Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 61


__ADS_3

Terima kasih author ucapkan, buat kaka yang sudah memberikan dukungan berupa like, vote, komen dan pemberian hadiah. Itu sudah cukup membuat author semangat untuk menulis.


🙏🙏


*****


Alangkah kagetnya Daniel saat pintu terbuka, ia mendapati Nathan sudah berdiri di depan pintu, dengan raut wajah yang sangat cemas. Seperti mencemaskan kekasih saja.


“Kenapa dengan non Dani, mas Daniel? Tadi saya mendengar teriakan non memanggil nama saya..?” tanya Nathan yang berusaha melihat keadaan Dani. Tak ingin Nathan mengetahui keadaan istrinya, Daniel berusaha membuat Nathan menyingkir dari depan kamarnya.


“Sebaiknya kamu minggir dan pergi dari kamar ini, Dani gak papa, cuma sedikit pusing..!!” ucap Daniel menahan tubuh Nathan dengan telapak tanganya.


“Benarkah? Boleh saya melihat keadaan non Dani??” Nathan tak menyerah. Ia terus mencari alasan supaya bisa masuk ke kamar Daniel untuk bisa melihat Dani.


“Sekali lagi aku katakan ya, ia cuma pingsan karena sedikit pusing. Sekarang juga, kamu pergi dari kamar ini, Nathan..!!” Bentakan Daniel tak membuat hati Nathan menciut. Keinginanya semakin kuat untuk melihat majikan mudanya.


“Tolong kali ini saja mas Daniel, biarkan saya melihat keadaanya walau sebentar saja.” Daniel mendelik. Di otaknya terlintas rencana yang licik.


“Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaan kamu. Tapi..ada syarat yang harus kamu setujui..”


“Apa pun syarat mas Daniel, Nathan akan menyetujuiya.” sahut Nathan tanpa berfikir panjang.


“Oke.., deal!!” Daniel mengulurkan tangan kepada Nathan, sebagai tanda kesepakatan. Dan Nathan melakukan hal serupa.


“Kalau boleh tahu, syarat apa yang harus saya lakukan, Mas?” Nathan sudah tak sabar, karena ingin segera melihat Dani.


“Mulai sekarang, kamu harus buat dia supaya membenci kamu..!!”


“Maksud mas Daniel...?” Nathan benar-benar tak mengerti di buatnya.


“Maksud saya, kamu harus bersikap buruk kepadanya, jangan sekali-kali baik kepadanya, jika kamu sedikit saja bahkan hanya seujung kuku kebaikan kamu berikan, aku akan membuatnya lebih menderita, kamu mengerti..?” Nathan menelan ludah dengan getir. Rasanya ia tak bisa menyanggupinya. Namun ia berpikir dua kali, agar gadis yang ia sukai tidak menderita.


Sekarang kamu boleh mengancam saya Daniel. Suatu saat, bila tiba waktunya, aku akan menghempaskan kamu ke dalam lembah kesedihan, hingga kamu tak dapat bangkit dan tak dapat melihat Dani lagi.

__ADS_1


“Baiklah, saya menyetujuinya. Demi non Dani, saya rela melakukannya..”


“Kamu benar-benar menyukai Dani rupanya? Jika kamu menyetujuinya, kamu boleh masuk, untuk melihat keadaanya..”


Begitu Daniel selesai mengucapkan kata-katanya, dengan segera Nathan menerobos masuk ke dalam kamar Daniel. Ia sedikit berlari dan melihat Dani terbaring di ranjang.


“Non Dani!!” teriak Nathan begitu panik saat melihat Dani pingsan dengan hidung basah oleh darah yang mengalir. Begitu perih hati Nathan, ingin rasanya mencabik dan menghajar Daniel. Tak menunggu waktu lagi, ia langsung membopong tubuh Dani dan membawanya keluar dari kamar Daniel.


“Kamu mau bawa ke mana istri aku..!!?”


Nathan tak menggubrisnya. Untuk yang kedua kali, ia sangat marah kepada Daniel, majikanya. Ia sadar dengan sepenuhnya, tindakan yang ia lakukan adalah lancang. Namun karena cintalah dan karena gadis yang ia sukai, ia sampai berani berbuat seperti itu.


“Woiii..!!! Berhenti..!!” Daniel berlari dan menghadang jalan Nathan.


“Kamu lancang Nathan..!! Kembali baringkan dia di ranjang..!!” ucap Daniel yang kini bersedekap di hadapan Nathan.


“Maaf mas Daniel, saya tidak akan melakukanya. Saya akan membawanya ke klinik, dia harus segera mendapat pertolongan..” Nathan akan melanjutkan melangkah. Namun lagi-lagi Daniel menghalanginya.


“Silakan mas, kalau itu demi kebaikan non Dani, saya rela, bahkan saya siap menggantikan posisinya..” Setelah berkata demikian, Nathan berjalan dan tak menghiraukan ocehan Daniel.


“Kurang ajar kamu Nathan..! Kamu berani menantang saya? Baiklah..! Kamu duluan yang memulai..!!” Dengan tatapan sinis, ia memandang Nathan yang berjalan menuruni anak tangga sambil membopong Dani.


“Nathan..? Kenapa dengan non Dani?” Bibi tergopoh-gopoh berlari ke arah Nathan, kala melihatnya membopong tubuh majikanya.


“Sekarang tolong bukakan pintu bik, saya mau bawa non ke klinik terdekat..”


“Iya, iya Nathan.” sahut bi Marta seraya berjalan cepat dan membukakan pintu untuk Nathan. Segera saja Nathan membawa Dani ke klinik terdekat, dengan mengendarai mobil Daniel yang tentu saja sering ia kemudikan. Untung ia masih membawa kunci mobil tersebut, dan dengan mudah melesat membawanya berobat.


“Non, non Dani harus kuat. Nathan nggak rela kalau nin terus menderita seperti ini.” gumam Nathan yang sesekali menatap Dani di yang di dudukan di sampingnya, dan masih belum sadarkan diri.


Sesaat kemudian, mobil memasuki halaman sebuah klinik. Setelah parkir dengan rapi, Nathan segera membawa Dani masuk. Usai mendaftar, seorang perawat membawanya ke sebuah ruangan, dan tak berapa lama, seorang dokter memeriksanya.


“Untung saja lukanya tidak parah.” ucap sang dokter setelah selesai memeriksa Dani. Dokter tersebut memberikan instruksi agar perawat memberikan suntikan anti nyeri, serta menuliskan resep obat untuk Dani.

__ADS_1


“Dokter, dia gak papa kan?” tanya Nathan usai dokter itu memeriksa Dani dan keluar dari ruangan tersebut.


“Anda tenang saja, dia gak papa, setelah sadar, anda bisa membawanya pulang..” Hati Nathan begitu lega mendengar penjelasan dokter. Setelah dokter berkata demikian, ia berlalu dari tempat Nathan berdiri.


Nathan sendiri segera masuk ke ruangan di mana Dani terbaring, dan ada seorang suster yang masih berada di dalam.


“Maaf mas, ini resep yang harus anda tebus di apotik, dan kalau pasien sudah sadar, anda bisa membawanya pulang, tentunya setelah menyelesaikan administrasi...” ucap suster menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan resep dari dokter.


“Baik, sus..” jawab Nathan menerima kertas tersebut. Suster itu segera pergi mrninggalkan Nathan dan juga Dani.


Nathan menatap wajah Dani yang masih tak sadarkan diri. Betapa ia kini semakin mencintai gadis itu. Semakin ke sini, rasa cintanya kian tumbuh dan sulit untuk ia tepiskan. Rasa itu terlalu kuat menguasai hati dan jiwanya.


“Aku di mana..?” ucap Dani lirih setelah membuka mata. Pertama yang ia lihat adalah Nathan, sang pengawal suaminya yang dengan setia duduk di sampingnya. Sedangkan Daniel, suaminya, tak nampak batang hidungnya.


“Non di klinik sekarang..” jawab Nathan dengan suara lembutnya.


“Nathan..?” Dani berkata lirih seraya bangun dari tidurnya. Nathan membantunya. Kini posisi Dani duduk berhadapan dengan Nathan.


“Masih sakit..?” tanya Nathan lagi. Bukanya menjawab, kedua kelopak mata Dani malah berkaca-kaca. Seakan tau dan mengerti suasana hati majikanya, Nathan memeluk gadis itu.


“Sekarang non jangan takut lagi, ada Nathan yang selalu ada buat non Dani..” Dani mengangguk dalam pelukan Nathan. Rasanya begitu nyaman bersandar di dada Nathan. Ingin rasanya ia segera mengatakan ingin berpisah, namun Dani belum bisa, karena kondisi papa mertuanya yang tidak memungkinkan. Lagi pula, ia bukan gadis yang jahat, yang memberikan penderitaan kepada orang yang sedag susah.


“Nathan.., kenapa kamu begitu baik sekali kepadaku? Setiap aku sedang kesusahan, kamulah orang pertama yang aku lihat di sampingku..?” Pertanyaan Dani membuat Nathan melepaskan pelukanya. Gadis yang sedikit mendongakan kepalanya itu, menuntut sebuah jawaban yang keluar dari mulut Nathan.


Sejenak Nathan terdiam. Meyakinkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Dani. Ia tersenyum, lalu betkata, ”Saya tau, betapa tidak pantas bila saya menjawab peryanyaan ini. Saya mau tanya kepada non, dan jawablah dengan jujur, non.” Dani mengangguk. Kembali Nathan melanjutkan kata-katanya.


“Apakah salah jika saya mencintai, non?” Dani kaget, namun hanya sebentar ia menunjukan ekspresi di wajahnya.


“Tidak. Rasa cinta itu adalah anugrah, maka berbahagialah orang yang bisa merasakanya.”


“Itulah yang saat ini Nathan rasakan, non.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2