
“Tadi bibi bilang, kalau makan malam udah siap..” ucap Dani yang membelakangi Daniel. Daniel yang tengah mengeringkan rambutnya yang basah, melihat ke arah Dani.
“Eh kalau bicara itu melihat wajah lawan bicaranya, gak sopan tau..!” ucap Daniel yang perlahan menghampiri Dani dan berdiri tepat di depanya.
Seketika Dani memejamkan matanya, saat Daniel berada di hadapanya.
“Jangan sok suci kamu. Cewek lain saja ingin melihat semua bentuk tubuhku, kamu sok jual mahal..”
“Aku harap kamu cepat memakai pakaian kamu. Aku nggak nyaman melihat kamu seperti ini..!”
“Hahahahah...!” Daniel tertawa melihat sikap Dani.
“Ga usah munafik. Sebenarnya kamu juga ingin melihatnya kan? Nih aku buka di depan kamu..”
“Stoppp...!!” ucap Dani mengarahkan telapak tanganya ke arah Daniel dan segera keluar dari kamar tersebut.
“Dasar gadis munafik..” ucap Daniel.
Dani masih gemetaran. Ia mendaratkan tubuhnya di sofa, mengatur nafas dan menenangkan dirinya.
“Kenapa non..? Kok gemetaran gitu ?” tanya bibi yang mengahmpiri Dani.
“Eh, ga papa bi, ga papa..”
Daniel sudah berpakaian rapi dan keluar dari kamar.
“Makan sendiri saja, aku nggak nafsu kalau makan bareng sama kamu..! Aku ada janji sama kekasihku, Anyelir..”
Tanpa sedikit rasa kasian, ia meninggalkan Dani yang duduk di sofa dan di situ masih ada bi Marta. Lalu mengendarai mobilnya, melesat dengan cepat di telan padatnya lalu lintas malam itu.
“Kenapa mas Daniel seperti itu, seharusnya mas Daniel menemani non Dani makan, karena non adalah istrinya..” ucap bibi yang jelas sekali kasihan dengan Dani.
“Ga papa bi, biarin saja. Memang di sini Dani yang salah, menerima lamaran yang jelas-jelas dia tidak mencintai Dani sedikit pun, dan Dani telah merusak hubungan antara Daniel dan kekasihnya..”
“Tapi non, kenapa kalau mas Daniel tidak cinta, dia melamar non..?”
__ADS_1
“Mungkin karena di paksa oleh papanya bi. Sama seperti Dani, menerima lamaran itu karena nenek Dani. Melihat senyumnya saat papa Wijaya datang melamar, tak sampai hati Dani menolaknya, karena nenek bahagia Dani akan menikah..” ucap Dani yang kini mulai berkaca-kaca.
“Yang sabar non, suatu saat non pasti akan bahagia..”
“Iya bik, Dani percaya, Tuhan akan adil kepada semua umatnya..”
“Sekarang non makan yach, biar bibi temani..” Dani mengangguk, lalu menuju meja makan. Ia tak memikirkan kelakuan Daniel lagi. Dengan pelan ia makan sedikit nasi. Ingin rasanya ia menangis, teringat kalau di rumah, ia makan malam selalu bersama neneknya. Rasanya nikmat sekali saat makan bersama keluarga, walaupun menunya sederhana, namun terasa istimewa.
Selesai makan, Dani menyibukan diri membantu bibi mencuci piring dan membersihkan meja makan.
“Aduh non, sebaiknya non istirahat saja, kalau tuan besar tau, bibi bisa di marahi..” ucap bibi yang merebut piring di tangan Dani.
“Engga papa bibi, Dani senang melakukanya..”
“Jangan non, bibi mohon yach..?”
“Baiklah bi..” Lalu pergi ke kamar dan bersandar di sofa.
Sementara Daniel, ia tengah bersenang-senang dengan Anyelir kekasihnya di sebuah cafe.
“Bagaimana dengan istri kamu?”
“Anggap saja ia tak ada. Siapa suruh dia menerima lamaran itu, itu sudah menjadi konsekwensinya sendiri, kalau dia tau resikonya begini, harusnya ia menolaknya..” ucap Daniel yang melimpahkan kesalahan kepada Dani.
“Emm, baiklah..”
Cuuuppppp
Satu kecupan mendarat di bibir Anyelir. Jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Mobil Daniel memasuki halaman rumahnya. Ia keluar bersama Anyelir. Bibi yang membukakan pintu, kaget bukan kepalang, karena majikan mudanya pulang dengan membawa wanita lain, sedangkan tadi siang, ia baru saja menikah, dan istri sahnya juga ada di rumah tersebut. Namun bibi tidak bisa berbuat apa-apa, sepatah kata pun tak mampu keluar dari mulutnya. Setelah menutup pintu, ia kembali masuk ke kamarnya yang berada di belakang.
“Kasian non Dani, tak bisa di bayangkan, bagaimana perasaanya sekarang..?” ucap bibi lirih dan membaringkan tubuhnya.
“Selamat datang di kamarku sayang..” Racau Daniel yang membuka pintu. Dani yang belum tidur, terkejut di buatnya.
“Selamat malam istri sahku, memang benar aku menikah secara sah sama kamu, namun aku akan melakukan malam pertama dengan kekasihku, emmmuuachh...” ucap Daniel yang mencium bibir Anyelir di depanya.
__ADS_1
Aneh. Kali ini Dani merasakan perih di dadanya melihat perlakuan Daniel kepadanya. Namun ia menahanya.
“Kamu lakukan saja apa mau kamu, bila itu membuatmu senang, aku akan keluar dari kamar ini, dan kalian bisa bersenang-senang sepuas hati kalian..” ucap Dani menguatkan hati.
“Oouuwwhh.., kamu pengertian sekali istri sahku, baiklah.., sebaiknya kamu keluar saja, atau kamu ingin menyaksikan kemesraan kami..?” Tanpa menjawab sepatah kata pun, Dani berjalan keluar dari kamar tersebut.
Ia terus saja berjalan dan keluar dari rumah. Kini tempat duduk yang berada di taman depan menjadi tempat ternyamanya untuk berdiam diri. Menahan semua sesak di dadanya.
Karena malam itu udaranya begitu gerah, Nathan keluar dari kamarnya. Iseng-iseng ia mencari udara segar di luar. Tatapan matanya kini terfokus pada bayangan seseorang yang tengah duduk sendiri, dan itu adalah Dani. Samar-samar, Nathan mendengar isak tangis gadis itu. Ia hanya berani menatap gadis itu dari kejauhan sambil duduk di kursi yang berada di bawah pohon mangga.
“Kenapa non Dani duduk di situ? Nangis lagi. Harusnya ia kan melakukan malam pertama dengan suaminya..?” gumam Nathan karena heran.
Nathan pun berniat membuat kopi, karena ia belum juga bisa memejamka mata. Dapur kini menjadi tujuan langkah kakinya. Ia pun mencari kopi dan gula untuk di satukan dan menjadi minuman pembangkit selera. Karena mendengar suara berisik dari dapur, bi Marta yang belum tidur penasaran dan melihat ke dapur.
“Kirain kucing, ternyata kamu Nathan..?”
“Iya bi, belum bisa tidur, terus berinisiatif bikin kopi aja, sebagai teman begadang..” Lalu megambil satu sendok teh kopi, dan dua sendok teh gula lalu di seduh dengan air panas.
“Bi, boleh nanya gak..?”
“Tanya apa, hmm....”
“Emm, itu kenapa non Dani duduk di taman depan sendirian, dan kelihatanya lagi bersedih. Maaf bi kalau bibi anggap Nathan lancang..”
Bi Marta menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya dengan pelan.
“Itu dia Nathan, baru saja mas Daniel pulang membawa wanita lain, bibi dapat merasakan bagaimana suasana hati non Dani saat ini..” ucap bibi yang menerawangkan pandangan matanya.
“Kalau begitu, biar Nathan awasi non Dani saja bi, takutnya terjadi apa-apa..”
“Sebaiknya juga begitu..” ucap bibi. Lalu Nathan kembali ke tempat semula, tempat ia bisa duduk dengan santai dan bisa mengawasi Dani dari kejauhan.
Dani tidak tahu kalau ia sedang di awasi oleh Nathan, pengawal suaminya. Ia duduk dengan mendekap kedua lututnya. Menahan udara malam yang dingin, seolah menusk sampai ke tulang rusuknya. Ia tak peduli, lebih baik diluar berperang dengan dinginya udara malam, dari pada melihat suaminya yang mungkin saat ini tengah bergulat dengan gairah dan birahi dengan wanita yang di sebut kekasihnya itu, di kamar pengantinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1