
"Perkenalkan, saya Ardilla Argadinata istri dari Aldy Argadinata. Mulai hari ini, saya akan menggantikan suami saya yang sedang sakit. Saya harap kita dapat kerja sama dengan baik"
Ruangan meeting itu mendadak menjadi riuh.
"Diam semua!! Katakan saja pertanyaan kalian" bentak Dilla yang membuat ruangan seketika hening.
"Bagaimana anda bisa menghandle perusahaan sebesar ini? apalagi anda seorang wanita yang sedang hamil?" Tanya salah satu kolega.
"Anda meremehkan saya karna saya wanita yang sedang hamil? Laki laki maupun perempuan memiliki derajat yang sama. Saya rasa saya sanggup memimpin perusahaan ini karna saya pernah menjadi asisten tuan Aldy" jawab Dilla tegas.
"Apakah hanya dengan menjadi asisten anda bica menilai diri anda cukup?"
"Saya rasa itu pertanyaan yang bodoh. Anda tau seberapa baik prosedur penilaian karyawan di perusahaan ini jadi anda tak memiliki hak untuk meremehkan saya" jawab Dilla lagi.
"Jika ada yang tidak setuju saya menjadi CEO sementara disini, silahkan kalian keluar dari ruangan ini, dan dengan senang hati saya memutus kontrak kerja sama. Kalian tau kan akibat jika pihak Argadinata memutus kontrak? Saya tidak yakin bila perusahaan kalian akan bertahan lama setelah pemutusan kontrak" tegas Dilla.
Semua yang ada diruangan itu seketika terdiam.
__ADS_1
Dilla segera membicarakan permasalahan saham perusahaan. Ia menyampaikan dengan cara yang elegan dan berkelas yang membuat para kolega bisnis Aldy terkesiap dengan kehebatan Dilla.
Para kolega bisnis mengusulkan untuk mengajukan kontrak pada 'hendrawan grup' milik Bryan herndrawan (kakak Dilla) karna perusahaan hendrawan adalah perusahaan paling berpengaruh ke 3 setelah perusahaan Aldy.
Mereka masih tidak percaya wanita secantik Dilla memiliki jiwa wibawa dan kecerdasan setara dengan Aldy Argadinata.
"Baik terimakasih atas perhatian nya. Saya harap akan ada kemajuan setelah saya melakukan negosiasi dengan hendrawan grup" ucap Dilla lalu segera keluar dari ruang meeting itu.
Ia segera menyuruh supir menjemputnya menuju rumah sakit tempat Aldy dirawat.
Sampai rumah sakit.
"Bagaimana keadaan perusahaan nak?" Tanya papa Reza.
"Semua bisa dikendalikan pa, tapi Dilla ingin meminta izin ke papa dan mama karna Dilla hari ini juga akan terbang ke singapura untuk meminta bantuan pada hendrawan grup"
"Hah singapura? Jauh nak, kamu sedang hamil bahaya" tolak papa Reza.
__ADS_1
Dilla memegang lengan papa dan mama mertua nya.
"Yakinlah ma, pa Dilla akan baik baik saja disana. Ini demi mas Aldy dan papa yang udah berjuang mendirikan perusahaan itu, sekarang gantian Dilla yang turut andil dalam masalah ini" ucap Dilla yakin.
Akhirnya papa Reza dan mama Mela meng iya kan permintaan menantunya.
"Mau ke singapura nya jam berapa?" Tanya mama Mela.
"1 jam lagi Dilla ke bandara ma" ucap Dilla.
Dilla pun masuk ke ruangan Aldy.
Ia menggengam telapak tangan suami nya.
"Mas, hari ini aku izin untuk ke singapura mas, doa kan aku baik baik saja dan bisa membawa kabar baik untuk perusahaan. Cepatlah bangun mas, apa kau tega membiarkanku berjuang sendirian dalam keadaan hamil?" Ucap Dilla terisak. Ia segera menghapus air mata nya, ia harus berusaha kuat dihadapan mertua nya.
Dilla pun pamit ke mertuanya.
__ADS_1
"Papa anter ya nak" tawar papa Reza.
"Nggak usah pa, papa disini aja jagain mas Aldy. Dilla titip mas Aldy ya pa" ucap Dilla lalu menyalami kedua mertua nya.