
Semenjak ia masuk rumah sakit, HG yang dialaminya sudah tidak pernah lagi muncul.
Dilla sudah sampai dirumah nya.
Ia langsung menuju kamarnya untuk istirahat.
"Mas" panggil Dilla pada suaminya.
"Hmm?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aldy.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Tanyakan saja"
"Kemana saja kamu setiap malam saat aku dirumah sakit dan jam berapa kau pulang kerja, kenapa aku tak melihatmu?" Tanya Dilla.
"Kau tak perlu tau" ucap Aldy lalu meninggalkan kamar nya.
"Huhhh harus sabar punya suami kayak dia" gumam Dilla dalam hati sambil mengelus dada nya.
Beberapa minggu kemudian
Dilla menelpon suaminya yang sedang bekerja.
"Hallo mas"
"Katakan" suara diseberang.
"Bisakah kau mengantarku ke dokter kandungan hari ini?"
"Ada mama, kenapa harus aku" kilah Aldy.
"Kau adalah ayah dari bayiku, bukan mama. Lagi pula kau belum pernah mengantarku ke dokter kandungan" kesal Dilla.
"Huhhh" Aldy menghembuskan napas nya kasar.
__ADS_1
"Kapan?" Tanya Aldy.
"Nanti sore"
"Baiklah"
"Oke mas maka...."
Tutt
Belum sempat Dilla menyelesaikan bicaranya, Aldy sudah memutus telepon itu.
"Cihh, ngga ada romantis romantisnya sama sekali" gerutu Dilla.
Dilla mengusap perutnya yang kian hari kian membuncit.
"Kau dengar kan nak tadi, ayah mau nganterin kita ke dokter" ucap Dilla dengan mata berbinar.
Sore hari,
baju Dilla
Sepulang kerja, Aldy langsung membersihkan tubuhnya lalu segera berangkat ke dokter.
Dimobil,,
"Makasih mas udah mau nganterin aku" ucap Dilla ketika berada di mobil.
"..." Tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.
Dilla mengusap usap perut nya. Entah kenapa pemeriksaan kali ini membuatnya berdebar debar. Padahal biasanya tidak seperti ini.
apakah Karna dia sedang ditemani ayah dari bayinya atau karna ia akan mengetahui jenis kelamin sang anak? Entahlah, Dilla juga tak tau.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di rumah sakit.
Dilla pun masuk ke ruangan dokter Farah.
"Apa keluhan anda nyonya Dilla?" Tanya Dokter itu setelah Dilla duduk.
"Kadang saya merasa kepala saya pusing dok, padahal saya sudah tidak muntah parah seperti dulu" ucap Dilla.
"Tidak apa nyonya. Itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Bukanlah suatu hal yang berbahaya, namun bila terlalu dibiarkan mungkin bisa saja berbahaya. Sebaiknya ketika anda bepergian bawalah teman, jika sewaktu waktu anda pusing, minimal ada yang membantu anda. Karna beberapa kasus banyak yang merasakan kepala nya pusing lalu pingsan di tempat umum" jelas dokter itu.
Dilla mengangguk
"Mari langsung USG saja nyonya"
Dilla segera berbaring di ranjang rumah sakit. Dokter mulai mengoleskan gel di perut Dilla. Ia menggerakkan alat diatas perut Dilla.
Terlihat di monitor bentuk janin yang sudah sempurna.
Aldy sempat tertegun dengan layar monitor yang menampakan wajah anak nya.
"Benarkah itu anak ku?" Batin Aldy.
"Umurnya sudah memasuki 30 minggu, keadaannya sehat dan normal. Apakah anda ingin tau jenis kelamin nya?" Tanya sang dokter.
Dilla mengangguk
"Jenis kelaminnya laki laki"
Mata Dilla berbinar ketika tau anak pertama nya adalah laki laki.
Dilla melirik suami nya yang sedang duduk tenang dengan wajah datar nya.
"Kenapa dia biasa biasa saja?" Batin Dilla.
Padahal hati Aldy saat ini merasa sangat senang ketika tau anak nya yang akan lahir adalah laki laki.
__ADS_1
Setelah selesai konsultasi, Aldy dan Dilla pulang.