Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 49


__ADS_3

Sudah dua jam berlalu setelah Dani masuk ke ruang rawat VVIP, namun belum ada tanda-tanda yang menujukan kalau ia akan siuman. Begitu juga dengan Daniel suaminya, ia tak ada kabar. Membalas pesan dari Nathan juga tidak.


Malam semakin larut. Angin berhembus menggoyang dedaunan dan membuat beberapa helai di antara ribuan jatuh ke tanah. Nathan masih gelisah menunggui Dani. Sesekali ia mondar-mandir, karena cemas dengan majikan mudanya yang tengah berbaring, dengan jarum infus yang menancap menghiasi tangan kirinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu di tengah malam mengejutkan Nathan.


“Siapa malam-malam begini mengetuk pintu..?" gumam Nathan lirih. Baru saja ia selesai bergumam, pintu di buka oleh seseorang.


“Malam, mas..?” sapa seorang suster dengan ramah.


“Malam, sus..?” jawab Nathan.


“Cuma mau ngecek keadaan pasien saja..”


“Silakan sus..”


Nathan beralih dari tempat duduknya, dan berdiri untuk memberikan kesempatan kepada suster tersebut memeriksa keadaan Dani. Mulai mengecek badan, lalu mengecek infus.


“Semua baik-baik saja kan, sus..?” tanya Nathan.


“Baik kok, masnya jangan kahawatir, paling bentar lagi siuman. Saya peemisi dulu..?”


“Oh begitu? Iya sus, silakan..”


Setelah mendengar perkataan suster, hati Nathan lega.


Kruuuukkkkk


Bunyi perut Nathan yang keroncongan minta di isi. Sejak ia mengantar kedua majikanya tadi, hanya secangkir kopi yang masuk keperutnya.


“Kenapa protes di jam-jam begini sih? Mau ninggalin non Dani, tapi nggak tega, tapi kalau nggak di isi, perutku semakin perih..” gumam Nathan sambil memegangi perutnya.


“Ah, ya udahlah, buat tiduran di sofa saja, tar juga ilang lapernya..” gumam Nathan lagi. Nathan berbalik hendak berjalan menuju sofa untuk duduk. Langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menahan kepergianya. Nathan menoleh ke belakang.


“Aku takut. Jangan pergi tinggalkan aku, Nathan." Mendengar ucapan gadis yang ia sukai, dan tangan lembut yang memegangnya, membuat hati Nathan iba, karena kedua sudut kelopak mata Dani telah tergenangi oleh air mata. Begitu saja jatuh membasahi pipi gadis itu. Nathan kembali duduk di sebelah Dani. Dengan sendirinya, tangan Nathan menghapus air mata Dani.


“Non Dani jangan takut, saya akan di sini menemani Non, jangan menangis lagi, karena air mata ini sangat berharga untuk di jatuhkan..” ucap Nathan dengan tersenyum.


Tanpa Nathan sadari, ia di awasi oleh sepasang mata yang dari tadi mengawasinya dari luar kamar Dani melalui kaca yang terdapat di pintu kamar tersebut. Sepasang mata dengan sorot yang sangat tajam.


Apa maksud semua ini Nathan? Apa kah kamu menyukai Dani, gadis bodoh itu?


Gumam orang yang tengah mengintai itu.


“Nathan, aku haus..”


“Haus..? Non tunggu sebentar, Nathan akan membeli minum di toserba rumah sakit ini. Non Dani di sini sendiri, gak papa kan..?”

__ADS_1


Mendengar ucapan Nathan, orang yang mengawasi tadi segera pergi dari tempat itu, agar tak ketahuan bahwa ia sudah melihat semuanya.


“Iya..” jawab Dani.


Nathan segera melangkah keluar dari kamar meninggalkan Dani sendirian, untuk membelikanya air mineral. Karena tadi ia tak sempat membeli apa-apa di karenakan begitu paniknya dengan keadaan Dani.


Setelah kepergian Nathan, Dani sendirian. Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki. Semakin lama, semakin mendekati ruanganya. Dari tempat tidurnya, dan penerangan yang tadi sempat di redupkan oleh Nathan, ia dapat dengan jelas melihat bayangan seseorang yang berdiri di depan pintunya.


Cekkleeekkk


Pintu kamarnya terbuka, dan seseorang masuk ke kamarnya.


“Mas Daniel..?” ucap Dani kaget. Karena tak menyangka Daniel akan datang. Ia berusaha bangun dan beringsut dari tempatnya.


“Ma...mas Daniel mu apa..?” tanya Dani ketakutan. Daniel tak menjawab. Ia berjalan mendekati Dani, dan tak langsung menjawab Dani. Ia menatap gadis itu sesaat.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Daniel dengan sinis.


“Seperti yang ma...mas lihat..”


“Aku nggak mau kalau sampai papa tau kamu di rumah sakit. Besok harus sudah pulang, gak usah lama-lama di sini! Ngerti kan..??”


“Tapi mas...?”


“Kamu mau bantah..?” ucap Danil yang memelototi Dani.


“Mas Daniel..?” sapa Nathan yang baru saja datang membawa tas plastik berisi makanan ringan dan air mineral.


“Besok kamu bawa non Dani pulang, nggak usah nunggu sembuh, rawat jalan saja..”


“Baik mas, saya mengerti..”


“Baiklah. Kamu jaga dia malam ini, aku akan pulang..”


“Mas Daniel nggak nungguin non Dani..?”


“Tidak..”


“Dan kamu, ingat kan kata-kata ku tadi?” ucap Daniel yang beralih menatap Dani.


Dani tak menjawab. Ia hanya mengangguk mendengar perkataan suaminya. Setelah berkata demikian, Daniel melangkah pergi meninggalkan Nathan dan Dani.


Kini tinggal mereka berdua di kamar itu.


“Non, ini di minum dulu, katanya tadi haus..?” ucap Nathan yang membukakan tutup air mineral.


“Iya..?” jawab Dani seraya bangum dari tidurnya. Lalu meneguk air mineral yang di berikan oleh Nathan.


“Non nggak lapar? Tadi saya juga beli roti, kalau-kalau non Dani merasakan lapar..”

__ADS_1


“Enggak kok, nanti kalau saya lapar, saya akan bilang sama kamu..” jawab Dani tersenyum tipis.


Malam itu, Dani di tunggui oleh Nathan. Hingga ia terlelap, Nathan dengan setia menjaga nona mudanya. Nathan tersenyum melihat ekspresi wajah Dani ketika sedang tidur, polos seperti bayi yang belum memikirkan apa-apa, yang tahunya hanya bermain dan dan bermanja. Namun itu berbalik dengan kenyataanya.


***


Pagi pun tiba. Dani terbangun dari tidurnya, saat ia merasakan tanganya di sentuh seseorang.


“Pagi mbak.., bagaimana? Nyenyak tidurnya..?” sapa sang suster yang mengecek kondisinya pagi itu.


“Suster? Pagi juga. Sekarang udah merasa baikan. Nanti saya boleh pulang kan sus..?”


“Boleh, ini saya mau lepas jarum infusnya..” imbuh suster itu lagi.


Rupanya tadi malam, tanpa sepengetahuan Dani, Daniel telah menelfon pihak rumah sakit untuk memperbolehkan Dani pulang. Dan pihak rumah sakit mengiyakan, karena tahu sedang bicara dengan anak orang yang sangat berpengaruh di kota itu. Siapa yang tak kenal dengan naman Wijaya Permana.


“Di makan dulu non buburnya..?” ucap Nathan yang menodorkan bubur yang di berikan oleh suster.


“Iya, terima kasih..”


Dani menerima bubur tersebut lalu menyantapnya sesendok demi sesendok. Nathan tersenyum melihat Dani makan dengan lahap.


“Pelan-pelan non, nanti tersedak..?”


Dani mengangguk dan tersenyum. Karena terburu-buru, ada sedikit bubur yang tertinggal di bawah bibir Dani. Nathan mengambil tisu dan mengelapnya. Melihat apa yang di lakukan Nathan, Dani terbengong. Sedangkan Nathan, kini terlihat tidak canggung.


“Ayo di lanjut makan buburnya, non..?”


“I...iya, Nathan..”


Selesai makan bubur, Dan membereskan semuanya, Natham membawa Dani pulang ke rumah Daniel.


“Nah, kita sedah sampai non..”


Setelah menghentikan mobilnya, Nathan keluar dan berlari untuk membukakan pintu buat Dani. Daniel yang berada di kamarnya, melihat kedatangan Dani dan Nathan dari atas, melalui jendela kamarnya. Ada sedikit rasa cemburu mulai menyelinap, tanpa permisi menempati ruang hati Daniel, tatkala melihat Nathan dengan penuh perhatian memperlakukan Dani.


“Sepertinya kamu menyukai gadis bodoh itu, Nathan. Kita lihat saja, permainan segera di mulai. Kamu berani mencuri ikan dari majikanmu sendiri, walau ikan itu tidak membuatku berselera untuk memakanya..” gumam Daniel lirih dan tersenyum sinis.


Tapi.., kenapa dengan hatiku ini..? Rasanya sakit melihat kalian berdua tadi malam. Aahhh...bulshit..


Daniel menepis perasaanya sendiri.


“Non Dani..?” sapa bi Marta yang menghambur ke arah Dani, lalu memeluknya.


“Bibi..”


“Syukurlah non sudah pulang, mari saya antar ke kamar, non.”


“Iya bi, terima kasih..”

__ADS_1


Bi Marta mengantar Dani ke kamarnya. Nathan berjalan di belakang mereka. Tanpa mereka tau, Daniel mengawasi mereka.


BERSAMBUNG


__ADS_2