Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Meminta maaf


__ADS_3

Aku masih memeluk Naina dan mengusap kepalanya. Wanita itu masih terdiam didekapanku. Tak terasa airmataku menetes kala kuingat perbuatanku padanya waktu itu. Perlahan tangan Naina memelukku dan ia mulai mempererat pelukan itu. Senyumku merekah begitu saja dari sudut bibirku.


Aku meregangkan pelukanku dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Aku memandangi wajah teduh itu, dan mulai mencium bibirnya sekilas.


Naina hanya terdiam dan tak berkutik. Tampaknya ia masih bertanya dalam hatinya ada apa gerangan. Aku mengambil sepotong brownies yang ia beli tadi kemudian menyuapinya. Ia mengunyah perlahan sembari terus menatap wajahku.


"Naina.... Aku minta maaf atas tingkahku kemarin."


Ia hanya mengangguk tanpa menjawab. Ia masih saja sibuk mengunyah sisa makanan yang dihadapannya.


"Tapi Naina untuk sementara ini Aku belum siap untuk menikah. Maaf...." Kataku seraya menunduk. Aku tak berani menatap wajah teduh yang berhasil menghipnotisku.


Kami terdiam sesaat saat Aku mengucapkan hal tersebut. Naina menatap dalam ke arahku.


"Aku tau... Tuan ragu denganku. Tapi setidaknya, aku mohon jangan berikan aku pada Justin. Biarkan Aku disini bersamamu." Ucapnya lirih.


Darahku berdesir saat dia mengungkapkan permohonan itu. Segitu sakitnya kah yang ia alami, sehingga ia tak mau pulang lagi ke tempat itu.


"Kau akan tetap disini bersamaku, meski belum ada ikatan pernikahan diantara kita. Beri Aku waktu."


"Tapi... Bolehkah Aku bertanya sesuatu?" Kataku seraya menatapnya. Wanita itu mengangguk tanda menyetujui permintaanku.


"Apa hubunganmu dengan Justin, dan apa saja yang telah ia lakukan padamu?"


Awal pertemuan dengan Naina Aku hanya tau beberapa informasi yang masih simpang siur. Apalagi perihal keluarga Pradipta. Keluarga itu cenderung menyembunyikan hal-hal pribadi ke awak media mana pun. Sehingga membuatku sulit mencari informasi lebih mengenai Naina.


Naina mulai menceritakan hubungannya dengan Justin. Mataku terbelalak kala mendengar penjelasan Naina perihal hubungannya dengan Justin. Wanita itu mulai menangis saat menceritakan perbuatan Justin padanya. Tentang bagaimana keluarga itu memperlakukan dirinya begitu kejam. Bagaimana ia diperjualbelikan oleh Justin kepada teman-temannya.


Wanita yang berbeda satu tahun di bawahku ini masih saja menangis pilu, menceritakan dengan detail tentang pekerjaan yang diberikan Justin padanya. Aku merasa bersalah dengan Naina karena telah mempermainkan perasaannya selama ini. Gadis ini ternyata gadis baik hanya saja nasibnya yang tak mujur. Saat dia mengatakan itu, Aku kembali introspeksi diri mengenai latar belakang keluargaku. Dari setiap cerita Naina Aku banyak belajar untuk menguasai diriku dari amarah.


Naina masih melanjutkan ceritanya padaku sembari sesenggukan. Aku melihat wajahnya yang sudah dibanjiri air mata. Seolah tak sanggup lagi untuk menceritakan kisah hidupnya, Aku mendekap dan memeluknya erat. Aku merasakan getaran dari pelukan tangan Naina yang melingkar dipinggangku.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan Aku Tuan...." Ucapnya mengiba.


Aku semakin merasa bersalah atas hal ini. Selama ini Aku hanya mementingkan hasratku sendiri tanpa mengetahui jejak perjalanan hidupnya.


Perjalanan hidup yang ditempuh wanita itu sampai saat ini hanyalah kesakitan dan kepiluan. Aku tak habis pikir dengan keluarga Pradipta yang membuang anaknya karena alasan bangkrut.


Mendengar penuturan Naina Aku semakin geram dengan Justin. Ternyata laki-laki yang sebaya denganku ini adalah puncak kesengsaraan Naina. Ingin sekali rasanya mendatanginya dan membuatnya mati ditempat saat ini. Namun Naina tidak mengizinkanku melakukan hal sejauh itu.


Setelah lama berpikir, akhirnya Aku akan memutuskan menjalankan kerja sama dengan perusahaan pradipta dan akan membuat perusahaan itu hancur tak bersisa. Semua itu akan kulakukan tanpa sepengetahuan Naina. jika Naina tau pasti ia tak mengizinkan hal itu terjadi. Meskipun ia sudah diperlakukan buruk oleh keluarganya, ia mengatakan tidak pernah membenci mereka malahan ia mengatakan bahwa ia merindukan kedua orangtuanya.


Aku menghapus air mata yang masih saja membanjiri wajah mulus Naina. Aku tak tega membuatnya menceritakan lebih lanjut mengenai Justin. Aku beranjak dari ranjang Naina dan menumpukan lututku di lantai dan mulai menatap Naina. Aku memegang kedua tangannya.


"Naina... Maafkan Aku. Aku salah menilaimu."


Naina hanya mengangguk dan masih saja menangis. Melihatnya masih menangis Aku mencium kedua mata indah itu perlahan. Tak hanya sampai disitu. Aku mencium bibir wanita itu dengan lembut.


Wanita itu sama sekali tak melakukan perlawanan. Bagaikan terbius dengan rasa manis dari bibir itu, ciumanku kini menjalar kebagian leher yang berjenjang. Aksiku semakin liar, tanganku dengan cepat menyentuh bukit kembar dibalik kaus yang digunakan Naina.


Sesekali Aku mendengar desahan wanita itu. Hasratku semakin memburu, membuat barang milikku mengeras. Setelah bermain dibagian bukit kembar itu Aku membaringkan Naina diranjang dan mulai membuka semua perlengkapan wanita itu. Kini Naina tampak polos dihadapanku.


Tak hanya sampai disitu jemariku mulai mencari area nomor satu itu dan memainkan jariku disana. Desahan itu kian memburu, membuatku tak sabar ingin berperang didalam area nomor satu itu.


Aku perlahan membuka perlengkapan dalamku dan mulai memasukkan senjataku kedalam sana. Saat mulai memasukkan senjataku yang sudah mengeras tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar dan memanggil nama Naina. Suara itu suara Mama yang memanggil nama Naina berkali-kali. Wanita paruh baya itu sepertinya tak sabar ingin bertemu Naina.


"Ahhh... Sial!" Ucapku menggerutu sembari mengambil semua pakaianku yang berserakan dilantai.


Dengan cepat Aku masuk ke kamar mandi Naina. Sama halnya dengan Naina, ia buru-buru memasang seluruh perlengkapannya yang sudah berserakan dilantai. Setelah masuk ke kamar mandi Aku bersolo karier disana untuk kesekian kali, senjataku sudah tak tahan harus berlama-lama menahan hasrat yang sudah menggebu-gebu.


Tak berapa lama Naina mengetuk pintu kamar mandi dan menyuruhku keluar dari sana. Aku hanya tersipu malu melihat adegan yang tertunda itu.


Seraya membenahi ikat pinggangku Aku bertanya tentang maksud Mama yang datang ke kamar Naina. Naina bilang Mama memberikan susu ibu hamil untuk diminum oleh Naina.

__ADS_1


Aku menyisir rambutku yang basah di depan cermin Naina. Terlihat jelas wanita itu memperhatikanku dari tadi saat Aku keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Naina?" Tanyaku heran karena Naina menatapku dengan tatapan yang mencurigakan.


"Apa yang Tuan lakukan dikamar mandi selama itu?" Tanyanya pelan.


"Lama bagaimana? bukankah Mama tadi datang kesini?" jawabku kikuk


"Nyonya hanya mengantarkan minuman, setelah itu pergi."


Aku hanya menggaruk tengkuk kepalaku yang tidak gatal sama sekali.


"Sebelum tidur alangkah baiknya kau mandi juga Naina." Kataku seraya mengambil gelas yang berisi susu dan meminumnya.


"Apa ini?" Kataku heran sembari melihat gelas yang berisi susu itu.


"Itu susu buat ibu hamil Tuan." Kata Naina sembari tertawa.


Aku terdiam jengah sedangkan wanita dihadapanku tak berhenti tertawa melihatku yang terlanjur mengambil jatah miliknya. Aku masih terdiam tak berkutik dengan kecerobohanku sendiri.


Saat hendak berlalu dari kamar Naina, tiba-tiba saja Mama datang lagi dan Mama melihatku ada dikamar itu juga.


"Kenapa kau kesini Ndre?" Tanya Mama heran.


"A-ku hanya ingin memastikan Naina sudah meminum susu yang Mama buatkan untuknya atau tidak?" Ucapku berkilah.


Naina hanya diam meski terlihat jelas ia ingin sekali tertawa. Mama sepertinya percaya dengan perkataanku ia langsung menyelidiki gelas yang sudah kosong itu kemudian memberi Naina obat. Kemudian Aku dan Mama berlalu dari sana.


"Tumben Naina ngabisin susu ini semua? Biasanya dia gak mau minum susu ibu hamil. Tapi bagus deh, biar janinnya cepat gede." Kata Mama senang.


Aku hanya menelan saliva mendengar celotehan Mama.

__ADS_1


"Sial banget gue malam ini. "Ucapku dalam hati.


Jangan lupa like dan komentar ya😇


__ADS_2