Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Berita dari Naina


__ADS_3

Mentari bersinar cerah sinarnya berhasil masuk dari celah-celah jendela kamarku, membuatku terbangun dan mulai membersihkan diri. Usai membersihkan diri Aku melihat ke arah Sean dan Marco yang masih tertidur pulas akibat sisa mabuk malam itu. Usai berganti pakaian Aku berlalu dari kamar menuju ruang makan.


Seperti biasanya Aku mendapati Naina sedang sibuk dengan hidangan-hidangannya di meja makan. Melihat kehadiranku Naina bergegas mengambil piring dan mulai menyendoki makanan ke piringku.


Tak ada perbincangan apapun diantara kami, namun dari tadi Aku memperhatikan wajahnya yang pucat. Entah dia sakit atau bagaimana.


Usai menikmati sarapan, Aku beranjak dari sana menuju ruang kerjaku yang berada ditingkat paling atas dirumahku. Saat hendak berlalu Aku mendengar Naina seperti muntah-muntah.


"Apa kau sakit?" Tanyaku heran sembari menoleh padanya.


Naina tertunduk dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Lagi-lagi ia muntah namun tak mengeluarkan apa-apa dari muntahan itu.


"Akhir-akhir ini saya sering pusing dan mual Tuan." Ucapnya lirih.


"Kenapa kau tidak periksa ke Dokter?"


"Tunggu disini sebentar Tuan, ada yang ingin ku berikan pada Tuan." Katanya sembari berlalu dan menuju kamarnya.


Aku kembali duduk di tempatku tadi menunggu Naina datang dari kamarnya. Selang beberapa menit kemudian Naina datang.


Wanita itu memberikan benda pipih padaku, Aku menerimanya dan sontak mataku terbelalak melihat garis dua yang berderet di benda pipih itu.


"Apa maksudnya ini Naina!" Kataku lantang.


"A-ku ha-mil Tuan." Wanita itu berkata sembari menaruh tangannya dibagian perutnya.


"Eng-gak! Kau jangan bermain-main denganku Naina!!! Belum tentu juga Aku biologis dari anak yang kau kandung! Kataku dengan suara keras sembari menunjuk ke arah bagian perutnya.


" Ta-pi...."


Belum sempat Naina menyelesaikan ucapannya, Aku membawanya ke ruang kerjaku. Aku melangkah dengan cepat sembari menarik tangannya sehingga membuat Naina setengah berlari mengikuti jejakku.


Sampai di ruang kerjaku, Aku mendorong tubuh Naina ke ranjang yang ada disana. Ia terlihat ketakutan. Aku perlahan mendekat kearahnya.


"Kenapa selama ini kau tak menggunakan pil KB hah?! Apa maksudmu dari semua ini? Katakan Naina!!! Teriakku geram sembari mencengkram dagunya kuat sehingga membuatnya meringis.


Wanita itu terdiam seraya menangis. Ia terus terisak, membuatku geram. Aku semakin mencengkram dagunya kuat. Wanita itu mencoba melepaskan tanganku dari dagunya.


"Tuan... Lepaskan," Desisnya lirih.

__ADS_1


Melihatnya yang terisak terus menerus Aku pun menghentikan Aksiku.


"Gugurkan janin itu! Aku tak bisa menerimamu dan bayimu itu!!"


Naina Menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menutup mulutnya dengan tangannya tanda ia tak setuju dengan yang kumaksud.


"Jika kau tak setuju, silakan angkat kaki dari rumah ini! Jangan coba-coba untuk mengusik hidupku suatu saat nanti!!"


Tiba-tiba saja Naina berlutut dihadapanku dan memeluk kakiku dengan tangannya ditambah dengan suara tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Aku berusaha melepaskan tangannya dari kakiku.


"Jangan Tuan... Jangan usir saya dari sini. Saya tak mau kembali pada Justin. Tolong saya Tuan," ucapnya merintih diiringi tangis.


"Gugurkan janin itu!!


Lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan tangannya dari kakiku sembari menatapku dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Aku melihat mata indah itu bercucuran air mata. Melihatnya hanya terdiam Aku perlahan meninggalkannya di ruangan itu, saat hendak keluar Aku mendengar suara Naina berkata-kata.


"Apa kau tak punya empati sedikitpun Tuan? Semenjak Aku disini kau sudah berkali-kali meniduriku. Jika anak ini bukan anakmu kenapa aku hamil pada saat bersamamu?"


Dengan langkah cepat Aku kembali berhadapan dengan Naina, dan mulai membalas perkataannya.


"Kau wanita rendahan yang tak memiliki harga diri! Jangan kau serang Aku dengan cercaanmu itu!!"


"Iya... Aku wanita murahan dan wanita rendah yang tak memiliki harga diri. Kau lebih bejat dari seorang pembunuh!" katanya lantang dengan air matanya yang bercucuran.


"Dasar wanita tak tahu diri!! Selama ini kau hanya berpura-pura lugu di hadapan semua orang." kataku sembari menarik rambutnya.


Wanita itu meringis kesakitan dan menangis. Ia berusaha melepaskan tanganku dari rambutnya.


"Kumpulkan semua pakaianmu, Aku akan mengantarkanmu pada Justin wanita sialan!"


"Ja-ngan Tuan, aku mohon." Ucapnya mengiba.


Aku tak memperdulikan setiap ucapannya. Aku merogoh saku celanaku mengambil ponsel dan menghubungi Justin. Saat hendak beranjak dari ruangan itu Naina berusaha mengikutiku tiba-tiba saja Aku mendengar suara. Ya Naina pingsan saat hendak mengikutiku.


Dengan cepat Aku membopong tubuh mungil itu ke ranjang yang ada di ruang kerjaku dan segera menelpon Dokter pribadi.


Kurang lebih setengah jam Dokter Abram datang diikuti oleh Mama, Sean dan Marco dari belakang.


"Naina kenapa?" Tanya Mama sembari mendekat ke ranjang itu dan menaruh telapak tangannya di dahi Naina. Sedangkan Marco dan Sean diam tak berkutik.

__ADS_1


Dokter Abram mulai memeriksa kondisi Naina. Dokter itu terlihat heran saat memeriksa kondisi Naina.


"Dia siapa Ndre?" Abram bertanya dengan mimik yang serius.


"Dia pelayan di rumah ini Bram." Sergah Mama.


"Kemungkinan besar dia hamil Tante." Kata Abram dengan serius.


"Hah... Hamil? Siapa yang menghamilinya?


Mendengar berita hamil, Sean dan Marco melirik ke arahku diikuti oleh Abram.


Melihat mereka yang antusias memandangku membuatku sedikit risih. Selang beberapa menit kemudian Naina sudah sadar dari kondisi sebelumnya. Ia langsung mengarahkan pandangannya padaku dengan diiringi tangis yang mulai membasahi pipinya.


"Siapa yang menghamilimu Naina, katakan?" Tanya Mama penasaran.


Naina terdiam dan tak menjawab sepatah kata pun pada Mama. Aku terus saja memperhatikan Naina.


"Mari Dok, saya antar." Kata Sean.


Mereka bertiga pun beranajak dari tempat itu dan meninggalkan kami bertiga. Mama masih saja menyerangnya dengan beberapa pertanyaan.


"Ma... Biarkan dia istirahat." Rungutku kesal.


"Baiklah, silakan istirahat ya Naina." Kata Mama sembari berlalu.


Setelah Mama pergi tinggallah Aku dan Naina. Kami terdiam sesaat tanpa ada pembicaraan. Tiba-tiba ponselku berdering, Aku melihat Nama Justin tertera di sana. Aku berbicara panjang lebar dengan Justin perihal Naina.


"Kau sudah membaikkan? Justin akan menjemputmu."


Naina sama sekali tak berkutik dan tak membalas perkataanku kemudian ia perlahan beranjak dari ruanganku menuju kamarnya. Setelah ia berlalu dari ruanganku. Aku terpaku sendiri dengan perbuatanku tadi. Itu sungguh diluar kendaliku.


Aku menyesal dengan perbuatanku padanya. Namun rasa egois dihatiku tak bisa mengalah. Aku meragukan latar belakang Naina namun entah kenapa Aku tergiur menidurinya sampai hamil begini. Aku masih teringat dengan perkataan Naina yang mengatakan Aku lebih dar seorang pembunuh. Inikah diriku yang sesungguhnya?


Setelah lama sendiri di ruangan kerjaku tiba-tiba Sean dan Marco menghampiriku.


"Apa yang telah kau lakukan pada Naina?" Tanya Sean.


"Kau sudah tahu semua, apa Aku harus menjelaskannya berulang-ulang?"

__ADS_1


"Bertanggung jawablah, jadilah pria sejati. Kau sudah tahu sakitnya hidup tanpa kasih sayang seorang Ayah. Apakah kau ingin itu terjadi lagi pada keturunanmu? Kau tak ingin merubah takdirmu? Kalau kau tak bertanggungjawab apa bedanya kau dan Papamu." Ucap Sean bertubi-tubi.


Aku terhenyak mendengar perkataan Sean yang benar adanya. Namun lagi-lagi Aku meragukan latar belakang Naina.


__ADS_2