
"O oh, tadi abis beli cap cay ma sama mas Aldy" jawab Dilla berbohong.
"Aldy nya mana?"
"Mas Aldy udah ke atas duluan katanya kebelet" jawab Dilla berusaha tetap tenang agar tidak ketahuan berbohong.
"mama ngapain jam segini masih dibawah" tanya Dilla.
"Mama mau ngambil minum di dapur"
"Oh, yha udah ma Dilla ke kamar dulu ya" ucap Dilla lalu berjalan menuju lift.
Setelah sampai lantai 3 Dilla segera membuka pintu kamar nya.
Ia melihat Aldy yang sudah berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan horor nya.
"Dari mana kamu?" Tanya Aldy dingin.
"Pertanyaanmu seperti tidak terjadi apa apa diantara kita" jawab Dilla sinis.
Aldy langsung menarik tangan Dilla lalu mencengkram pergelangan tangan nya.
"Kau mulai berani ya padaku"
"Untuk apa aku memuja laki laki pengecut" sinis Dilla.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bukankah laki laki yang tak mengakui anak nya bisa disebut laki laki pengecut?" Tanya Dilla sambil tersenyum kecut.
"Kau jangan mencari gara gara denganku nyonya Dilla. Kau sendiri yang dengan sengaja menghadirkan dia" teriak Aldy.
"Lalu apa jika dia tidak hadir? Apa seumur hidupku aku akan menjadi budak nafsumu hah?!" Dilla berteriak.
"Tutup mulutmu"
"Untuk apa? Apa hakmu memintaku menutup mulutku?"
"Aku suamimu"
"Hah?! Suami katamu? Sejak kapan kau mengakui nya?"
Aldy diam tak menjawab, ia berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang kerja nya.
Tiba tiba pandangan nya kabur, Dilla jatuh tersungkur di lantai kamar.
Tak lama kemudian, Aldy kembali masuk ke dalam kamar. Hatinya tiba tiba merasa tidak tenang bila meninggalkan istrinya sendirian dikamar.
Aldy kaget melihat Dilla sudah tersungkur di lantai. Aldy segera mengangkat Dilla menuju ranjang. Ia segera memanggil perawat yang dipekerjakan dirumah nya.
Perawat itu tergopoh gopoh berlari menuju kamar Dilla.
Sang perawat itu langsung memeriksa Dilla. Sang perawat menghembuskan napas nya lega saat tau keadaan Dilla baik baik saja.
"Nyonya Dilla baik baik saja tuan, sebaiknya jangan membuat nyonya Dilla stres karna akan berakibat buruk bagi janin nya"ucap perawat itu.
__ADS_1
Perawat itupun kembali ke kamar nya. Aldy duduk di samping istrinya. Ia membelai wajah nya dan mengusap jejak jejak air mata di wajah Dilla.
"Entah aku bingung dengan hatiku. Tapi rasanya aku masih tak mampu jika harus menerimamu dan anak ini"
Tangan Aldy beralih menyingkap baju Dilla hingga perut putih Dilla terpampang nyata. Ia mengelus perut buncit Dilla.
Aldy kaget saat mendapatkan tendangan dari perut Dilla.
"Apa ini anak ku?" Gumam Aldy tersenyum tipis.
Ia terus saja mengusap perut Dilla dan menghasilkan tendangan tendangan dari sang janin.
Pagi hari
Dilla mengerjapkan matanya bangun. Ia tertegun saat menyadari bahwa ia tidur dengan posisi membelakangi Aldy dengan baju tersingkap sampai atas perut. Ia baru sadar bahwa tangan Aldy juga melingkar di perutnya.
Dilla membalikan badan nya menghadap Aldy. Ia mengusap wajah tampan suami nya.
"kamu tampan namun selalu membuat hatiku sakit. aku yang tersakiti disini tapi kau selalu bertingkah seolah olah kau yang tersakiti. kenapa setiap bersama denganmu kau selalu menghancurkan hatiku?, menorehkan sebuah goresan luka sampai akhirnya luka itu semakin dalam karna kau terus saja menggoresnya" batin Dilla.
Rasa mual tiba tiba menyerang nya
Dilla menyingkirkan tangan Aldy lalu berlari ke kamar mandi.
Hoekkk
Hoeekk
__ADS_1