
Belanja dan kuliner. Itulah dua hal yang sangat di sukai oleh para kaum wanita. Entah itu belanja pakaian, pernak-pernik, alat rumah tanga, hingga perhiasan. Sebagian besar orang yang memang hobby belanja, tak jarang mereka rela mengeluarkan sejumlah uang yang di bilang cukup fantastis, hanya karena hobby. Bahkan ada pula yang terjerat banyak hutang hanya karena menuruti hobby belanja mereka.
Setelah seharian Dani bercapek-capek ria, berpanas-panasan, berpose dengan Daniel walau terpaksa, dan melihat kelakuanya yang begitu menyebalkan bersama Anyelir, kini saatnya ia di manjakan oleh berbagai souvenir, barang-barang unik dan cantik-cantik, serta bermacam-macam kuliner di Phuket Weekend Market.
“Waaahhh, ini tempat apa Nathan? Ramai sekali...” gumam Dani saat mereka akan turun dari mobil yang di sewa oleh Daniel hari itu, karena mengantar mereka berwisata.
“Ini Phuket Weekend Market Non, kalau non mau beli souvenir khas Phuket, nona bisa beli di sini sebagai buah tangan untuk orang yang nona sayangi, atau teman-teman deket non Dani. Jugaa..., nona bisa membeli aneka makanan yang di jual di sini...” jelas Nathan.
“Benarkah....? Senangnya...” ucap Dani yang begitu kegirangan.
Dengan mata yang berbinar, ia turun dari mobil. Anyelir yang melihat Dani seperti itu, hanya tersenyum nyinyir.
“Dasar gadis kampung, baru di ajak ke sini saja girangnya bukan main, apalagi kalau di ajak ke Paris, pasti norak kelakuanya...” ucap Daniel yang melihat tingkah Dani yang begitu girangnya saat akan keluar dari mobil.
Dani keluar dari mobil dengan senyum yang terkembang di bibirnya.
“Jangan pernah berpisah, tar kalau ilang susah nyarinya...!!” kata Daniel saat Dani akan melihat pernak-pernik yang di jual di situ. Banyak lapak yang buka dan semuanya menjual barang bagus-bagus.
Dani berjalan di belakang Daniel, mengikuti sambil mencuci matanya. Sedangkan Nathan, masih tinggal di mobil, karena sedang menerima telefon dari seseorang.
Mata Dani tertuju pada sebuah aksesoris yang di jual oleh seorang bapak tua di Phuket Weekend Market tersebut. Ia berhenti, dan Daniel tak menyadari kalau Dani ia tinggalkan. Ia terus saja berjalan bersama Anyelir.
“Sayang, itu bagus sekali. Sayang, itu cantik sekali.” Itulah kata-kata Anyelir selama ia berjalan-jalan bersama Daniel di tempat itu.
“Loh kemana mas Daniel? Kok aku di tinggal sendirian?” ucap Dani yang panik karena saat ia puas melihat aksesoris itu dan bermaksud minta tolong Daniel untuk ngomong sama penjualnya. Namun saat ia menyadari kalau Daniel sudah tidak ada, panik segera menghinggapi dirinya. Karena tempat itu asing baginya.
Dani berjalan menelusuri jalan yang ramai pengunjung. Suasana yang sangat ramai itu, membuatnya kesulitan untuk menemukan Daniel. Wajah Dani pucat pasi. Ketakutan segera menyergap dirinya. Jalan yang begitu panjang dan ramai itu membuatnya kesusahan.
Mas Daniel, Nathan.., di mana kalian. Dani takut...
__ADS_1
Batih Dani yang kini kedua kelopak matanya sudah berkaca-kaca.
“Hehh, gadis kampung, kamu mau beli apa? Cepat bilang saja, biar aku yang ngomong sama penjualnya, kamu kan gak ngerti bahasa Thai..” ucap Daniel tanpa menoleh ke belakang dan mengira kalau Dani masih mengikutinya. Daniel segera menoleh ke belakang, karena tak ada sahutan dari belakang.
“Celaka..!! Kemana gadis kampung itu..?”
“Loh.., tadi kan masih di belakang kita sayang...”
“Kalau papa tau dia ilang, bisa gawat nih..?”
“Terus gimana dong..?”
Daniel segera mengambil ponselnya. Ia bergerak cepat menelfon Nathan.
“Halo Nathan, kamu di mana..?” ucap Daniel agak panik.
“Ini di depan penjual makanan mas. Kenapa, kok suara mas Daniel panik begitu?”
“Apa? Ilang..??? Baiklah mas Daniel, saya akan cari sampai ketemu..”
Nathan segera menyisir setiap jalanan yang ia lalui. Beberapa orang ia tanyai, tentunya dengan bahasa Thai. Namun dari kesekian orang menjawab tidak tahu.
Non Dani, tolong jangan buat saya cemas, tempat ini sangatlah asing bagi non. Tuhan, lindungilah non Dani di manapun ia berada.
Nathan tak hentinya berdoa dalam hati. Entah kenapa, hati pengawal itu begitu khawatir kepada Dani, istri tuan mudanya.
Daniel dan Anyelir tak kalah sibuknya mencari Dani. Setiap orang yang mereka tanyai, selalu menjawab tidak tahu. Mereka terus saja mencari, karena apa, tentunya karena takut dengan papa Wijaya. Karena Dani adalah menantu kesayanganya, dan akan marah jika sesuatu terjadi padanya, dan tahu kalau Daniel memperlakukanya dengan buruk. Sungguh tidak dapat di bayangkan.
“Gadis kampung..!! Di mana sih kamu berada..! Jangan buat kami cemas dan sibuk mencari kamu...!!” umpat Daniel dengan geram. Sementara Anyelir, hanya diam. Ia tak ingin membuat suasana hati Daniel menjadi tambah geram atau gusar.
__ADS_1
“Non Dani..? Di mana kamu non..?” Seru Nathan. Orang-orang yang melihat Nathan, menatapnya dengan heran. Karena mereka juga tak tahu apa yang di ucapkan pengawal itu.
Dani terus berjalan. Hingga ia memutuskan keluar dari arena Phuket Weekend Market. Sambil terseok-seok karena capek, ia berhenti dan duduk di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai, namun banyak juga orang yang melewatinya.
Tanpa di duga Dani, dua orang lelaki tak di kenalnya, dan tentunya asli dari Phuket, mendekatinya. Tahu kedua orang itu akan mendekatinya, Dani berdiri dan kembali berjalan. Karena takut, ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat ia berjalan, semakin cepat pula dua orang lelaki itu mengikutinya. Ia tak peduli hingga Dani menemui jalan yang buntu. Ia semakin panik, dan berteriak.
“Mas Daniel.....!!!! Nathaaaannn...!! Tolongin Daniiii....!!” teriakan Dani seolah di telan ramainya lalu lintas yang menutupi pendengaran orang-orang. Kedua lelaki itu menyeringi. Melihat tubuh Dani yang putih nan mulus itu, merapat ke tembok. Suasana mencekam.
Mereka tak sadar, kalau Nathan menemukan mereka.
“Halo mas Daniel, saya telah menemukan non Dani, cepat mas Daniel ke sini..”
Setelah memberi tahu tempat Dani dan kedua lelaki jahat tersebut, Nathan segera menutup telfon. Dengan geram ia mendekat ke arah mereka. Ketika kedua lelaki itu hampir menjamah lengan Dani, Nathan berteriak dengan bahasa Thai.
Kedua lelaki itu pun menoleh dan melihat Nathan. Lalu keduanya menyerang secara bersamaan. Nathan melawan seorang diri. Dani yang melihat perkelahian itu, tubuhnya gemetaran. Sangat takut sekali ia melihat orang berkelahi. Ia pun duduk berjongkok sambil menutup wajahnya. Air matanya menetes membasahi pipinya.
Setelah berkelahi dengan sengit, kedua lelaki itu dapat di lumpuhkan Nathan. Karena dulu ia pernah ikut latihan ilmu beladiri. Bersamaan dengan itu Daniel datang dan segera menhubungi polisi.
Nathan melihat Dani yang ketakutan. Ia perlahan berjalan mendekati gadis itu.
“Nona tidak apa-apa..?” tanya Nathan yang sudah berjongkok di hadapan Dani.
Dani masih belum berani membuka wajahnya. Ia masih takut dengan kejadian barusan yang hampir saja membuatnya celaka.
Perlahan Nathan memegang tangan Dani, menyingkirkan dari wajahnya.
“Ini Nathan non, non Dani nggak usah takut lagi..?”
“Aku takut sekali Nathan, kedua lelaki tadi hampir berbuat jahat kepadaku..”
__ADS_1
“Sekarang sudah tidak apa-apa, mereka sudah di ringkus polisi non..” ucap Nathan.
BERSAMBUNG