Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Efek adegan


__ADS_3

Sinar cahaya pagi berhasil menerobos melalui celah-celah jendela kamarku. Meski sudah pagi namun nyatanya tubuhku masih ingin berselonjoran di ranjang big size nan lembut itu.


Aku mendengar suara ketukan pintu, namun enggan untuk beranjak. Aku kembali menutup wajahku dengan selimut. Aku mengira Mama yang masuk ke kamarku ternyata Naina. Wanita itu tengah menaruh pakaianku di lemari. Tak berapa lama wanita itu pergi dari kamarku. Perlahan aku beringsut dan membersihkan diri. Aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di kantor seharian ini.


***


Di kantor.


Aku memasuki ruanganku dan tiba-tiba langkahku terhenti saat Sean menduduki kursi kebesaranku. Dengan antengnya ia mengangkat kaki ke atas meja sembari menatap layar ponselnya.


Lelaki yang sebaya denganku itu tampak hikmat menatap layar ponselnya sampai-sampai ia tak menyadari keberadaanku didepan pintu. Aku mendekatinya dan menggetok kepalanya, ia pun meringis dan menoleh padaku.


Setelah menyadari keberadaanku ia hanya terkekeh menampilkan deret giginya yang putih sembari beranjak dari kursi kebesaran milikku.


"Enak banget lu ya setan! Kataku dengan sedikit membentak.


"Arghhh... Lu ganggu aja! Mentang-mentang perusahaan sendiri." Jawab Sean seraya berjalan ke meja kerjanya.


Sean sama sekali tak menghiraukanku. Ia masih saja sibuk dengan ponselnya. Dengan rasa penasaran aku bertanya padanya apa yang ia lakukan dilayar ponsel itu sehingga kedatangan Bos besar pun tak dihiraukan.


Sean tak menjawab namun lelaki itu berjalan mendekatiku dan mengalihkan layar ponselnya padaku. Aku terpelongo dengan apa yang di tonton Sean. Tak mau ketinggalan Aku pun ikut andil dalam suasana tersebut. Aku mengambil ponselku disaku jas dan mulai mentautkan link yang sudah dikirim Sean. Akhirnya Aku dan Sean satu server menonton adegan dewasa itu. Tak tahan dengan efek samping adegan tersebut Aku buru-buru pulang. Sean terkekeh melihat tingkahku.


"Ingat woiii... Masih hamil muda." Celetuk Sean sembari tertawa.


Aku berlalu tanpa menghiraukan yang dikatakan oleh Sean. Aku menuju parkiran khusus dan segera berlalu dari perusahan.


Diperjalanan aku menghubungi Naina, agar wanita itu menungguku dikamar. Wanita itu hanya ber oh ria menjawab setiap ucapanku. Senyuman tipis terbit di bibirku kala mendengar suara Naina di seberang sana.


***


Tak berapa lama Aku sampai di tujuan dengan sehat dan selamat. Aku langsung menuju kamarku. Saat membuka pintu kamar, Aku melihat Naina sudah berada disana sambil merapikan kamar tersebut. Setahu wanita itu aku menyuruhnya menunggu dikamar untuk beres-beres padahal ada yang lebih penting dari itu. jagoanku sudah tak tahan ingin mengunjungi area nomor satu milik wanita itu.


Sebelum menyerang Naina aku terlebih dahulu membersihkan diri. Aku memerintahkan Naina untuk tetap di kamar. Ibu hamil itu tampak kebingungan dengan tujuanku.

__ADS_1


Setelah selesai mandi aku langsung mendekati Naina yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia menyerahkan sepasang pakaian padaku. Dengan gerakan cepat aku membuang ke segala arah pakaian yang diberikan Naina.


"Aku tak butuh itu... Aku butuh dirimu Naina." Desahku lembut ditelinga Naina.


Mendengar penuturanku ia beringsut menjauh dariku, dengan cepat aku langsung memeluk tubuhnya. Ia sempat protes dengan aksiku. Namun aku tak dapat menahan hasrat efek dari film kuda-kudaan tersebut.


Aku mulai mencium bibirnya yang mungil dan seksi dimataku. Saat tanganku hendak menyusuri bukit kembar milik Naina, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamarku. Naina segera beranjak dan merapikan pakaiannya yang hampir terlepas dari tubuhnya, sedangkan aku kalang kabut mencari pakaian yang sempat kucampakkan entah kemana.


Aku mendengar suara Mama diluar kamar, setelah itu kedua wanita itu dengan seenak jidatnya berlalu dari kamarku tanpa memikirkan nasib jagoanku yang sudah berdiri dari tadi.


"Arggghhhhh....sial!" Umpatku dalam hati.


Kali ini aku tak mau kalah seperti kejadian yang lalu selalu gagal saat aku hendak bergulat dengan Naina. Dengan cepat aku menyusul mereka di ruang tengah.


Aku memperhatikan kedua wanita itu sembari mendekat kesana. Ternyata Mama sedang berdiskusi mengenai baju pengantin yang akan dikenakan Naina.


Aku duduk disebelah Naina. Mereka masih saja sibuk berdebat mengenai gaun itu. Melihat itu aku semakin jenuh.


"Kamu kenapa sih? Jutek amat?" Cercah Mama dengan tatapan tak suka.


Naina bergantian menatap Aku dan Mama yang saling berdebat. Tidak ada yang menjadi penengah diantara perdebatan kami berdua.


"Nyonya... Kalau hamil muda begini masih bisa anu gak?" Tanya Naina polos.


Pertanyaan Naina membuatku dan Mama bergantian saling menatap. Jangan tanya tatapan Mama padaku, bak matahari yang berada diatas kepala. Aku ingin menarik Naina dari ruangan ini sekarang juga dan mengurungnya di kamar sangking geramnya aku mendengar pertanyaan tak berbobot yang keluar dari mulutnya yang lentur.


Mama dengan gerakan cepat mengambil remote TV kemudian melemparnya kearahku. Jelas saja lemparan itu berhasil mendarat di kepalaku. Aku meringis meski tidak terlalu sakit.


Tak mau berlama-lama di satu ruangan ini, aku menarik paksa Naina ke kamarku. Rasa ini sudah tak bisa dibendung lagi. Meski Mama sudah berkoar-koar melerai, namun aku tak menghiraukan suara knalpot racing yang melaju ke telingaku.


"Andre... Jangan dulu, kalian belum sah. Hey!" Jerit Mama sembari berdiri dan menepok jidatnya.


"Aku gak ngapa-ngapain menantu Mama yang cantik ini kok ma, hanya mau ngurut badan Andre doang."

__ADS_1


Setelah sampai di kamarku Aku mengunci pintu kamar. Aku tak mau terciduk seperti seorang pencuri. Naina masih dengan wajah polos tak tahu menahu apa yang terjadi.


"Kamu apaan sih, nanya gitu ke mama?"


"Nanya gimana Tuan?" Tanyanya lagi dan mulai menatapku.


"Itu pertanyaan yang kamu tanyakan ke mama tadi!" Gerutuku kesal.


"Oooo... Aku mau nanya kalau ibu hamil muda begini bisa makan nenas gak? Tapi gak dijawab." Sahutnya ketus.


Aku terdiam dan terpelongo sesaat mendengar penuturan ibu hamil muda ini. Ternyata dugaanku salah. Aku tertawa terpingkal-pingkal dan menepuk-nepuk jidat Naina pelan.


"Kamu tuh gak boleh makan nenas, tapi Pisang. Bagus tuh buat pertumbuhan janin." Kataku sembari menggoda Naina dengan colekan tanganku di wajahnya.


Tanpa basa-basi lebih lama aku mencium Naina dan mulai memainkan tanganku dibukit kembar milik Naina. Naina seolah mengerti ia hanya menurut saja. Aksiku kali ini berhasil mendarat tanpa godaan apapun.


Setelah melakukan hubungan spesial itu aku dan Naina terkapar diranjang big size itu. Naina berangsur bergerak membersihkan diri kemudian meninggalkanku dikamar. Setidaknya hasratku sudah terpenuhi akibat adegan panas yang kulihat dikantor tadi.


***


Malam itu kami sekeluarga berkumpul dan menikmati makan malam. Mama dan papa mulai berkomunikasi dengan baik. Tak ada lagi saling diam seperti beberapa hari lalu.


Aku tersenyum hangat memandang pasangan tua itu. Naina masih sibuk mengurusi hidangan di meja makan. Melihatnya mondar-mandir dengan sigap aku menyuruhnya duduk disampingku dan memerintahkan bibi untuk mengurus hidangan itu di meja.


"Naina... Kamu tadi gak di apa-apain Andre kan?" Tanya mama menyelidik bak wartawan.


Naina terpaku dan tak menjawab. Papa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mama. Mama masih saja menyerang Naina dengan berbagai pertanyaan.


"Mama apaan sih!" Protesku sembari memutar bola mata jengah.


"Kamu tuh sama kayak papa kamu. Gak bisa nahan hasrat! Mama waktu hamil kamu juga papa sering minta jatah. Kayak gak ada hari lain aja." Tampik mama kesal.


Mendengar penjelasan mama, papa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Kami semua memandang ke arah papa. Tawa papa kali ini puas menggema diruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2