Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
kenapa belum berakhir? (DillAldy)


__ADS_3

Ara segera keluar dari kamar mandi. Ia menyerahkan hasil test pack itu ke suami nya.


Rifqi terbelalak keget melihat hasil test pack istri nya.


"Kamu hamil yank? Alhamdulillah" Rifqi bersyukur dengan apa yang dilihat nya.


Rifqi merengkuh tubuh istri nya dan memeluk nya.


"Akhir nya tanggung jawab ku akan bertambah lagi" ucap Rifqi.


"Ehemm" dokter itu berdehem menyadarkan 2 insan yang sedang berbahagia namun seolah melupakan keberadaan dirinya disana.


Ara dan Rifqi keduanya sama sama tersenyum malu.


"Sebaiknya hari ini juga anda kerumah sakit nyonya, agar bisa dipastikan lagi" ucap sang dokter.


"Baik dok, terimakasih" ucap Ara tulus.


Dokter itupun keluar dari mansion Rifqi.


Tak lama kemudian pintu yang belum tertutup itu tiba tiba terbuka kembali.


"Mamiii" ternyata sang pembuka pintu adalah Qian.


"Sini, Qian duduk sama Papi" ucap Rifqi lalu mengangkat anaknya ke atas ranjang.

__ADS_1


Rifqi memegang telapak tangan Qian lalu menempelkan nya ke perut Ara.


"Disini ada adek Qian" ucap Rifqi.


"Hah? Adek pi?"


"Iyaa adek Qian. Biar Qian main ada temen nya"


"Yeaaayyy" Qian bersorak gembira seakan tau yang dimaksud papi nya.


Mereka bertiga pun berpelukan layaknya teletubies.


Sore harinya Ara memeriksakan diri dan ternyata benar. Kandungan ara sudah berusia 4 minggu.


1 bulan kemudian


Ia masih saja merasakan mual dan muntah parah dipagi hari. Pingsan nya Dilla sudah bukan hal mengejutkan lagi bagi para penghuni mansion argadinata.


Sedangkan usia kandungan Ara memasuki bulan ke 2.


Ia sama sekali tak merasakan yang disebut morning sickness.


Tetapi Rifqi lah yang mengalami nya. Setiap pagi Rifqi selalu saja mual dan muntah. Seringkali ia mengidam makanan yang aneh aneh. Semenjak Ara hamil, bukan Ara yang semakin manja, tetapi Rifqi lah yang selalu manja layak nya anak yang selalu mengintili ibu nya.


Kadang minta peluk, cium, tidur dipangkuan Ara, merengek karna hal sepele dan kadang ngomel ngomel tidak jelas layak nya emak emak.

__ADS_1


...


Hoekkk


Hoeekkk


Dilla masih saja mengalami mual muntah parah diusia kandungan nya yang bahkan sudah memasuki bulan kelima.


Perut Dilla sudah nampak membuncit. Tak jarang Dilla sudah merasakan tendangan tendangan kecil dari sang buah hati.


Seperti biasa, Dilla langsung lunglai ke lantai kamar mandi. Aldy langsung membopong Dilla yang sudah lemas tak berdaya menuju ranjang.


"Kenapa selalu seperti ini. Kenapa belum juga berakhir" gumam Aldy sambil mengusap dahi Dilla yang sudah dipenuhi keringat dingin.


"Kau ingin minum?" Tanya Aldy yang dijawab Dilla dengan anggukan kepala.


Aldy segera menuju lantai bawah dan membuatkan Dilla segelas susu kehamilan yang biasa Dilla minum.


Aldy membawa susu itu ke kamar nya dan memberikan nya pada Dilla.


"Mas, jika seperti ini terus rasanya aku nggak kuat mas" keluh Dilla.


Deg


Jantung Aldy merasa terhujam saat Dilla mengatakan itu. Ini adalah pertama kalinya wanita itu mengeluh. Setelah 5 bulan melewati segalanya, tak pernah sekalipun Aldy mendengar istri nya mengeluh. Dilla selalu mencoba baik baik saja walau sebenarnya semuanya terasa menyiksanya. mulai dari morning sickness parah yang dialaminya dan juga suami nya yang tak mau menerima anak nya.

__ADS_1


Rasanya begitu sakit saat mendengar istrinya mengucapkan kata menyerah.


__ADS_2