
Suara alaram berhasil membuatku bangun dari tidurku yang panjang. Aku mengedarkan pandangan di sekeliling kamarku mencari keberadaan Naina. Aku beranjak perlahan dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pagi ini Aku memutuskan untuk tidak ke kantor. Semua urusan kantor kuserahkan pada Sean. Aku ingin membahas tentang Naina pada Mama dan Papa.
Aku melangkah mendekati meja makan yang sudah dipadati setiap anggota keluarga kecuali Aku. Aku menyuruh Naina untuk duduk di sampingku kemudian kami menikmati sarapan yang sudah tersaji di hadapan kami.
Papa dan Mama terlihat hikmat, sepertinya mereka belum seutuhnya berdamai. Secara bergantian aku melirik pasangan tua itu. Sedangkan Naina terlihat seperti orang kelaparan saat menikmati hidangan yang ada di piringnya. Aku hanya tersenyum tipis melihat ibu muda yang tengah mengandung itu. Makanan itu berserak disekitar bibirnya, dengan sigap aku menyapu dengan ibu jariku. Matanya memandang ke arahku dengan sayu.
***
Usai sarapan Aku membuka percakapan tentang keputusanku yang akan menikahi Naina. Keputusan itu membuat Mama senyum penuh kemenangan. Berbeda dengan Papa yang masih diam. Aku tak tahu apa yang ada didalam pikirannya kini. Aku menunggunya untuk berbicara. Apakah dia keberatan kalau aku akan menikahi Naina.
Sama halnya dengan Naina. Naina tertunduk saat mendengar keputusanku. Aku tahu apa yang ada dipikirannya. Dia berfikir pernikahan ini tak akan berlangsung, karena masa lalunya. Aku yang melihatnya tertunduk langsung menggenggam tangannya sembari tersenyum.
Mama mulai mengeluarkan pendapatnya tentang pesta yang akan diadakan di keluarga ini, dengan girangnya wanita tua itu merancang pernikahan yang megah. Saat hendak ingin merancang hari yang baik tiba-tiba Papa beranjak dan mendekati Naina. Pria itu berlutut dihadapan Naina dan meminta maaf. Naina yang merasa sungkan, ia mulai memapah papa berdiri. Ia membalas semua ucapan papa sembari tersenyum. Ibu muda itu mengatakan sudah jauh-jauh hari memaafkan kejadian yang lalu.
Aku dan mama tersenyum melihat proses sungkeman antara papa mertua dan calon menantu itu. Usai acara saling memaafkan itu kami langsung membahas tentang hari baik untuk melangsukan pernikahan. Namun diluar kendali Naina tiba-tiba memberikan pendapatnya mengenai pesta pernikahan ini. Wanita yang memiliki kulit putih mulus itu tak ingin mengadakan pesta secara besar-besaran apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil.
Setelah berdebat beberapa jam, akhirnya keputusan Nainalah yang terjadi. Pernikahan ini hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja tanpa mengundang rekan kerja dan tamu-tamu penting lainnya. Naina belum siap untuk bertemu kolega kolega penting.
***
Siang ini Aku dan Naina pergi ke butik langganan keluargaku yang terkenal dengan nilai-nilai fashion yang tinggi dan butik ini juga menjadi langganan bagi kalangan elite yang tersohor di negeri ini.
Tak butuh berapa lama akhirnya kami sampai disana dan disambut bak raja dan ratu. Aku langsung menjelaskan maksud kedatangan kami dan apa yang kami cari. Para pekerja butik itu langsung mengerti dan membawa Naina mencoba beberapa gaun. Aku mendengarkan Naina berbicara kepada perkerja itu tentang warna yang ia inginkan. Ia memilih warna putih tulang untuk ia gunakan di pesta itu.
Mereka menawarkan beberapa gaun modis pada Naina. Namun Naina belum menemukan gaun yang cocok dengan seleranya. Ia pun berhenti dan duduk disofa yang disediakan butik itu. Aku mendekatinya dan kemudian menanyakan model seperti apa yang diinginkan oleh Naina.
__ADS_1
Naina masih diam sembari mengedarkan pandangannya pada setiap gaun-gaun yang sudah terpajang di butik itu. Aku mulai melongos jengah dengan ulah ibu muda ini. Entah apa yang ia inginkan. Aku pun ikut andil untuk berburu gaun yang diinginkan Naina.
Aku bolak balik membawa beberapa gaun untuk dicoba oleh Naina namun hasilnya nihil. Bukan Aku saja, para pekerja butik itupun ikut mondar-mandir mencari gaun yang akan dikenakan Naina. Keputusanya tetap tidak bisa digugat. Dengan rasa sedikit jengkel aku mulai memarahi Naina.
"Kau ingin mencari gaun seperti apa Naina!" kataku dengan nada geram. Jangan tanya lagi wajahku seperti apa saat mengatakan ini.
Seolah tak mau tau dengan kejengkalanku wanita tengah hamil muda itu berdiri dan mendekatiku.
"Aku mau es krim yang kita lewati saat kita hendak kemari." Jawabnya dengan rasa tak berdosa sama sekali.
Aku dan para pekerja butik itu melongo mendengar jawaban wanita strong yang ada dihadapanku saat ini. Sungguh kekuatan apa yang dia punya sehingga berani mengatakan hal itu disaat penting begini. Beberapa diantara mereka ada yang berusaha menahan tawa. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari memijit keningku yang tidak sakit sama sekali.
Aku merogoh saku, mengambil ponsel kemudian menghubungi Sean dan menyuruh Sean membeli satu keranjang es krim dengan berbagai rasa jenis dan bentuk. Setelah mengakhiri panggilan dengan Sean, kami bak dihipnotis dengan permintaan Naina. Tak satupun diantara kami yang beranjak dari tempat kami.
Aku sibuk memainkan ponselku sedangkan para karyawan itu masih memegang setiap satu gaun per orang sembari menghadap Naina.
Sean yang ditunggu pun akhirnya tiba, bak dewa penyelamat pria bertubuh atletis itu senyum-senyum saat memasuki butik itu dengan tingkat kepedean tinggi. Aku memutar bola mata jengah melihat seleb dadakan ini masuk.
Sean memberi eskrim dengan kantongan besar pada Naina. Naina menyambut dengan senyum kemenangan. Ia mengambil satu persatu eskrim itu dan mulai menggigitnya dengan lahap. Kami semua terheran-heran dengan aksi Naina. Apakah ia tidak merasakan ngilu saat menggigit es krim itu?
"Naina... Eskrim itu bukan digigit." Kataku sembari memijit keningku yang tidak sakit.
Naina sama sekali tidak menggubris perkataanku. Setelah ia menghabiskan beberapa eskrim, Naina kemudian berdiri dan dengan nada santai ia mengajakku pulang. Lagi-lagi Aku geram dengan tindakan yang tidak terpuji ini.
"Oh my God. Cobaan apa ini Tuhan?" Sungutku kesal.
Sean dan beberapa karyawan disana hanya tertawa geli melihat pertunjukan tanpa iklan ini. Aku tak kuasa membantah setiap aksi yang tak berprikemanusiaan ini. Dengan langkah gontai, aku hanya mengikuti ibu muda itu dari belakang dengan kejengkelan luar biasa.
__ADS_1
Di perjalanan pulang Aku hanya diam dan tak ingin beradu pendapat dengannya, sedangkan Naina sibuk dengan eskrim yang ada di kantongan plastik itu.
"Tuan... Cepat! Katanya dengan sedikit membentak. Lagi-lagi Aku geram sembari menoleh ke arahnya.
Aku menaikkan kecepatan mobilku sesuai dengan permintaan Naina. Aku berharap ibu muda itu kesal dengan kecepatan tinggi yang kuberikan padanya. Diluar dugaanku, wanita itu bersikap seperti biasa dan tidak merasa takut. Ia hanya asik memegang kantong kresek berwarna putih itu.
Beberapa menit kemudian kami berdua sampai dirumah. Aku turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya. Entah angin apa yang membuat wajah Naina berubah murung saat Aku membuka pintu. Ia bergegas masuk ke rumah dan aku menyusulnya dari belakang.
Saat hendak memasuki kamarku tiba-tiba saja Naina menghampiriku dan memberikan kantongan eskrim itu dengan sangat kasar.
"Apa ini?" Tanyaku penasaran.
"Gara-gara Tuan lambat menyetir, es itu mencair saat kita sudah sampai dirumah." Jawabnya dengan nada marah.
Usai mengatakan hal itu, ia langsung berlalu dari hadapanku. Masih kudengar sungutan tak jelas dari bibirnya ketika ia berjalan menuju dapur. Aku terdiam sembari memegang kantongan plastik yang berisi es cair itu.
"Woooooiii!!!! Apa salahku, hah!!!" Teriakku kesal.
Ternyata teriakanku membuat mama keluar dari kamarnya dan berjalan mendekatiku.
"Heh... Kamu pikir ini hutan! Bisa teriak sesukamu hah! Siapa yang ngajarin kamu teriak-teriak dirumah!" Kata mama kesal sembari memandangku dengan tatapan tak suka kemudian pergi meninggalkanku sendiri terpatung didepan kamarku.
"Kenapa jadi Aku yang dimarahin? Buset dahh... Ampun Naina jago." Desisku pelan sembari menggelengkan kepala.
Aku pun masuk ke kamarku. Tanpa membersihkan diri, aku langsung tidur berharap kejadian ini takkan terulang lagi.
Jangan lupa dukung Author ya.😍🥰😘
__ADS_1