Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Mencoba Berdamai.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian keadaan Papa sudah membaik. Dokter mengatakan keadaan papa sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Aku memutuskan membawa Papa pulang ke rumah demi kesehatannya. Meski berat namun Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun juga dia tetap Papaku. Aku menyadari tanpanya Aku takkan ada di dunia ini. Mama hanya menurut tanpa banyak tanya. Namun terlihat jelas wanita paruh baya itu masih terluka didalam batinnya. Pandangannya yang tak dapat berbohong membuatku merasa iba. Mama berulang kali bertanya padaku kenapa Aku membawanya pulang kerumah namun Aku hanya diam tak membalas semua pertanyaan itu.


Di perjalanan pulang kami bertiga hanya diam. Satupun dari kami enggan untuk memulai pembicaraan. Aku fokus pada setirku sedangkan Mama dan Papa di belakang kemudi. Aku memperhatikan gerak-gerik mereka dari kaca dihadapanku. Meski Papa sudah meminta maaf namun Mama masih kurang percaya dengan lelaki yang berbeda setahun dengan umurnya. Untuk saat ini Aku tidak memaksa Mama untuk menerima dia dengan secepat ini. Secara pribadi Aku masih ragu dengan lelaki paruh baya ini.


Beberapa menit kemudian kami sampai dirumah, Naina sudah menyambut kedatangan kami bersama dengan pelayan yang lain. Lelaki tua itu perlahan keluar dari mobil ia menatap Naina sebentar. Aku berdehem agar lelaki itu mengalihkan pandangan dari Naina. Entah apa yang ada dipikirannya saat melihat Naina. Aku akan terus memantau pandangan Papa terhadap Naina.


Papa dan Mama masuk ke kamar mereka, sedangkan Aku menyuruh Naina menyusulku ke kamar. Aku ingin menjelaskan pada Naina agar tetap berhati-hati pada papa agar kejadian waktu itu tidak terulang lagi. Aku juga memberi tahu pada Naina agar menghubungiku meski saat dikantor jika Papa berulah padanya. Setelah selesai urusanku pada Naina, wanita itu segera berlalu dari kamarku.


***


Malam itu tak seperti biasanya, bak ada keajaiban di tengah keluargaku. Kami makan malam bersama Papa dengan keadaan yang tentram. Biasanya kedaan ini pasti berujung ricuh dengan argumen-argumen yang tidak penting menurutku. Mama sibuk menikmati makanan yang terhidang di piringnya, begitu juga dengan Papa. Setelah usai makan malam, Aku memulai percakapan.


Tujuan dari perbincangan itu agar Papa bersungguh-sungguh untuk berubah dan memperbaiki diri kedepan hari. Aku juga mengatakan pada Papa bahwa Aku dan Mama berusaha berdamai dengan keadaan ini. Papa tertunduk dengan semua ucapanku. Aku juga mengatakan padanya tak segan-segan membuat yang lebih parah jika ia berulah lagi. Sesekali lelaki paruh baya itu mengangguk tanda setuju dengan semua aturan yang kuberikan padanya. Termasuk juga masalah perusahaan.


Setelah Aku selesai berbicara Papa juga ikut berbicara. Ia mengatakan bahwa ia menyesal dengan apa yang ia lakukan selama ini. Ia juga berjanji tidak akan berulah lagi. Mama hanya diam mendengar penjelasan dari suaminya. Sama seperti di rumah sakit pandangan dan hati Mama sama sekali tak terpengaruh dengan permintaan maaf itu. Lelaki tua itu sadar bahwa istrinya sulit menerimanya kembali. Lelaki itu berlutut dihadapan Mama. Aku membiarkan hal itu terjadi, Aku tak mau ikut campur untuk saat ini. Aku yakin Mama sudah tahu harus berbuat apa. Meski lelaki itu berlutut Mama tetap juga pada pendiriannya.

__ADS_1


Lelaki itu perlahan berdiri setelah sekian menit berlutut dihadapan Mama. Setelah Papa duduk kembali Mama pun membuka suara. Mama mengatakan hal yang serupa denganku, yaitu mencoba berdamai dengan keadaan. Seketika senyuman terbit dari bibir lelaki yang sudah beruban itu. Malam itu menjadi malam yang indah seumur hidupku, dimana Aku bisa leluasa berbicara pada Papa dan Mama di satu ruangan. Situasi ini yang sangat kuinginkan dari dulu.


Tiba- tiba saja Aku teringat pada Naina. Aku terpukul sendiri dengan perkataan yang ku sampaikan pada Papa. Aku pamit pada Papa dan segera mencari Naina didapur. Jelas saja wanita yang berkulit putih mulus itu sedang sibuk mencuci piring sisa dari makan malam kami.


Aku tersenyum melihat Naina yang membelakangiku. Rambutnya yang digulung ke atas dengan sembarang membuat wanita itu terlihat tambah anggun dimataku. Aku perlahan mendekatinya. Aku langsung memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Naina terkejut dengan tingkahku yang bergelayut manja dileher jenjangnya.


"Tuan...."


"Jangan berbicara Naina, Aku rindu aroma tubuhmu." Kataku dengan suara sedikit serak.


Naina berbalik dan wajah itu berjarak beberapa centi saja dari wajahku. Ia mengingatkan bahwa kami sedang berada di dapur. Seketika Aku melepaskan pelukan itu dan mencium keningnya. Saat mencium keningnya terlihat wajah ibu muda itu memerah bak kepiting rebus. Aku memintanya untuk datang kekamarku setelah ia berbenah di dapur. Aku pun berlalu dari sana.


***


Beberapa menit menunggu akhirnya yang dinanti pun datang. Wanita berjalan mendekati sofa dan duduk disana. Aku langsung mendekatinya dan duduk berhadapan dengannya. Naina terlihat heran dengan tindakanku padanya.

__ADS_1


Aku pun mulai meminta maaf atas tingkahku selama ini padanya. Ia masih saja diam tak berkutik. Aku mengatakan padanya bahwa Aku akan bersungguh-sungguh menerima dan belajar menjadi Imam yang baik untuk Naina dan Anakku kelak. Air mata lolos begitu saja dari wajah Naina. Ia mengusap berkali-kali air mata itu. Aku tersenyum dengan tingkahnya. Aku membantu mengusap air mata itu dari wajahnya dengan ibu jariku dan membawanya ke pelukanku.


Aku akan berjanji pada diriku sendiri untuk belajar menerima Naina setulus hatiku dan memulai semua dari awal. Aku tak akan menghiraukan pendapat dan hinaan orang lain bahkan partner kerjaku tentang masa lalu Naina.


Usai berbicara panjang lebar Aku terdiam beberapa saat dan masih memeluk Naina. Naina meregangkan pelukan dan menatap dalam padaku. Ia mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa bertemu dan bekerja denganku. Ia pasrah apa saja yang kulakukan padanya asal ia tak kembali pada Justin. Wanita itu menjelaskan sembari terisak. Aku masih saja menjadi pendengar yang baik untuknya.


Aku terus saja memegang tangan mungil itu sembari ia menceritakan tentang perjalanan hidupnya sebelum bertemu denganku. Tentang bagaimana ia diperlakukan oleh keluarganya. Bagaimana saat ia sudah tak bisa memiliki penghasilan namun tetap dipaksa untuk memberi sejumlah uang pada Justin untuk membayar biaya hidup karena Naina menumpang di rumah mereka.


Ia juga menceritakan bahwa ia jarang tidur saat berada di kediaman Justin. Ia bekerja siang dan malam. Wanita itu semakin terisak saat mengingat hidupnya saat dipekerjakan di negeri seberang. Di negeri seberang sana Naina mengatakan jarang diberi makan bahkan sesekali dianiaya. Mendengar kisahnya, tak terasa cairan bening jatuh dipipiku. Aku kembali memeluk ibu muda itu. Ia terisak dan terus saja terisak.


Aku tak bisa membayangkan kerasnya hidup yang dijalani Naina. Ditambah lagi selama ini sikapku yang tak menentu padanya. Namun hari ini Aku sudah bulat dengan keputusanku untuk memulai semua dari awal bersama Naina.


Tak terasa beberapa jam sudah Aku berbincang dengan Naina. Aku meminta Naina untuk tetap berada di kamarku. Wanita itu menurut seperti biasa. Aku menggendongnya dan membaringkan Naina diranjangku. Tiba-tiba Aku mendengar suara dari arah luar, siapa lagi kalau bukan Mama.


Mama tersenyum saat ia melihat Naina berada diranjangku. Aku sedikit malu dan wajahku mulai memerah seperti kepiting rebus. Naina pun mulai beranjak dari ranjang big size itu dan menghampiri Mama sembari tertunduk. Tiba-tiba Mama mencium kening Naina, membuatku tersenyum dengan pemandangan yang ada dihadapanku. Mereka berpelukan seperti ibu dan anak yang tidak jumpa bertahun-tahun. Keadaan ini seketika membuat hatiku hangat dan terharu.

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote, like dan komentar ya jika berkenan😇🥰🙏


__ADS_2