Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 60


__ADS_3

" Cinta sejati selalu sedehana, pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apapun dan apa adanya "


*****


Tak kuasa tante Ema menatap kepergian Dani dengan isak tangis yang tertahan.


“Tante, yang sabar ya? Papa akan baik-baik saja kok..” ujar Evan yang tak tahu dengan maksud tangisan tante Ema.


Andai kamu tau Van, mungkin kamu akan membenci tante dan papa kamu.


Evan memeluk tante Ema untuk menenangkanya. Sementara tuan Wijaya, masih berbaring belum sadarkan diri.


-


“Kamu satu mobil sama aku..! Dan kamu Nathan, kamu bawa mobil sendiri..” ucap Daniel saat mereka sampai di parkiran.


“Maaf mas, saya bersama Nathan saja..” jawab Dani melangkah ke arah mobil yang tadi di bawa oleh Nathan.


“Berhenti..!!” ucap Daniel memegang pergelangan tangan Dani.


“Jika kamu tidak menuruti apa kataku, kamu tau sendiri akibatnya..!”


“Apa..? Mas mau mengancam Dani apa lagi..? Sudh cukup Dani di perlakukan buruk oleh mas Daniel, belum puas..?” Daniel terhenyak. Apa yang di ucapkan Dani, ia tak mengira. Sekarang Dani mulai berani membantahnya.


“Owhh, jadi kamu sekarang berani ya..!?” Daniel melirik ke arah Nathan yang sedari tadi mengawasi mereka berdua.


“Mas yang bikin Dani seperti ini..! Sekarang jangan tanya kenapa Dani berubah! Tanya diri mas sendiri..!” teriak Dani seperti kesetanan.


Plaaakkkkk


“Aaawww...!!” Sebuah tamparan tepat mengenai pipi Dani. Daniel dengan sangat tidak berperasaan melakukanya di depan umum. Saat itu banyak orang yang melihatnya. Seketika wajah Dani mengarah kesamping, seirama dengan arah tamparan Daniel. Nathan melotot melihat Daniel melakukan itu.


“Mas Daniel..!! Apa yang anda lakukan..?” teriak Ken yang kebetulan tiba di perkiran dan melihat semuanya. Begitu juga dengan Nathan yang menggenggam tanganya sendiri, dan sudah gatal ingin menghajar Daniel. Bukanya ia tak berani, namun ia menunggu saat yang paling tepat. Sakit..? Sudah pasti iya. Melihat gadis yang ia sukai di sakiti seperti itu. Lebih-lebih di lakukan tepat di depan kedua matanya.


“Jangan ikut campur Ken, ini urusan rumah tangga saya..!!”


“Iya, memang benar. Tapi itu bukan tindakan lelaki terhormat seperti anda. Tolong jaga sikap anda, karena anda adalah pewaris keluarga Wijaya. Saya nggak bisa membayangkan, jika ada wartawan yang tau dan meliputnya di medsos, dan kalau tuan mengetahuinya, betapa beliau akan sangat marah dan kecewa. Tolong mengertilah mas Daniel..”

__ADS_1


Dani masih berdiri dan memegangi pipi yang begitu terasa panas akibat tamparan dari suaminya. Kini memerahlah pipinya. Ingin rasanya Nathan mengusap pipi yang sakit itu dengan tanganya, namun lagi-lagi ia belum bisa melakukan semua itu.


“Non Dani nggak papa kan? Mari saya antar masuk ke rumah sakit, untuk di periksa bagian yang sakit..”


“Tidak papa kak Ken, Dani baik -baik saja kok..” Ken tau dari sorot mata gadis itu, ia kesakitan. Namun Ken hanya bisa bilang, baiklah.


“Ayo pulang..!!” Kembali Daniel menarik tangan Dani dan membuatnya terpaksa mengikuti kemauan Daniel.


“Ken, saya permisi dulu..” ujar Nathan sedikit membungkuk dengan sopan.


“Silakan..” jawab Ken. Ia menggelengkan kepala dengan kelakuan anak majikanya. Beda jauh sekali dengan Evan. Bukan darah daging, namun sifatnya sama persis dengan papa dan mamanya. Sopan, santun dan ramah kepada siapa pun.


Kini Dani satu mobil dengan Daniel. Dengan sangat kencang, ia melajukan mobilnya. Membuat Dani berpegangan erat.


“Mas, pelan-pelan, Dani takut..”


“Takut..? Hahaha....aku semakin senang jika kamu ketakutan.”


Nathan yang mengikuti mereka dari belakang, sangat khawatir dengan keselamatan Dani. Ia takut terjadi apa-apa dan kenapa-kenapa dengan Dani.


Suara ketukan pintu yang di susul dengan pintu yang terbuka. Evan Dan tante Ema menoleh dan melihat Ken sudah berdiri di ambang pintu, lalu melangkah masuk.


“Nyonya, mas Evan, sebaiknya anda pulang. Saatnya saya yang gantian menjaga tuan..”


“Tapi Ken..”


“Demi kebaikan kita semua, sebaiknya anda menuruti kata-kata saya nyonya, kalau anda di sini terus, dan mengabaikan kesehatan anda sendiri, lalu sampai sakit, bagaimana anda bisa menjaga tuan..?” ucap Ken yang masuk akal juga.


“Benar apa kata Ken tante, sebaiknya tante pulang bersama Evan. Besok tante bisa ke sini lagi untuk jagain papa sekaligus menggantikan Ken..”


Tante Ema terdiam dan berfikir sejenak.


“Baiklah, tante akan pulang. Ken, tolong jaga mas Wijaya, tolong kabari kami segera kalau terjadi sesuatu..”


“Baik nyonya, saya akan mengabari anda dan mas Evan..”


Cupppppp

__ADS_1


Sebuah kecupan mendarat di kening tuan Wijaya dan itu dari Evan.


“Pah, Evan pulang dulu, papa di sini bersama Ken dahulu, besok Evan akan ke sini lagi..” Setelah Evan berpamitan, tak lupa tante Ema mencium tangan kakaknya, baru kemudian mereka pergi dari kamar itu, dan dengan berat hati serta terpaksa meninggalkan tuan Wijaya bersama Ken. Keduanya segera pulang ke rumah.


-


“Sakit mas..!” teriak Dani saat Daniel menarik tanganya begitu keluar dari mobil sesampainya di rumah mereka dan memasukinya. Daniel menarik tangan Dani, seperti tuan yang menarik hamba sahayanya.


“Sakit mas Daniel, lepaskan tangan Dani..”


Daniel tak menggubris ucapan Dani. Amarahnya semakin berkobar saat ia mengingat bagaimana dengan beraninya Nathan memeluk Dani. Itu membuatnya semakin naik pitam. Daniel teris saja menaiki tangga menuju kamarnya, masih dengan menarik tangan Dani. Ia menghempaskan tubuh Dani dengan kasar ke atas ranjang.


“Kenapa lagi dengan mas Daniel Nathan..?” tanya bi Marta yang melihatnya.


“Ceritanya panjang bi, Nathan kasian kepada non Dani, tapi tak tahu harus bagaimana?” jawab Nathan yang panik lalu berlari menaiki anak tangga dan berhenti di depan kamar Daniel.


“Sekarang, aku akan berbuat semau hati aku kepada kamu..!” Daniel melepas bajunya dan menghampiri Dani. Hal itu membuat Dani ketakutan, karena dengan paksa Daniel mencoba mencium bibir Dani, ia berhasil menghindar dan berlari ke arah pintu. Namun sungguh ia kurang beruntung, Daniel sudah mengunci pintu tersebut. Dani menggedor-gedor pintu serta memanggil nama Nathan.


“Nathaaannn..!! Tolong aku..!! Nathaaaa..!!” Tanpa Dani sadari, nama itu begitu saja keluar dari bibirnya. Secara bersamaan, Nathan yang berada di luar kamar Daniel menyahut panggilan itu.


“Non, saya berada di luar kamar ini, jangan takut..” Semakin memerah saja wajah Daniel di buatnya. Mendengar Dani menyebut nama Nathan, membuat darahnya semakin mendidih dan semakin dekat ia menghampiri Dani.


Dani mencoba melempar Daniel dengan benda yang berada di dekatnya. Namun karena Daniel seorang lelaki, ia dapat dengan mudah menghindari serangan dari Dani. Nathan semakin cemas mendengar suara gaduh di dalam kamar majikanya itu. Ia takut dan khawatir dengan keadaan Dani. Ia berusaha menggedor pintu, walau ia tahu, itu tak sepantasnya ia lakukan. Namun karena cinta lah ia berani.


Semakin dekat, Dani semakin ingin menyerang Daniel. Saat Daniel hampir menjamahnya, ia berlari menhindarinya. Namun ia terpeleset jatuh ke lantai. Hidung Dani membentur lantai. Rasa sakit yang Ia rasakan, membuatnya menyerah, dan beringsut merapatkan tubuhnya ke tembok.


“Mau ke mana kamu Dani? Kamu sudah tak bisa lari lagi. Hahaha....!!” Tawa Daniel menakutkan. Seperti iblis saja. Tubuh Dani bergetar. Sambil berjongkok ia mendekap kedua lututnya. Daniel semakin ingin membuat gadis itu menderita.


“Ma...maas, tolong.., jangan siksa Dani lagi, tolong lepaskan Dani, dan mas bisa hidup bahagia dengan Anyelir, Dani reee...”


Bruuuggggg


Tubuh Dani roboh ke lantai. Seiring dengan darah segar yang keluar dari hidungnya.


“Dani..? Bangun Dani...? Bangun..!!” teriak Daniel yang menjadi panik, melihat Dani roboh ke lantai. Daniel mengguncang tubuh Dani beberapa kali, lalu membawa dan membaringkanya di atas ranjang. Kemudian ia berlari membuka pintu, bermaksud memanggil bi Marta.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2