
“Danii...!!” teriak Daniel yang tak menyangka Dani akan senekat itu. Ia berlari menghampiri Dani.
“Daniiii....??” suara Anyelir pelan, karena ia masih pusing dan keningnya sedikit memar.
“Maafkan aku Dani, kenapa kamu senekat ini?” Tanpa sadar, Daniel meneteskan air mata, melihat perut Dani berdarah di hadapanya.
“Da...Dani, u...udah bi..bilang kan mmass..” jawab Dani terbata sambil memegang perutnya dengan pulpen yang masih menancap di sana.
Bersamaan dengan itu, Nathan mendobrak pintu kamar Daniel dengan kerasnya.
Brakkkkkkk
Daniel terkejut dan menoleh Nathan. Nathan, begitu murkanya melihat Dani duduk bersimpuh, dengan darah yang mengalir dari perutnya. Tak ayal lagi, ia berlari ke arah Daniel dan menghadiahinya dengan bogem mentah, dalam keadaan Daniel setengah telanjang.
“Manusia biadab kamu, Daniel..!!”
Buuugggghhh
Daniel tersungkur.
“Jangan campuri urusanku, dia adalah istriku..!!”
“Persetan dengan ocehan kamu..!!” Nathan menghampiri Dani, dan mencabut pulpen yang menancap di perut kekasihnya.
“Na..Nathan...” Dani pingsan. Karena sudah nggak kuat menahan sakit dan banyak pula darah yang keluar dari tancapan tersebut.
“Ranii..!!!” Nathan berteriak histeris, lalu dengan cepat membopong tubuh gadis itu dan membawanya keluar kamar dengan sedikit berlari.
“Nathan, ada apa ini..!!?” tanya Evan yang berpapasan dengan Nathan di depan kamar Daniel. Nathan tak menjawab, dan Evan segera tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar Daniel. Ia melihat kakaknya dan Anyelir duduk di lantai dengan posisi terpisah.
“Apa-apaan kalian? Kak Daniel, sungguh bagus sekali kelakuan kak Daniel terhadap kakak ipar, dia istri kamu kak Daniel. Evan tak menyangka, kakak setega itu, Evan sangat kecewa. Kalau kakak benci sama Evan, masih bisa Evan memakluminya, tapi ini istri kakak sendiri. Entah apa yang terjadi nanti, Evan tidak akan pernah mendukung kakak lagi, kalau kebahagiaan kak Dani ada pada Nathan, Evan akan mendukungnya, dan Evan harap, kak Daniel dengan lapang dada melepaskan kak Dani, oke..?”
“Aaaarrrrrrgggggghhhhhhh....!!! Pergi kamu adik sialan..!! Kamu juga wanita sialan..!! Aku tidak ingin melihat kalian....!! Pergiiii...!!” teriak Daniel dengan histeris sambil memegang kepalanya. Evan segera pergi dari tempat itu dan menyusul Nathan.
“Nathan, kenapa dengan non Dani..?” tanya bi Marta yang panik, melihat Nathan setengah berlari membopong Dani.
__ADS_1
“Ceritanya panjang bi, maaf.., Nathan harus segera membawa non Dani ke rumah sakit..”
“Iya, iya.”
Nathan terus membawa Dani keluar rumah. Dan Evan yang keluar dari kamar Daniel, berlari mengejar Nathan. Ia mendapati Nathan susah payah membuka pintu mobil di halaman depan.
“Biar aku saja yang membuka, Nathan.”
Nathan mengangguk. Setelah Evan membukakan pintu, ia meletakan tubuh Dani di jok belakang dengan hati-hati.
“Kamu di belakang saja bersama kak Dani, biar aku yang nyetir..”
“Baiklah, mas Evan.”
Nathan duduk di belakang. Dengan wajah cemas, ia memeluk tubuh Dani. Ia tak menghiraukan lagi, bagaimana pendapat Evan yang melihatnya. Di fikiranya hanya keselamatan Dani. Gadis yang kini tak sadarkan diri dan berada dalam rengkuhan tanganya.
Evan melajukan mobilnya dengan cepat. Dengan gesit, mobilnya meliuk-liuk menyelip setiap kendaraan yang di laluinya.
Anyelir, yang masih kesusahan berjalan, karena kepalanya agak pusing, menghampiri Daniel.
“Daniel sayang, kamu nggak papa kan..?” ucap Anyelir yang berusaha mengambil simpati Daniel dan menenangkanya. Daniel hanya diam. Sedikitpun ia tak bergeming.
Dalam keadaan pusing, Anyelir masih saja merencanakan sesuatu kepada Daniel. Ia tak peduli walau Daniel marah sehebat apapun kepadanya. Pokoknya, ia pepet terus. Anyelir memberanikan diri memeluk Daniel. Lelaki itu diam.
“Sayang, aku tau kamu kesal dan marah sama aku. Kamu boleh katain apa pun sesuka hatimu, tapi jangan menjauh dariku. Kamu tau kan, aku sangat mencintai kamu, melebihi diri aku sendiri.”
Rupanya Anyelir berhasil melancarkan jurus rayuan paling gombalnya. Di tengah ia memeluk Daniel, ia melirik wajah lelaki yang di dekapnya, dengan bibir tersenyum nyinyir.
Kalau buat naklukin kamu mah gampang Daniel, segampang aku membalikan telapak tanganku. Hahaa...
Batin Anyelir dan tersenyum dalam hati penuh kemenangan.
“Maafkan aku, karena aku yang menelfon Evan, dan memberitahukan semuanya. Karena apa, kamu pasti tau alasanya..”
“Tapiii...!!” Daniel melepaskan pelukan Anyelir dan ingin protes. Namun secepat kilat, Anyelir mencium bibir Daniel dan mengunci tanganya. Dasar Daniel, lelaki itu dengan mudah masuk ke dalam permainan Anyelir. Benar-benar gila. Dalam keadaan seperti itu, di saat Dani tengah pingsan menahan sakit, Daniel kembali di buat melayang oleh Anyelir. Daniel tak peduli dengan Dani. Ia bergulat bagaikan pesumo yang berguling ke sana ke mari dengan ******* dan nafas yang memburu. Begitu juga Anyelir, selalu membuat Daniel ketagihan dan ketagihan bercinta denganya. Ia tak memikirkan tentang dosa-dosa yang mereka lakukan.
__ADS_1
“Terusss Danielll.....” Suara manja Anyelir, semakin membuat Daniel semakin liar. Anyelir menggelepar bagai ikan yang kehabisan nafas di daratan.
“Aaaaaarrrrrrggggghhhh....” Teriak keduanya karena mencapai pelepasan. Keduanya saling berpelukan dan akhirnya terkapar tidur sambil telentang.
“Maafkan aku Anyelir sayang, karena tadi aku telah membuatmu kesakitan..” ucap Daniel yang mengusap kening Anyelir yang memar. Anyelir mengangguk lalu memeluk Daniel. Keduanya tersenyum lalu beberapa saat keduanya memakai baju dan kembali rapi.
“Kamu nggak menengok istri kamu..?” ucap Anyelir kembali mengambil simpati Daniel.
“Iya, ini aku mau ke sana..”
“Baiklah, kamu ati-ati yach, aku pulang dulu, cuuupppp....”
Setelah pamit dan sebelum pergi, Anyelir memberikan kecupan di pipi Daniel. Lelaki itu hanya tersenyum. Benar-benar lelaki plin-plan. Anyelir melenggang keluar dari kamar Daniel. Setelah Anyelir hilang dari pandangan, Daniel segera merapikan rambutnya, lalu segera turun.
“Suster, tolong...!!” teriak Evan yang berlari meminta bantuan suster jaga.
Segera beberapa suster tau, dan mengambil ranjang dorong, untuk membawa tubuh Dani yang pingsan dan banyak mengeluarkan darah. Dani segera di bawa ke Unit Gawat Darurat. Nathan dengan cemas, menunggu di depan kamar UGD sambil mondar-mandir. Tak kalah cemasnya, Evan menyandarkan tubuhnya di dinding ruang UGD tersebut.
“Nathan, kamu yang tenang yach? Percayalah, kak Dani akan baik-baik saja kok..” Sadar kalau Evan tau perasaanya sedalam itu, raut wajah Nathan berubah seketika.
“Aku tau, kamu dan kak Dani ada rasa, kamu nggak usah khawatir, aku akan dukung kalian, selama itu membuat kak Dani bahagia, aku akan membantu kak Dani lepas dari kak Daniel, karena dia telah banyak membuat kak Dani menderita..” ucap Evan lalu di sambut pelukan oleh Nathan. Evan menepuk-nepuk punggung Nathan.
“Sekarang, kita berdoa saja yang terbaik buat kak Dani, oke..?” Nathan melepaskan pelukanya, lalu mengangguk. Kini Evan dan Nathan duduk di kursi tunggu, di depan ruang UGD dengan tenang. Tak berapa lama, seorang dokter masuk ke ruang UGD. Mereka tau, pasti itu adalah dokter yang akan menangani Dani. Sekitar sepuluh menit berada di dalam ruang UGD, sang dokter keluar.
“Maaf, siapa di sini yang keluarganya pasien di dalam..?”
“Saya pak..?” jawab Evan dengan cepat.
“Maaf, pasien harus segera di operasi, apakah anda yang bertanggung jawab..?”
“Iya dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan kakak saya..”
“Baiklah, saya akan berusaha yang terbaik..”
Evan segera mengurus administrasi ini dan itu, lalu menandatangani formulir persetujuan operasi. Setelah selesai, dokter segera mengoperasi Dani di ruang operasi. Evan dan Nathan menunggui di sana. Lampu mulai menyala. Sesekali keduanya gantian mondar-mandir. Resah dan gelisah, sekaligus khawatir bercampur jadi satu. Sekitar dua jam kemudian, lampu operasi sudah mati, tanda operasi sudah selesai. Keduanya merasa lega dan tak sabar akan bertanya kepada dokter yang masih berada di dalam.
__ADS_1
“Bagaimana dok, keadaan pasien di dalam..?” tanya Nathan ketika sang dokter keluar dari ruang operasi.
BERSAMBUNG