
Daniel masih tetap pada tempatnya menatap wajah Dani yang sedang tertidur. Kini ada rasa penyesalan menggelayut di dalam hatinya. Sebagai anak pertama dari garis keturunan Wijaya Permana, memang agak membebani dirinya. Semenjak pertama mengenyam pendidikan, dan seumur hidupnya, harus di embel-embeli nama besar papanya, dan itu yang membuat Daniel ingin berontak, namun tak bisa ia lakukan. Didikan papanya yang bisa di bilang disiplin, ada nilai plus dan ada nilai minusnya juga.
Sebenarnya, pada dasarnya ia orang yang baik dan cerdas. Namun semenjak ia kehilangan mamanya, ia menjadi berubah. Sering mengabaikan omongan papanya dan bahkan sering bertengkar. Waktu kuliah ia pernah kena DO, namun lagi-lagi karena nama besar papanya, ia di terima di salah satu universitas yang sangat bonafit dan terkenal.
Sedangkan kepada Evan kenapa ia selalu cemburu dan iri, hingga membuatnya semakin benci, itu di awali kejadian pada waktu ia masih kecil. Tepatnya saat ia kelas 5 SD. Saat ia bermain dengan Evan, adik angkatnya, berlarian dan berkejaran di dalam rumah, tanpa sengaja Evan jatuh sendiri, hingga hidungnya mengeluarkan darah. Pak Wijaya yang di beri tahu kalau Evan jatuh dan berdarah, spontan pulang. Melihat Evan mengeluarkan darah, pak Wijaya memarahi Daniel hingga memukulnya dan mengurungnya di dalam kamar. Pak Wijaya menghukum Daniel tanpa bertanya sebab musababnya terlebih dahulu. Itu membuat hati Daniel sangat benci kepada papanya dan Evan saat itu. Hingga sampai sekarang, memori itu masih melekat di benaknya.
“Tuhan, kenapa Kau tak pertemukan aku dengan dia terlebih dahulu, sebelum aku bertemu dengan Anyelir..” Batin Daniel yang kini dadanya serasa makin sesak.
Perlahan Daniel beranjak meninggalkan Dani, dan kembali berbaring di sofa. Tatapanya melayang jauh memandang langit-langit kamarnya.
Anye, kenapa kamu berani sekali menampar Dani, istriku. Karena kamu perempuan, aku tak bisa membalasnya, karena di hadapan umum.
“Hattccciihhhh...” terdengar suara bersin yang lolos darinya begitu saja. Sangat lega sekali di rasa, namun ia merasa sedikit pening.
“Hmm, mau flu nih..” gumamnya lalu mencari obat flu di kotak yang tersimpan di lacinya. Beruntung si Daniel karena masih tersisa satu tablet obat flu.
“Yach, stok cuma tinggal satu, tapi ga papa deh, yang penting di minum dulu..” gumamnya lalu turun mengambil air putih untuk meminum obat tersebut.
Tuuuuuttttt tttuuuutttt
Terdengar dering telefon yang ada di sakunya. Perlahan Daniel meraih ponselnya dan melihat siapa yang telefon.
“Tante Ema..?” Lalu segera ia menyambungkanya.
“Hallo tante, ada apa malam-malam telefon Daniel..?” Dengan heran Daniel menjawab telefon tante Ema.
“Kamu sama Dani di mana? Kenapa belum pulang?” Daniel yang mendengar pertanyaan tante Ema, menepuk jidatnya sendiri.
“Waduhhh, maaf tante, Daniel lupa bilang, kalau Daniel sama Dani pulang ke rumah kaca. Apakah papa nyari in kami berdua? Papa udah tidur tante..?”
“Engga kok, ya udah kalau kamu pulang ke rumah kamu, kirain tante kamu masih ada acara sama Dani. Papa kamu udah tidur pules..”
__ADS_1
“Iya tante, besok pagi kami akan ke sana lagi kok..”
“Baiklah Daniel, selamat malam, maaf ganggu kamu ya..”
“Ahh, ga papa tante...”
Setelah tante Ema menutup telefon, Daniel segera kembali ke kamarnya setelah minum obat. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Dengan menggunakan selimut ia menutupi tubuhnya.
Rani, kamu lagi apa? Apakah kamu baik-baik saja, aku sangat khawatir dengan keadaan kamu. Apakah Daniel menyakiti kamu..?
Nathan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia terlihat resah dan gelisah, memikirkan gadis pujaanya, Dani. Ingin rasanya Nathan menelfonya, namun lagi-lagi terhalang oleh status yang menjadi jarak di antara mereka berdua.
“Raniii...” gumam Nathan yang memegang kepalanya sendiri.
Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur. Berulangkali berguling ke sana ke mari karena belum juga dapat memejamkan kedua matanya. Akhirnya tepat pukul 02.00 WIB dini hari, Nathan dapat tertidur dengan pulas.
***
“Jam berapa ini..?” Dani mengambil ponselnya dan melihat jam berapa. Betapa ia terkejut, ternyata udah jam 08.00 WIB, pagi. Buru-buru ia melompat dari ranjang, dan hendak keluar dari kamar itu. Namun saat ia akan turun dari ranjang, ia melihat Daniel masih meringkuk di sofa.
“Kenapa mas Daniel belum berangkat? ini kan udah jam 08.00 WIB pagi..? Apa aku bangunkan saja ya..? Ah nggak ada salahnya juga kok, toh hanya membangunkan...” gumamnya sendiri. jLalu menghampiri Daniel bermaksud untuk membangunkanya. Dengan langkah pelan, Dani mendekati Daniel. Lalu dengan hati-hati membangunkanya. Ia memberanikan diri mengguncang tubuh Daniel yang masih tidur itu.
“Mas, mas Daniel, bangun mas, udah jam 08.00 WIB, mas nggak pergi ke kantor..?” ucap Dani yang berhenti mengguncang tubuh Daniel. Perlahan, Daniel membuka matanya, sebagai tanda ia merespon panggilan Dani.
“Kamu ngapain sih, bagunin aku?” ucap Daniel yang mengernyitkan dahinya, dan menggeliat sebentar.
“Cuma mau bangunin mas saja, soalnya ini udah terlambat untuk mas pergi ke kantor.”
“Aku nggak enak badan, nggak ke hotel hari ini..”
Spontan Dani memegang kening Daniel dengan telapak tanganya. Hal itu membuat Daniel heran dan sekaligus terkejut.
__ADS_1
“Waduh, kenapa jadi panas begini? Mas demam ya..?” tanya Dsni sedikit khawatir dengan lelaki yang tebaring di hadapanya itu.
“Ah, nggak usah lebay, tar juga baikan kalau buat istirahat sehari..”
“Jangan suka menyepelekan, sebaiknya mas Daniel tidur di ranjang, Dani buatin wedang jahe.” Daniel bangun lalu berpindah ke ranjang. Memang benar, saat ini tengah demam, karena flu yang menyerangnya. Sementar Dani keluar kamar menuju dapur.
“Mau buat apa, non..?” tanya bi Marta yang melihat Dani sibuk merebus air dengan di beri sedikit jahe.
“Ini bi, buat wedang jahe, untuk mas Daniel, sekarang lagi demam karena flu.”
Bi marta tersenyum, melihat Dani yang peduli sama Daniel.
Kalau liat begini, rasanya damai banget. nggak dikit-dikit berantem, hehe.
Bibi bergumam dalam hati, lalu melanjutkan pekerjaanya. Dani telah selesai membuat wedang jahe, lalu menuangnya di cangkir dan memberinya sedikit madu. Lalu segera membuatkan sup jamur putih, sebagai makanan yang di sinyalir bisa meredakan demam. Beruntung semua bahan tersedia di kulkas, jadi ia bereksplorasi dengan sup jamur putih yang ia buat. Bi Marta di buat kagum oleh Dani. Walaupun berulang kali di sakiti, namun ia tetap mengurus Daniel, suaminya di saat sakit begini. Dan lebih kagum lagi melihat ia begitu sangat terampil sekali saat memasak.
“Selesai sudah..” gumam Dani di iringi dengan senyum manisnya. Setelah ia menata makanan yang telah ia buat di mangkuk, ia membawanya ke kamar untuk Daniel dengan menggunakan nampan.
“Bi, Dani anterin sup buat mas Daniel dulu yach..?”
“Iya non, silakan..”
Dani berjalan menuju kamar Daniel. Perlahan dengan hati-hati, ia menaiki anak tangga. Setelah sampai di depan pintu kamar Daniel, dengan hati-hati ia membuka handel pintu kamar tersebut, lalu masuk ke dalam. Daniel yang tengah rebahan, melihat Dani dengan heran.
“Mas Daniel, ayo makan sup dulu, biar sakitnya enggak tambah menjadi, ini Dani buatin sup buat mas Daniel, karena Dani tau badan mas lagi demam..” Mata Danoel tak lepas menatap Dani yang dengan lincahnya meletakan sup di meja di samping ranjangnya, lalu berdiri di hadapanya.
Betapa bodohnya aku, kenapa aku bisa menyia-nyiakan gadis seperti kamu Dani, Anyelir saja yang menjadi kekasihku, belum pernah memperlakukan aku seperti ini, ia hanya bisa memberikan kepuasan saja, tapi tak bisa membuat hatiku nyaman seperti saat ini.
“Mas Daniel, kenapa malah jadi bengong gini sih?” ucap Dani yang menyadarkan lamunan Daniel dengan melambaikan tanganya.
BERSAMBUNG
__ADS_1