
Pagi sekali Aku bangun dan melihat kedua sahabat itu sedang sibuk menyiapkan sarapan. Kedua wanita itu sibuk saling melemparkan tawa satu sama lain. Entah apa yang mereka bahas sepagi ini.
Aku duduk di meja menunggu sarapan yang dibuatkan Naina. Tak berapa lama duduk, Mama dan Papa menyusul ke meja makan. Mereka heran dengan kehadiran Laura dirumah. Mereka melirikku secara bergantian. Seolah ingin bertanya siapa gadis itu.
Laura menghampiri kami dengan senyuman melengkung dibibirnya, Sembari menaruh hidangan di meja. Tak lama kemudian Naina pun datang dan kami sarapan di meja yang sama. Laura gadis yang berperawakan tinggi itu pun menyapa mama dan papa.
"Hai... Tante, Om. Aku temannya Andre yang kebetulan juga sudah berteman lama dengan Naina." Katanya sembari senyum sumringah.
Laura memang tipe orang yang gampang bersahabat dengan orang yang baru dikenalnya. Mama merasa terhibur dengan celotehannya yang tak berhenti. Sepertinya mereka sangat cocok dalam beradu argumen.
Berbeda dengan calon istriku. Aku sedari tadi memperhatikannya tanpa jeda. Naina hanya sibuk mengunyah makanan yang tersaji dipiringnya. Aku teringat dengan ucapan Laura semalam. Aku semakin bangga pada Naina, ia berhasil bertahan hingga saat ini. Wanita dihadapanku ini merupakan sosok kuat dan mandiri. Usai sarapan Aku pamit untuk ke kantor diikuti oleh Laura yang akan kuantar pulang ke rumahnya.
***
Siang itu, Aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu klinik untuk konsultasi penyakit yang diderita Naina. Usai berbincang lama, Aku memutuskan untuk membawa Naina chekup di klinik ini agar penanganan itu dapat teratasi dengan baik.
Usai bertemu dokter, Aku memutuskan pulang ke rumah menjemput Naina. Tak berapa lama tiba dirumah, Aku langsung mencari Naina. Aku memaksanya untuk ikut denganku meski awalnya ia menolak.
Tak perlu memakan waktu lama, kami tiba di klinik dokter spesialis tersebut, Aku membawa Naina masuk. Dokter pun mulai memeriksa kondisi Naina. Dokter mengajukan beberapa pertanyaan terkait kondisi Naina. Naina menjawab dengan seperlunya tanpa banyak bertanya. Satu jam berlalu Dokter pun telah selesai memeriksa kondisi Naina. Setelah itu Aku mengantarnya pulang.
Di perjalanan pulang, Aku tak henti menatap ke arahnya. Sejak membawanya tadi ia tak terlalu banyak cerita.
"Sudah berapa lama kau seperti ini Naina? Kenapa kau tak pernah memberitahuku?" Tanyaku dengan suara pelan.
"Apakah Laura sudah menceritakan semua padamu Tuan?"
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Naina. Kami terdiam sesaat.
__ADS_1
"Apa kau ingin membeli sesuatu sebelum pulang?"
Naina menoleh padaku saat Aku bertanya padanya. Tampaknya ada sesuatu yang ia inginkan. Semoga saja kali ini permintaannya tidak aneh seperti yang lalu-lalu.
"Jika Tuan bersedia, aku ingin makan mie instan. Tapi Tuan yang memasakkannya untukku."Katanya seraya menoleh padaku.
" Baiklah."Jawabku singkat.
Sesuai dengan permintaan Naina. Setelah tiba di rumah, Aku langsung menuju dapur, dan memasak seperti yang dikatakan Naina. Seperti anak kecil yang menunggu jatahnya, begitulah keadaan Naina pada saat ini. Ia memantauku dari tempat duduknya. Setelah selesai Aku memberikannya pada Naina setelah itu Aku berlalu dari sana dengan buru-buru, sebelum Naina memliki permintaan lain.
Di perjalanan menuju kantor, Aku menyetir dengan kecepatan sedang. Dipikiranku masih saja terlintas pengakuan Naina mengenai penyebab penyakit itu. Aku memijit keningku perlahan. Aku juga sudah memutuskan akan membawa Naina ke psikolog untuk memulihkan mentalnya.
Di kantor Aku bertemu Sean yang masih sibuk dengan tugasnya. Aku melanjutkan kembali berkas kerja sama yang sempat tertunda akibat pertemuan itu.
***
Tak berapa lama, Aku mendapat laporan dari Sean mengenai jejak perusahaan itu. Setelah lama berfikir Aku memutuskan bekerja sama dengan Perusahaan milik negeri Malaysia tersebut.
Sekretaris perusahaan itu ingin bertemu langsung denganku. Tanpa menolak Aku menyetujui pertemuan yang akan diadakan besok.
***
Pagi itu sesuai dengan perjanjian tadi malam. Aku dan Sean menemui klien di salah satu restoran bintang lima yang berada dekat dengan perusahaanku.
Aku melihat seseorang melambaikan tangannya dari jauh. Dia adalah klien yang diutus dari negeri Malaysia. Aku dan Sean mempercepat langkah kami dan menyusul dia di meja yang sudah dipesankan oleh klien tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, pembahasan mengenai kerja sama pun sudah ditanda tangani oleh kedua pihak. Lama berbincang, Aku mengeluarkan undangan pernikahanku dan Naina dari saku jasku kemudian kuberikan padanya. Klien dari Malaysia itu bernama Erka.
__ADS_1
Wajahnya tampak sumringah saat ia hendak membuka undangan tersebut. Namun saat ia membaca undangan tersebut, mimik wajahnya berubah seketika. Aku dan Sean saling berpandangan.
"Apakah wanita ini yang akan menikah denganmu?" Katanya dengan nada yang sulit diartikan.
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Erka. Tiba-tiba ia melemparkan undangan itu di atas meja dan masih saja terus menatapku.
"Aku ingin bertemu dengannya!" Hardik lelaki yang sebaya denganku.
Aku dan Sean masih diam tak mengerti dengan Erka. Aku berpikir apakah Erka salah orang atau memang dia mengenal Naina. Dengan rasa penasaran, Aku bertanya kembali pada Erka. Mimik wajahnya sama sekali tak berubah. Wajah itu tampak seperti marah namun masih bisa ditahan. Sean sedari tadi hanya melihat ke arahku dan Erka secara bergantian.
"Apakah kau mengenali calon istriku Tuan Erka?" Tanyaku dengan rasa penasaran.
Wajah itu masih saja menatapku dengan mimik yang sulit kuartikan. Ia meremas tangannya sendiri. Aku masih hening setelah bertanya padanya.
"Aku mengenalnya! Dia penipu! Kenapa dia masih hidup! Kau harus berhati-hati dengannya Tuan." Katanya lagi tanpa jeda.
Aku mengernyitkan kening dan masih menatapnya dengan tenang. Aku sudah bisa menduga mungkin Naina pernah diperalat oleh Justin untuk mengelabui Erka dan perusahaannya tempat ia berkerja.
Erka menjelaskan perbuatan Naina padaku. Aku terkejut dengan penjelasan yang baru saja dilontarkan oleh Erka. Tampaknya kali ini Erka tidak berbohong. Meski mengatakan hal yang tidak baik mengenai Naina, Aku masih bisa menahan amarah.
Aku sangat yakin ini adalah ulah Justin dan keluarganya. Tanpa basa basi lagi, Aku meluruskan hal mengenai Naina pada Erka. Erka diam tak berkutik. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri tentang informasi yang kuberikan padanya mengenai hal yang menimpa Naina. Entah dia percaya atau tidak, Aku tetap memberi penjelasan yang baik mengenai Naina. Aku tak lupa bertanya di mana ia pertama kali bertemu Naina.
"Apa yang dilakukan Naina pada perusahan tempatmu bekerja? Sementara calon istriku itu tidak memiliki tamatan dan skill mengenai perusahaan?" Ucapku sembari meneguk kopi yang ada dihadapanku.
Bukannya menjawab, Erka terus saja diam. Aku semakin tak mengerti dengan diamnya Erka. Aku sangat penasaran dengan dendam Erka pada Naina. Tanpa menjawab dan bertanya lagi, Erka pria blasteran Malaysia dan Belanda itu berlalu pergi begitu saja. Pandanganku mengikuti Erka sampai ia berlalu dari Restoran itu. Tak berapa lama setelah Erka pergi, Aku dan Sean pun berlalu dari Restoran itu. Segudang pertanyaan sudah menumpuk dipikiranku dan akan kutanya pada Naina saat Aku tiba di rumah.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR YA😍
__ADS_1