Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 12


__ADS_3

Nenek Eliza, adalah satu-satunya keluarga Dani yang masih ia punya sekaligus pengganti kedua orang tuanya. Apa pun yang di katakan Neneknya, Dani tak akan pernah mengatakan tidak atau pun menolaknya. Karena ia sangat menyayangi neneknya melebihi apa pun.


Tok tok tok


Suara pintu kamar di ketuk. Tak berapa lama, pintu terbuka.


“Nenek..?”


Begitu gembira sekali saat Dani melihat neneknya datang bersama Ken dan mbak Risa, asisten neneknya. Nenek Eliza menghampiri dan memeluk cucu semata wayangnya. Nenek tersenyum kepada tuan Wijaya.


“Kenapa nenek baru datang? Dani sendirian di sini..”


“Maafkan nenek, nenek harus mengurus toko juga. Beruntung ada nak Ken yang selalu setia menunggui kamu di sini.."


Mata Dani menatap Ken. Tersenyum sesaat yang mempunyai sejuta makna.


Terima kasih atas kebaikan kamu. Selain sopan, kamu juga baik hati. Ingin sekali punya seorang kakak sepertimu Ken.


Ken mengedipkan mata, dan menundukan kepalanya sedikit. Kembali Dani larut dalam pelukan neneknya.


“Tuan, terima kasih atas kebaikan anda yang telah menanggung semuanya untuk cucu saya..”


“Semuanya tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan apa yang telah cucu anda lakukan untuk saya. Kalau saja tidak ada nona ini, mungkin saya yang berada di ruang ICU. Terima kasih saya ucapkan kepada nona dan Nenek.."


Sementara di lain tempat, Daniel yang sudah menunggui operasi Nathan, tersenyum dengan lega. Karena lampu merah yang menyala di depan ruang operasi telah padam. Dan sesaat kemudian pintu terbuka. Seorang dokter keluar dengan masih memakai baju operasi dan masker.


“Dokter bagaimana kondisi pasien...?” tanya Daniel yang menghadang perjalanan dokter tersebut karena tak sabar ingin tahu keadaan orang yang telah menolongnya.


“Tenang saja, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, dan dia baik-baik saja..”


“Oh syukurlah, terima kasih dokter..?”


Tak berapa lama setelah sang dokter berlalu, Nathan yang masih tak sadarkan diri, dan sudah selesai di operasi, di dorong keluar dan hendak di pindahkan ke ruang rawat inap.


“Suster, tolong tempatkan pasien ini di ruang VVIP..” Pinta Danil dan di iyakan oleh salah satu suster yang mendorong ranjang Nathan.


Aneh memang. Ataukah ini yang di namakan takdir. Takdir Dani, Daniel dan Nathan yang akan di pertemukan. Karena kamar rawat Nathan tepat berada di sebelah kamar Dani. Tuhan telah mengatur semua jalan hidup yang akan di alami umatnya yang terkadang berakhir dengan happy ending ataukah sad ending.


“Saya merasa lega, melihat kondisi cucu anda sudah membaik, untuk itu saya permisi, dan mohon pamit. Saya akan sering mengunjungi cucu anda ke sini sampai ia di nyatakan boleh pulang oleh dokter..”


“Sekali lagi terima kasih Tuan, atas kebaikan anda..”


“Sama-sama Nyonya..”

__ADS_1


Setelah berjabat tangan dan pamit, Ken dan tuan Wijay keluar dari ruangan Dani. Saat mereka di luar ruangan itulah, tanpa sengaja Daniel juga keluar dan sedikit terkejut.


“Papa...?”


“Daniel..?”


“Papa ngapain..?”


“Kamu sendiri..?”


“Daniel sedang menunggu seseorang dan ia telah menyelamatkan nyawa Daniel..”


“Kalau begitu kita dalam posisi yang sama..”


“Papa juga seperti Daniel..? Yang menyelamatkan papa laki-laki juga..?”


“Bukan. Tapi seorang gadis. Sebelum papa pulang, papa ingin kamu menengoknya, dan mengucapkan terima kasih kepadanya..”


“Saya...?” ucap Daniel menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, kamu. Kenapa?”


“Baiklah pah..”


“Permisi, maaf nyonya, saya kembali lagi. Perkenalkan ini putra saya, dan kemari ingin mengucapkan terima kasih kepada nona Dani, sekaligus memperkenalkan diri..”


Apaan..? Papa yang maksa, kalau aku sih ogah. Di lihat dari penampilanya biasa saja, wajah nggak cantik-cantik amat. Kalah jauh dengan Anyelir.


“Daniel..!!?” Panggilan tuan Wijaya menyadarkan lamunan Daniel.


“I...iya. Nona, terima kasih saya ucapkan karena nona telah menyelamatkan papa saya. Perkenalkan saya Daniel..” ucap Daniel dengan wajah yang berekspresi datar dan mengulurkan tanganya.


“Sama-sama, saya Dani, senang bisa bertemu anda..” ucap Dani dengan lemah sambil menjabat tangan Daniel.


Pertemuan pertama Dani dan Daniel tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Begitu saja, dan saling tak memberikan ekspresi apa pun. Dani hanya melihat sosok Daniel adalah anak orang kaya yang pastinya sombong dan bersikap semaunya.


“Pah, bolehkah Daniel meminta bantuan sedikit dari papa..?” ucap Daniel setelah keluar dari kamar Dani.


“Katakanlah..”


“Bolehkah saya meminjam Ken sebentar saja...” Tuan Wijaya mengiyakan.


“Ken, boleh aku minta tolong?”

__ADS_1


“Saya akan senang hati melakukanya untuk mas Daniel..”


“Bisakah kamu menunggu orang yang ada di dalam untuk saya..?” Daniel menunjuk kamar di mana Nathan terbaring.


Mas Daniel, mas Daniel.., tidakah mas Daniel mengerti, badan saya juga capek, butuh istirahat. Egois sekali.


“Baiklah, saya akan melaksanakan seperti keinginan mas Daniel..”


Siang itu, jadilah Ken gantian menunggui Nathan setelah ia menunggui Dani.


“Dani sayang, nenek pulang dulu, kamu akan di sini bersama mbak Risa..."


“Iya, nenek istirahat saja..”


“Risa, titip Dani ya..?” Risa tersenyum dan mengangguk. Risa pun mengantar nenek Eliza sampai kedepan rumah sakit dan memastikan beliau sudah masuk ke dalam taksi. Ia pun segera kembali ke kamar Dani.


Ken yang jenuh berada di kamar Nathan, karena ia belum sadar juga, ia berinisiatif untuk pergi ke kantin, mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya.


“Nona..?” sapa Ken yang berpapasan dengan Risa di lorong rumah sakit.


“Tuan..?” jawab Risa yang sedikit terkejut.


“Masih di sini..?” tanya Risa lagi.


“Iya. Nunggu pasien lagi..”


Kasian banget. Pasti kamu lelah sekali. Begini kah rasanya jadi asisten pribadi. Harus menurut apa kata majikanya..?


“Anda mau ke mana?”


“Cari sesuatu untuk mengganjal perut. Anda sendiri..?”


“Oh saya mau ke kamar non Dani, karena saya yang akan menunggunya..”


Apa..? Menunggunya..?


Batin Ken dengan hati yang sangat girang. Entah kenapa, Ken juga tidak tahu. Rasa itu muncul begitu saja. Berdebar, dag dig dug, setiap kali ia bertemu Risa, wanita yang cantik dan selalu berpenampilan sederhana, yang mampu mengganggu perhatianya.


“Kalau begitu, saya permisi, mari..?” ucap Ken dengan agak gugup, namun dapat ia sembunyikan. Risa tersenyum dan segera berlalu pergi. Keduanya saling berjalan menjauh berlawanan arah. Ken ke kantin dan Risa ke kamar Dani.


Malam itu, Ken dan Risa sama-sama menunggu pasien di rumah sakit. Itu cukup membuat hati Ken tak merasa sendirian, karena Risa berada di kamar sebelahnya. Sedangkan Daniel dengan egois sedang berada di kamar yang ia sewa bersama Anyelir. Dan membebani Ken dengan tugas yang seharusnya ia tau, bahwa Ken juga seorang manusia, ia juga merasa lelah dan letih.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2