
Jangan lupa tinggalkan jejak, gratis kok, supaya Author bersemnagat untuk nulisnya..😉🤗🙏
***
Langit senja di sore hari itu begitu indah. Warna lembayung yang merona, seakan menjadi perhiasan langit mengantar hari kepada sang petang. Seperti apa yang menjadi maksud hatinya, tuan Wijaya petang itu mengatakan kepada pak Wawan supirnya untuk menyuruh Daniel ke rumah utama, yaitu rumah tuan Wijaya, mengingat Daniel sering tidur di rumah kaca yang di berikan tuan Wijaya sebagai hadiah ulang tahunya. Memang semuanya tidak dominan kaca, hanya beberapa persen saja, namun Daniel lebih suka menyebutnya sebagai rumah kaca.
“Pak Wawan, kasih tau Daniel, malam ini suruh dia ke sini..”
“Sekarang tuan..?”
“Iya...”
Pak Wawan segera menelfon Daniel begitu mendengar perintah dan jawaban tuanya. Beberapa saat, telfon berdering menunggu sang penerima telefon di seberang sana mengangkatnya.
Melihat telfon yang berada di depanya berdering, Daniel segera menyambungkanya sambil menyetir, karena ia baru saja mengantar Anyelir pulang ke rumahnya.
“Ya pak, ada apa...?” jawab Daniel yang masih fokus menyetir.
“Mas Daniel, anda di suruh ke rumah utama sekarang juga, ini perintah dari tuan besar..”
“Sekarang..?”
“Iya Mas...”
“Baiklah, saya ke sana sekarang...”
Dengan segera, Daniel langsung memutar arah mobilnya menuju rumah papanya.
Hem pasti soal pernikahan dengan gadis kampung itu. Kenapa sih gua yang harus di korbankan? Kenapa nggak si Evan saja? Melihat wajahnya saja udah serasa eneg. Di banding sama Anyelir, kalah jauh lah. Apakah mata papa bermasalah? Huuuuhhhhh.....kalau nggak karena hotel, ogah banget nikah sama tu cewek..
__ADS_1
Gumam Danil yang mendengus sendiri di sela menyetirnya. Tak berapa lama, mobil silver yang ia bawa memasuki sebuah halaman rumah yang di bilang amat sangat mewah. Ada dua satpam yang menjaganya.
“Selamat malam, Mas...?” sapa seorang satpam yang bernama pak Imam dengan ramah. Sedangkan Daniel hanya membalas anggukan saja. Namun pak Imam tak mengambil hati atas sikap anak majikanya itu.
Setelah memarkirkan mobilnya, Daniel bergegas masuk ke rumah. Ia melihat papanya tengah duduk di ruang tamu yang begitu besar dan luas menunggu kedatanganya.
“Malam pah..?” sapa Daniel dengan hormat kepada papanya.
“Kamu sudah datang? duduklah..!” ucap tuan Wijaya yang kini duduk dengan melipatkan kakinya. Daniel memposisikan duduknya tepat di hadapan papanya.
“Kamu tau kenapa papa memanggilmu ke sini..?” tanya tuan Wijaya dengan tatapan tegas kepada anak sulungnya itu.
“Apakah karena soal perjodohan dan lebih tepatnya tentang pernikahan Daniel dengan gadis pilihan papa itu..?”
“Tepat sekali. Karena kamu sudah tahu, papa tak perlu menjelaskan secara gamblang lagi. Intinya, karena gadis itu sudah keluar dari rumah sakit, papa akan segera melamar gadis itu untuk kamu. Karena di mata papa, dia gadis yang sangat istimewa..”
“Apa boleh Daniel mengeluarkan segala unek-unek di hati Daniel...?”
“Sebenarnya Daniel sudah punya gadis pilihan Daniel sendiri, memang belum pernah Daniel ajak dia ke hadapan papa. Kalau seandainya saja Daniel lebih dahulu mengenalkan dia kepada papa, sebelum kejadian itu, apakah papa akan menyetujui hubungan kami? Apakah papa akan menyukainya seperti papa menyukai gadis yang telah menyelamatkan papa..?”
“Itu semua tergantung bagaimana sikapnya kepada papa, walaupun dia cantik, tapi berakhlak buruk, itu semua papa nilai nol, papa lebih suka cantik hati dari pada cantik fisik..”
“Daniel mengerti pa, lagian Daniel juga hanya ingin papa mendengarkan unek-unek hati Daniel saja. Tentang penilaianya, Daniel rasa sudah nggak ada artinya lagi, karena papa sudah menentukan siapa jodoh Daniel, dan di sini, Daniel hanya bisa nurut dengan keputusan papa..”
“Itu yang terbaik buat kamu. Besok malam, kamu sama papa akan pergi ke rumah gadis itu, kamu siap-siap saja...”
“Besok malam..?”
“Kenapa..?”
__ADS_1
“Gak papa. Baiklah, besok Daniel akan menepati janji Daniel, dan bersedia menikah dengan gadis itu...”
Menikah hanya sebatas hitam di atas putih dan tanda tangan di buku nikah saja. Kalau soal cinta, aku nggak akan pernah bisa berpindah ke lain hati, karena sudah terikat oleh cinta Anyelir. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa gadis bodoh
Daniel tersenyum menyeringai, dan lebih condong ke senyuman sinis, sebelum akhirnya ia pamit pulang ke rumahnya.
Desiran angin berhembus menerpa ranting pohon dan menggugurkan dedaunan yang sudah mengering. Angin bertiup sangat dingin sekali.
Di rumah sakit, Ken yang menunggu Nathan, sengaja mengajak orang yang ia tunggu itu untuk mengobrol lebih akrab lagi, karena selama berada di rumah sakit, baik Ken maupun Nathan hanya bicara seperlunya saja.
“Kalau boleh tau, kamu tinggal di mana..?“ tanya Ken sekedar ingin tahu saja.
“Aku..?” Ken mengangguk menjawab ucapan Daniel.
“Tinggal di kontrakan. Saat ini aku lagi nyari pekerjaan..” jawab Nathan datar tanpa melihat ke arah Ken.
“Sebelumnya, belum pernah kerja..?” tanya Ken yang sedikit bersemangat mendengar lawan bicaranya mulai berbicara dan bersahabat.
“Belum. Aku sudah nyari ke sana ke mari, tapi hasilnya, nol..” ucap Nathan dan menghembuskan nafas beratnya.
“Kalau soal pekerjaan, Mas Daniel bisa bantu kamu..” ucap Ken.
“Daniel majikan kamu..?” tanya Nathan mengarahkan pandangan matanya kepada Ken. Ken menganggukan kepalanya. Sifat sopan dan santunya tak pernah ia tinggalkan walaupun lawan bicaranya berbicara kasar, namun ia menanggapinya dengan penuh kesabaran. Itulah salah satu keistimewaan Ken yang patut di acungi jempol, dan membuat tuan Wijaya sangat percaya kepadanya, bahkan Daniel pun sangat mempercayai seorang Ken. Lebih tepatnya, Ken adalah orang kepercayaan di keluarga tuan Wijaya.
Ken dan Nathan terlibat obrolan yang semakin ke sini semakin membuat mereka menjadi akrab. Kini tawa dan canda sudah menghiasi obrolan mereka. Tak terasa malam semakin larut. Saatnya merebahkan, mengistirahatkan otak yang pusing, hati yang sakit dan badan yang lelah.
Sementara di rumah Dani, ia belum bisa memejamkan mata. Entah kenapa, hatinya merasa gelisah. Ia teringat almarhum mama dan papanya. Malam ini, ia sangat merindukan kedua orang tuanya yang lebih dahulu pergi meninggalkanya untuk selamanya. Ia mengambil foto yang memang ia simpan dan ia letakan di kamarnya, sebagai pengobat rindu bila ia teringat keduanya.
“Mama, papa.., Dani kangen sama kalian. Apakah kalian baik-baik di sana? Lihatlah, putrimu sekarang sudah dewasa dan bisa meneruskan usaha mama dan papa. Dani berdoa, semoga Tuhan menempatkan mama dan papa disisinya dan di tampat yang terbaik.., Amin.”
__ADS_1
Lega hati Dani setelah mendoakan almarhum mama dan papanya. Lalu kembali ia letakan foto itu di atas meja di samping tempat tidurnya, dan akhirnya ia memejamkan matanya, dan tak lama kemudian terlelap mengarungi samudra mimpi yang indah dan membuat ia terbuai dan melayang untuk sejenak. Melupakan segala penat dan lelah di tubuhnya, untuk bisa menjalani kehidupan yang lebih berwarna di hari esok.
BERSAMBUNG