
Haiiii😍😍😍
Sebelum kalian baca part ini, please jangan lupa like ya😍😍😍
Hari-hari berlalu sejak kelahiran Adnan putra sulungku. Kelahiran Adnan telah merubah hidupku. Hadirnya membuat seisi rumah merasa bahagia.
Pagi ini agak berbeda dari sebelumnya. Sejak kedatangan Adnan, Naina tidak lagi menomorsatukan segala keperluanku. Bagiku tidak masalah, selagi Putra Mahkota itu nyaman bersama ibunya. Seperti pagi ini Naina sibuk bermain-main dengan Adnan. Sembari memasang arloji, Aku berjalan mendekati mereka.
"Asyik banget main sama mama ya Nak?"
Naina memalingkan wajahnya dari Adnan dan menoleh padaku. Ia berdiri dan merapikan pakaian yang sudah menempel di tubuhku. Kukecup seisi wajahnya dengan lembut. Wanita itu tersenyum manis. Setelah itu kami bertiga turun dari lantai atas untuk sarapan. Mama melihat kehadiran kami dengan gerak cepat mama mengambil alih Adnan dari pangkuan Naina dan membawanya ke taman yang berada di sekitar kediamanku. Tak berapa lama setelah sarapan Aku berpamitan untuk bekerja.
***
Di Kantor.
Seperti biasa, Sean sudah lebih dulu berada di ruangan dan berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Melihat kedatanganku, dia menyambutku dengan wajahnya yang serius.
"Ada apa denganmu? Kenapa rona wajahmu seperti papan?"
Mendengar perkataanku Sean menghentikan aksinya yang sedang merapikan beberapa file dan melipat tangannya di area dadanya. Masih dengan wajah yang serius. Dengan rasa cuek Aku duduk di bangku kebesaranku, kini posisiku berhadap-hadapan dengan meja kerja Sean.
Sean perlahan menghampiriku dengan satu berkas di tangannya. Aku membuka berkas tersebut dan mulai membacanya. Dengan wajah sumringah Aku kembali memberikan berkas laporan yang diberikan Sean. Berkas itu merupakan berkas laporan di mana perusahaan Justin sudah di ambang kehancuran. Dengan sigap Aku menginstruksikan Sean agar segera mengambil alih perusahaan Justin. Inilah yang kuinginkan, keluarga Justin hancur berkeping-keping. Bila perlu Aku menginginkan satu keluarga itu berlutut di hadapan Naina.
Aku dan Sean kembali melanjutkan aktivitas di dalam ruangan tersebut. Tak seberapa lama kami mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku dan Sean saling bertatapan. Aku sudah bisa menduga, bahwa itu adalah Justin.
Justin masuk dengan raut wajah yang lesu. Tanpa ada apa-apa dariku, Pria yang sebaya denganku itu langsung duduk di sofa.
__ADS_1
"Ada apa kau kemari?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Ndre … mungkin kau sudah tahu, Perusahaan besar milik keluargaku hampir brangkut," ungkapnya dengan menekuk wajahnya.
"Lalu? Apa yang harus kulakukan?"
"Jika kau tak keberatan, izinkan Perusahaanku menjalin kerjasama denganmu. Kau tahu kan hanya itu satu-satunya aset keluargaku," ucapnya dengan nada lemah.
Aku dan Sean kembali saling berpandangan sembari mendengarkan keluh kesah Justin mengenai gulung tikar tersebut.
"Kenapa kau jadi lemah seperti ini? Bukankah selama ini kau punya banyak relasi? Ke mana semua relasimu?"
Aku bertanya seolah tidak tahu menahu masalah perusahan yang menjalin kerjasama dengan Justin. Pria itu tampak frustasi dengan keadaan yang terjadi tiba-tiba di Perusahaannya.
Sean ikut angkat bicara pada Justin. Sean menawarkan kepada Justin agar menjual perusahaannya. Justin terpaku mendengar penuturan Sean. Melihatnya yang terpaku, seketika membuatku tersenyum penuh kemenangan. Tak berapa lama berdiam diri Pria itu beranjak dan pergi tanpa berpamitan. Aku dan Sean tertawa keras saat dia berlalu dari ruangan kedap suara tersebut.
***
Siang itu Aku dan Sean memilih makan siang di rumah. Mobilku melaju membelah jalanan yang padat. Tak berapa lama kami tiba di rumah berwarna cat putih tulang itu. Aku langsung menuju kamar untuk bertemu istri dan Adnan.
Pemandangan indah di kamar itu membuatku tersenyum. Naina sedang sibuk memberikan ASI untuk Adnan. Sembari bernyanyi dengan suara kecil, Naina mengelus rambut Adnan. Menyadari kehadiranku, raut wajah milik Naina semakin merona saat bertatapan denganku. Aku menghampirinya dan duduk di sebelah Naina. Sesekali kuberikan kecupan kepada dua orang yang paling kucintai. Setelah memberi Asi pada Adnan, Naina dengan hati-hati meletakkan Adnan di atas ranjang agar tidak terbangun. Saat hendak mengancingkan bagian atas dasternya, aku menepis tangan Naina perlahan. Aku mengancingkan daster itu agar bagian dadanya tertutup usai memberi Asi.
Saat hendak membawa Naina turun dari kamar ke ruang makan, Naina tiba-tiba mencegat lenganku. Aku berhenti dan memandang padanya.
"Apa yang kau lakukan pada perusahan Justin?"
"Aku tidak melakukan apa-apa sayang? Kenapa kau bertanya tentang itu?"
__ADS_1
Naina perlahan menarikku dan kami duduk bersebelahan di sofa yang berada di ruangan itu.
"Tadi Justin datang," jelasnya sembari menekuk wajahnya.
"Naina … Aku melakukan ini untukmu? Apa kau keberatan?"
"Ti-dak sama sekali." Tuturnya sembari gugup.
"Lalu?"
Naina masih terdiam tanpa membalas semua perkataanku. Aku meminta Naina menjelaskan apa yang terjadi. Naina menjelaskan segalanya dengan detail. Aku bisa menerka Justin mendatangi kediamanku saat pulang dari kantor tadi. Kujelaskan pada Naina agar ia tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Naina hanya manggut-manggut tanda mengerti. Namun tetap saja raut wajahnya tidak bisa berbohong. Ia ingin protes namun tidak kuasa melawan apa yang telah kukatakan pada Naina.
Aku heran padanya, kenapa masih saja mau membela Justin yang jelas-jelas sudah membuatnya menderita.
"Aku lapar," ujarku seraya berdiri dan segera beranjak dari sana diikuti oleh Naina dari belakang.
Di ruang makan Naina kembali membahas mengenai Justin. Kuhentikan acara makan itu dan terus menatap Naina.
"Apa kau tidak tahu di mana seharusnya kau membahas itu sayang?"
"Tapi tindakanmu keterlaluan, kenapa kau tega melakukan itu? Jika itu yang kau lakukan sama saja dengan menyakitiku. Bagaimana pun dia tetap saudaraku," ujarnya lirih.
Tanpa basa-basi aku mengentakkan meja itu dengan keras kemudian keluar dari tempat itu di susul oleh Sean.
Di mobil Aku menceritakan pada Sean perdebatan yang terjadi antara Aku dan Naina. Sean hanya diam tak mengomentari lebih jauh tentang masalah itu.
"Buat perusahaan itu hancur! Aku ingin melihat sejauh apa dia berkeluh kesah pada istriku!" Titahku pada Sean.
__ADS_1