
Dani terus merintih menahan sakit di tenggorokanya. Daniel semakin panik melihat Dani seperti itu. Baru pertama kali ia merasakan panik sehebat itu, melihat istri yang di sia-siakanya menahan sakit, sampai-sampai wajahnya memerah dan tak dapat berkata apa-apa. Cuma erangan yang keluar dari bibir Dani walau tak jelas apa yang ingin di katakanya.
“Dani sayang, sabar yach, sebentar lagi dokter akan kemari...” ucap Daniel dengan wajah cemas.
“Evaaann..!! Evan... !!” teriak Daniel yang begitu melengking sampai terdengar oleh Nathan yang mondar-mandir di bawah. karena letak kamar Daniel berada di atas.
“Sus....ter, tolong..., teng...ngok keadaan me...nantu saya...” ucap tuan Wijaya dengan terbata, yang juga berada di ruangan yang sama dengan Nathan berada.
“Baik tuan, saya akan melihat keadaan non Dani...”
Sang suster segera beranjak dan menaiki satu persatu anak tangga. Dengan langkah tergesa, ia menuju ke kamar Daniel.
“Kamu yang tenang Daniel, Evan baru menelfon dokter Haris...”
“Mana bisa Daniel tenang tante, melihat keadaan Dani seperti ini membuat Daniel tak tenang. Tuhan, tolong jangan beri dia sakit seperti ini, biar aku saja yang merasakanya, Tuhan...”
Sambil menggenggam tangan Dani, Daniel terus saja mengoceh. Entah itu memanggil Evan atau memohon kepada Tuhan. Benar-benar kepanikan melandanya sekarang.
Tak lama setelah berselang, dokter Haris datang dan berjalan beriringan bersama Evan.
“Oh syukurlah, dokter sudah datang, tolong dok, cepat periksa istri saya, karena dia terus kesakitan..”
“Baiklah mas Daniel, anda tenang dulu, biar saya yang menanganinya.”
Daniel mengangguk. Ia mundur beberapa langkah, dan memberikan tempat kepada dokter Haris untuk segera memeriksa keadaan Dani dengan detail dan sangat teliti sekali. Beberapa menit kemudian, dokter Haris selesai setelah memberi suntikan kepada Dani dan Dani sudah terlihat tenang.
“Maaf, bolehkah saya tau, apakah nona ini punya alergi terhadap makanan tertentu..?” tanya dokter Haris yang memasukan semua peralatan medisnya ke dalam tas yang ia bawa.
“Sa...saya nggak tau dok, memangnya istri saya kenapa dok..?” tanya Daniel dengan serius.
“Tadi abis makan apa..?” tanya dokter Haris lagi.
“Setau saya, tadi abis makan puding, benar kan tante...?” ucap Daniel menguatkan jawabanya.
“Iya dok, tadi keponakan saya abis makan puding buatan saya. Pudding kacang merah saus vla..”
“Nona alergi makan kacang merah..?” tanya dokter Haris, dan Dani menganggukan kepala mengiyakan pertanyaan dokter Haris.
“Naah, tepat tebakan saya, nona ini menderita alergi karena makan puding kacang merah. Saya sudah memberikan dia suntikan agar alerginya mereda, dan ini saya kasih obat juga, biar alerginya cepat sembuh. Jangan sampai telat minumnya. Paling sehari udah sembuh. Harus di ingat, jangan makan lagi apapun itu yang berbau kacang merah, oke? Karena sudah selesai, saya permisi dulu..”
__ADS_1
“Sekali lagi terima kasih dokter. Maaf telah merepotkan dokter Haris..” ucap Daniel dengan sopan.
“Sama-sama mas Daniel, ga papa kok, saya senang kalau bisa membantu yang membutuhkan tenaga saya. Mari semua...”
“Silahakn dok. Evan tolong kamu anter dokter Haris sampai depan..”
“Baiklah kak, mari dok...?”
Evan mengantar dokter Haris sampai ke depan dan sampai ia memasuki mobil. Sementara Nathan yang masih berada di ruang tengah bersama tuan Wijaya, merasa lega karena Dani tak sakit parah, hanya karena alergi.
“Tante permisi dulu Daniel, mau membawa papa kamu ke kamar dulu, biar istirahat, sekalian mau memberitahu kalau Dani udah tidak apa-apa...”
“Iya tante, silahkan..”
Tante Ema segera keluar meninggalkan kamar Daniel. Dani yang udah agak mendingan, terlihat gelisah. Ia seperti menantikan kehadiaran seseorang yang sangat ingin ia lihat. Melihat gelagat Dani, Daniel tau, siapa yang ingin Dani lihat.
“Dani, mas permisi keluar bentar..”
“Iya mas, silahkan...” ucap Dani yang kini posisinya bersandar di ranjang. Daniel keluar dari kamar tersebut. Tak berapa lama kemudian, ia masuk bersama Nathan.
“Na..Nathan...?” ucap dani lirih dan agak kaget. Karena Daniel tengah bersama Nathan ke kamar pribadinya.
Mendengar ucapan Daniel, ada rasa yang sangat sulit ia pahami yang bernaung di dalam hati kecilnya.
Perasaan apa ini. Mengapa rasanya tak enak begini. Kenapa hatiku tak karuan melihat sikap Daniel, kenapa aku menjadi bersalah begini?
“Nathan, jangan bengong...” ucap Daniel sambil menepuk bahu Nathan pelan. Dan ia sendiri agak menjauh dari mereka berdua. Walau sesungguhnya terasa sakit, namun ada segenggam kebahagiaan yang ia rasakan, dan ini sangatlah tulus, melihat Dani bahagia.
“Karena ada Nathan, mas keluar bentar, barangkali ada yang mau kalian obrolin, tanpa harus ada mas di sini...”
“Tapi mas, mas mau ke mana...?” tanya Dani semakin bingung dengan sikap Daniel yang membuat hatinya teraduk-aduk.
“Mas mau ke kamar papa bentar kok..”
“Nathan, titip Dani bentar yach..?”
“Ba...baik mas..” jawab Nathan dengan gugup.
Daniel segera keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Sebelum ia benar-benar mencapai akhir dari anak tangga, ia berhenti sebentar, membalikan badanya dan menatap kamar di mana ada Dani dan Nathan di dalamnya. Ia tersenyum.
__ADS_1
Demi melihatmu bahagia, aku rela Dan, walau harus terluka. Kebahagaianmu lebih penting.
Lalu kembali ia meneruskan langkahnya dan keluar menuju tempat favouritnya, yaitu duduk di gazebo di pinggir kolam renang. Daniel tak sadar, bahwa sejak tadi, Evan terus memperhatikanya. Dan Evan mengikuti kakaknya menuju kolam renang. Daniel terlihat merenung. Pandanganya jauh menerawang, menatap langit yang bertabur bintang. Menemani kesenduan hatinya yang tengah ia sembunyikan agar tak seorang pun tau.
“Indah banget ya kak, andai saja kakak bisa mengambilkanya untuku, walau sebuah saja, pasti adikmu ini akan senang..” ucapan Evan membuyarkan lamunan Daniel. Ia menoleh ke arah suara karena kaget.
“Eh, kamu Van, bikin kaget saja, dan yang lebih nyebelin, kamu mengganggu kakak yang sedang asyik melamun..”
“Hehe, maaf kak, abisnya kakak nggak ajak-ajak sih kalau melamun yang asik-asik..”
“Aahhh, punya adik satu kok sukanya ikut-ikutan, punya ide sendiri kenapa..?”
“Ngikut kan enak, nggak harus buang tenaga dan fikiran...”
“Dasar bocah badung...”
“Tapi kan cakep, hehe...”
“Dari mananya, di lihat dari sedotan apa..?”
“Kalau kalah saing, jangan ngambek dong...”
“Ngak level ya...”
Keduanya tertawa bersama. Setelah berkata demikian, wajah Daniel kembali sedikit murung. Ia terdiam dan kembali asik menikmati, melihat indahnya bintang. Sedangkan Evan yang duduk di sampingnya, menghela nafas agak panjang.
“Kalau kakak butuh temen ngobrol, Evan siap kok jadi pendengar setia...”
“Ahhh, kamu ngomong apa sih..?”
“Evan tuch udah kenal kakak lama, udah paham banget sama sifat kakak, kakak sedang tidak baik-baik, jadi nggak usah di tutupi lagi. Jika kakak berat hati melepaskan kak Dani, ya perjuangin lagi, mana kak Daniel yang Evan kenal dulu..?”
“Kamu memang adik yang cerdas, perhatian sama kakak. Sampai saat ini, kakak nggak bisa nyembunyiin sesuatu dari kamu, kamu punya indera ke enam ya..? Ayo ngaku...?”
“Nggak usah di tahan. Sini kak...?” ucap Evan yang merentangkan kedua tanganya. Tak kuasa lagi, Daniel dan Evan berpelukan. Melihat kakaknya seperti itu, rasanya hati Evan sangat sesak. Tapi apalah daya, kalau memang sudah jalan dari yang Kuasa harus begini, siapa yang dapat melawanya. Agak lama kedua kakak beradik itu berpelukan, lalu dengan pelan Daniel melepasnya. Kini ia duduk menghadap ke depan, berdampingan dengan Evan.
“Van, apakah mungkin ini karma yang kakak lakukan kepada Dani, rasanya sakit. Mending kakak di pukuli atau di cambuk seratus kali, dari pada menahan sesak di hati seperti ini..”
“Sekarang Evan mau tanya, apakah kakak begitu mencintai kak Dani..?” Daniel tak langsung menjawab pertanyaan Evan. Ia masih terdiam. Pandanganya jauh menatap ke depan. Lalu sejenak menghela nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
BERSAMBUNG