Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Pontang-panting.


__ADS_3

Hari, minggu dan bulan terus berlalu. Tanpa terasa istriku sudah memasuki waktu persalinan. Dokter mengatakan waktu kelahiran bisa saja tidak sesuai prediksi, dan itu benar adanya. Pagi ini istriku sudah merasakan kesakitan. Melihatnya yang mulai gelisah berjalan kesana kemari membuatku seketika panik, bukan cuma panik tetapi juga gugup yang luar biasa. Tak ingin membuat istriku menahan sakit lebih lama, aku bergegas memanggil mama dari kamarnya. Pagi ini aku harus pontang panting kesana kemari dengan rasa cemas yang luar biasa saat mendengarkan keluhan istriku yang lain dari biasanya. Istriku terus mengitari kamar kami sembari mengelus perutnya yang buncit.


Mama pun menyarankan agar kami segera pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Naina. Aku yang sama sekali belum paham dengan situasi genting ini merasakan sedikit gugup. Aku menyetir dengan kecepatan sedang dan sesekali menilik kebelakang memastikan keadaan istriku. Mama yang berada di samping Naina terus menerus mengelus kandungan Naina.


"Bisa cepat gak sih!" Jerit Naina yang membuatku menjadi bertambah panik.


"Tau nih suami kamu, giliran bikin anak aja gak lelet!" Cerca Mama yang tak mau kalah dengan istriku.


Bukannya mengamankan situasi, Mama malah menambah membuatku jengkel. Campur aduk rasanya bertemu dengan situasi yang tak terduga ini. Apakah ini yang dinamakan dengan suami siaga. Entahlah ....


Tak berapa lama akhirnya kami sampai di rumah sakit kemudian langsung membawa Naina ke dalam ruang bersalin. Aku menemani Naina di ruangan itu tanpa didampingi oleh Mama. Aku menggantikan posisi Mama mengelus kandungan istriku.


***


Satu jam sudah kami berada di ruangan ini, keadaan masih tetap sama seperti saat kami datang. Kontraksi yang dirasakan istriku mulai tak beraturan. Sesekali ia menarik kuat rambutku, entah apa gunanya. Aku mengelus dada melihat aksi Naina. Bukan hanya menarik rambutku, ia juga menggigit lenganku dengan alasan menahan sakit. Aku membiarkan istrku melakukan hal demikian.


Aku mengusulkan agar mengambil jalan operasi sesar, namun istriku menolaknya. Ia ingin melahirkan secara normal. Melihatnya yang menahan kesakitan membuatku terenyuh. Sesakit inikah yang dirasakan seorang wanita untuk menghadirkan manusia ke dunia ini? Tanpa kusadari air mataku keluar dari pelupuk membasahi pipiku. Aku menyesal dengan perbuatanku yang lalu, yang selalu menjadikan mereka pelampiasan. Dokter masuk dan memeriksa pembukaan pada kandungan Naina. Diperkirakan satu jam lagi akan melahirkan.


Mama yang dari tadi menunggu diluar menghampiri kami ke ruangan. Tatapannya mengarah padaku. Entah karena melihat mataku sembab, wanita paruh baya itu mendekatiku. Ia tersenyum manis dan memelukku.


"Kenapa? Kesakitan yang dialami Naina itu adalah hal yang wajar. Itulah pengorbanan seorang ibu pada anaknya."


Aku tertegun mendengar pejelasan Mama. Kali ini aku jadi merasa bersalah pada istriku, karena sempat menyia-nyiakannya dulu. Aku menatap wajah istriku yang masih menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Sesekali aku menemukan wajahku. Kuciumi punggung tangannya dan keningnya. Wanita itu hanya tersenyum sembari menahan sakit.


"Maafkan salahku selama ini sayang, aku janji tidak akan menyia-nyiakanmu dan anak kita kelak," ucapku lirih.


Naina hanya mengangguk dan tersenyum membalas setiap ucapanku. Keadaan seketika menjadi hening.

__ADS_1


Terdengar suara pintu yang terbuka. Papa, Sean dan Marco datang mengunjungi kami. Papa menanyakan keadaan menantunya pada Mama. Sean dan Marco hanya diam dan menatap kami secara bergantian. Naina kembali meringis kesakitan, dengan cekatan aku kembali mengusap kandungan Naina dan sesekali mengusap bagian pinggang belakangnya. Sean terkekeh melihatku yang cekatan membantu meredakan sakit pinggang Naina. Saat ini juga ingin rasanya melakukan pukulan pada Sean karena menertawakanku.


Pandangan kami semua tertuju pada Sean. Melihatku yang menatapnya seperti tatapan elang yang siap menerkam, ia pun dengan sigap menghentikan aksinya. Karena kontraksi Naina tak kunjung reda, Mama memanggil Dokter agar segera kembali memeriksa Naina.


Tak berapa lama Mama datang dengan diiikuti Dokter dari belakang. Sesegera mungkin Naina diperiksa. Sebelumnya Papa, Sean dan Marco sudah berada di luar. Setelah memeriksa keadaan istriku Dokter memberi penjelasan bahwa sudah tiba saatnya waktu bersalin. Naina masih meringis kesakitan. Peluhnya semakin deras membanjiri area dahinya.


Aku menyaksikan secara langsung proses persalinan istriku. Jujur saja aku tidak sanggup saat melihat Naina mulai menekan dan menahan nafas.


"Apakah dia harus mengejan seperti itu? Istriku tampaknya sudah mulai lemas, Dok." tanyaku penasaran.


Bukannya malah menjawab pertanyaanku, Dokter itu hanya fokus dengan Naina begitu juga dengan suster yang menemaninya. Sesaat aku terdiam dan aku merasakan kejengkelan luar biasa. Naina lagi-lagi menarik rambutku.


"Apakah dengan menarik rambutku, anak kami akan lahir? Kenapa istriku tidak berhenti menarik rambutku sedari tadi?"


Entah karena jengkel, semua orang yang berada di ruangan itu menatapku dengan sinis. Melihat tatapan penuh arti itu, aku diam seribu bahasa. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuprotes, namun melihat keadaan saat ini itu takkan mungkin.


"Kau pikir istriku sedang mengikuti audisi, makanya kau katakan seperti itu? Hah!" Protesku kesal sembari menatapnya dengan wajah jengkel.


Dokter dan beberapa perawatya mulai tampak kesal dengan ucapanku. Bahkan diantara mereka ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah karena aku terlalu ribut, entahlah.


Naina terus saja mengerang seraya meremas tanganku. Melihatnya yang mengerang dari tadi, aku perlahan memeluknya dan mengusap punggung belakang Naina.


"Apakah kita perlu ke Rumah sakit lain sayang?" Balasku sembari menatapnya dengan wajah teduh. Ia hanya menggeleng-geleng tanpa bersuara. Namun lagi-lagi wajah-wajah selain Naina itu merujuk padaku dengan tatapan kesal.


Kali ini Naina mengatur pernafasan dengan teratur. Menghirup dan menghembuskan keluar secara perlahan.


"Maaf ... karena ulahku kamu jadi begini sayang,"

__ADS_1


Salah satu perawat tertawa mendengar ucapanku pada istriku. Dokter dan perawat lain hanya tersenyum geli. Aku tak terlalu memusingkan tingkah perawat tersebut.


"Pak Andre ... anda terlalu cerewet sekali." ujar salah satu perawat itu sembari tersenyum.


"Lakukan saja tugasmu!" hardikku padanya.


Menyadari kemarahanku mereka terdiam dan mengambil tugas mereka. Perawat itu sesekali menaruh alat untuk memeriksa detak jantung janin di dalam kandungan Naina. Dokter mengarahkan Naina agar mengikuti instuksinya. Naina pun mengikuti saran dari Dokter kandungan tersebut. sesekali nafas Naina terengah-engah sembari menahan sakit. Peluh didahi istriku bercucuran melewati wajahnya yang sudah terlihat pucat. Ia terlihat sekuat tenaga mendorong bayi itu keluar.


Tak berapa lama suara bayi menggema di ruangan itu. Saat itu juga pelupuk mataku mulai basah melihat bayi yang sudah diangkat oleh perawat tersebut. Tangisan bayi itu mampu mengalihkan duniaku seketika.


Tak henti-hentinya aku mengucap syukur karena anugerah terindah yang diberikan Tuhan padaku dan Naina. Sebagian perawat itu mengurus naina. Aku melihat mereka melalukan sesuatu dibawah sana. Aku bergidik ngeri melihat jarum yang digunakan oleh perawat untuk area sensitif istriku.


"Untuk apa itu?" tanyaku dengan rasa penasaran.


"Ini untuk menjahit area yang sudah koyak Pak Andre."


"Koyak? Apa yang kalian lakukan makanya sampai seperti itu!"


"Bukan kami Pak, tetapi anak Bapak. Bayinya gede, jadi jalannya terpaksa digunting Pak." Jawab salah satu perawat itu dengan wajah yang mengesalkan bagiku.


Selang beberapa saat kemudian, Dokter kandungan datang membawa bayi kecil tersebut. Sesekali Dokter tersebut merapikan kain yang membungkus tubuh mungil itu.


"Ini anaknya Pak, silakan digendong. Anaknya tampan seperti Bapak, Mamanya gak kebagian." tukas Dokter kandungan itu sembari menyerahkan jagoan kecilku. Dengan sangat hati-hati kegendong bayi itu ke dalam dekapanku.


"Istriku yang mengandung sembilan bulan, yang datang malah mirip banget sama gue. Berasa punya kembaran," ucapku dalam hati, sembari tersenyum simpul.


Sebenarnya cukup geli mendengar ungkapan Dokter itu saat menyerahkan bayi mungil itu padaku. Setelah kuperhatikan lagi, apa yang dikatakan Dokter itu benar adanya. Bayi mungil dan masih merah itu sangat mirip dengan wajahku. Aku menghampiri Naina sembari menunjukkan wajah mungil itu padanya. Senyuman melengkung di wajah yang masih terlihat pucat. Naina memberikan ciuman pertamanya untuk anak kami.

__ADS_1


*JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA GENGS🥰🥰🥰🥰


__ADS_2