
“ Maaahh, mama ingat gak sama keinginan Juna yang tempo hari Juna sampaikan sama mama...?”
“Yang mana...?” nyonya Felix mengerutkan dahinya.
“Itu mah, tentang niat Juna melamar dan menikahi Dani, mama ingat..?”
Sesaat nyonya Felix berfikir lalu melebarkan senyumnya.
“Ingat, kenapa..? Kamu mau secepatnya melamar dia..?”
“Iya mah, jika mama merestuinya. Niat Juna ke sini mau bilang sama mama sekaligus meminta restu dari mama.”
“Mama merestui kamu nak, siapa pun pilihan kamu, mama dan papa akan setuju. Jika kamu bahagia, dan kebahagiaan kamu ada pada Dani, kami bisa berbuat apa..?”
“Terima kasih mam..”
Nathan memeluk mamanya. Nyonya Felix memeluk Nathan dengan hangat sambil menepuk-nepuk bahu anaknya. Lalu segera melepaskanya.
“Rencananya kapan akan ke rumah Daninya, Jun..?”
“Bagaimana kalau besok sore mah...?”
Nyonya Felix berfikir sejenak. Lalu segera menjawabnya.
“Baiklah, nanti akan mama sampaikan sama papa kalau sudah pulang.”
“Emmm mah, Juna minta tolong mama untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang akan di bawa sebagai hantaran buat ke rumah Dani nanti..”
“Oke-oke. Kamu terima beresnya aja. Mama akan siapkan semuanya...”
“Lega hati Juna sekarang mah. Rasanya tu udah gak kepengen apa-apa lagi kalau Dani udah jadi milik Juna, mah..”
“Emmmm, iya-iya, percaya kok. Mama juga tau rasanya kek gimana sekarang hati kamu..”
Juna menyandarkan tubuhnya di sofa di samping mamanya. Obrolan hangat mereka berlanjut semakin asyik. Sementara di lain tempat, Daniel tengah asyik mengirim chat kepada Dani. Daniel ingin ketemu dengan Dani rupanya.
Ttiiiiingg
Pesan masuk ke handphone Dani.
👨 : “ Dan...”
👩 : “Iya, kenapa mas..?” balasan Dani via chating.
👨 : “Mas pengen ketemu kamu, bisa nggak...?”
👩 : “Sekarang atau kapan...?”
👨 : “Bagaimana kalau nanti sore, bisa nggak..? Mas jemput, cuma pengen sharing, gak lebih kok, please...?”
👩 : “Emmm, baiklah. Tapi saya bilang dulu ya sama Nathan, takutnya tar kalau dia tahu, bisa salah paham..”
👨 : “Ohhh kalau soal itu, kamu tenang saja, aku yang akan minta ijin kepadanya nnti...”
👩 : “Baiklah mas...”
👨 : “Oke Dan, 3 jam lagi mas ke situ ya, jemput kamu...”
👩 : “Oke, mas..”
__ADS_1
Chating segera berakhir. Dani menengok jam dinding. Masih ada waktu 3 jam lagi. Sementara Daniel, ia langsung menelfon Nathan, untuk meminta ijin meminjam Dani sebentar.
Tuuuuuuutttt Tuuuuuuutttt Tuuuuutttt
Handphone Nathan menegeluarkan notifikasi nada panggilan. Ia segera meraihnya.
“Mas Daniel...?” gumam Nathan yang sedikit mengerutkan dahinya.
“Bentar mah, Juna terima telfon dulu..” nyonya Felix mengangguk dan Nathan berdiri untuk mencari tempat agar bisa ngobrol dengan Daniel.
🧒 : “Ya hallo mas Daniel, ada apa...?”
👨 : “Nathan, maaf ganggu nggak nih..?”
🧒 : “Enggak kok mas, lagi nyantai ngobrol sama mama...”
👨 : “Oh begitu, begini Nath, saya cuma mau bilang, saya minta ijin sama kamu, apakah boleh nanti sore saya pinjam Dani sebentar, cuma mau sharing aja, nggak macem-macem kok...”
🧒 : “Owwhh, boleh mas.., silahkan saja..”
👨 : “Bener ya, kamu nggak marah kan...?”
🧒 : “Iya mas, beneran...”
👨 : “Oke, terimakasih Nath, kalau begitu aku tutup telefonya ya...?”
🧒 : “Iya mas, sama-sama. Baiklah mas kalau begitu..”
Keduanya saling menutup telefon. Sebenarnya sih ada sedikit ketidak relaan dalam hati Nathan. Namun ia tak ingin terkesan mengekang Dani, karena ia belum sah jadi miliknya.
Nathan kembali di mana mamanya masih duduk santai sambil mengutak-atik telefon genggamnya.
“Dari kakak bosnya Juna, mah..?”
“Ooo, kalau boleh mama tau, kenapa dengan wajah kamu sayang, kok tetiba saja berubah jadi kusut gini...?”
“Hemmmmhhhh...”
Terdengar suara dengusan nafas dari Nathan di sertai dengan hempasan pelan tubuhnya ke sofa, tepat di samping mamanya.
“Maaah, Juna mau tanya..”
“Iya, tanya aja..” jawab nyonya Felix sekenanya yang kembali fokus ke handphonenya.
“Menurut mama, apakah terlalu berlebihan, jika Juna cemburu kepada calon istri Juna, mah..?”
Nyonya Felix spontan menghentikan aktifitas jarinya yang tengah mengetik pesan di layar handphonenya. Ia penasaran dengan pertanyaan putranya, dan sedikit mengerutkan dahinya.
“Cemburu....?” tanya nyonya Felix yang kini merubah posisi duduknya dan menghadap putranya.
“Iyaaaa, dikit sih maaahh...” jawab Nathan dengan agak sewotnya.
“Hahaha..., Juna..Juna, kamu bisa cemburu juga to...?”
“Gak lucu ahh, Juna serius niihhh...”
Nyonya Felix masih tertawa, melihat tingkah anaknya yang di rasa cukup menggelikan.
“Iya, iya maaf, abisnya baru kali ini mama liat kamu cemburu, memangnya kenapa kok kamu bisa cemburu.....?”
__ADS_1
“Gak ah, tar mama ketawa lagi...?”
“Enggak kok, ayo cerita donk...?”
“Baiklah, sekarang Juna akan menceritakan semuanya mah, karena memulai sesuatu yang baik itu harus dengan kejujuran, benarkan mah...?”
“Tepat sekali. Kalau akan memulai sesuatu yang baik itu, tentulah dengan kejujuran, walaupun dengan kejujuran kita akan merasakan kesakitan, namun justru itulah yang membuat hati lega, tapi banyak juga dengan kejujuran, bisa membuat hati orang berubah. Entah itu cinta jadi benci atau sebaliknya. Tapi yang jelas, mama ataupun papa akan menghargai kejujuran kamu..”
“Hemm baiklah, Juna akan jujur sama mama, tentang Dani. Dan tak ada satu hal kecil pun yang akan Juna tutupi mah...”
Nyonya Felix mengangguk dan mulai antusias mendengarkan kejujuran dari putranya.
“Maaah, mama tau kan gadis yang Juna cintai..? Andani Maharani Putri..?”
Nyonya Felix mengiyakan sambil mengangguk.
“Entah mama atau papa akan mengatakan Juna bodoh atau apa, Juna nggak akn marah. Tapi memang kenyataan bahwa Juna mencintai mantan istri dari anak Permana Wijaya mah..”
“Apa...? Apakah itu berarti calon istri kamu adalah janda dari Daniel Permana Wijaya...?” Ekspresi terkejut jelas memenuhi wajah nyonya Felix. Bahkan kedua bola matanya agak melotot saking terkejutnya.
“Iya mah, maafkan Juna mah..?”
Nyonya Felix menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya dengan pelan.
“Kamu nggak salah sayang. Mama tau cinta tak bisa di paksakan. Bila itu sudah menjadi pilihan hidup kamu, mama akan merestui kalian, mama enggak marah, ataupun menganggap kamu bodoh. Hanya hati yang bisa merasakan mana yang bisa membuatnya bahagia, dan mana yang membuatnya sengsara. Janda atau gadis, bagi mama nggak masalah, kan sama-sama hamba Tuhan. Semua derajat sama saja di mata Tuhan. Mama acungi jempol buat kamu sayang, karena secara tidak langsung, dengan menikahi seorang janda, berarti kamu mengangkat derajatnya, mama sangat bangga...”
“Benarkah..? Mama tidak marah sama sekali...?”
“Nih liat wajah mama, adakah sedikit lipatam di wajah mama karena ekspresi marah...? Enggak kan...?”
“Terima kasih mama...” ucap Juna dan menghambur memeluk mamanya.
“Juna nggak tau lagi harus bilang apa. Pokoknya, saat ini, Juna hanya merasakan kebahagiaan yang besar. Juna telah mendapatkan dua anugrah, yaitu dua wanita yang sangat Juna cintai, pertama mama, dan kedua adalah Dani, calon istri Juna...”
Nyonya Felix tersenyum. Melihat kebahagiaan terpancar di wajah putranya. Apasih yang bisa membuat orang tua bahagia kalau bukan melihat senyum dan kebahagiaan anaknya, begitu juga sebaliknya, kebahagiaan anak adalah melihat senyum dan kebahagiaan orang tuanya, apalagi setiap langkah dan tindakan di restui kedua orang tua.
Hari semakin beranjak sore. Obrolan anak dan mama usai sudah. Nathan kini sedang merebahkan tubuhnya di ranjang. Dalam kamar, yang tak lain adalah kamarnya sendiri, ia berbaring telentang sambil tangan dan mata tak lepas menatap layar handphone.
“Kenapa Dani tak memberi kabar aku sih..? Harusnya dia bilang sendiri ke aku..” gumam Nathan dengan wajah agak cemberut.
Di lain tempat, Dani sudah bersiap 30 menit sebelum waktu yang di janjikan. Ia sadah rapi dan duduk di tepi ranjangnya.
“Ahhh, mau nelfon Nathan dulu sebelum mas Daniel jemput..”
Dani mulai mencari nama Nathan di layar handphonenya.
Tuuuuuuutttttt Tuuuuutttt Tuuuuuuttt
Dering telfon mengejutkan Nathan. Namun ada senyuman yang mengembang menghiasi bibirnya, tatkala nama yang sedang ada dalam benaknya begitu indah menghiasi layar handphonenya. Lalu dengan segera ia mengangkatnya.
🧒 : “Halloo, di sini calon suaminya Rani, dengan siapa ini...?” sambil cengar-cengir sendiri.
👩 : ”Eheemmm, ini dengan calon istrinya Nathan, bisa berbicara dengan beliau...?”
🧒 : “Hehehe, iya sayank, ada apa..? Tumben telefon, padahal baru aja ketemu, masa udah kangen lagi...?”
👩 : “Gini yank, aku mau minta ijin, boleh ngak aku nemenin mas Daniel buat ngobrol, katanya sih mau bicara sesuatu, tadi juga katanya mas Daniel mau ijin sendiri ke kamu yank, udah apa belum..?”
👦 : “Oohh itu, iya aku ijinin, tadi mas Daniel juga udah ijin ke aku kok...”
__ADS_1
BERSAMBUNG