
Aku Naina anak kedua tiga bersaudara dari keluarga William Pradipta. Aku seorang gadis yang banyak mengalami suka duka dalam hidupku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup berada. Orang tuaku memiliki perusahaan di setiap negara, kesuksesan mereka terjohor dimana-mana. Nyatanya hidupku tak sebahagia anak-anak orang kaya pada umumnya yang tumbuh dengan bergelimangan harta.
Semenjak usiaku empat tahun tiba-tiba saja perusahaan orang tuaku mengalami kebangkrutan parah. Semua perusahaan cabang pun ikut goyah. Alhasil orangtuaku menganggap semua ini karena Aku. Aku lahir hanya sebagai pembawa sial dimata mereka. Orangtuaku tak biasa hidup susah, mereka berasal dari keluarga kalangan atas. Sejak saat itulah penderitaanku bermula.
Kedua orangtuaku tak lagi menyayangiku. Aku diabaikan begitu saja. Hingga usiaku menginjak remaja. Aku diperlakukan seperti babu bahkan lebih dari babu. Mereka menyekolahkanku hanya sampai tingkat pertama. Itupun, Aku tak bisa sekolah dengan baik karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan lebih dulu sebelum ke sekolah. Sering sekali Aku menahan lapar karena sibuk dengan pekerjaan rumah.
Hingga usiaku beranjak tujuh belas tahun saat itu keluargaku memutuskan untuk pindah negara di Singapura. Aku sempat berpikir mereka membawaku serta. Diluar dugaanku, Aku ditinggalkan bersama Tanteku dirumah ini. Tanteku bernama Lena. Tante Lena seorang janda yang tak memiliki anak, ia sering bergonta-ganti pasangan. Ya... Tante hanya meraup semua harta laki-laki itu.
Setahun sudah Aku tinggal bersama Tante Lena dirumah ini. Tante Lena sering sekali membawa laki-laki ke rumah ini. Tak berbeda dengan Orangtuaku, Tante Lena mengenalkanku pada kerabatnya sebagai pembantu. Ungkapan itu sudah berhasil membuat hatiku teriris dan harus kudengar setiap kali orang bertanya tentang diriku.
Aku sering menangis ketika Aku merindukan keluargaku. Sebelum mereka pergi dari negara ini, Aku sempat menyisipkan satu fhoto lama dimana Mama dan Papa menggendong bayi kecil. Bayi itu adalah Aku. Jika Aku rindu Aku hanya bisa menatap fhoto kenangan masa lampau yang selalu kusimpan dan kujaga dengan baik.
***
Suatu malam Tanteku pulang lebih awal dari biasanya. Ia menggedor-gedor pintu kamarku berulang kali. Dengan cepat Aku membukanya.
"Naina... Justin Akan tiba malam ini dari Singapura."
Mendengar Justin datang saja sudah berhasil membuatku ketakutan. Justin sering sekali berlaku kasar padaku. Ia tak segan-segan memukulku dan menamparku hanya karena kesalahan kecil. Aku sudah terbiasa dengan pukulan yang bertubi-tubi dari Justin. Sejak saat itu Aku takut berhadapan dengan Justin.
Aku hanya mendengarkan Tante berbicara tentang maksud kedatangan Justin ke kota ini yang sudah sekian lama. Aku hanya mengangguk seolah mengerti dengan pembicaraan Tante. Tante dalam kondisi mabuk sehingga setiap perkatannya tak dapat kucerna dengan baik. Ditambah lagi dengan bau alkohol yang keluar dari mulutnya. Setelah itu tante Lena berlalu dari rumah entah kemana.
__ADS_1
***
Beberapa jam kemudian suara bel berbunyi, Aku pun bergegas dan membukanya.
"Siapa kau?" Tanyanya heran sembari menatapku.
"Aku Naina... Apa kau tak mengingatku?" Kataku ragu.
"Wahhhh... Kau kelihatan sangat cantik Naina?" Ucapnya seraya memainkan jarinya di wajahku di tambah lagi dengan tatapan nakal dari kedua bola mata itu.
Aku mundur selangkah melihat aksi Justin. Aku takut ia berbuat macam-macam lagi padaku. Kemudian Justin menuju kamarnya yang tepat berada di sebelah kamarku.
Setelah Justin menaruh perlengkapannya di kamar, Aku pun bergegas menyiapkan makan malam untuknya. Jelang beberapa menit kemudian Justin menyusul ke meja makan dan mulai melahap makanan yang sudah kusiapkan untuknya. Justin terus saja menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia menjelaskan tentang hutang piutangnya yang sudah membukit. Justin mengatakan ingin melunaskan hutang itu agar perusahaan Pradipta tidak menjadi korban dari ulahnya.
Papa memberi wewenangnya pada Justin untuk memimpin perusahaan cabang. Namun Justin gagal mengkelola dengan baik sehingga ia memiliki hutang dimana-mana.
***
Malam itu adalah malam yang mencekam seumur hidupku. Saat itu Justin pulang larut dan ia memaksaku membukakan pintu kamarku. Ia terus saja mengetuk pintu bahkan menendang pintu itu dengan keras. Membuatku semakin ketakutan.
__ADS_1
Aku memberanikan diri membuka pintu itu. Justin masuk dan mulai mendorongku ke ranjangku. Dengan tenaganya yang lebih kuat dariku, Aku tak bisa menghalangi tubuhnya yang menindih tubuhku. Ia merenggut mahkotaku dan melakukannya berulangkali. Aku hanya menangis dibawah kungkungannya.
Setelah puas menikmati tubuhku ia memberi ancaman padaku agar Aku tak memberitahukan kejadian ini pada siapapun. Jika Aku nekat, maka habislah Aku.
Tidak hanya itu, Ia pernah menjualku pada lelaki hidung belang. Justin mengatakan bahwasanya Aku masih perawan kepada pria itu. Dengan cepat lelaki hidung belang itu membawaku ke hotel. Saat melakukan aksinya lelaki hidung belang itu menyadari bahwasanya Aku tak perawan lagi, kemudian pria itu menghubungi Justin dan Justin berkilah bahwa Aku lah yang menipu mereka. Karena tidak terima dengan kebohongan itu, pria itu melakukan pukulan padaku berkali-kali. Membuat seluruh tubuhku memar. Aku tak bisa berkutik dengan perbuatan Justin.
Sejak saat itu Justin memperkerjakanku sebagai wanita malam. Ia meraup semua uang yang diberikan oleh pria yang meniduriku. Aku tak berdaya dibawah perintah Justin. Aku hanya sebuah mesin uang yang dapat ia ambil kapan saja. Hidupku bagai neraka saat ia datang kembali ke negeri ini. Aku terus berpikir keras Siapakah yang dapat membawaku pergi dari wilayah gelap ini.
Setiap malam Aku menunggu Pria di halte yang biasa dikunjungi oleh pria liar yang mencari wanita penghibur.
Di halte itu jugalah Aku pertama kali bertemu dengan Andre. Mobil sport kuning itu hampir setiap larut malam lewat dari depan halte itu.
Awal pertemuanku dengannya Aku yakin dia Pria yang baik yang bisa menolongku dari duniaku saat ini. Beberapa kali bertemu, ia tak pernah berbuat seperti lelaki hidung belang yang sering kali kutemui.
Hingga suatu hari dia datang menjemputku dan memperkerjakanku dirumahnya. Saat itu senyum ini merekah dengan sendirinya. Akhirnya Aku bisa keluar dari rumah yang membuatku tersiksa. Aku berharap Andre menjadi penolong bagiku. Aku rela melakukan apa saja terhadapnya dari pada Aku bekerja mati-matian dengan Justin.
***
Setelah beberapa lama bekerja di kediaman Andre, ku tahu Andre ragu dengan latar belakangku yang dinilainya tak jelas. Aku juga tahu Aku hanya pelampiasan baginya. Namun siapa sangka saat ini Aku tengah mengandung anaknya. Dia tidak dapat menerimaku dan juga janin yang sedang tumbuh dikandunganku saat ini.
Saat pertama kali dia menyentuhku, darahku berdesir dan jantungku berdetak tak karuan. Melihat wajahnya yang tampan serasa melihat matahari terbit. Kami melakukannya berulang kali.
__ADS_1
Ia sempat berlaku kasar padaku dan berniat memulangkanku pada Justin. Hanya masih mendengar namanya saja Aku sudah ketakutan apalagi dengan kondisiku saat ini. Namun... Aku bersyukur Mama Andre bisa menerimaku apa adanya. Wanita paruh baya itu tampak senang dengan berita kehamilanku. Aku sangat berterimakasih pada wanita paruh baya itu.
Aku tak tahu bagaimana respon Andre saat ini. Tapi Aku bahagia karena Aku tak pulang bersama Justin, dan masih tetap ada disini di kediaman Andre. Aku akan berusaha semampuku mengambil hati Andre meski sulit untuk merubah kekerasan hatinya.