
"Maaf mas, aku merepotkanmu lagi" ucap Dilla.
Aldy tak menggubris ucapan Dilla.
"Kenapa bisa begini? " Tanya Aldy.
Wajah Dilla tiba tiba pucat pasi. Ia bingung bagaimana menjelaskan kronologi kejadian nya pada suaminya. Terlebih lagi ini menyangkut masa lalu nya.
Aldy yang melihat Dilla tak menjawab pertanyaan nya pun mendesahkan napasnya kasar.
"Sekarang istirahat lah" ucap Aldy lalu meninggalkan kamar itu dan memulai pekerjaan nya yang sempat tertunda.
Dilla mulai memejamkan mata nya kembali.
Aldy masuk bersama seorang perawat ke kamar pribadi di ruangan kerja nya. Ia melihat Dilla masih terlelap dalam tidurnya.
"Dil, bangun" bisik Aldy. Dilla pun terbangun dari tidur nya.
Sang perawat melepas infus di tangan Dilla.
"Nyonya Dilla sebaiknya anda jangan terlalu lelah maupun stress karna berbahaya bagi diri anda sendiri maupun janin anda. Hal ini sudah terjadi berkali kali pada diri anda. Karna bisa saja jika keadaan ini berlanjut dapat menyebabkan resiko yang besar bagi diri anda maupun janin anda" sang perawat memberi nasehat sebelum ia benar benar pergi dari kamar itu.
Dilla mengangguk. Memang ia merasa bersalah karna tadi ia lari lari. Untung saja kandungan nya baik baik saja.
__ADS_1
Setelah dokter pergi, Aldy membawakan Dilla potongan beberapa jenis buah.
"Makan lah" ucap Aldy menyodorkan piring berisi buah itu karna ia tau istrinya hanya bisa makan nasi dimalam hari. Itupun juga akan dikeluarkan saat ia muntah dipagi hari.
Dilla mulai menyuapkan buah itu kemulut nya. Sungguh ia tak terbayang masa kehamilan begitu menyiksanya.
"Mas, bolehkan aku meminta sesuatu?" Tanya Dilla ragu karna takut mengganggu pekerjaan suaminya.
Aldy mengangguk
"Aku ingin sekali makan martabak dan bakso tapi tidak pakai sawi tapi pakai wortel, brokoli dan bayam" pinta Dilla yang mengejutkan Aldy.
"Hah? Mana ada yang jual martabak siang bolong gini Dil? Bakso pakai wortel, brokoli dan bayam? Memangnya ada yang menjual makanan seperti itu?" Tanya Aldy heran.
Aldy yang melihat Dilla seperti ini pun tak tega. Ia menghembuskan napas nya kasar.
"Baiklah tunggulah disini"
Aldy keluar dari kamar itu. Ia membuka ponsel nya dan ternyata memang benar tak ada kedai yang menjual makanan yang disebutkan Dilla tadi.
Akhirnya Aldy memiliki ide. Ia menelpon nomor mama nya.
"Hallo Al, kenapa tumben telpon mama"
__ADS_1
"Hallo ma, Aldy boleh minta tolong nggak?"
" Katakan saja Al"
" Tolong katakan pada koki rumah untuk membuat martabak manis dan bakso tanpa sawi tapi digantikan dengan wortel, brokoli dan bayam"
"Hah? Makanan apa itu?" Tanya mama Mela bingung saat mendengar pesanan bakso yang begitu aneh menurutnya.
"Dilla katanya pengen banget ma, Aldy tadi udah coba cari tapi nggak ada yang jual" ucap Aldy.
"Ya udah, nanti biar kepala pelayan yang antar ke kantor kamu"
"Oke ma, makasih"
Tutt
Panggilan terputus
Satu jam menunggu, akhirnya makanan yang Dilla pesan sudah sampai. Aldy segera membawa makanan itu ke kamar pribadi nya.
Dilla menatap makanan itu dengan mata berbinar.
Ia segera menghabiskan makanan itu. Aldy geleng geleng dengan tingkah istrinya. Tapi ia juga iba melihat istrinya yang mengalami gejala kehamilan yang menyiksa nya. Apalagi istrinya yang sampai saat ini tidak bisa memakan nasi karna ia pasti akan mual.
__ADS_1