Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 53


__ADS_3

" Taukah kamu, hal yang paling berat di dunia ini bukanlah rindu, tapi PENYESALAN. Penyesalan mengajarkan kita bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa di ulang kembali. Jadi hargailah apa yang kamu miliki sekarang "


*****


Setelah berkenalan satu sama lain, ketiganya terlibat obrolan yang hangat. Nenek Eliza mengajak tante Ema dan juga Dani berbincang ringan di ruanganya.


“Tante, kok bisa ke toko nenek..?” tanya Dani yang menyuguhkan dua cangkir teh hangat untuk nenek dan juga tante Ema.


“Silakan di minum, tante..?” ucap Dani mempersilakan.


“Silakan di minum, nak Ema..” imbuh nenek Eliza juga.


“Terima kasih..” Dengan sopan, tante Ema meneguk teh hangat yang di sajikan oleh Dani, di temani dengan nenek Eliza.


“Emm, pintar sekali kamu Dani, teh buatan kamu enak sekali..”


“Terima kasih, tante.”


“Bentar, tangan kamu kenapa Dani..?”


“Iya, kenapa itu sayang?” tanya nenek Eliza yang baru menyadarinya.


“Oh ini? Kemarin Dani kan nyuci piring, ceritanya bantuin bibi, eh karena licin, piringnya lepas dari pegangan Dani, dan alhasil jadi pecah deh, dan karena kurang hati-hati, saat Dani memungut pecahan piring tersebut, tangan Dani tergores deh..“


“Lain kali hati-hati sayang...” ujar nenek Eliza dengan wajah cemasnya.


"Iya nek.."


“Oh iya tante, pertanyaan Dani belum di jawab loh, kenapa sampai ke toko nenek Dani?”


“Oh itu? Begini.., ceritanya kemarin tante ketemu teman kuliah tante, singkat cerita, tante main ke rumahnya, dan di suguhi roti dari toko nenek kamu ini, dan yang membuat tante ketagihan, ini loh, roti abon ini, rasanya tiada bandinganya, tau ini toko nenek kamu, kemarin tante main ke sini dengan pasword nyebutin nama kamu, pasti gratis kan, hehe...?” kelakar tante Ema di iringi gelak tawa Dani dan nenek Eliza.


“Ooo, begitu. Aduhhh..!! Dani sampai lupa tante, nek, tadi Dani ke sini sama pengawalnya mas Daniel, bentar ya tante, nenek, Dani ajak masuk dulu, kasian nunggu di luar..” ujar Dani seraya keluar menghampiri Nathan yang masih berada di dalam mobil.


“Hemm, kebiasaan lupa..” ujar nenek sambil tersenyum.


“Anak yang baik. Emm, kalau boleh tau, mama sama papa Dani di mana nek, kok dari tadi saya nggak melihatnya..?”


Mendengar pertanyaan tante Ema, nenek Eliza menatapnya sejenak, seulas senyum menghiasi kedua sudut bibirnya yang berkeriput, namun tetap meninggalkan bekas kecantikan di masa mudanya. Tatapan nenek Eliza beralih kepada Dani yang tengah berada di luar dan bisa di lihat dari dalam lewat dinding kaca yang ada di depan toko roti tersebut.


“Sejak usia 15 tahun lalu, anak itu sudah di tinggalkan kedua orang tuanya. Sungguh tragis, kecelakaan tabrak lari itu merenggut nyawa anak dan menantu saya, dan membuat cucu kesayangan saya menjadi yatim piatu..” Setetes air mata mulai jatuh membasahi pipi nenek Eliza.

__ADS_1


“Maaf nek, bukan maksud saya mengingatkan masa laku nenek, sekali lagi maaf..?”


“Tidak apa-apa nak Ema..” jawab nenek sambil menyeka air matanya dengan tisu.


“Lebih tragisnya lagi, si penabrak melarikan diri, dan lari dari tanggung jawab. Kami hanya bisa pasrah dan ikhlas dengan takdir yang telah Tuhan berikan untuk keluarga kami..”


“Kalau boleh tau, itu kejadianya di mana, nek?” tanya tante Ema yang simpatik dengan nenek ataupun dengan Dani.


“Di jalan cendrawasih, dekat dengan kawasan perumahan. Saat itu hujan sangat deras sekali, dan tanpa merasa bersalah si penabrak melarikan diri begitu saja..” Tante Ema tersentak mendengar penjelasan nenek Eliza.


A...apa..? Jalan cendrawasih..? I...itu...kan...?


Wajah tante Ema menjadi pucat pasi. Dunia seakan terasa sempit dan menghimpitnya. Terasa sesak dadanya mengingat kejadian masa lalu yang sampai saat ini masih jelas dalam otaknya.


Tuhan....begitu indah caramu mempertemukan orang yang bersalah dengan hambamu yang pasrah.


Tante Ema menghela nafas berat. Ia berusaha menenangkan hatinya. Dan berbicara dengan sikap yang biasa.


Sementara itu, Nathan yang menunggu di dalam mobil, iseng-iseng membuka hpnya. Melihat-lihat isi galeri fotonya. Dan matanya tertuju pada sebuah foto yang membuatnya tersenyum dan itu adalah foto Dani yang tanpa sengaja ia ambil saat ia berada di Phuket kemarin.


“Cantik sekali kamu Andani Putri..” gumam Nathan senyum-senyum sendiri.


Ketukan pintu mobil mengejutkan Nathan. Spontan ia terperanjat saat menoleh ke samping. Ia melihat Dani membungkukan badanya dan dengan senyum yang teramat manis sekali kepadanya.


Non Dani..?


Gumam Nathan yang menelan salivanya.


Haduhh, tadi non Dani sempat melihat nggak ya..?


Nathan buru-buru mematikan ponselnya dan memasukanya ke dalam saku celana, untuk segera membuka pintu mobil.


“A...ada apa non..?” tanya Nathan gugup, karena takut kalau-kalau Dani melihat apa yang ia lihat di hpnya tadi.


“Maaf Nathan, aku lupa mengajakmu masuk, ayo masuk ke dalam, aku sudah buatkan kamu teh hangat..”


“Teh hangat..? Maaf non, kalau boleh tanya, non udah lam berdiri di sini?” tanya Nathan penasaran.


“Baru saja kok, memangnya kenapa...?”


Oh..syukurlah, berarti non Dani tidak melihat apa yang aku lakukan tadi.

__ADS_1


Nathan mengelus dadanya, tanda ia merasa lega, karena majikanya tidak tau kalau ia melihat fotonya tadi.


“Gak papa kok, non..” Nathan tersenyum dan mengikuti langkah Dani memasuki toko rotinya.


“Tante, nenek.., perkenalkan ini pengawal pribadi mas Daniel...” ucap Dani yang datang bersama dengan Nathan.


“Tante, nenek...” ucap Nathan yang bergantian berjabat tangan dengan keduanya. Dani mempersilakan Nathan duduk bersama mereka.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, masih ada urusan penting soalnya..” kata tante Ema dengan sopan.


“Loh kok buru-buru nak Ema..”


“Iya nek, lain kali saya akan datang kemari lagi, dan berbincang dengan nenek..”


“Hati-hati nak Ema..”


“Iya tante, hati-hati, salam buat papa tante..?” Tante Ema mengacungkan jempolnya dan buru-buru keluar dari toko roti milik nenek Dani itu.


Kini rasa bersalah kembali menyelimuti hati wanita yang berstatus janda itu. Selama dalam perjalanan, tak hentinya tante Ema menarik nafas dan menghembuskanya dengan sangat berat sekali, seolah ada beban beribu-ribu ton yang tengah menimpa kepalanya dan menyesakan dadanya.


“Aku harus segera menemui mas Wijaya.” gumam tante Ema yang semakin kencang melajukan mobilnya. Adik dari Wijaya Permana itu memang sangat jago nyetir, karena sewaktu muda dulu, ia suka ikut balap mobil di sirkuit.


Tak berapa lama, tante Ema tiba di rumah utama, tempat kakanya, Wijaya Permana tinggal dan sekaligus tempat tinggalnya saat ini. Tante Ema terlihat tergesa keluar dari mobil, dan berjalan dengan cepat memasuki rumah itu.


“Mas..? Mas Wijaya...” Panggil tante Ema dengan wajah panik sekali.


“Ema..? Ada apa kamu teriak-teriak memanggilku..” ujar tuan Wijaya yang keluar dari dalam, dan di ikuti oleh Ken, pengawal setianya.


"Bisa kita bicara empat mata, mas..?” tanya tante Ema, dan tuan Wijaya segera mengode Ken untuk meninggalkan mereka berdua.


Begitu Ken meninggalkan mereka berdua, tante Ema segera menarik tangan kakaknya untuk masuk ke dalam ruang kerja yang sering di gunakan tuan Wijaya untuk menyelesaikan semua tugas kantornya.Tuan Wijaya yang di tarik seperti itu, merasa semakin bingung.


“Ema, sebenarnya ada apa sih?” tanya tuan Wijaya yang tak mengerti dengan tingkah adiknya. Setelah berada di dalam tante Ema mulai bicara.


“Gawat mas, bener-bener gawat..!”


“Apanya..? Mas nggak ngerti dengan maksud ucapan kamu..?”


“Ahhh, Ema sangat terkejut dan sekaligus takut...” ucap tante Ema yang memegang kepalanya dan beberapa kali mondar-mandir, membuat tuan Wijaya semakin bingung.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2