya, bibi tersenyum senang.
Daniel keluar bersama Anyelir dari kamarnya. Berjalan bergandengan menghampiri Dani.
“Hai gadis muna, cepat kamu mandi karena hari ini kita akan pergi ke Phuket, kamu nggak lupa kan..? Cuuupppp...” Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Anyelir. Dani seakan ingin menonjok wajah Daniel. Wajah lelaki yang menyakitinya. Cangkir yang di pegangnya sedikit bergetar. Bibi yang melihat situasi itu segera undur diri dari hadapan majikanya.
“Tenang saja..!” jawab Dani singkat seraya berdiri dan berjalan ke kamar Daniel yang telah di gunakan untuk tempat mesum mereka berdua. Daniel dan Anyelir tersenyum penuh kepuasan.
“Apa kamu nggak keterlaluan sayang..?” tanya Anyelir mencari simpati dari kekasihnya.
“Itu belum seberapa di banding dengan apa yang telah ia lakukan. Karena telah menerima lamaran dari papa..” Anyelir tersenyum nyinyir sambil melirik punggung Dani yang perlahan menghilang di balik pintu kamar Daniel. Berdua mereka menuju meja makan.
Tak tau malu, nggak punya hubungan apa-apa berani tidur di sini! Dasar perempuan nggak bener!!
Umpat bibi yang tidak suka melihat Anyelir bersama Daniel.
“Bi ambilkan piring satu lagi untuk Anyelir..” Perintah Daniel.
“Baik Mas...” Bibi segera mengambil apa yang di minta Daniel, lalu memberikanya.
“Silakan makan sayang...” Anyelir tersenyum.
Tak berapa lama, Dani keluar dari kamar. Ia terlihat sudah rapi dengan rambut di kuncir bun seperti biasa. Berjalan ia ke arah meja di mana Daniel dan Anyelir masih duduk di situ menikmati masakan bibi. Ia sengaja membelokan langkahnya, namun justru Daniel memanggilnya.
“Hai kamu..! Ke sini...!”
Dengan menahan amarah, Dani berjalan ke arah Daniel. Lalu menggeser kursi dan duduk bersama mereka berdua. Namun Dani tetap diam tanpa melakukan apa pun.
“Makan..” Perintah Daniel. Dani tak menjawab, hanya diam.
__ADS_1
“Kalau di ajak ngomong jawab..!! Jangan diam saja..!!” Bentak Daniel sambil menggebrak meja.
BERSAMBUNG