
Bryan pun ikut keluar saat mendengar keributan diluar.
"mau apa kau kesini" tanya Bryan dingin.
"Menjemput istriku"
"Cih, kau bilang istri? Istri yang kau telantarkan maksudmu?" Sinis Bryan.
"Dilla masuklah ke kamarmu" titah Bryan pada Dilla.
"Tapi kak..."
"Cepat masuk" bentak Bryan, mau tidak mau Dilla masuk ke kamar nya.
"Kembalilah, sampai kapanpun aku tidak sudi menyerahkan adiku padamu"titah Bryan.
"Punya hak apa kau melarangku menjemput istriku"
"Dia adikku" teriak Bryan.
"Dan dia istriku, aku memiliki hak penuh atas dirinya"
"Cih, kau telah menelantarkan adikku, apa itu tidak cukup untuk menjadikan alasan hak ku terhadap adikku?"
"Dia mengandung darah dagingku!" Bentak Aldy.
"Kau mengakui nya?" Sinis Bryan.
"anda memang pandai mematikan lawan bicara anda tuan Bryan" sinis Aldy.
Mereka pun terlibat adu mulut.
"Aku memiliki tawaran yang bagus untukmu tuan Bryan"
"Katakan"
"Aku akan membawa kembali istriku, jika dalam waktu 3 bulan dia tidak bahagia, maka kau berhak mengambilnya dan aku tak akan menuntut hal itu lagi"
Bryan berpikir sejenak.
Bagaimana pun Aldy adalah suami Dilla dan dia berhak sepenuhnya atas Dilla. Dia juga ayah dari anak yang dikandung Dilla. Seorang anak pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Pikir Bryan
__ADS_1
"Baiklah, aku menyetujui nya, jika dalam waktu itu Dilla tidak bahagia aku akan menjemputnya dan kau tak bisa menghalangiku" tegas Bryan yang diangguki Aldy.
Aldy pun masuk ke kamar Dilla
Ia melihat istrinya sedang tidur meringkuk
Ia tahu bahwa istrinya sedang menangis karna terlihat bahunya yang bergetar.
Aldy menghela napasnya pelan.
Ia ikut naik ke atas ranjang itu.
Ia membalikan badan istrinya untuk menghadap ke arahnya.
Ia mengusap air mata Dilla dengan tangannya.
"Jangan menangis lagi, oke"
Dilla mengangguk.
"Apa kau ingin pulang?" Tanya Aldy.
"Apa kak Bryan mengizinkanku?" Tanya Dilla balik.
Aldy mengangguk
Dilla mengangguk
"Aku mau mas"
"Tidurlah" ucap Aldy sambil merengkuh tubuh istrinya.
Ia mengusap usap perut Dilla yang kian membuncit.
Lama kelamaan Aldy ikut terlelap sambil memeluk istrinya.
Esok hari
Sore hari,,
Aldy dan Dilla benar benar pulang hari ini.
"Jaga kesehatanmu nak, jangan terlalu stres. Jika nanti kau akan melahirkan mama dan kakak pasti akan ke indonesia" pesan mama Gita.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik baik. Jika si brensek ini menyakitimu cepat hubungi kakak, dengan senang hati kakak akan menjemputmu" ucap Bryan.
Aldy dan Dilla pun masuk pesawat.
Beberapa jam kemudian, pesawat telah mendarat di indonesia.
Papa Reza dan mama Mela menyambut kedatangan menantunya dengan antusias.
"Syukurlah kau kembali nak" mama Mela memeluk Dilla.
"Sudah berapa minggu? Kok udah besar aja perutmu?" Tanya mama Mela mengusap perut menantunya.
"38 minggu ma"
"Wahh bentar lagi lahir dong, mama ngga sabar nunggu dia lahir" ucap mama Mela.
"iya ma, doain Dilla biar lahirannya nanti lancar"
"aamiin, pasti, mamah slalu doain kamu"
Aldy dan Dilla pun masuk ke kamarnya.
"Istirahatlah, kau pasti lelah setelah perjalanan jauh" ucap Aldy yang diangguki Dilla.
"Bolehkah aku meminta sesuatu mas?"
"Katakan"
"Bantu usap usap pinggangku mas, rasanya sangat pegal setelah perjalanan jauh"
Aldy mengangguk lalu ikut berbaring membantu istrinya mengusap usap pinggang yang pegal karna usia kandungan yang sudah besar pula.
Aldy pun ikut terlelap bersama istrinya.
Pagi hari,
Tangan Aldy meraba ke sampingnya
'Kosong'
GUYS, INI BELOM APA APA YA, MASIH ADA KONFLIK YANG BIKIN ALDY MENYESAL.. DITUNGGU POKOKNYA...
AUTHOR BAKAL BIKIN ALDY MENYESAL SE MENYESAL MENYESAL NYA.. WKWK
__ADS_1
OKE,, SEE YOU NEXT CHAPTER GUYS😘