Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Tamu tak diduga dan permintaan konyol


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, Aku tak lagi pernah mendengar kabar tentang sepasang manusia laknat itu. Aku bersyukur kejadian itu tak berpengaruh dengan perusahaanku.


Berbanding terbalik dengan perusahaan Pradipta yang semakin hari semakin diambang kebangkrutan sejak pengakuanku pada awak media terkait kehidupan Naina.


Pagi ini Aku memutuskan untuk tidak ke kantor. Aku ingin beristirahat sejenak menunggu hari pernikahanku. Sejak kejadian itu juga Aku memutuskan untuk merayakan pesta pernikahan mewah untuk kami berdua. Berhubung seantero jagat sudah tahu tentang Naina, Aku tidak perlu lagi diam-diam menikahinya. Beberapa undangan pun sudah siap disebarkan pada rekan-rekan bisnis dan kerabat lainnya.


***


Siang hari ada tamu yang berkunjung ke rumah dan mengatakan ingin bertemu denganku. Aku turun menapaki anak tangga dan menemui tamu tersebut.


Aku menautkan alis melihat tamu yang mencariku kali ini. Anak remaja laki-laki itu duduk dengan sopan menungguku turun. Melihatku datang, anak remaja itu berdiri sembari menunduk memberi salam. Wajah itu tak asing bagiku, namun Aku tak tahu di mana Aku bertemu dengannya.


"Siapa kau?" Tanyaku penasaran.


"A-ku...."jawabnya terbata-bata dan diam sejenak.


Terlihat dari wajahnya, laki-laki remaja itu gugup saat berhadapan denganku.


Aku mempersilakannya duduk agar ia lebih santai saat bercerita.


"Tuan.... Tolong lepaskan kakakku dari penjara, ibuku sedang sekarat saat ini." Ucapnya lirih.


Ternyata dia adalah adik dari Briana. Ia meminta maaf atas nama keluarga mereka atas perbuatan Briana. Dia juga tak menyangka kakaknya melakukan hal sebodoh ini.


Mendengar kabar dari anak ini hatiku iba seketika. Aku mengatakan padanya bahwa Aku tak akan melepaskannya dari penjara, tetapi Aku akan membiayai seluruh biaya perobatan ibu mereka dan membayar uang sekolah dari adik Briana.


Seketika raut wajah anak itu terlihat ceria saat aku mengatakan akan membiayai mereka. Tak henti-hentinya anak itu mengucapkan terima kasih padaku. Anak remaja itu bernama Damar.


Aku salut melihat keberaniannya untuk menemuiku. Tak berlama-lama Aku dan Damar pergi ke salah satu rumah sakit tempat ibunya di rawat. Sesampainya kami disitu, Aku langsung menemui bagian kasir dan bertanya tentang dana yang dibutuhkan untuk perobatan ibu Briana. Setelah melakukan transaksi dana, Aku berkunjung ke ruangan untuk melihat langsung kondisi ibu Briana.


Alat-alat medis itu terpasang hampir di seluruh tubuh wanita yang tak jauh dari umur Mamaku. Ia sudah tak bisa berkata-kata, bahkan pandangannya saja sudah kabur. Ia seperti mayat hidup di atas ranjang rumah sakit itu. Mungkin inilah alasan Briana melakukan segala cara untuk biaya perobatan ibunya.


Selesai menjenguk, Aku izin pamit pulang pada Damar. Lagi lagi Damar mengucapkan terima kasih, entah sudah berapa ratus kali Damar mengucapkan itu sedari tadi. Damar menangis haru. Tak lupa juga Aku mengatakan pada Damar jika ia butuh bantuan segera menghubungiku dan meninggalkan kartu namaku padanya.

__ADS_1


***


Setengah perjalanan pulang ke rumah, Aku mendapat panggilan telpon dari Mama, ternyata suara Naina yang terdengar di seberang.


Tanpa bertanya Aku sudah tau bahwa ia menginginkan sesuatu. Benar saja, Naina ingin dibelikan ayam teletubbies.


"Hah! Ayam apa itu? Aku tak tahu harus di mana membeli itu!"


Mendengarku setengah berteriak, suara dari seberang sana perlahan nyaris tak terdengar. Ya begitulah Naina, wanita itu sangat takut dengan teriakan dan bentakan. Aku pun memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Permintaan-permintaan Naina selalu saja menelan korban jika tidak dituruti. Aku ingat sekali saat es krim itu mencair, katanya Akulah penyebabnya. Kemudian, permintaannya ingin merias laki-laki untung ada Sean yang bersedia meski harus disogok dengan gaji dua kali lipat. Ditambah lagi dengan permintaan kali ini, membuatku menggeleng-geleng kepala.


Setibanya dirumah, Naina sudah berada di ruang tamu ditemani oleh papa dan mama. Mereka bertiga menatapku dari bawah hingga bagian atas. Aku menghampiri mereka dan duduk disebelah Papa.


"Mana ayamnya!" Tanya mama menyelidik bak detektif.


"Hmmm... Ayam apa? Ayam aja kok dipermasalahkan. Dikandang banyak."jawabku santai sembari memainkan ponsel.


Melihat kejutekan sejuta umat itu, Aku tak berlama-lama disana. Aku beralih ke kamarku dan membersihkan diri.


***


Malam itu Aku memutuskan membawa Naina makan malam diluar. Dia menurut dan tak lupa Aku menyuruhnya memakai jaket agar tidak kedinginan.


Diperjalanan Aku melirik kiri kanan restoran yang ingin kami singgahi. Mobilku sportku terhenti di salah satu restoran Jepang. Aku bertanya pada Nyonya muda itu, apakah ia mau makan disini.


"Aku tidak mau makan disini, katanya makanannya mentah semua. Itu tidak baik untuk kesehatan dan calon anakmu juga." Katanya sembari menatap restoran itu.


"Memangnya kamu pikir yang makan disini kanibal? Pake makan daging mentah?" Ujarku jengah.


"Apakah aku mengatakan yang makan di sana kanibal Tuan?" Gumamnya pelan, namun masih terdengar ditelingaku.


Tak ingin berdebat akhirnya kami berlalu dari sana. Aku memberi kebebasan pada Naina, di mana dia akan makan malam. Ia memerintahku untuk menuju alamat yang dia beritahu.

__ADS_1


Kami sampai di alamat yang diberitahu oleh Naina. Disana berjejer penjual makanan kaki lima. Setiap pinggir jalan itu dipenuhi penikmat makanan kaki lima. Ini pertama kalinya Aku datang ketempat ini. Tanpa kuperintahkan, Naina langsung turun dari mobil dan Aku menyusulnya dari belakang. Tempat itu unik juga, berketepatan ada taman disekitarnya dan lampu warna warni menambah kesan pada tempat itu.


Naina menuju ke salah satu penjual nasi goreng. Ia duduk dan memesan nasi goreng dua porsi. Nasi goreng yang dipilih Naina itu banyak dikunjungi pembeli. Tak berapa lama menunggu, pesanan kami pun datang.


"Apa kabar Naina? Kau tambah cantik saja." Sapa pedagang itu pada Naina sembari melirik sesaat padaku.


Sapaan laki-laki itu membuatku jengkel. Naina tersenyum menjawab pertanyaan koki kaki lima itu.


"Kabarku baik, bang. Abang gimana?"


"Baik, Neng cantik."


Mendengar Naina bertanya kabar penjual itu, Aku semakin jengkel. Aku menepuk pelan kening Naina. Naina terkejut dan menatapku.


"Ngapain nanya-nanya kabar kang jualan nasgor, hah! Kataku dengan suara pelan.


Sadar akan ketidaksukaanku, Naina diam dan menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Aku mulai menikmati nasgor itu, entah ramuan apa yang diracik pada makanan ini. Makanan ini sungguh pedas. Tapi saat Aku melihat Naina dengan santai memakannya membuatku penasaran.


"Kau... Tidak kepedasan?


Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan kembali melanjutkan suapannya. Aku masih tertegun melihat Naina yang santai dengan menu makan malamnya.


"Bang... Nasgornya kenapa cabe semua sih?" Tanyaku dengan nada datar.


"Ia bang... Namanya juga nasgor setan."


Aku terdiam sejenak mendengar nama nasi goreng ala si bambang ini. Aku melihat ke semua orang yang ada disekitar kami. Mereka sama sepertiku kepedasan dengan menu si bambang ini.


Dengan sabar Aku menanti ibu hamil itu menyelesaikan makan malamnya. Entah itu pengaruh bayi yang dikandungnya Aku tak tahu. Aku memperhatikan Naina menyendoki makanan itu ke mulutnya. Mimik wajah itu sama sekali tak menunjukkan perubahan apa pun. Setelah selesai menghabiskan nasi goreng itu Naina pergi begitu saja dari tempat itu. Aku membayar tagihan makan kami dan menyusul Naina ke dalam mobil.


Aku terkejut mendapati Naina tengah menangis dan Aku tertawa terkekeh. Aku mengira Naina kepedasan sampai menangis. Tak kunjung berhenti dari tangisannya, Aku jadi bertanya dia nangis atau kepedasan. Aku bertanya padanya apa yang terjadi, namun ia diam dan hanya terisak. Dari tangisannya itu menggambarkan kepiluan, namun Aku tak bisa menebak apa yang terjadi. Aku hanya diam dan mulai menyetir mobilku. Ditengah perjalanan itu Aku membujuk Naina agar tak menangis lagi. Mengerti dengan perintahku, perlahan tangisan itu mereda.

__ADS_1


__ADS_2