Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 89


__ADS_3

Teriakan tante Ema yang melihat Dani datang bersama Daniel, mengejutkan tuan Wijaya yang duduk dan tengah memandangi ikan koi yang sengaja di pelihara sebagai hoby dan sekaligus di percaya pembawa hoki. Lelaki setengah baya tersebut melirik ke arah anak dan menantunya, seiring gerakan tante Ema yang berdiri dari duduknya dan memeluk Dani.


“Tante...” ucap Dani yang juga segera menyambut tante Ema dengan pelukan hangat.


“Paahh...” sapa Daniel yang langsung memeluk tuan Wijaya, papanya.


“Darii..mannaa Daan..niel..?” Dengan susah payah tuan Wijaya berkata kepada anaknya.


“Dari jemput Dani paah. Papa udah makan..?” Tuan Wijaya mengangguk menjawab pertanyaan anaknya.


“Tar kamu nginep sini kan sayang?” Tante Ema bertanya setelah melepas pelukanya dari Dani.


“Iya tante, Dani nginep kok...” Tante Ema tersenyum bahagia. Kini giliran Dani menyapa papa mertuanya. Ia berjalan menghampiri tuan Wijaya dan berjongkok di hadapan beliau. Seperti menatap almarhum papanya sendiri, karena rasa rindunya yang sudah teramat sangat, namun tak bisa menyentuh atau berbicara, hanyalah lewat doa yang ia sampaikan kepada Tuhan, yang membuat hatinya sedikit lega, dan bisa mengobatinya.


“Apa kabar pah? Maaf pah, selama dua minggu ini, Dani tak bisa jenguk papa, tapi hari ini, Dani akan nginep di sini, biar bisa mengajak papa jalan-jalan ..” Tuan Wijaya menatap Dani yang berada di hadapanya. teringat ia akan dosa yang telah di lakukanya kepada orang tua Dani di masa lalu. Bayangan itu terus memenuhi benaknya, dan semakin membuat tuan Wijaya sulit untuk bernafas. Sesak yang kini ia rasakan di dada.


Andai kamu tau nak, orang yang duduk tak beradaya di hadapanmu ini, adalah orang yang membuatmu menjadi yatim piatu. Orang yang tega merenggut masa depan dan kebahagiaan kamu. Menantuku Dani, maafkanlah papa mertuamu ini. Jika nanti papa sudah sembuh, papa akan mengatakan yang sebenar-benarnya kepada kamu. Jika suatu saat kamu membenci atau mau menuntut papa, papa tidak keberatan dengan semua keputusan kamu.


Tuan Wijaya semakin masuk dan larut dalam lamunanya. Bayangan Dani akan membencinya suatu saat, sudah terlintas dalam benaknya.


“Papa..”


Dengan pelan Dani memanggil tuan Wijaya dan itu membuat lamunan papa mertuanya buyar.


“Papa, papa yang semangat yach untuk sembuh, pokoknya papa harus sembuh. Dani akan menjaga papa di sini, oke..?”


Dani begitu bersemangat memberikan dorongan dan suport kepada papa mertuanya. Gadis itu antusias sekali ingin melihat tuan Wijaya sehat kembali.


“Maaf pah, sejak Dani menjadi menantu papa, sejak saat itu pula, Dani menganggap papa adalah papa kandung Dani sendiri. Karena sejak Dani berumur 15 tahun, Dani sudah di tinggalkan mereka. Dani rindu kasih sayang mama dan papa. Maaf pah kalau Dani bicara ngelantur..” Tuan Wijaya tersenyum, lalu dengan pelan mengusap kepala Dani. Tante Ema yang menyaksikan semua itu, dadanya serasa meledak-ledak. Ingin rasanya ia berkata yang sebenarnya kepada Dani, namun semua itu tak mempu ia lakukan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menanti kesembuhan kakaknya terlebih dahulu, dan setelah itu, baru ia akan membicarakanya kepada tuan Wijaya.


*Mas semakin nggak sanggup melihat kamu jika bersedih seperti ini Dani. Itu semakin mengingatkan mas akan dosa-dosa mas sama kamu. Maafkan mas, Dani*.


“Papa, tante.., karena hari ini Dani pulang dari rumah sakit, dan sebagai wujud rasa syukur, nanti malem kita sekeluarga makan malam bareng yach, tante Ema, tolong katakan kepada bibi supaya nanti malam masak yang spesial.


“Oke deh Daniel, tante siap laksanakan..”


“Mas Daniel, kenapa nyuruh tante Ema sich? Tante, biar Dani sendiri aja yang bilang kepada bibi..”

__ADS_1


“Eits, kali ini kamu tidak di ijinkan untuk membantah perintah. Daniel kamu ajak saja Dani istirahat ke kamar, biar tante yang urus semua. Kakak Wijaya biar sama suster, oke..?”


“Siap tante. Ayo Dan, mas antar ke kamar..?”


Karena tak bisa menolak, Dani hanya bisa menurut ajakan Daniel. Keduanya segera ke kamar. Sedangkan tante Ema, memanggil suster untuk membawa tuan Wijaya ke kamarnya.


“Dan, kamu istirahat saja. Ini kamar mas dulu. Kamu juga pernah tidur di sini kan? Mas akan kembali ke hotel dulu. Ada urusan penting yang harus mas selesaikan..”


“Emm, baiklah. Ati-ati mas Daniel..”


Duh, adem banget liat senyum manismu Dan. Rassnya kaki ini enggan melangkah meninggalkan kamar ini hanya untuk memandang wajah cantik kamu.


“Mas Daniiiiiiel...? Kenapa malah jadi bengong...?”


“Ehh, iya. Mas berangkat dulu...” ucap Daniel dengan wajah memerah lalu membalikan badanya seraya tersenyum sendiri saat keluar dari kamar tersebut. Tak lama setelah Daniel keluar dari kamar tersebut, handphone Dani berdering. Saat ia melihat siapa yang menelfon, bibirnya tersenyum merekah.


“Hallo Rani...? Kamu udah sampai di rumah kan..?”


“Iya Nathan, ni aku pulang ke rumah papanya mas Daniel. Baru saja mas Daniel jemput aku, tapi sekarang ia sudah kembali ke hotel lagi..”


“Syukurlah. Buat istirahat aja, jangan lakukan ini itu, kamu nggak boleh capek, soalnya jahitan kamu kan masih basah, belum kering betul..”


“Baiklah, aku lega sekarang. Kalau begitu aku tutup dulu ya, Raniku..”


“Hehe, iya iya..”


Tak lama kemudian, Nathan dan Dani menutup telfon. Baru saja Dani meletakan handphonenya, tiba-tiba Daniel kembali masuk ke kamar Dani.


“Loh.., kok mas Daniel kembali lagi..?”


“Cuma mau kasih ini, ketinggalan di mobil..” Daniel menyerahkan obat Dani yang memang ketinggalan di mobil.


“Oh, iya. Dani sampai lupa..”


“Hem, dasar gadis bodoh..” ujar Daniel yang mengacak rambut Dani dan menyerahkan obat tersebut kepada pemiliknya.


“Iiiihhh, bukan gadis bodoh mas..” seru Dani dengan wajah di tekuk, sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Jangan sampai telat minum obatnya...” ujar Daniel lalu segera meninggalkan kamar itu.


Suasana di rumah tuan Wijaya tengah di liputi kebahagiaan. Siang itu, setelah Daniel sampai di hotelnya, ia langsung menuju ruang kerjanya.


“Siang, pak..?” sapa seorang pelayan hotel yang berpapasan denganya.


“Siaang..” jawab Daniel dengan senyum ramahnya. Tak sampai 5 menit, Daniel sudah berada di ruanganya.


Pelayan yang tadi menyapa Daniel, heran dan ia membicarakan tentang keanehan dan perubahan yang terjadi pada Daniel.


“Eh, sini deh, tau nggak, hari aku berpapasan dengan pak Daniel. Aneh. biasanya ia tak seramah tadi dengan pelayan. Tapi hari ini, ia begitu berbeda sekali..” ucap si pelayan yang bernama Jodi.


“Ya baguslah, kalau direktur kita berubah, di liatnya kan juga enak. Nggak selalu mukanya di tekuk alias jutek..”


“Iya sih. Ya udahlah, kita terusin pekerjaan kita saja...” ucap Jodi lalu meneruskan aktifitasnya.


Dua jam kemudian, setelah Daniel menyelesaikan pekerjaanya, ia berniat pergi ke kamar hotel pribadinya untuk mengambil sesuatu. Karena sesuatu yang sangat spesial akan di hadiahkanya kepada Dani. Sambil bersiul dengan gembira, ia berjalan menuju kamar pribadinya. Namun alangkah terkejutnya ketika ia sampai di dalam kamarnya. Ia melihat Anyelir duduk tersenyum kepadanya dan mengenakan hadiah yang akan ia berikan kepada Dani.


“Anyeliiir...?” seru Daniel kaget.


“Daniel sayang, aku sukaaaaaa banget hadiahnya. Makasih sayang, cocok banget deh di tanganku...” ucapnya sambil menunjukan tanganya yang tengah di lingkari gelang berlian cantik.


“Ta..tapiiii itu untuuuuuk....”


Ucapan Daniel membuat Anyelir bangkit dari duduknya.


“Untuk siapa kalau bukan untuku...” Kali ini Anyelir sudah melingkarkan kedua tanganya di leher Daniel dan memberondong bibir Daniel dengan ganas. Aneh. Sedikitpun Daniel tak membalas ciuman Anyelir. Membuat gadis itu heran dan seketika menghentikan aktifitasnya.


“Kamu kenapa, kok jadi kaku begini..?” ucap Anyelir menatap kedua bola mata Daniel yang berwarna kecoklatan itu.


“Nggak papa, itu perasaan kamu saja..”


“Bohong..!!”


Anyelir mendorong tubuh Daniel dari pelukanya.


“Apakah gelang ini untuk Dani..?” Tebak Anyelir yang asal-asalan, namun benar. Daniel hanya terdiam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2