
“Dani, kamu nggak papa sayang...?” ucapan Daniel terlontar begitu saja memanggil Dani dengan sebutan sayang. Daniel begitu panik melihat Dani memegang dahinya yang kesakitan akibat benturan di kaca mobilnya.
“Sssshhhhh, nggak papa mas, cuma nyeri...” jawab Dani masih dengan sedikit peringisan.
“Siapa sih, berhenti mendadak seenaknya...!” gumam Daniel dengan geram. Ia melihat dua orang laki-laki keluar dari mobil di depanya, dan memakai masker wajah yang menutupi hidung serta mulut mereka. Perawakan mereka begitu kekar dan tegap dan berjalan ke arah mobil Daniel.
“Keluar....!!” teriak salah satu dari lelaki tersebut ketika di samping mobil Daniel. Tak mau kalah dengan bentakan orang tersebut, Daniel langsung saja keluar karena sudah tersulut emosi.
“Siapa kalian...!! Berani-beraninya menghadang mobil saya..!! Apalagi kalian telah menyakiti orang yang aku sayangi..!!”
“Ahhh, banyak bacot....!! Buuuggghhh...!!”
Sebuah pukulan spontan di layangkan salah satu dari lelaki itu dan tepat mengenai perut Daniel, hingga ia terhuyung dan terbentur mobilnya.
“Mas Danieeelll....!!” teriak Dani yang melihat Daniel di pukuli dua orang itu. Tak tega melihat Daniel di pukuli, Dani langsung keluar dan menghampiri tubuh Daniel yang sudah tersungkur di tanah. Naasnya, mereka berada di jalan yang sepi yang jarang di lalui orang.
“Mas Danieelll....?” Dani memeluk tibuh Daniel yang sudah lemah, dengan bibir penuh darah.
“Siapa kalian, saya mohon, jangan sakiti mas Daniel, jangan pukuli dia lagi, saya mohon...?”
“Minggir kamu..!!” teriak salah seorang dari mereka dan melepas paksa pelukan Dani dari tubuh Daniel, dan salah satunya kembali akan memukul lagi.
“Jangan....!!” teriak Dani sekuat tenaga dan ia berhasil lepas dari cengkraman lelaki itu, lalu berlari menghalangi tubuh Daniel yang akan di hajar lagi. Tak pelak, Dani lah yang kena pukul.
“Brengsek....!! Beraninya kalian memukul Dani..!!” Daniel berusaha berdiri, namun ia tak berdaya, ia tak cukup bertenaga untuk sekedar bangun, karena ia telah di hajar oleh dua orang suruhan Anyelir. Ia melihat Dani pingsan di sampingnya, dan tak lama pandanganya gelap gulita. Ia dan Dani tak tau lagi kejadian apa yang akan menimpanya nanti.
***
Hari semakin sore. Rumah Daniel terlihat sepi. Terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah itu.
“Nenek, pelan-pelan...” ucap Ridsa yang mebantu nenk Eliza turun dari mobil tersebut. Keduanya lalu berjalan pelan. Risa memencet bel yang berada di pintu pagar rumah Daniel. Dari jauh pak satpam beelari untuk membukakan gerbang untuk mereka.
“Sore nek, ada yang bisa saya bantu..?” tanya pak satpam kepada nenek Eliza.
“Pak, saya mau bertemu dengan cucu saya, Dani..”
“Ohh, non Dani sama mas Danielnya belum pulang nek, barangkali ke rumah tuan besar nek..”
“Oh begitu ya, terima kasih pak, kami permisi dulu..”
“Silakan nek..”
Nenek Eliza dan Risa segera berlalu dari rumah itu. Mereka langsung saja menuju rumah tuan Wijaya, papa mertua Dani. Setelah melewati beberapa lampu merah, akhirnya mobil yang di tumpangi oleh nenek Eliza sampai di depan rumah tuan Wijaya.
__ADS_1
Tiinggg toooonggg
Kembali seorang satpam penjaga menghampiri nenek Eliza dan juga Risa, yang berdiri di depan pintu pagar.
“Saya mau bertemu dengan tuan Wijaya, apakah beliau ada..?”
“Ohh ada nek, mari silakan masuk..?” ucap sang satpam lalu membuka pintu gerbang tersebut. Keduanya di antar oleh satpam masuk ke dalam. Dengan tenang, nenek Eliza duduk di ruang tamu bersama Risa, untuk menunggu tuan Wijaya.
“Selamat sore nyonya Eliza, apa kabar?” sapa tuan Wijaya dengan senyum ramahnya.
“Tuan Wijaya, kabar saya baik, bagaimana dengan anda sendiri, apakah baik...?”
“Yaaach, seperti yang anda lihat nyonya Eliza, tubuh renta ini sehat, namun sebenarnya perlu istirahat, oh ya, ada aakah gerangan yang membuat anda mengunjungi saya..?”
“Begini tuan Wijaya, pertama daya ingin silaturahmi kemari, kedua, saya ingin bertemu dengan Dani, karena tadi saya ke rumah nak Daniel, ternyata kosong, keduanya nggak ada..”
Tuan Wijaya mengerutkan Dahinya mendengar penuturan nenek Eliza.
“Maaf, tapi tadi siang udah di anterin sama Daniel pulang nyonya, apakah belum sampai..? Apa mungkin mereka masih ingin berdua dulu, menikmati saat kebersamaan yang akan tidak mereka rasakan lagi...”
“Mungkin saja tuan, atau mungkin saya saja yang terlalu kangen sama cucu saya, hingga khawatir berlebihan...”
Nenek Elisa dan tuan Wijaya terlibat obrolan yang sangat hangat dan kekeluargaan. Risa yang duduk di sebelah nenek Eliza sesekali ikut tersenyum mendengar obrolan mereka. Senyum manis yang selalu membuat hati seorang Ken selalu berdebar ketika melihatnya. Rupanya Ken melihat Risa dari jauh, karna ia tak ikut bergabung bersama tuan dan tamunya.
***
“Ohhh, di mana aku, kenapa ruangan ini begitu gelap...?” Dani bergumam lirih. Lalu berusaha bangun dan kemudian duduk.
Tiba-tiba lampu menyala. Begitu silaunya hingga Dani memejamkan matanya.
“Sudah sadar kamu, Andani...?” ucap seorang wanita yang duduk dengan angkuhnya bak seorang ratu di sebuah kursi tepat di hadapan Dani. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat Dani meringkuk.
“Mbak..mbak Anye...? Apakah ini semua perbuatan mbak Anye...?” ucap Dani agak terbata.
“Hahahaha...!!! Tepat sekali ucapan kamu...!!”
Rasanya Dani tak percaya. Kenapa Anyelir berbuat seperti itu kepadanya.
“Tap...tapi kenapa mbak..? Apakah saya ada salah sama mbak Anye...?”
Perlahan Anyelir bangkit dari duduknya. Berjalan sejengkal demi sejengkal mendekati Dani. Lalu mencengkeram dagu Dani begitu kuatnya.
“Aku benci sama kamu...!!! Karena kamu, cinta Daniel ke aku semakin hari semakin memudar. Semua itu gara-gara kamu gadis sialan...!!!”
__ADS_1
“Sakit mbak, tolong lepaskan saya, lagian kini mas Daniel udah berpisah dari saya, mbak Anye udah bisa bersama mas Daniel lagi...”
“Aaahhhhh....!!!” Anyelir dengan kasar melepaskan cengkeramanya.
“Walaupun kalian udah berpisah, tapi hatinya hanya untuk kamu seorang..!!! Kamu memang benar-benar membuat aku semakin benci...!!”
Plaaaaakkkk plaaaakkkkk
“Aaaaaahhh....!!! Sakit mbak, jangan pukuli saya...”
“Kalau dengan memukul kamu hatiku merasa puas, aku akan terus memukulmu, hahaha....!!”
Anyelir sudah gila. Ia seperti kerasukan setan. Begitu bersemangat menampar Dani hingga ia mendaratkan tamparan di pipi Dani sebanyak dua kali, hingga membuat ujung bibir gadis itu robek dan berdarah.
“Toloooooooonnnnggg......!!!!” Teriak Dani berusaha meminta pertolongan. Beberapa kali ia berteriak, namun usahanya sia-sia. Sepertinya, ruangan yang di gunakan untuk menyekanya kedap suara. Mau berteriak sekencang apapun, tak ada yang mendengarnya. Dani mulai melemas.
“Berteriak saja sepuas hati kamu. Saya akan senang sekali melihatmu menderiat seperti ini, hahahaha.... !!!!”
Lagi-lagi terdengar tawa yang mengerikan dari bibir Anyelir. Ia begitu puasnya melihat Dani seperti pesakitan. Dengan kaki dan tangan terikat, ia menganggapnya seperti budak yang di tawan.
Tok tok tok
Terdengar bunyi pintu di ketok. Anyelir berhenti dari tertawanya.
“Masuk...!!”
Perintah dari Anyelir kemudian di iringi handel pintu yang di buka dari luar. Seorang lelaki masuk dan berkata kepada Anyelir.
“Apakah kamu nggak akan kasih makan para tawanan ini..?” ucap lelaki yang rupanya adalah Ramon, teman Anyelir. Setelah berkata seperti itu, Ramon menatap Dani. Gadis itu tertunduk.
Haaaahhh, para tawanan..? Apakah itu berarti mas Daniel juga di tawan di sini...?
Dani mencoba tenang. Ia berusaha terlihat tidak mendengar percakapan mereka.
“Diam...!!! Jangan bicara sembarangan di sini..!! Kita keluar...!!”
Anyelir mengajak Ramon untuk keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Dani yang masih terduduk di lantai dengan kedua tangan dan kaki terikat.
“Kamu jangan bilang para, tar gadis sialan itu tau kalau Daniel aku sekap juga di sini, paham....!!!” bentak Anyelir begitu di luar ruangan.
“Iya, aku paham. Tapi apa kamu nggak kasian, walau hanya setets air, berikanlah kepada mereka, aku nggak mau kamu terjerumus terlalu jauh Nye...”
BERSAMBUNG
__ADS_1