Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Memberi Nama


__ADS_3

Satu jam berlalu Naina sudah berpindah ke ruangan perawatan. Mama sedari tadi sudah tak sabar ingin menggendong cucu pertamanya. Pandangan mereka tak luput dari bayi tersebut. Rona bahagia terpancar di wajah keduanya. Mama menghampiri hospital bed Naina dan segera memeluknya. haru campur bahagia bersatu diruang rawat milik Naina.


"Selamat bro ... akhirnya cair juga," Sahut Sean sembari menyodorkon tangannya untuk berjabat tangan.


"Cair? Emang lu kira, gue ajukan pinjaman dana dari BPKB!" Grutuku kesal sembari menepis tangan Sean dari hadapanku.


Mama dan Papa tertawa mendengar ocehan receh Sean. Marco mendekati Naina dan memberi ucapan selamat pada Naina. Meski wajahnya pucat tetap saja ia masih terlihat cantik bagiku. Rasa sayang dan cintaku kian bertambah pada Istriku. Kehadirannya membuatku berubah meski awalnya sulit menerima wanita itu. Kesabarannya dan baik hatinya bak malaikat bagiku.


Namun entah kenapa, firasat takut akan kehilangan Naina muncul dalam benakku. Rasa itu menghantui perasaanku sejak seminggu yang lalu. Ingin rasanya selalu berada di dekatnya . Sebisa mungkin aku menepis firasat aneh itu dari diriku.


"Tuan ... aku haus. berikan aku minum." Tiba-tiba saja Naina membuyarkan lamunanku dengan permintaannya.


Aku bergegas mengambil Air mineral yang berada di sisi kanan istriku, dan langsung memberikan sedikit demi sedikit air mineral tersebut. bayi kami tampaknya tenang bersama Omanya. Sesekali kedua orangtua itu tertawa melihat tingkah bayi kami. Sean dan Marco kembali duduk di sofa yang telah tersedia sebelumnya yang tepat berada di sisi kiri Naina.


"Ma ... wajahnya mirip banget sama papanya waktu kecil kan ma?"


"Iya pa ... gak ada beda. Mudah-mudahan mesumnya gak nular ya Pa."


Mendengar sindiran sepasang paruh baya itu, membuatku senyum-senyum sendiri. Sean dan Marco tertawa sekuat-kuatnya hingga membuat bayi dalam pangkuan Mama menangis. Dengan refleks aku menghampiri Mama dan mengambil alih mendiamkan bocah tersebut.


"Jagoan Papa nangis ya, gara-gara dengerin ketawa setan ya Nak"?

__ADS_1


"Sabar ya jagoan, entar setannya balik kandang kok Nak."


Seolah mengerti dengan perkataan papanya, bayi kecil itu menunjukkan senyum simpulnya sebentar. Mama yang menyadari senyuman simpul itu tertawa terbahak-bahak. Namun berbeda dengan Sean, ia cemberut dan mulai mengoceh tak jelas. Naina dan Marco sama halnya dengan Mama masih tertawa.


"Bapak sama anak sama aja jadi tukang bully,"cibir Sean yang tidak terima dikatakan setan olehku.


Membully Sean cukup puas bagiku untuk membalas segala ulahnnya tadi. Rona wajahnya seketika berubah saat jadi korban. Kembali kutatap wajah mungil yang tertidur pulas. Dengan perlahan aku menaruh bayi itu di box dan menyelimutinya.


Sejak dari kontraksi bahkan sampai saat ini Naina masih lemas. Aku membaringkan naina di hospital bed dan menyuruhnya istirahat. Naina mengikuti arahanku dan mulai perlahan menutup kelopak matanya. Melihatnya beristirahat hatiku terasa tenang. Tak berapa lama lagi Marco dan Sean pamit pulang.


"Oiya ... namanya siapa?" Tanya Mama seraya mencubit gemas bayi nan mungil di dalam box.


"Hmmm ... tanya Naina aja Ma. Aku mau kasih nama Adam ma ..."


***


PUKUL 19.20 DI RUANG RAWAT.


Malam itu Naina terbangun, masih wajah yang pucat ia mencoba tersenyum. Kuhampiri istriku dan mengubah posisinya menjadi duduk di atas hospital bed tersebut. Aku menawarinya makan malam itu mengisi perutnya yang kosong sebelumnya aku membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Ibu dari anakku tersenyum manis saat kubasuh tubuhnya dengan kain kecil yang telah disediakan Mama sedari tadi.


Naina makan begitu lahap dan sesekali aku membersihkan sisa makanan yang ada di area bibirnya yang mungil. Lagi-lagi senyuman manis darinya membuatku terpesona. Kucium keningnya berkali-kali .

__ADS_1


"Aku mencintaimu sayang, terima kasih sudah memberikan hadiah terindah untukku."


"Iya sayang ... aku pun mencintaimu dan anak kita lebih dari apa pun di dunia ini."


Ungkapan Naina membuatku terkesima. Pasalnya wanita di hadapanku ini bukanlah tipe wanita yang gampang untuk mengungkapkan perasaannya. Kubelai rambutnya yang panjang kemudian kubawa dia dalam pelukanku. Pelukan itu tiba-tiba merenggang karena tangisan si kecil. Ternyata anakku pun sudah mulai jahil terhadapku. Aku dan Naina terkekeh mendengarnya. Aku mengambil bayi itu dan memberikannya pada istriku untuk di beri ASI sesuai dengan arahan Dokter.


Naina membuka kancing bajunya satu persatu hingga menampilkan bukit kembarnya yang padat. Ia perlahan mengarahkan mulut bayi itu pada sumber ASI dengan cepat bayi itu menyedot ASI milik ibunya.


"Sepertinya bayi kita ini menjadi sainganku dalam merebut milikmu sayang,"


Naina tertawa kecil menanggapi ocehan recehku dan menepuk pipiku pelan. Aku dan Naina larut dalam kebahagiaan atas kelahiran buah hati kami yang tampan. Naina bernyanyi dengan suara kecil membuat buah hatiku tertidur pulas dalam pangkuannya. Melihatnya yang sudah tertidur Naina menaruhnya kembali di box yang berada di samping kanannya.


"Sayang ... kau akan menamainya siapa?" Tanyaku padanya.


"Bagaimana dengan nama Adnan? Itu gabungan dari nama kita berdua. Itu pun jika kau menyetujuinya sayang."


Mendengar sapaan sayang dari Naina membuatku bahagia. Aku menatap wajahnya seraya menopang dagu di hadapannya. wajah Naina merona seketika saat meihatku yang tanpa jeda menatapnya. Tanpa kusadari ternyata mama sudah berada tepat di sampingku begitu juga dengan papa.


"Ma ...Pa ... apa kalian tidak ada nama pilihan untuk cucu kalian?"


"Dirgantara ...." Sahut papa tegas.

__ADS_1


"Baiklah namanya akan kita gabung, ADNAN ADAM DIRGANTARA."


Nama indah itu pun resmi di berikan pada buah hati kami. Jagoan kecil yang akan menjadi penerus generasi keluargaku.Sebisa mungkin aku akan menjadikannya anak yang sukses kelak. Harapan besar kutaruh padanya. Kehadirannya membuat duniaku berubah drastis.


__ADS_2