Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 58


__ADS_3

“Laras, tolong handle semua urusanku di hotel, karena saya mau ke rumah sakit.” Evan tergesa-gesa saat pamit kepada sekertaris pribadinya.


“Baik pak, saya akan menghandlenya.” Tanpa menjawab, Evan langsung saja keluar dari ruang kerjanya, dan sedikit berlari kecil untuk segera mencapai mobilnya yang sudah siap menunggu di depan. Fikiranya kalut kalau menyangkut orang tuanya.


Seorang satpam, pegawai di hotel Evan, dengan hormat membukakan pintu mobil untuknya.


“Silakan, pak Evan..?”


“Terima kasih, pak..” jawab Evan dengan sopan. Setelah masuk, ia segera meluncur menyusuri jalanan. Sinar matahari yang begitu menyengat siang itu, tak ia perdulikan.


“Papa.., kenapa dengan papa? Evan mohon, tetaplah sehat hingga Evan bisa memberikan cucu untukmu papa. Tuhan, Evan mohon, berilah papa Evan kesehatan, dan umur panjang, aamiin..”


Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Evan bergumam memohon kepada Tuhan, untuk kesehatan papanya. Setelah meliuk-liuk dengan lincah, mobil yang di kendarai Evan sampailah di Rumah Sakit tempat papanya di rawat. Ia tampak begitu khawatir walau tuan Wijaya bukan papa kandungnya. Kasih sayang dari beliau lah yang membuat Evan sudah melebihi anak kandungnya sendiri, begitu juga sebaliknya, bagi Evan, tuan Wijaya melebihi papa kandungnya.


Evan terlihat berlari memasuki rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya. Ia langsung menuju ke tempat suster jaga dan menanyakan letak ruang IGD.


“Siang sus, mau tanya ruang IGD sebelah mana ya..?” Nafas Evan masih tersengal-sengal.


“Oh, ruang IGD? Mas lurus aja mentok, lalu belok kanan.” Jelas suster sangat ramah sekali.


“Terima kasih, Sus..?”


Evan kembali berlari ke arah IGD sesuai dengan petunjuk suster tadi.


“Tante Ema..?” Suara Evan yang mengejutkan kegelisahan wanita yang tengah duduk di kursi besi tempat para keluarga pasien menunggu. Serta merta ia bangkit dan menghambur ke arah Evan.


“Van, papa kamu..”


“Tenang tante, papa gak akan kenapa-kenapa kok, kita berdoa saja kepada Tuhan, untuk kesembuhan serta kesehatan papa, oke..?” Evan berusaha setenang mungkin, agar suasana tidak bertambah sedih. Ia menguatkan dirinya dengan berfikir yang positif.


Papa tidak akan kenapa-kenapa.


Itulah kata dalam hatinya yang membuatnya tidak panik. Tante Ema mengangguk, ia masih terisak di pelukan keponakanya.


“Kak Daniel mana, tante..?”

__ADS_1


“Maaf mas, dari tadi saya hubungi, baru saja menyambung, mungkin sekarang baru perjalanan kemari..” jawab Ken yang berdiri di depan Evan.


“Ken, baju kamu basah, sebaiknya kamu pulang dahulu, untuk ganti baju, saya takut kamu akan sakit..”


“Gak papa mas, kalau saya pulang, siapa yang akan menunggu tuan..”


“Ken, kali ini dengarkan ucapaku, oke..?”


“Baiklah mas, kalau begitu saya permisi pulang dulu, mari nyonya..” Evan dan tante Ema mengangguk secara bersamaan. Setelah kepergian Ken, kini Evan dan tante Ema yang menunggui tuan Wijaya yang berada di dalam ruang IGD yang tengah berbaring dan sedang di tangani seorang dokter.


Sebuah mobil measuki halaman rumah sakit. Ya, itulah mobil yang di kendarai oleh Daniel. Begitu mobil sudah terparkir, ia segera berjalan dengan cepat masuk ke dalam. Seperti Evan, ia bertanya kepada sang suster jaga, dan suster memberitahunya dengan detail. Setelah suster selesai bicara, Daniel buru-buru menuju ruang yang di maksud. Dari jauh, tante Ema dan Evan melihat Daniel berjalan menuju ke arah mereka.


“Tante, apa yang terjadi dengan papa..?” tanya Daniel begitu ia sampai di depan Evan dan tante Ema.


“Kronologisnya tante kurang tau, cuma tadi Ken bilang kalau papa kalian jatuh ke dalam kolam..”


“Apa..? Jatuh ke dalam kolam?” seru Daniel terkejut.


“Kenapa bisa sampai jatyh sih? Ngapain aja si Ken..?” ujar Daniel dengan sedikit emosi.


“Siapa yang minta pendapat kamu! Sebaiknya kamu diam saja..!” sahut Daniel ketus.


“Tante mohon dengan sangat, di saat papa kalian begini, bisa nggak sih kalian tidak bertengkar..? Jangan kaya anak kecil, tante sudah bosan melihat kalian bertengkar lagi, lagi dan lagi setiap bertemu. Apa nggak bisa berdamai sebentar saja..?” Dengan kesal tante Ema menjatuhkan tubuhnya di kursi besi. Dengan wajah, sewot yang di tujukan kepada dua keponakanya, dengan kedua tangan di sedekapkan di depan dadanya, membuat Daniel dan Evan terdiam.


-


-


Damai rasanya hati ini bila dekat dengan kamu Andani Putri. Andai saja waktu bisa aku putar, aku akan memohon kepada Tuhan, agar kamu menjadi pendamping hidupku.


Itulah suara hati Nathan kala ia menatap Dani diam-diam tanpa sepengetahuanya.


“Nathan, tolong antarkan aku sekarang juga ke rumah sakit, aku ingin tahu kondisi papa saat ini..”


Wajah sedih Dani jelas tergambar di wajahnya. Double sedihnya. Satu sisi konflik demgan suaminya, satu sisi lagi, kondisi papa mertuanya yang sekarang tengah di rawat di IGD.

__ADS_1


“Baiklah non, kita berangkat sekarang, tapi dengan satu syarat..” Dani menoleh ke arah Nathan. Sekilas matanya beradu pandang dengan kedua mata Nathan. Gadis itu mengerutkan dahinya.


“Syarat...?” ucap Dani kemudian.


“Iya, dengan syarat, mulai sekarang non tidak boleh bersedih dan menangis lagi, harus tersenyum..” Ucapan Nathan di barengi dengan kedua tanganya yang memegang pipi Dani, membuat gadis itu membelalakan kedua matanya. Nathan tersadar dengan apa yang barusan di lakukanya, kemudian buru-buru melepaskan.


“Ma....maafkan saya non, saya telah lancang..”


“Tak apa-apa kok, kamu kan temen aku..” jawab Dani yang tersenyum dengan sangat manis sekali.


“Beneran non Dani nggak marah?” Dani menggelengkan kepalanya. Dan keduanya saling mengaitkan kelingking masing-masing. Beberapa saat kemudian, Nathan menjalankan mobilnya, mengantarkan gadisnya menuju rumah sakit.


Gadisnya..? Iya, untuk saat ini Tuhan belum memberikan kesempatan kepada Nathan untuk membahagiakan Dani, entah itu esok, lusa atau nanti, Nathan berharap akan tiba masanya. Sebuah harapan dan asa yang sederhana, membuat gadis yang ia sukai bahagia, walau awalnya ia sendiri tak tahu, bagaimana ia bisa menyukai nona majikanya itu.


Sampailah akhirnya Nathan dan juga Dani di rumah sakit tersebut. Setelah membukakan pintu untuk Dani, keduanya segera berjalan memasuki rumah sakit. Tujuan pertama Dani adalah bertanya kepada suster jaga, di mana ruang IGD berada. Setelah mendapatkan jawaban yang akurat, ia melangkah di iringi oleh Nathan yang berada di belakangnya.


Suara langkah kaki Dani, membuat orang yang berada di depan ruang IGD menoleh kepadanya. Tanpa aba-aba, namun ketiganya bisa bebarengan melihat ke arah Dani.


“Dani...?” gumam Daniel lirih. Seketika pandanganya berubah, ketika melihat Nathan di belakangnya. Dengan tatapan tajam, seolah ingin segera menerkam, namun Daniel menahanya.


Aku akan buat perhitungan dengan kalian. Tunggu saja tanggal mainya.


“Tante, Evan..?” ucap Dani ketika sudah berada di depan ruang IGD dan mendapati tante, suami dan adik iparnya di sana. Ia sama sekali tak menyapa Daniel, suaminya yang juga berada di tempat itu.


“Dani..?” gumam tante Ema lirih.


Teringat ia dengan apa yang telah di lakukanya dan juga kakanya kepada orang tua gadis itu. Ingin rasanya menghindar, namun rasa bersalah membuatnya tak kuasa untuk menghambur dan memeluk menantu keponakanya itu.


“Apa yang terjadi dengan papa, tante..?” tanya Dani yang memeluk dan menepuk-nepuk lembut punggung tante Ema.


“Tante, kak Dani, sebaiknya kalian tenang dan duduk, Evan yakin, papa gak akan kenapa-kenapa kok...” Tante Ema dan Dani segera duduk mengikuti ucapan Evan.


“Papa kamu, jatuh ke kolam, Dani..” Jelas tante Ema, yang membuat bibir Dani sedikit menganga.


“Jatu ke dalam kolam...?” Kembali Dani memeluk tante Ema.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2