
“Hiiihhh, Ken..Ken.., ada-ada saja tingkahnya. Tapi kenapa aku jadi bersemangat begini. Semenjak ketemu Tiara, rasanya hidupku menjadi lebih bersemangat, walau baru bertemu beberapa kali. Namun bisa membuat aku menjadi ceria seperti sekarang ini..” gumam Daniel sambil sesekali tersenyum dan memukul jidatnya sendiri.
“Tiara. Emmm nama yang manis, semanis orangnya. Apa mungkin ini yang di namakan takdir. Ataukah jodoh yang tertunda? Ahh kenapa aku jadi berpikiran aneh-aneh terus sih ahh...” gumam Daniel dan kali ini ia membaringkan tubuhnya, karena sejak tadi bersandar di ranjang. Sejenak kemudian ia bangun lagi dan bersandar lagi di ranjangnya. Perlahan ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja kecil di sampingnya. Bersemangat sekali ia membuka layar ponselnya, lalu mengecek daftar kontak di ponselnya. Ia mulai mengetik nama Tiara di kolom pencarian. Dan munculah nama tersebut.
“Waaahh, kurang asem si Evan. Kenapa di namai Tiarap sih..?” ujar Daniel yang mengerutkan dahinya dengan kesal.
“Tu anak emang harus di kasih uang jajan, eh pelajaran...” Daniel segera mengganti nama Tiara dengan menghapus huruf p nya. Lalu tersenyum tipis, kemudian masuk ke menu Whatsapp. Ia segera menulis pesan yang di tujukan kepada suster Tiara.
“Pink...” Daniel iseng berkirim pesan. Tak lama kemudian.
“Yaa...?” balasan dari suster Tiara.
“Tiara..? Maaf, ini Daniel. Aku nggak ganggu kan..?”
“Oh Daniel..? Iya Dan, gak ganggu kok. Ada apa...?”
“Iyesssss...!!” Spontan Daniel mengepalkan tanganya sambil goyang badan sendiri diatas ranjang. Seperti orang gila saja.
“Emmm, gak papa kok. Cuma nanya aja, bolehkan...?”
“Ooo boleh pakai banget.”
“Hehe, sekarang kamu lagi di mana? Lagi ngapain...?”
“Sekarang, tengoklah ke arah pintu...”
“Apa..? Pintu..?” balas Daniel dengan heran. Ia pun mengikuti perintah suster Tiara. Tak lama kemudian.
Tok tok tok
Cekkleeekkk
Terdengar suara pintu di ketok dan segera terbuka. Terlihat dokter yang merawat Daniel masuk bersama suster Tiara yang berjalan di belakang mengikutinya. Suster Tiara tersenyum tipis kepada Daniel.
“Selamat siang..? Gimana..? Udah merasa baik kan..?”
“I...iya dokter.. ” jawab Daniel agak gugup dan ia menjadi celimpungan, karena sangat malu kepada suster Tiara.
“Hemmm, baiklah. Hari ini saya akan mengecek kondisi anda. Suster, apakah tadi sudah suster cek semua..?”
“Udah dok, semua baik...”
__ADS_1
“Oke..., sekarang tolong anda berbalik, saya akan memeriksa luka anda. Sus tolong bantu pasien..”
“Baik dok..”
Dengan pelan dan penuh kelembutan, suster Tiara membantu Daniel untuk berbalik badan. Daniel merasakan jantungnya berdetak dengan cepat saat tangan suster Tiara menyentuh punggunya yang lebih intens ke pingganya. Seperti ada sengatan listrik namun tidak terlalu besar karena Daniel dapat mengontrolnya.
Aissss, kenapa sih dengan aku ini. Seperti first love aja. Padahal sudah banyak mengenal wanita. Namun baru sama Dani dan Tiara aku merasakan begini. Anjayy.....
Daniel merasakan seperti meriang, namun tak sakit. Hal itu tak berlangsung lama karena dokter yang mengeceknya sudah selesai, dan suter Tiara juga sudah selesai memegangnya.
“Perkembangan yang sangat bagus. Karena luka anda 50% sudah mengering. Paling Juga besok sudah boleh pulang..”
“Kenapa nggak nungguin 100% aja sih dok..” sergah Daniel yang membuat sang dokter dan juga suster Tiara heran melihat Daniel.
“Ee...ehh, maksud sayaa....” kilah Daniel. Dokter tersenyum sembari berkata,
“Ga papa kalau masih mau di sini. Mau sampai 100% it's okay...” jawab sang dokter sambil manggut-manggut.
“Oke, karena sudah selesai, saya permisi dulu. Mari..” ucap sang dokter yang kemudian berjalan perlahan keluar dari kamar.
“Permisi mas Daniel..?” kata suster Tiara sambil tersenyum geli kepada Daniel.
“I...iyaa...” jawab Daniel sambil melongo menatap suster tiara yang berjalan mengekori sang dokter dan kemudian segera menghilang di balik pintu.
“Kenapa mas...?” tanya Ken yang tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu.
“Keenn...!! Ahh kamu ngagetin saja...!” ucap Daniel yang kaget ketika melihat Ken.
“Lohh kenapa mas..? Saya masuk juga terdengar bunyi pintunya kebuka lo..? Naaaah, ketahuan nih lagi mikirin sesuatu, hehe....”
“Sotong kamu Ken...”
Ken terkekeh melihat majikan mudanya kini bertingkah seperti itu. Rasa-rasanya sudah lama ia tak melihat ekspresi wajah yang seperti anak kecil. Selama ini, lebih tepatnya beberapa tahun kemaren yang Ken lihat wajah yang tegang dan selalu di tekuk. Jarang tersenyum dan hanya emosi yang terlihat. Kini setelah kehadiran suster Tiara, seakan memberi warna baru dalam hidup Daniel.
Syukurlah mas, Ken sangat senang. Semoga mas Daniel dan mas Evan selalu di beri kebahagiaan, aamiin.
Ken tersenyum dan bergumam dalam hati. Setiap saat, setiap wakru, Ken selalu berdoa agar keluarga Wijaya selalu di berikan kesehatan, umur panjang dan tentunya kebahagiaan. Itu adalah ungkapan kecil sebgai bentuk rasa terima kasih kepada keluarga wijaya yang telah menerimanya bekerja dan kini dianggap seperti keluarga sendiri di rumah itu.
Tingg tongg
Bunyi bel yang di rumah Nathan segera membuatnya berjalan agak cepat untuk membukanya. Sedangkan Dani masih belum selesai mandi.
__ADS_1
Cekklleeekkk
“Aku nggak terlambat kaan...?” ucap Johan yang sudah berdiri di depan pintu rumah Nathan.
“Enggak, mana bajunya...?” Tangan Nathan menengadah ke atas meminta sesuatu yang di bawa oleh Johan.
“Sabar dulu dong. Nih..” Johan sepupu Nathan memberikan tas yang terbuat dari kardus dan berisi pakaian wanita yang di bawanya. Nathan segera menerimanya dan mengecek isinya. Ia tersenyum.
“Hemm, pinter juga sepupuku ini kalau di suruh. Thank's ya, sekarang kamu cepetan balik sebelum Dani melihat kamu, oke man...?”
“Ehh, ga bisa gitu dong. Aku kan udah capek-capek beli in ini, masa nggak ada imbalanya. Suruh masuk dulu kek, di buatin minum atau di kasih makanan kek...” protes Johan dan berusaha menerobos masuk. Namun Nathan menahanya dan berusaha membalikan badan Johan agar kembali keluar.
“Ehh kutu kupret, tar kalau my princess tau bisa mampus gua. Gua belum bilang sejujurnya sama dia. Ngerti kan lu..?” Nathan berusaha mati-matian mengeluarkan Johan dengan paksa.
“Helleeehh, iya iya. Gua pulang nih. Puas kan...?” jawab Johan dengan terpaksa dan dengan wajah di tekuk.
“I Love you pull my sepupu....muach muach. Nanti pintu pagarnya jangan lupa di tutup lagi yach, hehe...”
“Sialan lu....!!” jawab Johan mendelik ke arah Nathan. Nathan terkekeh melihat sepupunya. Kemudian ia sendiri buru-buru masuk untuk memberikan pakaian tersebut kepada Dani. Dan saat Nathan masuk ke kamar, kebetulan Dani sudah selesai mandi.
“Udah selesai, Yank...?” tanya Nathan saat melihat Dani keluar dari kamar mandi. Dengan rambut yang masih basah dan di lilit handuk. Dani tidak mengganti bajunya, ia memakai baju yang sejak dari kemaren-kemaren melekat di badanya.
“Seperti yang kamu lihat. Emm yank, kamu punya hairdryer...?”
“Ohh, punya dong. Duduk sini..” Nathan menunjuk tempat duduk yang berada di depan kaca yang berada di dalam kamarnya. Dengan patuh Dani menurutinya.
“Kamu cantik, walau tanpa make up..”
“Makasi. Tapi kenapa kamu bisa suka...?”
“Aku tu sukanya gadis yang cantik natural, apa adanya tanpa di make over dari segi apapun. Menjadi diri sendiri, seperti kamu...”
“Padahal di luar sana banyak loh gadis-gadis cantik yang jauh lebih di atasku...”
“Memang benar di luaran sana banyak gadis cantik, bahkan bisa di bilang lebih cantik 50 kali dari kamu. Tapi kembali lagi, walaupun cantiknya seperti dewi kahyangan, tapi kalau aku cintanya sama kamu, siapa yang bisa melawan, hayo..?”
“Iiihhh, bisa aja ngejawabnya...”
“Awww.., geli tau...” ucap Nathan yang memegang pinggangnya karena cubitan kecil Dani.
Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Nathan segera akan memiliki Dani seutuhnya. Kini tak ada jarak dan dinding yang membuat mereka jauh. Semakin hari semakin dekat dan mesra saja. Apalagi Daniel, mantan suami Dani telah memberikan restu kepada keduanya. Dani tersenyum sambil melihat bayangan Nathan dari kaca yang dengan telaten mengeringkan rambutnya. Begitu juga sebaliknya. Sesekali Nathan tersenyum melihat wajah kekasinya yang menatap dirinya. Suatu kebahagiaan yang tak dapat diukur.
__ADS_1
BERSAMBUNG.