
Dokter Farah terlihat mengetik pesan pada rekan nya.
Tak lama kemudian, datang lagi seorang perawat membawa perlengkapan untuk infus, tiang infus, cairan dan juga alat lain.
Dokter itu pun dengan telaten memasang infus di punggung tangan Dilla. Beberapa saat kemudian, infus sudah terpasang di tangan Dilla.
"Sebaiknya nyonya Dilla jangan terlalu beraktivitas berlebih karna kondisi pada nyonya Dilla ini rentan lelah yang bisa berbahaya bagi janin maupun ibu nya" ucap sang dokter.
"Baik dok"
Dokter itu pun pamit pulang.
Dilla masih setia memejamkan mata nya. Entah karna tubuhnya yang sudah terlalu lemah untuk bangun atau memang terlanjur ketiduran karna tubuhnya yang lemas.
..
Dilla mengerjap kan mata nya bangun, Ia melihat sekelilingnya.
"Kenapa tidak ada orang?" Batinnya saat melihat kamarnya kosong.
Dilla merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Dilla melihat ke punggung tangan nya yang ternyata sudah terpasang infus.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Nampak seorang pelayan membawa sebuah nampan dengan makanan di atasnya.
__ADS_1
Dilla langsung menutup hidungnya ketika mencium bau makanan itu.
" Kumohon tolong Bawa pergi makanan itu" ucap Dilla pada pelayan itu.
Pelayan itupun mengangguk dan membawa keluar makanan yang bahkan belum sempat ia letakkan di atas nakas kamar. Pelayan itu menutup pintunya kembali.
"Loh kok di bawa balik lagi" tanya Ara mengagetkan pelayan itu.
"Nyonya Dilla mual ketika mencium aroma makanan ini nyonya Ara" ucap pelayan itu.
Ara mengangguk tanda mengerti. Ia membuka pintu kamar Dilla. Ia masuk kedalam nya.
"Dil," panggil Ara.
"Bagaimana keadaan mu Dil?"
"Sudah membaik Ar"
Tiba tiba pintu kembali dibuka dan nampak mama Mela masuk ke kamar Dilla.
"Mana yang sakit nak?" Tanya mama Mela khawatir.
"Tidak ada ma, hanya sedikit lemas saja"
__ADS_1
"Huh syukurlah. Mama heran, padahal saat mama mengandung Aldy dan Ara mama tak merasakan hal seperti ini, paling hanya mual mual biasa. Tapi yang terjadi pada dirimu sungguh parah nak. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak beraktifitas" ucap mama Mela.
"Sama ma, pas aku hamil Qian pun aku cuma mual. Itupun cuma beberapa minggu aja dan Ngga terlalu parah"
"Hehehe kalian tenang saja ma, Ar. Dilla dan janin Dilla pasti akan baik baik saja" ucap Dilla meyakinkan kedua nya.
"Dimana mas Aldy ma?" Tanya Dilla mengalihkan pembicaraan karna tidak mau mertua dan adik ipar nya khawatir pada kondisi nya saat ini.
"Dia udah berangkat kerja tadi" jawab mama Mela.
Dilla sedikit terdiam.
"Kenapa dia tidak ada saat aku dalam kondisi seperti ini?" Batin Dilla kecewa dengan suami nya.
Ara yang melihat Dilla agak terdiam pun jadi ingat saat ia dulu hamil Qian. Pernah sekali ia terkulai lemas saat setelah mual. Hanya lemas, bukan pingsan tapi Rifqi sudah panik dengan keadaan nya. Bahkan saat itu Rifqi menemaninya seharian tanpa bekerja.
beberapa saat kemudian, dokter datang ke kamar Dilla dan melepas infus yang terpasang ditangan Dilla karna cairan infus nya sudah habis.
Dilla menyenderkan punggungnya dikepala ranjang. ia mengambil handphone nya.
ia melihat beberapa pesan masuk dari para teman nya yang menanyakan kenapa dirinya tak masuk kerja hari ini.
Dilla membalas satu persatu pesan itu. namun ada yang aneh, kenapa suaminya tak mengirimi pesan. kenapa ia tak bertanya kondisi nya saat ini.
__ADS_1
batin Dilla bertanya tanya.