
” Bahagia itu bukan tentang mendapatkan apa yang kita sukai, namun tentang belajar menyukai dengan apa yang kita dapatkan ”
***
“Anye sayang...”
Daniel menghentikan kegiatan Anyelir. Dengan terpaksa gadis itu mengikuti gerakan tangan Daniel yang menahan tanganya.
“Kenapa...? Kamu gak mau ya..?” Dengan pelan Daniel berbisik di telinga Anyelir.
“Pasti ada maunya kan..?” Tebak Daniel dan Anyelir mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Kamu tunggu aku bentar, aku mau mandi dulu, karena bentar lagi aku mau ke rumah sakit dan setelah itu langsung mau ke kantor..”
“Baiklah. Oh ya Daniel sayang, lusa kan hari ultah kamu, jadi nggak di rayain?” Daniel diam dan berpfikir sebentar.
Hmm, ini bisa buat jadi kesempatan aku balas dendam sama Dani. Haha..., aku ada ide bagus
“Jadi dong, tar aku mau buat acara surprise deh pokoknya..”
“Okey, mau di adain di mana..?”
“Yang paati bukan di hotel aku sayang, dan tamu yang aku undang hanya yeman dekat saja, sekalian reunian teman kuliah, gimana? Oke kan...?”
“Mmm, ide bagus, i like it..” Anyelir mengacungkan jempolnya kepada Daniel, dan segera ia keluar untuk memberikan kesempatan kepada Daniel membersihkan badanya.
Sambil menunggu Daniel selesai mandi, Anyelir membuatkanya omelet sayur, seperti yang di buat Dani waktu itu. Kucuran air yang membasahi ujung kepala sampai seluruh badanya, membuat Daniel meraskan kesegaran yang luar biasa. Tubuh yang tadinya capek bukan main, kini segar kembali.
Tulalit tulalit.., tulalit tulalit
Handphone Anyelir berdering dengan keras. Di tengah kesibukanya, ia melihat layar handphonenya dan melihat nama Ega Prasetya muncul di sana. Karena tak ingin suaranya terdengar oleh Daniel, yang jarak kamar dengan dapur begitu sangat dekat, ia buru-buru keluar dan menjawab telefon dari Ega.
“Hallo Ga, kenapa..?” Suara Anyelir tidak sepenuhnya, sedikit tertahan karena takut ketahuan.
“Beb, aku kangen sama kamu, kapan kita bisa berduaan lagi..?” ucap Ega dengan memelas di seberang sana.
“Sabar sayang, aku baru mau mengeruk uang dari beruang kutubku, serelah aku dapat, kita nginep di villa temen aku, kamu setuju?”
“Bener ya? Jangan bo'ong..?”
“Iya Ega sayang, kapan sih aku bohong sama kamu..?”
“Iya, abisnya aku cemburu kalau kamu berlama-lama dengan si brengsek itu..”
__ADS_1
“Itu teman kamu juga kan..?”
“Iya sih, pada saat teetentu saja kita temenan, hehe...”
“Ah jahat kamu Ega..”
“Tapi kamu suka kan?”
“Ya udah, aku tutup dulu, tar ketahuan bisa lolos pohon uangku..”
“Kiss nya mana dulu dong?”
“Aiiiihhh, ni cowok satu ya, manjanya minta ampun. Emuach..emuach..emuachh..” seru Anyelir lalu segera menutup telfonya. Kembali ia masuk melanjutkan masaknya. Tak berapa lama, Daniel keluar dari kamar. Ia terlihat sudah rapi dan kemudian duduk di kursi yang ada di ruang makan.
“Omeletnya udah jadi, kamu sarapan dulu sayangku..” Anyelir dengan riangnya menyiapkan sarapan omelet dan orange jus untuk Daniel.
Pintar sekali...., dasar....
“Ayo yank, di cicipi dulu, enak nggak, soalnya ini aku buat pakai cinta.” ujar Anyelir dengan sedikit menggoda.
“Baiklah...” Anyelir memberikan satu piring kecil omelet untuk di santap oleh Daniel. Perlahan namun pasti Daniel mulai menikmati omelet buatan Anyelir. Suapan pertama, ia sudah dapat menilainya.
Lebih enak yang buat Dani. Ini kok rasanya nggak jelas gini...
Rasanya Daniel ingin memuntahkanya, tapi ia tak ingin Anyelir kecewa. Akihirnya ia dengan cepat menghabiskan omelet tersebut dan segera minum air putih.
Huhh, dasar wanita matre. Bila saatnya nanti tiba, aku akan boongkar semua kedok kamu
Cuupppp
“Makasi yank, aku makin cintaaaaaaa deh sama kam..”
“Ooo, ya harus dong..” jawab Daniel yang masih menyembunyikan rasa kejengkelanya.
“Baiklah, kalau begitu, aku berangkat dulu, mau jenguk papa terus langsung mau ke kantor..”
“Oke, ati-ati sayang...”
Daniel segera berangkat setelah pamit dan mengecup kening Anyelir.
“Aaaaahhh yessss, tiga puluh juta lagi, oh my God, fantastis, ini yang aku harapkan, terima kasih Daniel yang bodoh, heheh....”
Anyelir terkekeh sambil memutar badanya beberapa kali dan berkali-kali mencium cek tersebut, karena merasa dia telah berhasil morotin uang Daniel.
__ADS_1
Daniel dalam perjalanan menuju rumah sakit, di mana papanya sedang terbaring sakit di sana. Ia tersenyum sendiri mengingat kelakuan Anhelir.
Sekarang kamu boleh tertawa dulu Anye, liat aja nanti dan tunggu tanggal mainya, aku akan kasih surprise buat kamu, hahaha....dan tentunya kamu pasti tidak akan melupakanya
Daniel tersenyum kecut. Betapa bodohnya ia selama ini, hanya di manfaatkan oleh Anyelir, hanya karena kenikmatan sesaat telah membuat mata hatinya menjadi tak waras lagi. Namun kini ia mulai menyadarinya, dan bertekat akan membalas semua yang di lakukan oleh Anyelir, kekasihnya.
Di rumah papa Wijaya
Evan yang pulang dari rumah sakit di mana Nathan tadi malam ia bawa, segera memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat ia melewati ruang tamu, seseorang menyapanya.
“Evan, dari mana kamu sayang..?” Ucapan Tante Ema mengejutkan Evan yang berjalan sambil setengah melamun. Entah apa yang sedang di fikirkanya.
“Ehh, i...iya tante, kenapa?” jawab Evan gugup.
“Kamu kenapa sih Van, tante cuma nyapa aja kamu kagetnya kaya gitu..?”
“Maaf tante, Evan capek dan lelah, pengen istirahat, tapi kalau ingat papa di rumah sakit, rasa lelah Evan hilang, yang ada semangat untuk menjenguk dan menyuport beliau agar cepat sembuh.Oh ya tante, papa sudah siuman, Ken yang memberi tahu Evan...”
“Tante juga mau mengatakan hal itu, malah keduluan sama kamu, Van.”
“Ya udah, tante tunggu, kamu mandi dan siap-siap sana...”
“Oke, tante..”
Evan segera menuju kamarnya untuk segera mandi dan bersiap-siap menjenguk papanya. Jam terus berjalan, menit dan detik segera berganti. Setengah jam kemudian selesai sudah Evan bersiap-siap. Dengan mengendarai mobil yang di setir oleh Evan, keduanya segera berangkat kerumah sakit.
Nanti kakak akan menjelaskan semuanya
Kata-kata yang di ucapkan Dani terus terngiang di telinga Evan. Terus saja mengganggu fikiranya.
Tanpa sadar, mobil yang mereka naiki, sampai di parkiran rumah sakit. Dari kejauhan, tate Ema melihat Daniel yang turun dari Mobilnya. Dengan spontan, tante Ema memanggilnya.
“Daniel...!” Suara tante Ema mengejutkan beberapa pengunjung yang kebetulan lewat di dekat tante Ema. Daniel yang mendengar namanya di panggil segera menoleh ke arah sumber suara. Lalu ia melambaikan tanganya ke arah tante Ema.
“Tante...? Tante juga kemari..?”
“Kak Daniel..?” sapa Evan, namun tak di sambut oleh Daniel.
“Hmmm..”
Kata singkat pada dan jelas yang keluar dari bibir Daniel menanggapi sapaan adik yang sangat ia benci, karena selalu ikut campur sama urusanya. Mengetahui suasananya srperti itu, tante Ema segera mengajak keduanya untuk segera masuk.
“Tuan, makan dulu yach? Ken akan menyuapi tuan...” ucap Ken dan di sambut kedipan mata oleh tuan Wijaya. Ken segera mengambil semangkuk kecil berisi bubur dan mulai menyantapkanya kepada tuan Wjaya. Sedih hati Ken melihat tubuh tua tuan Wjaya terbaring tak berdaya di hadapanya. Lelaki yang telah membuatnya mengerti akan arti hidup ini, dan mengajarkan bagaimana bertahan hidup saat semua orang dan seisi dunia tak berpihak kepada Ken saat itu. Tangan lelaki di hadapanyalah yang telah menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
“Tuan, Ken berharap, tuan cepet sembuh dan bisa menjalani hudup normal seperti sedia kala lagi, Kennn....?” ucap Ken yang menatap Iba kepada tuan Wjaya dan tak sanggup melanjutkan ucapanya, karena sedih.
BERSAMBUNG