Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 26


__ADS_3

Dani tengah sibuk menata bajunya yang ia ambil dari koper ke sebuah almari kecil yang berada di dalam kamar hotelnya. Selesai ia menata baju-bajunya, perlahan ia berjalan ke dekat jendela kaca yang dapat di buka atau ditutup.


“Waaahhh..., pemandangan yang sangat indah sekali..” gumam Dani yang membentangkan kedua tanganya menghirup udara laut yang bisa langsung ia nikmati dari kamarnya. Sejauh mata memandang, hamparan laut dengan air yang berwarna kebiruan menyejukan mata dan fikiran yang sedang penat.


Benarkah saat ini aku berada di negara tetangga? Sungguh tak terfikirkan sebelumnya, aku akan sampai di Thailand. Negeri Gajah Putih. Oohhhh....senangnya...


Gumam Dani sejenak melupakan kejengkelan dan kemarahanya kepada Daniel. Gadis itu sesekali tersenyum dan memejamkan matanya. Menghirup dan merasakan udara yang begitu kental dengan suasana laut yang sudah lama ia rindukan.


Sementara di kamar lain, tepatnya di depan kamar Dani, Nathan tengah merebahkan tubuhnya. Karena merasakan lelah yang begitu mendera tubuhnya, hingga ia tertidur.


Moment itu tak di sia-siakan oleh Dani. Dengan segera, ia menelfon neneknya.


Tuuuuuuuttttt tuuuuuuutttt


“Hallloo, Dani sayang, apa kabar cucu nenek satu ini?” jawab nenek Eliza.


“Kabar Dani sehat nek, Dani bahagia. Coba tebak nek, sekarang Dani ada di mana hayoo...?” tanya Dani dengan begitu girangnya.


“Emmm, rumah mertua kamu?”


“Salah, sekarang Dani ada di Thailand, bulan madu sama suami Dani..”


“Ohh, bulan madu?” tanya nenek Eliza begitu senangnya.


“Iya nek, Dani kasih liat..” Dani pun mengalihkan panggilanya melalui vidio call. Dan hamparan laut nan indah dengan pasir putih yang menambah suasana pantai tersebut semakin cantik di lihat dari kamar Dani.


“Waahhh, indahnya..., tapi ngomong-ngomong, di mana suami kamu, nenek pengen bicara..”


“Mas Daniel..?” jawab Dani yang menjadi agak panik.


“Iya sayang, nenek mau ucapin terima kasih sama dia, telah menjaga cucu nenek dengan baik..” Nenek terlihat jelas sekali tersenyum bahagia.


“Em maaf nek, mas Danielnya lagi keluar, tar Dani sampaikan deh rasa terima kasih nenek sama dia..”


“Oo, begitu ya? Baiklah, tapi bener ya, nanti sampaikan sama dia..?”


“Iya nenek, siap deh pokoknya.., ya sudah, Dani tutup dulu ya nek, nenek jaga kesehatan, salam buat semua karyawan dan mbak Risa nek..”


“Oke Dani sayang..” Nenek Eliza dan Dani mengakhiri telefonya.

__ADS_1


“Terima kasih Tuhan, Engkau telah berikan seseorang berhati malaikat seperti Daniel, amin..” ucap Nenek pelan.


Nenek Eliza tak tau saja, perlakuan yang diterima oleh Dani.


Sore harinya, setelah selesai mandi, perut Dani terasa sangat lapar sekali. Ia bermaksud menanyakan kapan akan di ajak makan di luar oleh Daniel, karena ia sangat asing sekali dengan negara itu. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Daniel.


Tok tok tok


“Mas Daniel, mas...”


Tak ada jawaban. Dani pun mengulanginya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama.


“Hai gadis muna, kenapa ketuk-ketuk pintu kamarku..?” Suara Daniel yang tepat berada di belakang telinga Dani, membuat ia terkejut, dan menoleh ke arahnya.


“A...aku lapar mas Daniel..” jawab Dani dengan pelan.


“Lapar? Kamu bisa makan sendiri kan?” jawab Daniel yang berdiri dan tengah merangkul Anyelir.


“Maaf, ada yang bisa saya bantu mas Daniel..?” Suara Nathan memecah ketegangan di antara Dani dan Daniel.


“Kebetulan sekali Nathan, tolong kamu temenin gadis muna ini cari makanan, katanya laper dia..”


“Mari non, saya antar..?” ucap Nathan dengan ramahnya. Dani mengangguk. Daniel tak menghiraukan Dani, ia langsung masuk ke kamarnya bersama Anyelir.


Nathan mengantar Dani, nona mudanya ke restoran yang ada di hotel itu. Dengan penuh iba, sesekali ia menatap Dani. Tampak polos sekali tatapan mata gadis itu.


“Nathan, kita duduk di mana? Aku nggak bisa bahasa di negara ini, bagaimana kita akan membeli makananya?”


Sungguh ucapan yang sangat polos sekali. Seperti anak kecil yang bertanya kepada kakaknya.


“Nona tenang saja, sedikit-sedikit saya bisa bicara dengan bahasa Thai..”


“Sungguh?” jawab Dani dengan sorot mata berbinar.


Keduanya berjalan dan duduk di sebuah meja dengan dua kursi. Dan tak berapa lama, seorang pelayan datang menghampiri mereka, setelah Nathan memberi kode untuk memanggilnya.


Keduanya terlibat obrolan bahasa Thai. Dani hanya diam tanpa tau apa maksud


pembicaraan mereka. Sang pelayan itu mengangguk lalu pergi dari hadapan Nathan.

__ADS_1


“Kamu pandai sekali berbahasa Thailand...?”


“Ya sedikit non, hehe...”


Tak berapa lama pelayan tadi pun kembali lagi dengan membawa beberapa hidangan dalam nampan yang di bawanya. Intinya, setelah di persilahkan, Dani dan Nathan mengangguk dan akan menikmati hidangan tersebut.


“Non, maaf sebelumnya, nggak papa kan kalau saya duduk bersama non seperti ini? Non nggak malu kan? Atau non nggak merasa risih kan kalau saya menemani makan non Dani?” tanya Nathan sebelum ia makan, karena perutnya juga lapar sekali.


“Kamu bicara apa Nathan? Aku malah seneng sekali. Di sini aku merasa sendiri walau aku bersama suamiku. Namun rasanya aku tengah berdiri di padang pasir seorang diri. Sepi. Aku sangat berterima kasih, karena kamu mau menemani aku makan seperti ini..” jawab Dani dengan jujur.


Non Dani non Dani, sungguh hanya lelaki bodoh saja yang menyia-nyiakan kamu.


Nathan menatap Dani yang dengan lahap sekali menyantap makanan itu. Lagi setengahnya makan, dari kejauhan Daniel berjalan ke arah meja Dani.


“Mas Daniel..? Mau makan juga?” tanya Dani spontan saat Daniel dan Anyelir dekat dengan mejanya dan Dani pun spontan berdiri.


“Jangan mimpi! Aku akn peegi jalan-jalan bersama Anyelir. Silahkan kamu mau pergi ke mana pun sesuka hati kamu...”


“Tapi Mas..!?” seru Dani sambil menahan tangan Daniel. Baru pertama kali Dani memegang tangan Daniel begitu erat, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.


“Lepasin...!! Jangan bertingkah yang aneh-aneh di sini..!! Kalau kamu mau pergi, ada Nathan yang menmani kamu!”


Dani melepaskan tangan Daniel. Perlahan ia mundur dan kembali duduk di kursinya. Kata-kata Daniel membuat hatinya down.


Untuk yang kedua kalinya ia di permalukan di depan Anyelir dan Nathan.


“Nggak usah berlagak sok sedih. Toh dalam pernikahan ini tak ada cinta sama sekali.”


“Silakan pergi jalan-jalan. Selamat menikmati hari-hari menyenangkan kalian.” ucap Dani kemudian, namun kini ekspresi wajah Dani tampak datar. Mungkin saking menumpuk rasa sesak di dadanya, hingga membuatnya seperti itu.


Ada apa dengan gadis itu? Kenapa aku malah nggak suka kalau dia berkata seperti itu. Ahh persetan.


Daniel menghentikan gumaman dalam hatinya. Ia dan Anyelir segera melangkah meninggalkan Dani dan Nathan.


“Non Dani..? Non nggak papa kan...?” tanya Nathan yang berada di depanya, dan menyaksikan dari tadi.


“Aku nggak papa kok.” jawab Dani sambil tersenyum. Nathan tau, gadis di depanya ini hanya berpura-pura kuat. Jauh di dalam hatinya, ia sangat hancur berkeping-keping menerima perlakuan dari suaminya. Ingin rasanya ia mundur, menyudahi pernikahanya. Namun lagi-lagi ia memikirkan perasaan nenek dan papa mertuanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2