Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Membawa Naina kerumah


__ADS_3

Malam itu Sean datang berkunjung kerumahku dan aku pun menyuruh Sean untuk membawa Marco.


"Selamat malam Tante." ucap Sean sopan pada Mama.


"Malam Se, apa kabar kalian berdua?" Andre ada dikamarnya." sahut Mama.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka berdua menerobos masuk ke kamarku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka yang cengar-cengir dan menggarut kepala yang tak gatal.


"Gak sopan amat lu berdua! Main terobos aja."


"Hehehehehe, maaf anak Sultan." jawab Marco sembari tersenyum simpul.


Kehadiran mereka membuat ruangan serasa seperti pasar tradisional yang dipenuhi ibu-ibu. Tapi setidaknya aku merasa terhibur dengan candaan yang mereka berikan.


"Se, ada kabar tentang Naina?" tanyaku penasaran.


"Oh iya, Aku lupa memberitahu kamu Se."


"Ceritakanlah informasi yang kau dapat Se," kataku dengan serius.


"Hehheehehe, maksudnya Aku belum menyelidikinya Ndre," jawab Sean sembari menampilkan deretan giginya yang putih.


"Kampret lu, kerjaan lu itu doang gak kelar-kelar." kataku sembari melemparkan bantal ke arah Sean.


"Jangan cengar-cengir lu, gue tampol lu baru tau rasa," ucapku jengah.


Sean dan Marco tertawa bersama melihat kejutekanku. Kemudian aku melotot ke arah mereka dan jelas saja mereka langsung terdiam. Aku pun kembali tertawa melihat aksi mereka yang terdiam. Selang beberapa jam kemudian Sean dan Marco pamit untuk pulang kerumah mereka masing-masing.


"Hati-hati lu berdua, kalau jatuh langsung bangun. Jangan lupa bernapas lu pade. Gue masih membutuhkan lu berdua sebagai pelepas dahaga," kataku sembari tertawa.


"Lu bilang apa sih, gue gak dengar. Gue lagi pikun." imbuh Sean.


"Pekak bodoh, bukan pikun! ucap Marco geram.


" Kalian berdua itu, ya begini. Kalian yang gila gue yang stres," timpal Marco jengah.


Aku dan Sean tertawa melihat kejengkelan Marco. Pasalnya Marco itu paling tidak hoby berkata-kata alay seperti aku dan Sean.


"Apa sih bang," kataku sembari mencolek dagu Marco.


"Idiiiihhhh najis." sahut Marco dengan memutar bola mata jengah.


"Ketawa aja lu berdua sampai rontok tu gigi," kata Marco kesal.


Aku dan Sean tertawa terbahak melihat aksi kekesalan Marco yang risih dengan candaan yang kami berikan padanya. Akhirnya kedua manusia itupun berlalu dari kediamanku.


***


Pagi ini mentari cerah menyinari bumi, suara kicauan burung turut menambah indah suasana pagi, dengan langkah semangat aku menuruni anak tangga dan menghampiri wanita yang melahirkanku.


"Pagi Ma," Sambil kukecup pipinya.


"Iya sayang, kamu sarapan yang banyak biar gak kumat maghnya," imbuh Mama sembari menyendokkan nasi goreng kepiringku.


"Ndre, kayaknya Mama gak sanggup kalau berbenah rumah sendiri nak,"


"Lah, kan ada bibi Ma. Kenapa Mama merasa sendirian?" ujarku sembari melahap makanan yang ada dihadapanku.


"Iya sih, tapi Mama itu juga butuh teman cerita Ndre. Kalau bibi mah, siap ngerjain rumah langsung pulang."


"Jadi maksud Mama? Mau yang tinggal dirumah. Gitu? Nanti Andre nyuruh Sean nyariin. Mama tenang aja ya," kataku sembari mengunyah makananku.


***


Dikantor aku langsung memanggil Sean keruanganku. Dengan kecepatan express Sean pun menghampiriku.


"Bapak panggil saya?"


"Iya Se, bagaimana udah ada informasi?"


"Belum Pak Sultan, saya malah dapat kabar bahwa Cecilia akan mendarat ke Indonesia Pak." ucap Sean serius.


"Emang lu kira si Cecill pesawat! Pake acara mendarat segala." Sahutku ketus.


Sean pun tertawa mendengar ocehan yang kulontarkan padanya.

__ADS_1


***


Siang ini kami memutuskan makan siang bertiga dikantor Marco. Kamipun berlalu dan menghampiri Marco dikantornya.


"Masih kerja aja lu, kita makan di mana nih?" tanya Sean sembari duduk dihadapan Marco.


"Iye bentar lagi kelar, sabar nape." sahut Marco yang masih fokus dengan laptop dihadapannya.


Aku pun menghampiri Sean dan duduk disebelahnya sambil memainkan gawai digenggamanku.


"Ndre, si Cecill tadi nelpon gue. katanya dia otewe ke Indonesia mungkin sore nyampe deh." ucap Marco sembari menutup laptopnya.


"Ya terserah dia, mau nyampe atau gak. Gak ada urusan sama gue." Sahutk cuek.


Cecilia adalah adik dari Justin Pradipta. Cecill sangat tergila-gila denganku. Dia memang cantik dan juga pintar bisa dikatakan dia itu juga tipe idaman semua Pria kalau dari penampilan tak kalah dari Arletta. Dia juga memiliki sifat yang centil terhadap laki-laki. Itu yang membuatku kurang menyukainya.


Dia juga sombong didalam berbicara, apalagi setiap berbicara dia pasti selalu mengangkat harga dirinya setinggi mungkin. Dan paling tidak bisa disaingi. Cecill juga akrab dengan Sean dan Marco meski kami mengenalnya dari Justin saat kuliah dulu.


Dengan santai kami menikmati makan siang yang diantar keruangan Marco. Kami pun membahas banyak hal setelah makan siang.


Usai makan siang dan bercengkrama, Kami kembali kekantor. Ditengah perjalanan aku membuka topik pembicaraan pada Sean.


"Se, gue minta tolong,"


Belum selesai dengan pembicaraanku Sean memotong perkataanku.


"Si Naina lagi," ucapnya jengah.


"Yes, gue ada ide nih. Untung lu ngingetin nama Naina Se, padahal gue mau nyuruh lu nyariin pembantu buat tinggal dirumah."


"Nah kenapa gak si Naina aja lu suruh daripada dia nongkrong gak jelas di halte."


"Iya bener, nanti malam aku bakal nunggu dia di halte," ucapku serius.


"Iya lu jangan lupa pake rok, sekalian krincing-krincing," imbuh Sean sembari tertawa.


Melihat Sean yang tertawa terbahak karena ucapannya, membuatku sedikit jengkel. Aku pun langsung mencolek dagunya.


"Iye bang, abang jangan lupa godain kite ye," kataku sembari bermain mata.


Aku tertawa terbahak-bahak melihat aksi Sean yang merasa jijik dengan gurauanku. Aku melihat kejengkelannya dengan puas.


"Lu tu ya, kenapa jadi laki sih? Gue ngelihat ada bakat terpendam di diri lu Ndre. Kasihan kan kalau gak dikembangkan."


"Iye bang." kataku lagi mencolek dagu Sean.


"Sana lu. Jijik banget gue! Kasihan banget jabatan lu dikantor,"


"Idihhh bang, jangan gitu ahh." Sahutku kembali memegang tangan Sean.


Dengan kecepatan express Sean menepiskan tanganku dari tangannya. Aku kembali tertawa terbahak-bahak melihatnya.


"Makanya lu jangan bercanda kelewatan Se," ucapku sembari menghentikan aksi kekonyolanku.


"Buset lu, karena Bos gue aja. Kalau orang lain udah gue lempar lu dari mobil."


Aku hanya tersenyum puas melihat Sean yang jutek dan geram dengan aksiku. Hanya cara itu yang dapat menghentikan aksi Sean dan Marco kalau mereka berulah denganku.


***


Malam ini aku mencari keberadaan Naina dihalte yang sering ia singgahi. Namun sudah berjam-jam aku menunggu tak kudapatkan jua keberadaannya di halte.


Aku memutuskan untuk mencarinya langsung ke kediaman Justin. Dan benar saja Aku melihat Naina dikediaman Justin.


Dengan langkah santai aku memasuki pekarangan Justin yang luas. Dan ternyata kedatanganku disambut Justin.


"Hai bro, udah lama banget kita gak ketemu. Makin tampan aja lu sekarang," sergah Justin sembari memberi pelukan untukku. Aku membalas pelukannya dengan santai.


"Lu tau aja gue datang,"


"Ya iyalah gue juga pas mau keluar. Oh ya lu ada apa kesini? Mau cari Cecill? Cecill belum datang mungkin beberapa jam lagi sampai."


"Bukan." jawabku singkat.


"Gue mau cari Naina."

__ADS_1


"Oh lu kenal sama Naina?" tanya Justin heran.


"Lu tuh anak sultan Ndre, masa wanita lu kayak Naina sih," kata Justin sembari tertawa.


Aku hanya diam tak mengindahkan omongan Justin yang tak berfaedah menurutku.


"Aku hanya mau nyuruh Naina kerja dirumah gue, bisa gak?" tanyaku kembali.


"Waooow bisa bangetlah, tenang aja untuk bayaran gak usah mahal-mahal. Gue kasih lu diskon gede-gedean." ucap Justin sombong.


"Semahal apa pun gue sanggup bayar, lu gak usah kasih diskon sama gue. Lu jual seluruh aset lu gue sanggup beli," imbuhku tak kalah sombong sembari tersenyum simpul.


Aku melihat ada kejengkelan dimata Justin. Tapi untuk menghadapi keangkuhan perlu juga kesombongan.


Akhirnya Justin memanggil Naina keluar dari rumah dan menghampiri Aku dan Justin diruang tamu.


"Ada apa Tuan? kata Naina sembari menunduk.


" Jika kau tak keberatan, bersediakah kau bekerja dirumahku Nona?"


"Bersedia Tuan" jawabnya singkat.


"Baiklah kumpulkan semua barang-barangmu. Aku akan membawamu malam ini juga."


Naina berlalu ke kamar untuk mengambil semua barang-barangnya dan aku menunggunya sambil berbincang kembali dengan Justin. Setelah Naina siap dengan perlengkapannya aku pun berdiri dan pamit pada Justin.


Aku memberikan sebuah cek kosong pada Justin sembari tersenyum.


"Isi aja sesuka lu, gue pasti kirim," ucapku serius.


Aku melihat Justin kesenangan dengan cek kosong yang ku berikan. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.


***


Didalam mobil aku terus melihat Naina. Aku mulai berbincang seadanya dengan Naina.


"Apa kau sudah makan?"


"Sudah Tuan,"


"Kalau kau tidak keberatan, Aku akan membawamu kepantai."


"Terserah Tuan saja."


Aku melajukan mobilku menuju pantai yang biasa kami datangi bersama Naina. Sesampainya di pantai aku membukan pintu mobil untuk Naina.


"Terima kasih Tuan," ujarnya dengan khas suaranya yang lembut.


Deburan ombak dan angin yang bertiup kencang membuat suasana menjadi dingin. Beberapa kali aku melihat Naina yang menghirup udara pantai dengan bola mata tertutup menambah kecantikan Naina dimataku.


"Kau senang Nona?"


"Maaf jangan panggil Aku nona Tuan, namaku Naina."


Aku tertawa geli mendengar perkataan Naina. Apakah sepolos ini wanita yang ada dihadapanku saat ini? Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Membuat Naina tersenyum kearahku. Sudah puas dengan suasana pantai kami berlalu dari tempat itu menuju rumah. Mama menyambut kami dengan wajah yang berbinar.


Entah apa yang ada dipikiran Mama saat ini melihat kedatanganku membawa Naina ke rumah. Bisa jadi Mama berpikir Naina adalah Pacarku. Dengan cepat aku langsung menarik Mama dengan lembut jauh dari hadapan Naina.


"Ma, kenapa ngeliatin Andre gitu sih? Pake senyum-senyum lagi." ucapku sembari memandang ke arah Naina.


"Pacar kamu cantik banget sayang," kata Mama dengan suara yang ditahan.


Benar dugaanku Mama berpikir aku membawa pacarku dan kami memutuskan untuk menikah secepat mungkin dan tinggal bersama Mama dan yang lebih diinginkan Mama, memberikan cucu untuk ditimang olehnya. Aku pun dengan cepat meluruskan kesalahpahaman ini.


"Ma ... Namanya Naina, dia memang cantik dan sama kayak Mama, sifatnya lembut. Tapi dia hanya pekerja dirumah ini. Tidak lebih dan tidak kurang." Protesku pada sang Mama.


"Hah! Kirain pacar kamu Nak. Tapi gakpapa deh, dia tinggal disini kan Nak."


Aku membalas pertanyaan Mama dengan anggukan. Dan kami pun kembali menemui Naina.


"Naina ini Mamaku, kau boleh bertanya tentang pekerjaanmu pada Mama. Dan Mama juga akan menunjukkan di mana kamarmu.


" Baik Tuan," jawab Naina singkat.


Aku melihat Naina menyalam tangan Mama sembari mencium punggung tangan Mama. Aku tersenyum melihat Naina melakukan itu. Mereka berdua menuju kamar yang akan ditempati Naina. Sedangkan aku berlalu ke kamarku.

__ADS_1


__ADS_2