Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 43


__ADS_3

Dengan langkah berat, Dani menuju kamar mandi. Ia menyalakan kran dan memencet tombol air hangat dan mulai memenuhi bathtub yang ada di kamar mandi tersebut. Sambil menunggu air penuh, Dani melamun.


“Bagaimana caranya memberi pelajaran kepada mas Daniel? Ayo Dani, berfikirlah..” gumamnya sendiri.


Sementara di luar, Daniel yang berpelukan dengan Anyelir, makin gila saja.


Cuuup cuup cuup


Kecupan demi kecupan menghujani semua bagian wajah wanita itu.


“Iiihhh yank, masih pagi nih? Ada istri kamu lo di kamar mandi...?” ujar Anyelir.


“Anggap saja dia tak ada. Lagian aku nggak peduli?” Anyelir terkekeh mendengar ucapan Daniel.


Dani yang mendengar obrolan mereka mengepalkan tanganya. Ingin rasanya ia menonjok wajah keduanya, namun ia tak mampu.


Dani tersadar ketika air yang memenuhi bak mulai meluap dan ia segera mematikan kran tersebut. Lau keluar dari kamar mandi.


“Mas, air hangatnya sudah siap.”


“Hem..” jawab Daniel yang memeluk Anyelir dengan mesranya.


“Baiklah, saya permisi dulu..” kata Dani yang akan melangkah pergi.


“Heh tunggu dulu, siapa yang mengijinkan kamu pergi? Kamu beresin dulu tempat tidurku, baru kamu boleh pergi!”


Dani menghela nafas berat. Tanpa menjawab, ia segera melakukan apa yang di katakan Daniel.


“Yank, anterin aku ke kamar mandi dong..?” Pinta Daniel sangat manjanya kepada Anyelir.


“It's oke..” Dengan saling merangkul keduanya masuk ke dalam kamar mandi.


Dada Dani semakin bergemuruh, melihat adegan demi adegan yang membuatnya jijik. Selesai merapaikan tempat tidur Daniel, ia segera bergegas akan pergi, namun lagi-lagi Anyelir menghentikan langkahnya.


“Dani, kata Daniel, ia ingin sarapan omelet lagi, tolong kamu buatkan yach..?” ucap Anyelir tersenyum tipis, seolah sedang mengejek.


“Baiklah..” jawab Dani singkat lalu segera pergi dari kamar itu. Anyelir menunggu kekasihnya sambil berbaring di ranjang dan membaca majalah.


“Mau ngapain, Non?” tanya bi Marta yang melihat Dani menyiapkan bahan omelet.


“Mau bikin omelet lagi bi, mas Daniel ingin memakanya..”


“Ya elah non, kalau bibi jadi non, bibi nggak sudi non....”


“Sudahlah bi...” jawab dani yang tersenyum manis pagi itu.

__ADS_1


Bagaimana aku nggak menyukai kamu non, jika sifat dan sikap kamu semanis hati kamu, Andani Maharani Putri.


Gumam Nathan yang mengagumi Dani. Rupanya sejak Dani masuk ke dapur, ia memperhatikan dari jauh. Nathan senyum-senyum sendiri melihat Dani yang sibuk ini itu. Dalam pandanganya, ia semakin manis saja saat berpenampilan ala kadarnya, dan habis bangun tidur seperti itu.


Pandangan mata Nathan segera buyar, tatakala melihat Daniel turun menuju meja makan.


“Heehh, gadis bodoh!! Aku mau sarapan sekarang...” Panggilan itu membuat Nathan sedikit marah, namun ia sadar, ia adalah pengawal suaminya, ia tak dapat berbuat apa-apa.


“Ini mas, omeletnya sudah siap..” Dani menyajikan dua omelet untuk Daniel dan Anyelir. Namun entah karena apa penyebabnya, saat Dani menyajikan untuk Anyelir, kaakinya tersandung dan alhasil omelet itu tumpah mengenai baju Anyelir.


“Gimana sih, punya mata nggak..!!” teriak Anyelir yang spontan berdiri. Daniel masih duduk menahan amarah.


“Lihat kelakuan istri kamu, Daniel..!!”


Braakkkkkkk


Daniel spontan berdiri dan menggebrak meja makan. Hal itu membuat Dani kaget dan memciut nyalinya.


“Maaf mas, saya benar-benar nggak sengaja.” ucap Dani membela dirinya. Ingin rasanya Nathan membela dan membawa Dani dari tempat itu, namun lagi-lagi ia tak mampu.


“Kemari kamu!!” Dani mendekat perlahan.


“Kamu sengaja kan..?” tanya Daniel dengan kedua mata melotot. Entah dari mana keberanian Dani muncul.


“Kenapa mas nggak percaya dengan Dani? Dani istri mas!! Dani juga bisa marah, bisa sakit, melihat perlakuan mas seperti ini!! Benar dia kekasih mas, tapi dia nggak berhak datang dan pergi seenaknya ke rumah ini...!!”


Dani menatap Daniel, lelaki itu mendekati Anyelir, dan mencium pipi kekasihnya sebagai jawaban atas tatapan mata Dani.


Hancur sudah. Hati Dani serasa sakit seperti terkena goresan kaca pecah. Air matanya tak dapat di tahan lagi.


“Kau tidak perlu menangisi mereka berdua kak Dani..!! Simpan saja air mata kamu yang berharga ini!!” Tiba-tiba Evan masuk dan membuat semuanya kaget.


“E..evan..?” ucap Dani terbata karena terisak.


“Hapuslah air mata kakak, jangan menangis sepagi ini, pamali...” imbuh Evan yang memberikan sapu tanganya untuk mengusap air mata Dani.


“Jangan ikut campur urusan orang lain!! Sudah cukup kamu membuat aku membenci kamu!! Apa mau aku membencimu seumur hidupku?” ujar Daniel yang membuat Evan mengepalkan tanganya dan masih membelakangi Daniel, kakaknya.


“Membenciku? Jika saja aku menjadi anak kandung papa, tentu aku yang akan menjadi suami kak Dani. Betapa sialnya kak Dani menjadi istri kamu kak Daniel, sangat di sayangkan..!! Wanita secantik ini harus di sia-siakan suaminya, hanya karena wanita seperti dia..!!” ucap Evan dan menunjuk Anyelir dengan pandamgan sinis.


“Kamu...!!!” Daniel melangkah maju dan akan menghantam wajah Evan.


“Berhenti mas Daniel..!” ucap dani menghalangi perbuatan Daniel. Ia tak ingin kakak beradik itu sampai baku hantam karenanya.


Bugggghhhhh

__ADS_1


“Awww...” teriak Dani yang tersungkur ke lantai karena kena bogem mentah Daniel. Seketika matanya nanar, dan semua yang ia lihat begitu gelap. Dani pingsan.


“Dani...!!” teriak Daniel yang kaget melihat Dani yang terkena bogem mentahnya.


“Kak Dani..?” teriak Evan medekat ke tubuh Dani yang pingsan. Daniel berdiri mematung melihat Dani pingsan.


“Kak Dani..!! Bangun..?” ucap Evan yang mengguncang tibuh kakak iparnya.


“Non Dani...?” teriak Nathan yang datng sambil berlari mendekat ke arah Evan, karena sejak tadi ia melihat dan memprhatikan semuanya.


“Di mana kamarnya..?” tanya Evan dengan gugup.


“Di belakang, mas..” jawab Evan sambil menunjuk letak kamar Dani.


“Di belakang?” Evan menatap Daniel penuh kebencian.


“Tolong antarkan saya...” kata Evan.


“Mari...” jawab Nathan yang sebenarnya sangat tidak rela melihat gadis yang ia sukai di bopong oleh lelaki lain, dan itu adik dari majikanya. Evan membopong dan membawa tubuh Dani ke kamarnya.


“Yank, sebaiknya aku pulang saja, aku nggak enak berada di sini kalau ada adik kamu yank..?” ucap Anyelir yang takut melihat kejadian barusan.


“Baiklah, kamu bawa mobil kan...?” Anyelir mengangguk, dan Daniel mengantarnya sampai ke depan.


“Ini kah kamar kak Dani?” ujar Evan ketika memasukinya.


“Benar mas, ini kamar non Dani..”


“Kak Daniel sungguh keterlaluan..!!”


“Tolong ambilkan minyak angin...” kata Evan kepada Nathan. Nathan segera mengambilkanya. Evan mencoba menyadarkan Dani dengan menciumkan aroma minyak angin tersebut di sekitar hidung Dani.


“Mas Evan, non Dani nggak papa kan..?” ucap bibi yang juga berada di kamar itu.


“Bibi tenang saja, sebentar lagi ia akan sadar. Bi, tolong jaga kak Dani, Evan mau menemui kak Daniel dulu..” Bibi mengangguk dan Evan segera keluar dari kamar itu.


Buuuuuggggghhhh


Secara spontan dan tiba-tiba, Evan mengarahkan bogemnya ke wajah Daniel.


“Cuuiiihhhh..!! Apa maksud kamu bocah ingusan?”


“Itu sebagai balasan karena kakak telah membuat kak Dani pingsan..!”


“Rupanya kamu sudah mulai berani denganku, baiklah, berarti kamu mengibarkan bendera perang, denganku..!!”

__ADS_1


“Ya mulai saat ini, aku menyatakan menentang kakak. Puasss..!!!” ujar Evan dengan sedikit melotot kepada Daniel.


BERSAMBUNG


__ADS_2