Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Hampir saja!


__ADS_3

Seminggu sudah Aku tidak pulang kerumah, bukan pengecut namun Aku sengaja untuk menjaga jarak dari Naina. Aku menginap di apartemenku yang sudah berbulan-bulan tak ku singgahi.


Malam ini Aku melangkahkan kaki menuju taman didekat Apartemenku, suasana taman dimalam hari membuatku sedikit lebih nyaman. Aku menduduki sebuah kursi yang berhadapan dengan jalan. Aku mengedarkan pandangan pada sekeliling tempat itu.


Banyak sepasang kekasih yang mampir di taman, diantara mereka ada yang tertawa ada yang bermain gitar dengan kekasihnya. Suasana itu membuatku kikuk, hanya Aku sendiri tanpa seorang teman. Setelah puas mencari angin disana, Aku berlalu dari situ.


Beberapa menit kemudian Aku sampai di Apartemenku. Aku membersihkan diri dan mulai membaringkan diri diranjang big size itu. Seminggu ini telah membuatku merindukan Naina, entah apa yang terjadi padaku. Aku gusar sendiri dengan kesendirianku malam ini.


Aku mengambil ponselku diatas nakas, dan mulai menekan ikon hijau. Nama Sean tertera dlayar ponselku. Aku mengajak mereka untuk bersenang-senang malam ini.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul 23.35 kami bertiga menelusuri jalan masuk diskotik itu. Lampu diskotik itu menyilaukan mata, namun hentakan musik itu membuat suasana didalam semakin riweh.


"Ndre..... Lu mau minum kagak? Kata Sean. Aku hanya membalas dengan anggukan.


Tak butuh waktu lama minuman beralkohol itu sampai di meja kami. Kami juga ditemani wanita-wanita kelas atas diantara mereka ada yang duduk disebelahku dan bergelayut manja di lenganku.


"Tuan jika kau tak keberatan, aku akan menemani tidurmu malam ini," Kata wanita itu manja, membuatku sedikit muak. Namun Aku tak ingin membuatnya tersinggung. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


Pandanganku mulai sempoyongan akibat minuman beralkohol itu. Kami bertiga memutuskan untuk pulang. Saat menuju pintu keluar, tiba-tiba Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh kesumber suara, Aku melihat Cecil disana.


"Andre..."


Kenapa kau disini, Cecil?


Aku bertanya pada gadis itu, dia terlihat cantik malam ini. Balutan baju minimal dan seksi yang menampakkan dadanya yang sintal membuatku ingin membawanya pulang hanya untuk kutiduri.


Cecil bergelayut manja di lenganku. Wangi tubuhnya membuatku bergairah. Ia kembali mengajakku minum sedangkan Sean dan Marco hanya menggelengkan kepala tanda tak menyetujui. Aku mengizinkan Sean dan Marco lebih dulu pulang.


Aku menuruti kemauan Cecil kali ini, Ia pun berlalu dan memesan minuman untukku, dengan cepat Ia kembali dan membawakan segelas minuman dan memaksaku untuk meminumnya.


Tanpa menolak minuman itu, Aku meneguknya perlahan. Tegukan pertama tak berarti apa-apa bagiku. Hingga setengah gelas tiba-tiba sekujur tubuhku merasa panas. Dari efek minuman itu Aku tahu apa yang Cecil berikan padaku.

__ADS_1


Cecil terus saja memperhatikan gerak-gerikku dan disana terbit senyuman licik. Aku mulai merasakan reaksi itu, Aku mulai tak tahan dengan hasrat yang semakin bergejolak.


Tiba-tiba Cecil mendekatiku dan tangannya mulai menjalar dibagian dada bidangku. Ulahnya semakin membuatku kelabakan dengan hasaratku. Sekuat tenaga Aku mulai berdiri dan melangkahkan kakiku perlahan-lahan dan Cecil terus saja mengikutiku.


"Ndre... Aku akan mengantarkanmu pulang," katanya sembari berjalan disampingku. Aku tak membalas perkataan wanita itu.


"Aku akan buat perhitungan denganmu Cecil!"


Dengan sendirinya Gadis itu berdiri ditempat dan tak mengikutiku lagi. Aku memijit kepalaku yang mulai pusing. Aku merogoh saku dan mulai mengambil ponsel dan menghubungi Sean agar ia menjemputku. Tak berapa lama Aku menunggu, mobil hitam itu sudah parkir didepanku. Buru-buru Sean keluar dan membuka pintu belakang dan membopongku masuk duduk dibelakang kemudi. Akun menjelaskan pada Sean apa yang terjadi padaku.


"Bego amat sih lu! Sampai segini banget lu dikerjain si Cecil. Emang brengsek tuh anak! Dia gak tau sama siapa harus bermain, ini gak akan gue biarin!" sergah Sean emosi.


Aku hanya terdiam dan menahan panas sekujur tubuhku. Dengan kecepatan cepat kami tiba dirumah.


Aku membuka pintu mobil dan Sean kembali membopongku masuk kekamar.


"Gue sengaja bawa lu kemari, biar ada yang ngurusin lu yang bego!"


"Tuan memanggil saya?" Sapa Naina sembari menunjuk dirinya sendiri.


Sean hanya mengangguk dan kemudian menjelaskan agar Naina menjagaku disini. Jelang beberapa menit, Sean dan pelayan lainnya berlalu dari kamarku dan meninggalkan kami berdua dikamar itu.


Perlahan-lahan Aku mulai berdiri dan membuka seluruh pakaianku tanpa terkecuali, Aku mendekati Naina dan Ia mundur dan terus mundur. Akibatnya Aku menariknya dengan kasar dan membaringkannya di ranjangku. Aku melucuti seluruh pakaiannya dan membuatnya polos tanpa sehelai benang diatas ranjang.


Aku memasukkan senjataku kedalam gua miliknya, hentakan demi hentakan dari senjataku tak lagi berperasaan masuk kedalam area itu. Naina meringis kesakitan, ia mulai melakukan penolakan dan berkali-kali memukul dada bidangku. Aku terus saja meneruskan aksiku. Berkali-kali ia mengeluarkan suara rintihan, namun rintihan itu seolah memancing hasratku.


Obat perangsang itu membuatku melakukan hal gila ini lagi. Setelah puas akibat perangsang itu Aku rebah ditubuh mungil itu. Aku merasakan ringisan Naina, namun Aku tak tau harus berbuat apa. Aku merasakan perlahan-lahan Naina mulai menyingkirkan tubuhku dari atas tubuhnya.


\*\*\*


Sinar cahaya pagi menembus kearah jendelaku dan membuatku terbangun. Aku ingat sekali apa yang telah kulakukan pada Naina tadi malam. Aku segera beranjak dan menuju kamar mandi. Entah kapan Naina masuk, saat Aku selesai membersihkan diri seluruh perlengkapanku sudah tersedia diatas ranjangku. Dengan reflek, terbit senyuman dibibirku.


Aku menapaki anak tangga dengan buru-buru. Aku melihat Naina sibuk dimeja makan. Sedangkan Mama tersenyum melihatku yang mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Wah anak Mama, seminggu ini kemana aja sih?" Kata mama sembari menaruh Piring dihadapanku.


Naina memperhatikan Mama yang sedang mengomel. Aku memandangi wajah teduh kedua wanita itu secara bergantian.


Setelah sarapan Aku berlalu dari rumah. Aku menuju garasi dan mengemudikan mobil sportku membelah jalanan yang ramai.


Aku sampai digedung tinggi menjulang yang membesarkan namaku sampai ke penjuru negeri ini. Aku melangkah dengan santai, Aku menyapa beberapa karyawan yang berpapasan denganku.


Diruanganku Aku melihat Sean sibuk dengan Laptopnya. Aku mendekat dan menepuk bahunya. Ia melonjak kaget melihatku yang tiba-tiba ada di ruangan itu.


"Gila... Gue kaget tau!" Sean berkata sambil memasang tatapan tak suka.


Aku hanya tersenyum tak mengucapkan sepatah kata pun sembari duduk dikursi megahku. Melihatku yang hanya tersenyum membuat Sean jengkel.


"Senyum aja terus, belagak ganteng aja lu! Ketampanan lu gak seimbang dengan otak lu! Masih bisa aja dikerjain si Cecil!"


Aku tergelak kecil mendengarkan Sean mengomel. Aku memandangi wajah Sean yang benar-benar jengkel. Aku merogoh saku jas ku dan mengambil ponselku dan menelepon seseorang.


Sean terkejut mendengar perkataanku dengan seseorang diseberang sana. Aku tersenyum puas usai menelepon orang kepercayaanku.


"Gila lu Ndre! Lu yakin dengan perbuatan lu?"


"Ini kantor bukan diskotik!" Aku berkata tegas pada Sean. Mendengar itu Sean menelan saliva sembari mengulang pertanyaannya.


"Apa Bapak serius dengan yang Bapak katakan?" Tanyanya heran.


"Aku tak pernah bermain-main dengan perkataanku! Aku tak suka dengan orang yang berusaha mencelakaiku." Ucapku tak kalah tegas.


Sean terdiam dan berjalan ke meja kerjanya. Ia sangat tahu dengan karakterku bahkan ia sering sekali merinding dengan aksiku untuk menghabisi orang yang melakukan kesalahan denganku.


Aku tersenyum menyeringai dan mulai mengutak-atik ponselku. Sedangkan Sean mulai melanjutkan aktifitasnya.


"Kau sudah berani bermain denganku, sekarang sekarang giliranku yang akan bermain dengan hidupmu!" Aku bergumam dalam hati sambil tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2