
Tak kuasa menahan haru, Dani berlinang air mata di punggung tuan Wijaya. Nenek Eliza dan yang lain ikut larut dalam suasana yang membuat mata mereka basah. Nasehat seorang papa sangatlah Dani rindukan selama ini.
Hanya anggukan yang ia ekspresikan untuk menjawab semua nasehat tuan Wijaya. Selebihnya bibirnya kelu dan tak bisa berkata apa-apa, karena air mata yang mewakili semuanya. Sampailah Dani di kamar tidurnya. Dengan sangat kuat sekali seorang tuan Wijaya dan setelah ia sembuh dari struke nya, ia mampu menopang tubuh Dani.
"Terima kasih papa...." ucap Dani lalu memeluk tuan Wijaya setelah ia lepas dari punggung tuan Wijaya.
"Sama-sama putriku..." kata tuan Wijaya yang dengan lembut membelai rambut Dani yang masih basah kuyup. Tak ayal pakaian tuan Wijaya pun ikut basah karena menggendong Dani.
"Sudah dong, tante ikut nangis dari tadi..." seru tante Ema yang ikut sesenggukan di belakang mereka. Begitu juga nenek Eliza dan Risa asistenya.
Dani menoleh dan berhenti menangis. Sekarang gantian tante Ema yang memeluk Dani.
"Selamat ya sayang, tante doakan kebahagiaan selalu menyertaimu..." ucap tante Ema yang masih berlinang air mata. Dani mengangguk.
"Cepet ganti baju gih, nanti kamu masuk angin, karena rambut kamu basah kuyup..." Lagi-lagi Dani hanya mengangguk. Sang pemandu masuk kamar. Tuan Wijaya dan tante Ema segera keluar. Ken dengan sigap segera memberikan baju ganti kepada tuan Wijaya, karena ke mana-mana, beliau selalu membawa cadangan baju kakau-kalau ada hal mendesak. Tak lama kemudian, Dani sudah berdandan cantik, memakai baju kebaya dengan rambut sudah kering dan di gerai. Tak lupa sang pemandu memakaikan bando yang terbuat dari rangkaian bunga melati di rambutnya. Dengan anggun, Dani berjalan keluar dari kamar. di ruang tengah sudah menunggu nenek Eliza, tante Ema, tuan Wijaya, Evan dan juga Daniel. Dari kesekian yang duduk di ruangan itu, hanya Daniel lah yang terlihat gelisah. Saat Dani muncul di ruangan itu, kedua mata Daniel tak lepas menatap Dani.
Penyesalan. Itulah kata yang menghuni dalam diri Daniel. Kenapa dulu ia menyia-nyiakan Dani demi Anyelir yang hanya mengincar hartanya. Kenapa berlian yang begitu bersinar ia campakan begitu saja, hanya demi batu cobek yang tampak indah di luarnya saja.
"Mas Daniel..?" sapa Dani dengan suaranya yang lembut. Daniel tak menjawab, karena ia masih berkutat dengan rasa sesalnya.
"Mas Daniel...?" sekali lagi Dani mengulangi pertanyanya dengan tangan yang masih mengulur tanpa sambutan dari Daniel.
"Kak Daniel..." panggilan Evan beserta tepukan tangan di bahu Daniel menyadarkanya.
"Ohh, iya Dani..." jawab Daniel sambil menyambut uluran tangan Dani.
Dani segera duduk di sebelah Daniel. Mereka berbincang. Menanyakan ini itu tentang acara pernikahan Dani besok.
"Papa, tante, Evan dan juga mas Daniel, Terima kasih banyak Dani ucapkan karena kalian sudah mau datang ke acara Dani, saya sangat bahagia sekali..."
"Sama-sama sayang, karena kami adalah keluargamu juga..."
"Maaf, boleh saya pinjam Dani sebentar nek, saya ingin ngobrol berdua dengannya..."
"Silahkan nak Daniel...."
Daniel mengajak Dani untuk ngobrol berdua. Dani mengerti dan berjalan menuju teras samping rumah yang sepi karena tidak di gunakan untuk acara. Ada dua buah kursi yang memang di gunakan untuk bersantai Dani dan juga nenek Eliza.
"Silahkan duduk, mas...?"
"Iya, Dan..."
Keduanya duduk menghadap ke depan. Belum ada yang memulai pembicaraan. Sama-sama diam.Daniel
"Selamat yach, akhirnya kamu bahagia dengan orang yang tepat..." Daniel memulai pembicaraan. Tatapanya ke arah Dani. Gadis itu pun menoleh ke arah .
"Terima kasih mas..."
__ADS_1
"Aku doakan rumah tangga kamu langgeng, sampai kamu menjadi oma dan opa.."
"Iya mas, Dani juga mendoakan semoga mas ketemu jodoh, menikah dan langgeng sampai tua, dan sampai ajal menjemput..."
"Dan, boleh mas meminta satu permintaan...?"
"Boleh mas, katakan saja apa itu...?"
"Bolehkan mas memelukmu untuk yang terakhir kali, sebelum kamu menjadi istri Nathan...?"
Dani berfikir sejenak.
"Boleh mas..."
Tanpa berfikir panjang, Daniel memeluk Dani masih dengan posisi duduk. Agak lama Daniel memeluk Dani. Tak terasa bulir bening menggenangi kedua kelopak mata Daniel. Namun dengan cepat ia segera mengusapnya, ia nggak mau kalau Dani sampai mengetahuinya.
"Maaf, mas terbawa suasana..."
Daniel melepas pelukanya.
“Nggak papa, mas..”
Keduanya kini ngobrol dengan santai. Banyak hal yang mereka bicarakan. Mengenang masa lalu yang kini sudah menjadi kenangan. Kenangan yang mungkin akan menjadi cerita untuk anak cucu masing-masing. Atau bahkan mungkin akan mereka lupakan dan di kubur dalam-dalam. Acara malam itu sangat lancar. Baik nenek Eliza, tuan Wijaya dan lainya sangat menikmatinya. Tak terasa sudah larut malam, dan keluarga Wijaya segera pamit pulang. Karena besok pagi akan di laksanakan puncak dari acara Dani dan Nathan yaitu pesta pernikahan mereka. Malam itu, semua orang pulang dan hanya ada Dani, nenek dan juga Risa. Dani gelisah tak dapat memejamkan mata. Walaupun ini bukan kali pertama ia menikah dan mengikat janji suci, namun hatinya merasa deg-degan. Karena menurutnya, menikah dengan orang yang sangat ia cintai adalah hal yang benar-benar sakral. Berkali-kali ia mondar-mandir di dalam kamarnya, duduk di depan cermin, menepuk pipinya sendiri.
“Benarkah besok aku akan menikah...? Oh ya Tuhaaan, aku masih belum percaya... ” gumamnya yang masih melihat wajahnya di depan cermin. Lalu ia beranjak menuju tempat tidurnya, dan merebahkan tubuhnya. Menarik selimut untuk menutupi tuuhnya yang sudah memakai baju tidur hingga sebatas lehernya. Ia berusaha sekuat tenaga memejamkan mata agar bisa tidur. Namun usahanya sia-sia. Bayangan acara pernikahannya besok terus di pelupuk mata dan terus membuatnya gelisah. Namun pada akhirnya, kedua mata Dani terpejam juga sekitar jam 02.00 WIB, karena kedua matanya terasa berat dan ngantuk.
Di rumah Dani
Tok tok tok
suara ketukan pintu tak membangunkan tidur nyenyak Dani. Gadis itu masih terlelap dalam mimpi indahnya. Maklum, dini hari baru bisa memejamkan mata.
Tok tok tok
Sekali lagi sebuah tangan yang terlihat mulai berkeriput mencoba mengetuk lagi.
“Dani sayang, bangun nak, sudah pagi...?”
Suara nenek Eliza masih tak ada sahutan dari dalam. Karena tak ingin cucunya terlambat di hari bahagianya, nenek Eliza perlahan membuka gagang pintu. Nenek Eliza menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dari ambang pintu, ia dapat melihat cucu semata wayangnya masih tertidur lelap di atas ranjang. Perlahan nenek melangkah mendekati Dani. Dengan pelan ia membangunkan Dani.
“Sayang, Dani.., bangun nak, udah pagi....” bisik nenek Eliza sambil menggoyang pelan tubuh Dani. Kali ini usaha nenek Eliza tak sia-sia. Dengan sekaoi goyang saja, Dani meresponya dengan menggeliatkan tubuhnya.
“Eemmmmmhhhhh... hhhoaahhheemmm...” ucapan merdu yang keluar dari mulut Dani. Perlahan ia mengucek kedua matanya, lalu perlahan membukanya. Dani melihat neneknya berdiri dan tersenyum di hadapannya.
“Masih ngantuk....? ” sapa nenek Eliza menggoda. Dani mengangguk. Ia masih lupa lalu hari ini hari bahagianya.
“Ayo bangun, hari ini adalah hari pernikahanmu...”
__ADS_1
“Astaga..!!” Dani spontan bangun dan memegang jidatnya.
“Sekarang kamu mandi, karena sebentar lagi kamu akan di rias sayang...” ucap nenek.
“Iya nek..”
Dengan segera, Dani bergegas beranjak dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi. Semangat sekali ia berjalan, sampai-sampai hampir saja ia tersandung keset yang berada di depan kamar mandinya. Nenek yang melihat Dani menggelengkan kepalanya sambil berkata agar Dani hati-hati, lalu segera keluar dari kamar Dani, karena saudara ada yang datang.
Di rumah Nathan, pagi itu tak kalah sibuknya. Baik tuan dan nyonya Felix hingga Edward adik Nathan, sama-sama terlihat sibuk mempersiapkan diri di acara nikahan yang akan diadakan tepat pukul 10.00 WIB nanti, yang akan berlangsung di gedung yang telah di tentukan oleh kedua keluarga mempelai.
Kesibukan dua keluarga di perhelatan akbar sudah mencapai puncaknya. Segala persiapan sudah mencapai sempurna dan finish. Kedua keluarga besar Dani dan Nathan sudah berkumpul di gedung yang sudah di tentukan. Para tamu undangan sudah memenuhi ruangan. Sejenak suasana agak riuh meriah. Hingga tiba acara suasana menjadi tenang karena pembawa acara sudah memulai acara. Mulai dari pembuka dan kini tiba saatnya akan di laksanakan akad nikah. Pakpenghulu sudah siap duduk di depan meja, dan sesaat kemudian muncul Nathan bersama papanya. Keduanya duduk di hadapan penghulu.
“Apakah mempelai wanita sudah siap juga...?” tanya pak penghulu kepada Nathan
“Sudah pak...” jawab Nathan lalu memberi kode kepada Edward yang duduk tak jauh darinya untuk memanggil Dani. Edward segera berdiri dan beranjak untuk memamggil mempelai perempuan.
Tak lama kemudian, dari arah samping, nampak Dani yang begitu anggunya, dengan riasan yang begitu membuat pangling semua yang melihatnya, dengan gaun yg indah membalut tubuhnya di temani Edward dan mb Risa berjalan menuju ke arah Nathan. Saat Nathan melihat Dani, ia begitu terpukau dan juga ada rasa haru menyelimuti hatinya.
“Inikah wanita yang aku perjuangkan, yang membuat aku setia hanya pada satu hati, dan sekarang akan menjadi pendamping hidupku...” ucap Nathan dalam hati. Tanpa terasa ada bulir bening menggenangi kedua pelupuk matanya.
Dani tersenyum, lalu duduk di sebelah Nathan. Segera saja saja Nathan mengusap bulir beningnya dengan sapu tangan. Lalumenoleh dan menatap ke arah Dani. Gadiscantik nan anggun yang berada di sebelahnya.
“Sudah bisa di mulai sekarang..?” tanya pak penghulu lagi.
“Silakan...?” jawab tuan Felix.
Sesaat kemudian suasana sangat khidmat dan sakral. Karena ijab qabul akan di mulai. Dibimbing bapak penghulu, Nathan dengan lantang dan tegas mengucapkan ikrar janji sucinya kepada Dani.
“Sah.... ” ucap bapak penghulu di akhir upacara ijab qabul itu. Nathan dan dani segera menandatangani buku merah dan hijau, lalu Nathan mencium kening istri sahnya, yaitu Dani.
Tak kuasa menahan haru, Nathan spontan memeluk Dani.
“Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri...” ucap bapak penghulu lagi.
Dan sesaat suasana menjadi haru dan bahagia. Begitu juga dengan kedua keluarga besar tersebut. Kini kedua mempelai, duduk di pelaminan, danacara di selingi dengan makan-makan tentunya. Ada juga yang naik ke pelaminan memberikan ucapan selamat kepada keduanya.
“Nanti kamu mau berapa anak yank...?” tanya Nathan sambil senyum-senyum ke arah Dani.
“Iiiihhhh..., dua saja yank, ups paksu aja deh..” jawab Dani sambil menutup kecil bibirnya dengan jarinya.
“Eemmm, jangan menggoda ya...?” ujar Nathan yang terlihat udah gemes sama Dani. Keluarga yang melihat kemesraan mereka ikut tersenyum dan seakan tak mau melewatkan tersebut. Nenek Eliza, tuan Felix dan semuanya larut dalam bahagia. Kecuali Daniel, iamelihat Dani dari kejauhan, karenaia tak sanggup memberi selamat kepada Dani, dan akhirnya ia pergi meninggalkan tempat itu.
Akhir yang bahagia. Walaupun pada awal mereka harus bersusah-susah dahulu.
Demikianlah kisah yang author tulis, dan maaf kalau cerita ini mungkin kurang berkesan di hati pembaca setiaku.
Dari saya khususnya, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, yang udah kasih like komen dan juga hadiahnya.
__ADS_1
Love u riderku😘❤️