
Suasana rumah Dani begitu hangat. Ia tengah bermanja di pangkuan sang nenek sambil melihat acara televisi. Seperti itulah kebiasaan seorang Dani kalau lagi merindukan kasih sayang kedua orang tuanya.
Ting tooooong
Bel pintu berbunyi. Bi Inah yang berada di dapur segera menghentikan aktifitasnya untuk membukakan pintu bagi sang tamu.
“Selamat malam..?” ucap bibi ketika melihat siapa yang datang.
“Malam, apa benar ini rumah nyonya Eliza..?”
“Benar Tuan..”
“Saya kenalanya, bisakah saya bertemu dengan beliau..?” ucap tuan Wijaya dengan sopan. Daniel yang berdiri di belakangnya menampakan wajah masamnya kepada bi Inah.
“Oh mari silakan masuk tuan..” Tuan Wijaya beserta Daniel melangkah msuk mengikuti bi Inah.
“Silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan nyonya..” Tuan Wijaya mengangguk dan duduk menunggu di ruang tamu bersama Daniel.
“Nyonya, ada tamu mencari nyonya. Sekarang ada di ruang tamu..”
“Tamu? Siapa bi?” tanya Dani yang spontan bangun dari pangkuan neneknya.
“Kurang tau juga, sebaiknya non dan nyonya lihat sendiri. Permisi, saya mau ke dapur dulu nyonya..”
Setelah bi Inah pergi ke dapur, nenek dan Dani buru-buru bergegas ke ruang tamu untuk menemui orang yang mencarinya.
“Tuan? Ada angin apa sehingga membuat tuan datang ke gubug kami..?” ucap nenek Eliza yang muncul dari dalam dengan ramahnya. Dani mengekori neneknya dari belakang.
“Silaturahmi saja...” ucap tuan Wijaya yang sejenak berdiri saat nenek Eliza menghampirinya, lalu kembali duduk.
“Ini untuk Dani...” Tuan Wijaya memberikan isyarat supaya parsel buah yang di bawa Daniel di berikan kepada Dani..
“Oh, iya.., ini buat kamu..” ucap Daniel sambil tersenyum kepada Dani.
“Terima kasih..” jawab Dani yang menerima parsel tersebut.
Walau pun kamu tersenyum dan kamu buat semanis mungkin, aku tetap benci sama kamu gadis bodoh.
“Begini nyonya, langsung pada intinya, maksud dan tujuan saya kemari, saya ingin melamar cucu anda untuk Daniel anak saya..”
__ADS_1
Apa..? Melamar aku? Nggak salah dengar nih..? Kenapa tiba-tiba..?
“Melamar cucu saya..?” ucap nenek Eliza terkejut.
“Benar sekali. Karena kebaikan cucu anda, tiba-tiba muncul pemikiran seperti ini. Dani gadis yang baik, saya ingin dia menjadi menantu di keluarga Wijaya..”
“Bagaimana nyonya..? Dan bagaimana dengan Dani sendiri..?”
“Saya sih setuju saja. Dan itu suatu kehormatan buat saya, karena tanpa angin dan tanpa hujan, tiba-tiba tuan datang kemari melamar cucu saya untuk dijadikan menantu anda...”
Aduhh...saya harus jawab apa? Nenek, aku bingung....
Dani berusaha menenangkan hatinya. Ia mencoba berfikir jernih. Ia mencari jawabn apa yang harus ia berikan. Berbeda dengan Daniel. Orang itu tak henti-hentinya mengumpat dalam hati.
Jawab saja tidak gadis bodoh! Lama amat, supaya papaku cepat mendengar dan segera pergi dari gubug kamu ini. Awas saja kalau kamu jawab ia.
Daniel duduk dengan tenang, namun otaknya sudah berisi bermacam-macam aneka umpatan. Dan itu di tujukan untuk Dani.
“Dani.., bagaimana dengan kamu nak..?” tanya nenek Eliza membuyarkan keseriusan Dani mencari jawaban. Dani menatap wajah nenek Eliza. Ada secuil harapan ia menjawab bersedia atas lamaran tersebut.
“Ba..baiklah tuan, nenek, saya bersedia..” Seketika wajah tuan Wijaya dan nenek Eliza tersenyum sangat sumringah sekali.
Sialan..!! Apa sebenarnya mau kamu. Oke, jika itu pilihan kamu, tunggu saja hari-hari yang akan membuat kamu seperti di neraka. Apa sih susahnya untuk menjawab tidak? Dasar gadis matre, gadis kampungan, gadis bodoh.
“Boleh..” ucap tuan Wijaya.
“Iya nak Daniel, silakan...?”
Dani agak gugup, karena Daniel mengajaknya berbicara berdua saja. Dengan sopan setelah pamit kepada tuan Wijaya dan nenek Eliza, keduanya berjalan menuju teras depan yang terdapat dua kursi untuk duduk bersantai.
Dani duduk dengan manis. Sedangkan Daniel masih berdiri membelakangi Dani. Sesaat suasana hening.
Aduh.., ini orang semkin membuat aku gugup saja. Kira-kira apa yang akan di bicarakanya.
“Apa kamu tidak bisa untuk menjawab tidak..?” ucap Daniel dengan suara yang sangat berbeda saat ia berada di dalam tadi.
“A...apa maksud kamu?” tanya Dani dengan suara terbata.
“Kamu nggak paham? Atau kamu pura-pura..?” jawab Daniel yang kini membalikan tubuhnya menghadap ke arah Dani. Perlahan mendekatinya dan duduk di sebelah gadis itu. Dani semakin gemetaran. Tubuhnya menjadi panas dingin ketika Daniel tepat berada di sampingnya.
__ADS_1
“Aku benar-benar nggak tau..”
“Apa aku perlu menjelaskanya? Kenapa kamu mau menerima lamaran itu? Sedangkan kita baru saja saling mengenal, dan tidak ada cinta di dalamnya. Kamu sadar kan..?”
Mendengar ucapan Daniel, hati Dani serasa terbakar. Ia berusaha tenang. Ia berpikir sejenak. Menyusun jawaban yang akan ia lontarkan. Perlahan ia berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan.
“Ya, aku memang bersedia, karena aku tak ingin melihat wajah nenekku yang akan bersedih jika aku mengatakan tidak. Bagiku, kebahagiaan nenek lebih penting dari segalanya, dan dia adalah satu-satunya orang yang menjadi tujuan hidupku selama ini..” jawab Dani dengan tenang dan jelas. Tidak seperti tadi saat ia gugup.
“Kalau kamu bersedia, berarti kamu telah membuat hati seseorang hancur. Karena aku sudah mempunyai kekasih..”
Apa..? Dia sudah punya kekasih? Kenapa tadi dia tidak menolaknya di depan papanya, dan nenek juga..?
Dani membalikan badan kembali. Berjalan ke arah Daniel dan duduk di sebelahnya.
“Kenapa tadi kamu nggak langsung menolaknya? Kenapa kau limpahkan semua kesalahan kepadaku? Mana tau aku kalau kamu sudah punya pacar. Sekarang kalau kamu mau membatalkanya, silakan. Tapi kalau aku yang kau suruh memberi alasan, jujur aku tak sanggup. Aku tidak bisa melihat nenku malu..”
“Oke. Dengan kata lain kamu akan melanjutkan lamaran ini kan? Kalau begitu, kamu harus bersiap menghadapi aku setiap harinya..”
Sombong sekali kamu! Kamu lihat saja bagaiman kamu akan berubah
“Kita masuk saja..!” ucap Dani karena jengkel berbicara berdua dengan Daniel.
Daniel mendengus, lalu mengikuti langkah Dani dari belakang.
“Dani sini nak...?” Panggil nenek Eliza.
“Karena kami sudah sepakat, dan kalian pun sudah setuju, 2 minggu lagi acara pernikahan kalian akan di langsungkan. Karena lebih cepat akan lebih baik..”
“Terserah papa saja, Daniel ngikut..” ucap Daniel yang di sambut cibiran bibir dari Dani.
“Bagaimana dengan kamu Dani..?” tanya nenek Eliza.
“Dani juga ngikut saja nek..”
“Baiklah, karena kita semua sudah sepakat, kami mohon diri dulu..”
“Silakan tuan Wijaya, nak Daniel.." Tak henti nenek Eliza menyunggingkan senyum bahagia.
Malam itu, hati nenek Eliza begitu bahagia. Ia tak menyangka, dengan lamaran tuan Wijaya yang begitu tiba-tiba. Ia bersyukur, cucu semata wayangnya akan menjadi menantu orang yang baik seperti tuan Wijaya dan istri dari seorang lelaki bernama Daniel yang sopan dan santun.
__ADS_1
“Nenek sangat bahagia Dani, sebentar lagi kamu akan menjadi istri Daniel, lelaki yang baik dan sopan.” ucap nenek Eliza.
BERSAMBUNG