Cinta Tuan Arogan

Cinta Tuan Arogan
Menata Hidup baru


__ADS_3

Menikmati pemandangan dan wisata di Bali membuatku tak ingin pulang dari tempat ini. Ditambah lagi dengan suasana bulan madu yang di dambakan setiap insan.


Awalnya Aku merasa jenuh namun melihat Naina yang menyukai pantai, membuatku turut ingin merasakan kebahagian bersama istriku tercinta.


Semenjak menikah Naina tidak berubah sama sekali. Dia masih terlihat kaku di hadapanku. Aku berusaha mencapai impian-impian Naina yang tertunda. Saat hari pertama kali kami di Bali, dia sempat mengatakan bahwa istriku itu merasa minder dengan keadaanya sendiri akibat ocehan orang tentangnya . Aku berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu fokus dengan ocehan orang lain.


Naina memang mempunyai masa lalu yang kelam, dimana tidak semua orang bisa menerima dirinya untuk menjadi pendamping hidup. Namun apa yang di alami Naina bukan kemauannya sendiri melainkan hanya sebagai alat.


Sebagai suami, tentunya sudah menjadi kewajibanku kini untuk menjaga dan melindunginya dari apapun yang akan membuatnya merasa terancam.


Aku tahu, pasti berat bagi Naina untuk dapat kembali menata hidupnya. Namun, mungkin inilah saatnya Aku membuktikan padanya, bahwa tidak semua orang ingin memanfaatkan keluguannya.


Aku pun merasa, jika inilah saatnya Aku mencoba untuk menjadi seorang pria. Pria sesungguhnya. Pria sejati yang bertanggung jawab dan tidak hanya memikirkan kesenanganku saja. Aku yakin, jika aku dan Naina akan bisa saling melengkapi.


Tidak ada rencana Tuhan yang sia-sia untuk setiap umatnya, dan penyatuanku dengan Naina sudah ada dan tertulis sejak dulu.


Aku bersyukur karena meskipun ada banyak mata yang menatap kami dengan tatapan sinis atau bahkan mencibir, akan tetapi hal itu justru akan menjadi cambuk untukku untuk membuktikan bahwa aku tidak salah pilihan.


Ya, Naina adalah wanita yang tepat untukku. Karena itulah Tuhan mengirimkannya padaku, dan dia telah berhasil membuatku rela melepas masa lajangku untuk meniti kehidupan yang baru. Kehidupan yang menjadi impian setiap orang.


Kutatap wajah polos itu dengan lekat. Naina masih saja tampak sedikit takut dan ragu. Belum tampak dengan jelas rona kebahagiaan atas pernikahan kami di wajahnya.


Entah ia masih merasa terbebani atau bagaimana yang pasti Aku pun belum terlalu dapat memahami apa yang ada dalam fikirannya saat ini.


"Aku harap kamu dapat nenikmati acara bulan madu kita kali ini. Katakan saja apapun yang kamu inginkan, aku pasti akan mengabulkannya untukmu. Satu lagi, lupakan sejenak semua beban fikiranmu dan perbanyaklah tersenyum!" Aku mencoba untuk sedikit menghibur Naina.


Naina tidak menjawab. Seperti biasa, ia hanya mengangguk pelan dengan apapun yang aku katakan. Namun kini, ia mulai berani menatapku untuk beberapa saat lamanya.


Sungguh luar biasa. Aku merasakan desiran aneh setiap kali melihat tatapan matanya. Wajah polosnya membuat jiwa bebasku merasa terikat dan tidak ingin beranjak kemanapun juga.


Inilah pertama kalinya aku mengagumi seorang wanita dengan cara yang lain. Bukan hanya dengan hasrat kelelakianku, namun ada hal lain yang jauh lebih indah dan istimewa.


"Terima kasih, Tuan. Aku akan berusaha untuk menjadi apapun seperti yang Tuan inginkan," suara lembut itu akhirnya terdengar kembali do telingaku, setelah beberapa saat lamanya ia terdiam membisu.

__ADS_1


"Tidak, Naina! Aku tidak akan memintamu untuk menjadi seseorang yang berbeda. Tetaplah menjadi Naina seperti dirimu yang sekarang. Lupakan tentang semua kriteria wanita idamanku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Melihatmu tersenyum sudah merupakan suatu anugerah yang sangat indah bagiku," ucapku dengan yakin.


"Sekarang Aku adalah suamimu. Akulah yang berkewajiban untuk melindungimu. Jangan merasa takut lagi. Jika dahulu ada banyak sekali orang yang telah membuatmu merasa tersakiti, maka Aku pastikan itu semua tidak akan terjadi lagi dalam hidupmu," lanjutku.


Aku terus mencoba untuk meyakinkan dan membuatnya merasa percaya diri. Meskipun terasa agak sulit, namun aku yakin jika aku akan dapat mengembalikan keceriaan hidup wanita malang ini lagi.


"Tuan yakin tidak akan merasa menyesal karena telah menikahi wanita yang kotor sepertiku?" tanyanya dengan tiba-tiba.


Dengan segera kugenggam erat jemari lentiknya dan kucium dengan hangat. "Jika aku mempermasalahkan hal itu, maka kamu tidak alan menjadi istriku saat ini," jawabku. Aku kembali mencoba meyakinkannya. "Setelah ini, kuharap kamu juga berhenti untuk memanggilku dengan sebutan "Tuan". Kedengarannya terlalu formal. Apalagi sekarang kita sudah menjadi suami istri," ucapku lagi.


Naina seketika menoleh padaku. Sepasang matanya yang lugu itu seperti menyiratkan sesuatu. Seperti sebuah isyarat padaku. Tetapi, entah apa itu?


Aku menatapnya dalam-dalam. Mencoba menerka dan menyelami apa yang tersembunyi disana. Akan tetapi, aku tidak juga menemukan jawaban yang aku inginkan.


"Lalu, aku harus memanggil Tuan dengan sebutan apa? Abang?" tanyanya dengan sikap yang tampak sangat polos.


Seketika Aku tertawa mendengarnya akan memanggilku dengan sebutan "Abang".


Kenapa wanita ini begitu polos? fikirku. Aku hanya bisa tersenyum.


Kulihat Naina tersipu malu. Ia mungkin tidak berani memanggilku dengan sebutan itu.


Kutatap kembali wajah polos itu. Meskipun ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai sampah, namun Aku berusaha untuk tidak terlalu mempedulikan hal itu. Jika selama ini Naina merasa dirinya tidaklah berharga, maka tugasku untuk mengembalikan harga dirinya yang telah lama hilang dan terkoyak itu.


Waktu terus berjalan. Tanpa terasa senja pun kini mulai datang dan menyapa kami berdua. Aku senang dapat melihat pemandangan indah ini bersama Naina, istriku.


Entah sejak kapan aku menjadi seseorang yang melankolis seperti ini?


Entah sejak kapan aku mulai memikirkan suatu kebahagiaan dan sebuah senyuman lain, selain senyuman dan kebahagiaan mamaku.


"Naina...." sebutku pelan.


Naina pun menoleh padaku. Tatapan matanya tidak pernah berubah. Masih sangat menyejukkan bagiku.

__ADS_1


"Aku ingin mulai sekarang, kamu mulai untuk berfikir lebih terbuka. Apapun yang sudah terjadi dalam hidupmu, biarlah itu menjadi sebuah cerita saja. Jangan terus-menerus melihat kebelakang," ucapku tanpa mengalihkan tatapanku darinya.


"Kita semua memiliki masa lalu. Aku pun demikian, Aku dengan segala sikap burukku selama ini. Segala sesuatu yang terkadang aku sesali."


Aku pun membalikan badanku dan menghadap padanya. Naina seakan sudah mengerti, ia pun membalikan badannya dan menghadap padaku. Kini kami berdua saling berhadapan.


Kembali kugenggam erat jemari tangannya yang lentik itu. Kucium dengan mesra dan penuh kehangatan. Segenap rasa dalam diriku seakan luruh dan ingin segera kucurahkan kepada wanita yang kini telah menjadi milikku seutuhnya itu.


Kulihat, Naina hanya tertunduk menanggapi apa yang kulakukan padanya, termasuk ketika kukecup mesra pucuk kepalanya. Ia lalu tersenyum simpul.


Aku merasa heran, kenapa ia malah tertawa?


"Kenapa? Apanya yang lucu?" tanyaku.


Kulihat Naina menggeleng pelan. Akan tetapi, ia masih sedikit menundukan wajahnya. "Tuan sangat lucu," celetuknya.


Kedua alisku tiba-tiba berkerut tanpa perlu komando dariku. Naina menyebutku sangat lucu. Sejak kapan pria tinggi besar dengan brewokan sepertiku bisa terlihat lucu? Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Terserah menurutmu Aku ini lucu, tampan, atau apapun itu. Tetapi ingat, mulai sekarang aku tidak mengizinkanmu memanggilku dengan sebutan "Tuan" lagi. Aku tidak mau ada jarak lagi diantara kita," pintaku. Kuharap Naina bisa memahami maksudku.


"Iya, Tuan ... eh ... sayang," jawab Naina dengan tersipu malu.


Aku pun tertawa pelan menanggapi kepolosannya itu. Perlahan kusentuh dagu itu dan kuangkat dengan lembut. Ku tatap wajah lembut dengan mata lugu itu, sungguh ia adalah keindahan yang sebenarnya. Ia mahakarya Tuhan yang sangat istimewa, dan keindahan itu kini benar-benar sudah menjadi milikku.


Kuraba leher jenjangnya, dan ia pun mulai memejamkan matanya.


Apalagi yang ingin kulakukan saat ini selain merasakan manisnya bibir mungil itu, membuatnya sedikit mendesah.


Aku menyukainya. Aku menyukai setiap desahannya dalam pelukanku, dan aku akan selalu merindukan hal itu.


"Aku akan belajar untuk jauh lebih mencintaimu dari saat ini. Kita akan memulai semuanya dari awal. Antara kamu dan aku. Tidak ada masa lalu yang menyakitkan lagi," bisikku kepadanya dengan lembut.


"Iya, aku berjanji. Mulai saat ini aku hanya akan menatap kedepan. Berjalan disampingmu dan memegang tanganmu dengan erat. Tolong lindungi aku, dan jangan biarkan aku untuk kembali terjerembab dalam kegelapan yang membuatku merasa takut." jawab Naina lirih.

__ADS_1


Kurasakan tangan lembut itu menyentuh wajahku. Untuk pertama kalinya, Naina berani menciumku. Tentu saja tidak akan kutolak hal itu, dan akupun menikmati senja ini dengan segala rasa indah dalam hatiku.


__ADS_2