Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 64


__ADS_3

Tatapan mata Daniel begitu tajam, tepat mengenai jantung hati Dani. Ia bangkit dari duduknya, mendekati Dani yang masih berdiri di hadapanya.


“Sebegitu inginkah kamu untuk segera melihatnya? Apa di hati kamu di penuhi dengan nama dia?” Daniel berdiri, memutari tubuh Dani yang masih terpaku. Ia hanya diam, percuma mengeluarkan suara, hanya buang-buang tenaga saja.


“Baiklah, aku juga sudah nggak sabar, sebaiknya kita mulai saja permainanya, oke sayang..?” ucap Daniel yang memegang dagu Dani. Sangat jijik Dani di pegang seperti itu. Tangan yang selalu menjamah wanita lain selain dirinya, bila mengingat hal itu, ingin rasanya ia meludahi wajah Daniel. Wanita mana yang berstatus sebagai istri, rela melihat suaminya memadu kasih dengan wanita lain, walau dalam pernikahannya tidak di dasari oleh rasa cinta. Walaupun kecil dan seujung kuku, pasti rasa sakit itu ada.


Evan yang sudah memasuki halaman rumah itu, tepatnya adalah tempat tinggalnya waktu dulu, semasa mamanya masih hidup.


Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia memsuki rumah tersebut. Kenangan masa lalu kembali muncul di benaknya. Mamanya yang begitu mengasihinya, harus pergi untuk selamanya, meninggalkanya bersama papa dan kakaknya, karena sakit.


Evan menyalakan lampu yang ada di ruang tamu.


“Sungguh, tata ruangan ini tak berubah sedikitpun..” gumam Evan. Sejenak ia terhanyut, memandang lukisan-lukisan koleksi mamanya yang tertempel dengan begitu rapi di dinding. Sebuah lukisan dua bocah kecil, dan itu adalah ia dan kakaknya Daniel yang di lukis mamanya, kini jadi pusat perhatianya.


Evan berhenti di depan lukisan tersebut. Ada rasa rindu menyelimuti relung hatinya. Kerinduan akan kasih sayang dan belaian tangan mamanya, itu yang dirasakanya.


“Mama..., Evan kangen sama mama..” ucapnya lirih.


Braaakkkkkk


Evan di kejutkan oleh suara bantingan yang sangat keras, dan terdengar dari kamar atas. Karena penasaran, ia beranjak pergi untuk memeriksanya.


“Suara apa sih..?” gumam Evan yang menaiki satu persatu anak tangga yang menghubungkanya dengan lantai dua. Dengan hati-hati Evan berjalan, agar tak menimbulkan suara berisik.


Rupanya, suara yang mengagetkan Evan tadi berasal dari bunyi pintu kamar yang di tutup dengan bantingan yang agak keras oleh Daniel. Sebenarnya Dani agak takut juga, namun tak ingin melihat Daniel tersenyum menang, ia melawan rasa takut itu. Ia kini berada di dalam sebuah kamar bersama dengan Daniel.


“Ma..mas Daniel mau ngapaiin...?” tanya Dani dengan gugup.


“Kamu tanya aku mau apa? Ya tentu saja mau main-main dengan kamu....” ucap Daniel dengan senyum nakalnya. Dani menghindar saat Daniel akan menyentuh wajahnya, dan mundur dua langkah.


“Jangan macam-macam mas Daniel.!!”


“Kita lihat saja, apa kamu masih ingin menolaku..?” ucap Daniel dengan senyum menyeringainya.


Pokkk pokkk


Daniel menepukan tanganya. Tak berapa lama dua bodyguard tadi masuk bersama Nathan, dengan tangan yang terikat serta kepala masih di tutupi dengan kain hitam.


“Nathan...?” ucap Dani yang terkejut.


“Lepaskan dia mas..! Jangan menyakitinya..!”

__ADS_1


“Tentu saja aku akan beri dia pelajaran, ! karena dia telah lancang...!!”


“Roy, buka tutup kepalanya..!” Perintah Daniel bagai anak sultan saja. Kedua bodyguard itu menuruti perintah Daniel, dan segara membuka kain yang menutupi kepala Nathan serta membuka plester yang menutup mulutnya.


“Non Dani.?” ujar Nathan lirih karena engap nafasnya.


“Mas, Dani mohon, lepaskan dia, Dani yang punya salah sama mas, tolong?”


“Baiklah, aku akan melpaskanya. Tapppiiiiii....., ada syarat yang harus kamu penuhi.”


“Apa itu mas, cepat katakan saja..”


Daniel berlagak berfikir. Beberapa kali berjalan mengitari Dani.


“Syaratnya, kamu harus melayaniku malam ini..”


“Apaa...!?” teriak Dani tercengang.


“Jangan hiraukan saya non, non pergi saja dari sini...”


Buuugggg


sebuah bogem mendarat di perut Nathan.Posisi yang tadi ia berdiri, kini jatuh dengan posisi lutut sebagai penyangga.


“Silakan saja..! Dasar banci..”


Kemarahan menyelimuti Daniel, saat Nathan mengatainya dengan sebutan banci.


“Hajar dia..!!”


Bugghh buggg


Kedua bodyguard Daniel bertubi-tubi menghujani tubuh Nathan dengan bogem dan tendangan.


“Hentikan..!! Jangan sakiti dia..!” teriak Dani dan spontan berlari ke arah Nathan. Karena tak tahan melihat Nathan seperti itu, Dani menghalangi tubuh Nathan dengan memeluknya. Hal itu membuatnya juga ikut merasakan tendangan maut bodyguard Daniel. Menyaksikan reaksi Dani seperti itu, membuat Daniel cemburu membabi buta.


“Stoppp...!!” ucap Daniel yang mendekati Dani lalu menyeretnya. Nathan berusaha berdiri, tapi boyguard Daniel menahanya.


“Kurang ajar kamu..! Beraninya sama wanita..!!”


“Suara apa itu, kok terdengar gaduh sekali..?” gumam Evan yang berjalan cepat mendekati sebuah kamar kosong di rumahnya. Betapa kagetnya Evan, melihat adegan yang di lakukan kakaknya.

__ADS_1


“Kak Dani, kak Daniel..? Dan bukankah itu pengawalnya kak Daniel? Kenapa di ikat seperti itu..?” gumam Evan yang sudah berdiri di depan pintu.


“Lihat apa yang aku lakukan sama dia..!” Daniel merobek lengan baju Dani. Seperti kesetanan saja.


“Jangan sakiti dia..!!” Nathan berusaha bangun, namun lagi-lagi kedua bodyguard Daniel menghajarnya.


“Hentikan...!!” Semua terkejut dan menoleh ke arah Evan. Dengan langkah yang tenang dan berwibawa, Evan berjalan menghampiri Dani.


“Evan...??” ucap Dani lirih, dan ia merasa lega melihat siapa yang akan menolongnya dan juga Nathan.


Kedua bodyguatd itu bermaksud menghalangi jalan Evan dan bermaksud akan menghajarnya juga, mamun Evan selangkah lebih maju, bertindak di luar dugaan mereka.


Bugghh buugghh


Seperti Jett Li saja. Evan terlebih dahulu menendangkan kakinya ke arah bodyguard tersebut dan membuat keduanya jatuh tersungkur secara bersamaan karena tendangan Evan tepat mengenai perut mereka.


Evan mengambil ponselnya. “Kalian berdua pergi dari sini atau aku panggil polisi..?” Amcam Evan kepada kedua bodyguard tersebut. Keduanya saling berpandangan, lalu seraya berdiri dan pergi meninggalkan kamar tersebut dengan langkah tertatih.


“Adik kurang ajar!! Ngapain kamu ikut campur urusan ku..!!” ucap Daniel yang menghentikan aksinya merobek baju Dani dan kini berjalan ke arah Evan.


“Sadarlah kak Daniel! Apa yang telah kakak lakukan, haaaahhh!!?” seru Evan dengan sedikit berteriak. Tak terima dengan apa yang dilakukan adiknya, Daniel bermaksud akan memberi hadiah Evan dengan bogem mentah. Namun dengan cepat, Evan menangkap dan menangkis tangan Daniel.


“Dulu kak Daniel bisa berbuat seenaknya kepada Evan, tapi sekarang, Evan akan melawanya, karena semut yang di injak, bila kesakitan akan balas menggigit..” ucap Evan dengan penuh amarah menatap tajam kepada kakaknya.


“Bedebah kamu, Van..!!?”


“Silakan mengoceh sepuas hati kakak. Kakak pilih melepaskan mereka atau saya yang akan melaporkan kakak kepada polisi? Kali ini saya tidak main-main. Jangan membuat papa marah dan almarhumah mama kecewa di alam sana..!!”


“Jangan bawa-bawa mama..!!” Danil menepis tangan Evan, lalu pergi dari kamar tersebut. Evan menatap kepergian Daniel sambil memegang kepalanya sendiri.


Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Dani. Ia berlari ke arah Nathan, dan melepaskan ikatan tanganya. Nathan terkulai lemas di lantai, dengan hidung yang mengeluarkan darah.


“Nathan, kamu gak papa..?” Melihat gadisnya melepaskan ikatan tanganya, Nathan twrsenyum untuk menenangkan hati Dani.


“Ra...rani, aku gak papa kok..” Entah sadar atau tidak, bibir Nathan memanggil Dani dengan sebutan Rani. Saat Dani merengkuh kepala Nathan, ia pun pingsan di pangkuan Dani.


“Nathaann...!! Bangun..!! Aku bilang bangun..!!” Dani berulang kali menggoyang kepala Nathan, namun lelaki itu tetap memejamkan mata, dan pecahlah tangis Dani.


“Kak Dani, sbaiknya kita bawa dia ke rumah sakit, agar cepat mendapat pertolongan..” ujar Evan yang menghampiri keduanya. Dani mengangguk, dengan mata yang basah oleh air mata.


Kenapa kak Dani menagisinya sampai sebegitunya? Ada hubungan apa antara kak Dani dengan lelaki ini..??

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2