
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Naina masih saja diam sesekali ia mengusap cairan bening yang melintas diwajahnya. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Sesekali kutatap wajah sembab itu. Isakan tangisan itu membuatku penasaran.
Tak berapa lama sampai dirumah, ia dengan cepat menuju kamarnya. Tak ingin membiarkannya sendiri saat menangis, Aku ikut masuk ke kamarnya. Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan wajah yang ditekuk. Aku menghampirinya dan mulai duduk disampingnya.
"Kenapa kau menangis Naina? Apakah Aku melakukan kesalahan?" Tanyaku sembari pandanganku tertuju padanya.
Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah semakin terisak. Membuatku sedikit kelabakan. Pasalnya jika mama melihatnya menangis, Aku akan disalahkan atas tangisan itu. Padahal tangisan Naina kali ini tidak tahu karena apa.
"Kau jangan menangis lagi Naina. Ini sudah di rumah." Kataku dengan nada datar.
Naina mengerti dengan ucapanku, ia mulai menghembuskan nafas kasar dan menoleh ke arahku. Pandangan kami pun bertemu. Ingin rasanya mencium bibir merah itu saat ia menatapku.
Melihatnya yang masih diam, Aku pun tak memaksakan wanita itu untuk menceritakannya sekarang. Aku menyuruh Naina untuk istirahat kemudian berlalu dari sana.
***
Ponselku bedering berkali-kali. Aku mengerjap-erjapkan mata kemudian mengklik ikon hijau tersebut. Sean dan Marco mengajakku untuk mampir di club baru milik teman Marco.
Aku bersiap-siap dan memakai jaket kesukaanku. Aku menapaki anak tangga dan tak sengaja bertemu mama di ruang tengah sedang berbincang dengan papa.
"Mau ke mana kamu larut malam gini?" Tanya Mama sembari memandangku dari atas hingga ke bawah.
Aku menggaruk tengkuk leherku yang tidak gatal. Jika wanita paruh baya ini tau Aku ke club, pasti ia tak setuju. Sejak kejadian kemarin mama mulai memperhatikan aktifitasku agar kejadian itu tidak terulang lagi.
"Hmm.. Aku mau ke club teman Marco ma...."
"Club terus... Sesekali kamu ke masjid kenapa, buat ngapus dosa yang udah numpuk." Celoteh mama dengan nada jutek.
"Lagian kamu tuh ya... Kalau pergi itu kudu pamit dulu sama Naina. Jangan asal keluar masuk aja." Imbuhnya lagi.
Aku hanya diam tak membalas setiap ocehan itu. Jika Aku menjawab maka artinya perdebatan itu akan menjadi pertarungan sengit. Mama tidak mau dikalahkan dalam bagian debat berdebat. Aku hanya tersenyum tipis kemudian berlalu dari sana.
***
__ADS_1
Suara musik club itu menghentak dipendengaranku. Lampu disco itu mulai beraksi menambah suasana heboh. Lautan manusia siap untuk berjoget mengikuti alunan musik.
Aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Sean dan Marco. Aku berjalan perlahan dan melihat tangan Marco melambai dan segera menemui mereka.
Sean dan Marco tidak hanya berdua, melainkan ada dua orang lagi yang duduk di sekitar mereka. Marco memperkenalkan mereka satu persatu.
"Ini Regan, pemilik club."
"Ini Laura, dj yang sangat fenomenal di negeri ini." Kata Marco antusias.
Aku menyalami mereka satu persatu sebagai tanda persahabatan dan berbincang ringan dengan mereka berdua. Ternyata Regan adalah saudara sepupu dari Marco. Aku ber oh ria membalas setiap penjelasan mereka dan sesekali meneguk minuman yang ada dihadapanku.
Tepat pukul dua dini hari, Aku memutuskan untuk pulang. Laura gadis yang berprofesi sebagai dj itu memintaku untuk mengantarnya pulang. Aku mengiyakan permintaanya kemudian Aku dan gadis itu berlalu dari sana menuju parkiran. Sedangkan Sean dan Marco masih berada diclub itu.
Aku membuka pintu mobil dan mempersilakan gadis muda itu masuk. Ia hanya tersenyum.
"Maaf merepotkanmu Andre...."
"Tidak, santai saja. Kebetulan kita searah jadi tidak ada salahnya." Jawabku sembari tersenyum meliriknya.
"Oya... Marco bilang, kau akan menikah? Apakah kau tidak dimarahi oleh calon istrimu jika pulang larut begini?"
"Iya... Dalam bulan ini Aku akan menikah. Dia wanita yang baik dan penurut." Kataku singkat seraya fokus pada jalanan yang ada dihadapanku.
"Siapa namanya? Dan tinggal di mana?"
Gadis itu bertanya seperti detektif dan tidak mau diam. Meski demikian Aku senang dengan sifatnya yang terbuka. Tidak munafik seperti kebanyakan gadis pada umumnya.
"Namanya Naina." Jawabku singkat.
Mendengar nama Naina gadis itu terkejut. Ia menatap dalam padaku. Sepertinya ia mengenali Naina. Kemudian Aku bertanya pada Laura apakah dia mengenal Naina. Benar saja, Laura adalah teman kecil dari Naina.
Laura menceritakan masa kecil dan remaja mereka. Ia mengatakan Naina adalah gadis yang baik dan dimanfaatkan oleh keluarganya. Ia juga menceritakan perlakuan keluarga Pradipta terhadap Naina. Mendengar penjelasan dari Laura, Aku semakin dendam melihat keluarga itu. Mereka berpisah saat Naina dipekerjakan ke Malaysia, beberapa tahun kemudian Naina pulang dari Malaysia mereka hanya bertemu beberapa kali.
__ADS_1
Dari semua cerita Laura tentang Naina, ada yang menarik bagiku. Laura menjelaskan, semenjak kepulangan Naina dari Malaysia Naina memiliki penyakit. Dimana ia kehilangan indra perasanya akibat siksaan dari majikannya ditambah lagi dengan rasa trauma.
Hatiku terenyuh mendengar penjelasan dari Laura. Ternyata sesakit itulah yang dialami Naina karena perbuatan keluarga yang tak beradab itu. Tanpa sadar cairan bening jatuh diwajah Laura saat ia menceritakan derita Naina. Aku tak habis pikir dengan keadaan Naina. Aku jadi teringat saat Naina menikmati nasi goreng setan itu, pantas saja ia tak merasakan apa pun. Bukan hanya itu saja, pernah suatu kali Mama memasak ia tak sengaja menumpahkan garam di makanan itu, Naina sama sekali tak merasakan apa pun. Aku dan Mama hanya saling menatap tak berkomentar.
Banyak hal yang diceritakan Laura mengenai Naina. Sekian lama bercerita, Laura berkata bahwa ia sangat dendam pada Justin. Aku bertanya apa kesalahan Justin pada gadis ini. Namun jawabannya mampu membuatku terdiam sesaat dan Aku melakukan rem mendadak saat mendengar penjelasan dari Laura.
"Apa! Kau tak berbohong kan?" Tanyaku kali ini dengan serius.
"Aku tidak berbohong Andre... Naina itu sangat dekat denganku." Imbuhnya lagi.
Laura mengatakan sebelum memperkerjakan Naina di Malaysia, Justin lebih dulu mengambil keperawanan Naina. Pantas saja Naina sangat takut dengan Justin. Aku mengepalkan tanganku, rasanya ingin membuat Justin hilang dari muka bumi ini.
Dj cantik ini memaksa untuk bertemu dengan Naina. Aku menuruti kemauannya, tidak ada salahnya juga jika mereka bertemu pikirku. Tak berapa lama kami sampai dirumah. Aku menyuruh Laura masuk dan menunggu di ruang tengah.
Aku mengetuk pintu perlahan, namun tidak ada reaksi dari balik pintu itu. Kemudian dengan hati-hati Aku membuka pintu. Aku membangunkan Naina, calon istriku itu mengerjapkan matanya karena silau dari lampu kamar yang kunyalakan.
Aku sengaja menyuruh Laura untuk menunggu diluar kamar. Aku mengatakan pada Naina ada yang ingin bertemu dengannya. Dengan rambut yang sudah berserakan di wajahnya, Aku mulai merapikan dengan tanganku dan mencium keningnya. Kemudian membawanya keluar dari kamar.
Setibanya diruang tengah, langkah Naina terhenti saat melihat Laura berdiri berhadapan dengannya. Dengan spontan ia menutup mulut dengan tangannya dan mulai menangis. Laura berjalan menghampiri Naina. Mereka saling berpelukan dan isak tangis dari mereka mulai tak terbendung.
Aku terharu dengan pertemuan dua sahabat itu. Setidaknya Naina bisa menemukan tempat ia mencurahkan isi hatinya. Mereka saling melepaskan rindu satu sama lain. Aku menyuruh mereka untuk melanjutkan cerita mereka di kamar Naina. Aku memperhatikan Naina yang menggandeng tangan Laura saat berjalan ke kamarnya. Tak berapa lama Aku pun beranjak dari ruang tengah menuju kamarku.
Di kamarku Aku merenungi penderitaan yang dialami Naina. Aku teringat dengan penyakit yang diderita Naina. Besok Aku akan menjumpai dokter spesialis untuk bertanya mengenai penyakit yang dialami Naina.
.
.
.
Visual Andre
__ADS_1
Dukung Author ya... Jangan lupa berikan like dan komentar. Jika berkenan berikan hadiah ya🥰🥰