Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 55


__ADS_3

Mobil Daniel melaju menyusuri jalan raya menuju ke arah rumah nenek Dani. Di otaknya sudah terbayang, ia tidak rela, bila Dani bahagia bertemu neneknya, sekaligus bisa berlibur bersama. Ia menyesal telah mengatakan iya kepada Dani. Belum sampai ia ke tujuan, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sambil menyetir, ia menerima telefon dari kekasihnya, Anyelir.


“Hallo, iya sayang, ada apa..?” Suara Anyelir di seberang sana.


“Daniel, kamu lagi di mana? Aku mau, kamu ke sini, sekarang juga..” Pinta Anyelir.


Ciiiittttttt


Daniel menghentikan mobilnya ke tepi jalan.


“Sekarang..?”


“Iya, aku mau sama kamu saat ini..” ujar Anyelir tegas.


Gue mau buktikan, kamu akan selalu tunduk dan patuh kepadaku Daniel Permana Wijaya. Dalam tiga hitungan, kamu akan menjawab iya. Satu....dua...tiiii....


Hampir dalam hitungan ketiga, sebelum Anye meneruskan bergumam dalam hati, Daniel menjawabnya terlebih dahulu.


“Hmm, baiklah. Kita ketemu di hotel saja. Aku tunggu, oke...?”


“Baiklah Daniel sayang..”


Setelah janjian ketemu di hotel, keduanya segera menutup telfon. Daniel yang tadinya hendak menyusul Dani, kini membelokan arah mobilnya ke hotel yang ia janjikan bersama Anyelir untuk bertemu. Anyelir segera bersiap-siap. Tak lama, ia meluncur dengan mengendarai mobil kesayanganya. Meliuk-liuk dengan lincah dan gesit menuju hotel. Tak berapa lama, sampailah ia di hotel tersebut. Di dalam lobby, rupanya Daniel sudah menunggunya. Dari jauh ia melambaikan tanganya, memberi isyarat kepada Anyelir. Dan, sudah dapat di tebak, mereka segera chek in sebuah kamar. Sambil merangkul Anyelir, Daniel menuju kamar hotelnya.


Cuppppp


“Sabar Daniel sayang, aku ke kamar mandi dulu yach..?” ucap Anye dengan manjanya.


“Baiklah, jangan lama-lama.” Anyelir hanya mengedipkan mata dan menuju kamar mandi. Sementara Daniel, meletakan tas ransel dan ponselnya di meja. Dengan tak sabar, ia melucuti pakaianya sendiri, dan memakai piyama.


-


-


“Kita sampai di rumaah...” ujar Dani yang terlihat begitu senang, sampai di rumah yang sejak kecil menjadi tempat tinggalnya. Rumah yang penuh dengan kenangan, bersama mama papanya walau hanya sampai umur 15 belas tahun. Namun itu tak membuat seorang Dani menyerah untuk mengejar cita-citanya. Buktinya, ia dengan tekun dan gigih menempuh ilmu sampai ke jenjang kuliah dengan prestasi yang sangat memuaskan.


“Nathan, ayo masuk, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri, kita kan friend..?” ucap Dani.

__ADS_1


“Iya nak Nathan, mari masuk, anggap saja rumah sendiri..”


“Iya nek, non Dani..” jawab Nathan malu-malu. Ketiganya segera masuk ke dalam rumah. Dani bergegas ke dapur, mengambil air minum untuk Nathan. Sementara nenek Eliza, pergi ke kamarnya untuk mengemas beberapa pakaian.


“Nathan, saya mau siap-siap dulu, kamu tunggu sebentar dan minumlah ini untuk melepas dahaga..”


“Aduh nggak usah repot-repot non, terima kasih..” Dani mengangguk dan tersenyum, untuk kemudian segera ke kamarnya.


“Hai kamar tercintaku, jumpa lagi dengan penghunimu yang receh ini..” gumam Dani yang memasuki kamarnya, dan melompat ke tempat tidur.


“Waaa, aroma bantal ini membuat aku ingin berlama-lama tidur di sini..” Dani memejamkan mata sejenak. Menikmati aroma khas dari tempat tidur, bantal dan gulingnya. Karena setelah menikah, ia tak pernah menginap di rumah neneknya.


Tok tok tok


“Dani sayang, kamu sudah siap nak? Kita berangkat sekarang saja, takut kemalaman di jalan..”


“Iya nek, bentar lagi...” jawab Dani bangun dari rebahanya, lalu segera bersiap-siap.


Di rumah utama


Tuan Wijaya terlihat merenung dan bersandar di ranjangnya. Beberapa kali, terdengar suara nafas yang terhembus keluar dari hidungnya dengan kasar ke sembarang arah. Sejak ia mendengar berita dari tante Ema, ia terus memikirkan Dani, menantunya. Akhirnya, ia putuskan untuk keluar dari kamar dan berniat jalan-jalan di halaman rumahnya yang sangat luas untuk sedikit mencari udara segar.


“Tuan..? Anda mau kemana?” tanya Ken yang sudah berdiri di belakang tuan Wijaya.


“Oh kamu Ken? Mau cari udara segar, rasanya dada ini sedikit susah bernafas berada di dalam rumah terus. Oh ya Ken, apa kamu sudah menelfon Ferdian, pengacara saya..?”


“Sudah tuan, mas Ferdian akan menemui anda sekitar jam 10.00 WIB besok.” jawab Ken dengan hormat.


“Baiklah, terima kasih, Ken.”


“Sama-sama tuan. Mari saya temani anda mencari udara segar..” Tawar Ken yang di angguki oleh tuan Wijaya. Keduanya berjalan di halaman yang begitu luas, dengan pepohonan, taman yang indah dengan hiasan rumput jepang menghiasinya, seperti hamparan permadani hijau.


Hingga akhirnya, langkah tuan Wijaya berhenti di bibir kolam renang lalu berjongkok untuk sekedar menyentuh air yang jernih itu.


“Ken, taukah kamu, siapa perancang kolam renang ini..” tanya tuan Wijaya sambil memandang sekeliling kolam. Menikmati airnya yang jernih dengan bentuk kolam yang unik. Kolam tersebut berbentuk angka 8.


“Maaf tuan, saya kurang tau..” Tuan Wijaya tersenyum Mengagumi kolam dan sekaligus perancangnya yang sudah almarhum.

__ADS_1


“Almarhum mama Daniel yang merancangnya. Sungguh dia wanita yang hebat, satu-satunya wanita yang bisa menaklukan hati saya.” ujar tuan Wijaya membuang jauh pandanganya. Ada sebuah senyuman bangga tersungging di kedua sudut bibirnya. Ken mengangguk mendengar penjelasan tuanya.


“Ken, tolong antar saya ke makam mamanya Daniel...” ucap tuan Wijaya yang mendadak itu.


“Sekarang tuan..?” tanya Ken dengan heran dengan kemauan tuan Wijaya yang tiba-tiba itu.


“Iya Ken, sekarang.” ucap tuan Wijaya menoleh ke arah Ken.


“Baiklah. Mari tuan, saya antarkan anda ke sana..” jawab Ken dan tuan Wijaya segera berdiri. Saat ia membalikan badan dan hendak berjalan ke arah Ken, naas menimpa tuan Wijaya. Entah karena apa, kakinya terpeleset.


Buuugggghhhh


Tubuh tuan Wijaya jatuh terjerembab, dan tubuhnya jatuh ke kolam renang yang penuh dengan air.


“Tuan..!!” Teriak Ken berlari ke arah tuan Wijaya dan spontan menceburkan diri untuk menolongnya. Dengan susah payah, Ken membawa tubuh tuan Wijaya dan menaikanya ke atas kolam. Dengan nafas yang ngos-ngosan akhirnya Ken berhasil. Namun keadaan tuan Wijaya sungguh membuatnya tercengang sekaligus panik. Tuan Wijaya sadar, namun ia tak dapat bicara dan tubuhnya tak dapat bergerak.


“Tuan..? Tuan.., anda kenapa? Bicarlah tuan, kenapa tak menggerakan tubuh anda?” ucap Ken yang sedikit mengguncang tubuh tuan Wijaya.


“Nyonya Ema..!! Nyonyaaa...!!!” Teriakan Ken menggemparkan seluruh penghuni rumah itu. Dua orang penjaga, pak wawan, bibi dan tante Ema segera berlari ke sumber suara.


“Mas Wijaya? Kenapa dengan kakak saya, Ken? Kenapa?” teriak tante Ema histeris, dan terduduk di samping tuan Wijaya.


“Sebaiknya kita segera bawa tuan ke rumah sakit. Nyonya tolong anda siapkan mobil, saya dan penjaga akan mengangkat tubuh tuan.


“Iya Ken.” Tante Ema bergerak cepat, Segera ia mengelurakan mobil di garasi. Sementara Ken dan dua orang penjaga mengangkat tubuh tuan Wijaya.


Tanpa mengganti baju, Ken membawa tuan Wijaya ke rumah sakit. Ia menyetir dengan cepat dan agak kencang. Sepanjang perjalanan, tante Ema terus saja menangis melihat kondisi kakaknya. Sesampainya di rumah sakit, tuan Wijaya segera di bawa ke IGD dan seorang dokter menanganinya.


“Hallo, iya tante, ada apa..?” Suara Evan yang di hubungi oleh tante Ema.


“Van cepat kamu ke rumah sakit, Papa kamuuuu...” Evan terkejut dengan ucapan tante Ema.


“Papa? Papa kenapa tante?”


“Kamu cepat ke sini Evan, tante tunggu..” Tak sanggup ia bicara di telefon, lalu ia menutupnya dan memberikan alamat rumah sakit.


“Ken, tolong kamu hubungi Daniel dan Dani. Saya tak sanggup bicara lagi.

__ADS_1


“Baiklah nyonya.” ucap Ken.


BERSAMBUNG


__ADS_2