Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 19


__ADS_3

Ciiiiiiiittttt


Mobil yang di naiki oleh Daniel beserta Nathan, berhenti tepat di depan rumah Dani. Suasana rumah itu dari luar tampak sepi. Pintu pagar pun tertutup rapat. Daniel mengeluarkan ponselnya, dan memencet dua belas digit nomor telefon Dani yang ia peroleh dari Ken. Memang saat di rumah sakit, Ken sempat bertukar nomor handphone dengan Dani.


Benda pipih yang ia tempelkan di telinga, mengeluarkan suara yang menandakan telefon tersambung namun belum diangkat.


Tuuuuuutttt ttuuuuuuttttt


“Halloo..., si...”


“keluar lah, aku berada di depan rumah kamu..” ucap Daniel sopan kepada Dani.


“Maaf, ini siapa...?”


“Daniel.”


“Ohh..., ada apa? Aku sedang di toko..”


“Cepat kirimin alamat toko kamu, aku segera ke sana, jemput kamu, kita fitting baju..”


“Fitting baju...?”


Tuut tuut tuutt


Belum sempat Dani selesai bicara, Daniel main tutup telefon saja.


“Iiiihhhhhh...!! Jadi orang Sombong banget..!!” ucap Dani dengan bibir sewotnya. Lalu mengetik alamat tokonya yang di minta oleh Daniel.


“Kenapa Dani, nenek perhatikan, kamu seperti sedang kesal..?” tanya nenek Eliza yang menghampiri Dani.


“Ini nek, Daniel, mau jemput Dani ke sini, katanya mau fitting baju hari ini...”


“Fitting baju? Ya sudah, kamu siap-siap gih, kalau dia nyampe sini, dia gak nunggu kamu lama-lama..”


Melihat ekspresi wajah neneknya, Dani tak sampai hati menolaknya. Ia pun bergegas ke dalam dan membenahi baju serta rambutnya. Masih sama seperti biasanya, rambutnya di kuncir ala kadarnya, yang bebentuk bun.


***


Sebuah mobil berhenti di depan toko roti milik Dani. Seorang laki-laki tampan turun dan menuju ke dalam toko.


“Permisi, Apakah saya bisa bertemu dengan nona Dani?” tanya Daniel dengan menjaga kesopananya, kepada salah satu pelayan di toko Dani.


“Nak Daniel..?” sapa nenek yang muncul dan mengahampiri Daniel.


“Mau jemput Dani ya...?”


“Iya nek...” Dani muncul dari dalam. Sebelum nenek memanggilnya.

__ADS_1


“Aku sudah siap..” ucap Dani tanpa senyum basa-basi menghiasi bibirnya.Hanya datar.


“Baiklah kalau begitu, kami berangkat dulu nek..” Pamit Daniel dan di iyakan oleh nenek Eliza. Keduanya segera berangkat menuju boutique tempat mereka akan fitting baju pengantin.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Sikap Daniel tak seperti saat ia menjemput Dani tadi. Kali ini terkesan ia sangat cuek dan tak peduli dengan Dani. Ia asik dengan ponselnya.


“Nathan, turunkan aku di cafe depan..”


“Cafe depan? Nggak di boutique, Mas..?” tanya Nathan heran.


“Nggak..! Biar dia sendiri saja yang fitting baju. Aku tidak..!”


Mendengar ucapan Daniel, dada Dani serasa bergemuruh. Kedua tanganya mengepal dan mencengkeram celana panjang berbahan kain yang tengah ia kenakan, namun ia tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Sampai tiba saatnya di cafe, Daniel turun.


“Selamat fitting baju sendirian, semoga gaun itu cocok di tubuh kamu..”


Ingin rasanya Dani membentak Daniel. Namun lagi-lagi ia menahanya tanpa bicara sepatah kata pun. Nathan kembali melajukan mobil menuju tempat tujuan Dani. Nathan yang berada di samping Dani dan tengah menyetir, mendengar hembusan nafas yang berat yang keluar dari mulut gadis itu.


Sebenarnya kasian juga, tapi aku nggak berhak ikut campur urusan majikan. Aku hanyalah seorang pengawal. Semoga pernikahan kamu baik-baik saja nona.


Batin Nathan yang mengetahui gadis yang duduk di sampingnya lagi kacau karena menahan emosi.


“Nona, kita sudah sampai..” ucap Nathan membuyarkan lamunan Dani.


Dengan lesu kaki Dani melangkah memasuki sebuah boutique yang cukup ternama dan terbesar di kota tempat ia tinggal. Dengan hanya berpakaian yang di bilang cukup biasa, Dani menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berkunjung di boutique pada saat itu. Karena atas perintah dan pesan Daniel, Nathan di suruh menemani Dani masuk ke dalam saat fiitting.


“Selamat siang? Ada yang bisa saya bantu nona, tuan..?” sapa seorang pegawai boutique dengan ramahnya.


“Maaf saya bukan calon pengantin prianya, saya pengawalnya..” ucap Nathan biar pegawai boutique tersebut tidak salah paham.


“Oh maaf, sekali lagi maaf...”


Dani tersenyum dan mengangguk. Lalu pegawai tersebut mengantarnya ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah manekin menggunakan gaun putih, yang modelnya sangat elegant sekali, dengan panjang gaun belakangnya sampai menyentuh lantai dan mengekor ke belakang agak panjang.


“Silakan nona mencobanya..” kata sang pegawai yang mulai melepaskan gaun tersebut dari manekin.


Dengan di bantu sang pegawai, Dani mulai memakainya. Ia pun berjalan ke depan sebuah cermin besar dengan panjang mencapai lantai, sehingga bayangan dirinya tampak sepenuhnya.


“Nona cocok sekali memakai gaun ini, tapi sayang sekali, calon mempelai prianya nggak ada, coba kalau ada, pasti akan tak berkedip melihat anda, Nona..”


Ucapan sang pegawai tersebut membuat Dani tersenyum kecut.


Kamu tidak tau saja, pernikahan ini hanyalah sandiwara saja.


Dani mengagumi dirinya sendiri. Walau hanya pegawai tersebut yang memujinya, ia tetap kagum akan bayangan dirinya. Tanpa Dani sadari, sang pegawai membuka pintu dan mengajak Dani keluar.

__ADS_1


“Tuan pengawal, coba lihatlah kemari. Karena calon pengantin prianya nggak ada, saya akan bertanya tentang pendapat anda, apakah kita sepemikiran. Bagaimana penampilan nona muda ini..?”


Nathan yang di panggil membalikan badan, yang tadinya ia menyapukan pandanganya ke semua baju yang terpajang di sekeliling ruangan itu. Ia melebarkan sedikit matanya. Menatap Dani yang sedikit malu karena panampilanya di lihat oleh orang asing. Dani terlihat gugup dan kaku.


“Maaf, anda terlihat cantik dan cocok memakai gaun tesebut..”


“Terima kasih..” jawab Dani.


“Nah benarkan apa kata saya, anda sangat cantik dan anggun sekali, besok pas acara pernikahan nona, pasti calon suami nona tak akan berkedip walau sedikit pun..” ucap sang pegawai tanpa titik koma. Dani pun segera masuk kembali ke ruangan dan meminta mbak pegawai tersebut membantunya melepaskan gaun tersebut.


Tuuuuuutttt tuuuuutttt


Nathan segera mengangkat ponselnya yang berdering.


“Iya mas Daniel..”


“Udah selesai belum..?”


“Sudah, sebentar lagi mau keluar..”


“Jangan lama-lama, cepat jemput aku lagi..”


“Baik mas..”


Daniel dengan kesal menutup telfonya. Sementara Nathan segera mengantar Dani ke tokonya.


“Terima kasih sudah mengantar saya kembali..” ucap Dani saat dalam perjalanan ke tokonya.


“Sama-sama, saya hanya menjalankan tugas saja nona..” ucap Nathan dengan sedikit senyuman.


Tak berapa lama, sampailah mereka di toko roti. Setelah mengucapkan terima kasih yang kedua kalinya, Dani segera masuk ke toko, dan Nathan segera bergegas menjemput Daniel di cafe, tempat ia sedang nongkrong sekarang.


“Saya sudah di depan cafe, Mas..” Pesan yang di kirim Nathan.


“Ok.”


Tak berapa lama, Daniel keluar dan berjalan Menghampiri Nathan. Mobilpun kembali melaju.


“Gimana tadi, apa dia pantas memakai gaunya..?” tanya Daniel yang bermaksud meremehkan Dani.


“Sangat cocok sekali. Kalau besok mas melihatnya, pasti akan terpesona.” jawab Nathan dengan masih fokus menyetir.


“Nggak akan..! Sampai kapan pun, walau hanya seujung kuku saja, saya tidak akan pernah menyukainya..”


Begitu sangat percaya diri sekali Daniel berbicara begitu. Nathan yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2