
Sampai ke kamar mandi, Dilla hanya mengganti pakaian nya dan sedikit membersihkan area tubuhnya yang sangat tidak nyaman.
Sebenarnya lengan nya masih terasa ngilu untuk sekedar mengganti pakaian. Namun mau tak mau Dilla harus mengganti pakaian nya yang sudah tidak nyaman menurutnya.
Dilla pun keluar kamar mandi dengan tangan berpegangan pada tembok karna merasa lemah.
Sang perawat dengan sigap membantunya kembali ke ranjang.
Sang perawat itu mulai melakukan pemeriksaan pada Dilla.
"Apa keluhan anda nyonya?"
"Kepala saya sering pusing dok"
"Tubuh anda masih terlalu lemah nyonya, sebaiknya anda bed rest dahulu disini. Tekanan darah anda juga rendah yang menyebabkan kepala anda terasa pusing. Perbanyaklah makan buah buahan untuk menambah nutrisi anda dan janin anda"
"Kapan saya boleh pulang sus?"
"Mungkin 3 hari lagi nyonya"
"Hah?? Tapi saya ingin cepat pulang. Bolehkan besok saya pulang?"
"Maaf nyonya, kondisi anda saat ini masih belum memungkinkan jika pulang besok"
Dilla mengangguk
"Terimakasih sus"
Sang perawat itupun keluar dari ruangn Dilla.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, mama Mela datang bersama Ara.
"Udah mendingan?" Tanya mama Mela.
"Belum ma, kata suster yang ngecek tadi kondisiku masih lemah dan darahku masih rendah"
"Ya udah, gapapa. Ini mama bawain makan siang, kamu makan ya"
Dilla mengangguk
Saat Dilla akan mengambil kotak makan itu, mama Mela menghentikan.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Mama Mela.
"Katanya Dilla suruh makan ma?" Jawab Dilla polos.
Disaat semua menantu sakit, biasanya mereka akan bersikap manja, seperti minta disuapi misalnya.
"Kamu itu masih lemas, liat tuh tanganmu belum ada tenaga gitu kok mau makan sendiri. Biar mama yang nyuapi kamu"
Dilla mengangguk, memang benar tubuhnya masih lemas.
Mama Mela membuka kotak makan yang berisi sayur bayam, ayam dan tempe goreng.
"Kamu mau kan makan kaya gini?"
Dilla mengangguk
Mama Mela mulai menyuapi Dilla dengan telaten.
__ADS_1
"Qian mana Ar?" Tanya Dilla disela makan nya saat menyadari keponakan nya tidak ikut dengan Ara.
"Tadi Qian nangis pengen ikut papinya, ya udah tadi sebelum kesini aku nganterin Qian ke kantor mas Rifqi dulu"
Dilla mengangguk tanda mengerti.
Beberapa jam kemudian, mama Mela dan Ara telah pulang kerumah nya.
Dilla sendirian lagi di ruangan itu. Jam masih menunjukan pukul 14.00
Masih lama menunggu suaminya pulang. Dilla berinisiatif untuk menonton film.
Dilla mengambil sebuah remote di samping nakas dan menyalakan tv yang ada di depan nya. Ia mulai menonton Drama korea kesukaan nya.
Jam sudah menunjukan pukul 19.00
Dilla mulai bosan jika hanya menonton Film.
"Kenapa mas Aldy belum juga pulang?" Gumam Dilla.
Tiba tiba Dilla merasa ingin ke kamar mandi. Ia bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Tak mungkin kan dia meminta bantuan mertua atau adik iparnya. Yang ada mereka akan memarahi suaminya yang nanti akan memicu pertengkaran antara dirinya dan suaminya. Dilla memutuskan untuk menelpon nomor Aldy.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" begitulah suara operator telepone diseberang.
Sudah berkali kali Dilla menghubungi perawat tapi tak ada satupun perawat yang masuk ke ruangan nya.
Akhirnya Dilla berinisiatif untuk menelpon Alex.
"Halo Dil? Apa ada masalah?" Tanya Alex diseberang.
__ADS_1